
Mentari mengintip di ufuk timur, malam-malam tempat jiwa berpulang telah berakhir. Anak-anak manusia kembali disibukkan dengan rutinitasnya masing-masing.
Cinta telah siap untuk berangkat mengajar pagi itu. Setelah menghabiskan setangkup roti tawar dengan dioles selai cokelat dan segelas susu ibu hamil, Cinta meraih tasnya. Memasukkan anak kunci ke dalam tas, Cinta mulai mengayunkan kakinya menyusuri jalan menuju TK tempatnya mengajar.
"Selamat pagi bu guru cantik," sapa ibu kompleks yang sedang menyapu halaman, tetangga Cinta.
"Selamat pagi Bu Salma. Lagi bersih-bersih Bu?"
"Iya nih, tadi saya lihat Bu Fatma juga baru berangkat," sahut wanita paruh baya bernama Salma itu.
"Ooh, ya Bu. Kalau gitu saya permisi ya Bu. Mari," pamit Cinta.
"Ya Mbak."
Salma menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia terus menatap kepergian Cinta.
"Kasihan sekali gadis itu. Ditinggal pergi orang tuanya, hamil tanpa suami, beban hidupnya sangat berat padahal dia gadis baik-baik, ramah dan berhati mulia. Semoga Tuhan memberikan kebahagiaan untukmu Mbak," gumam Salma.
Cinta masih terus melangkahkan kakinya. Matahari yang mulai beranjak naik membuat Cinta cukup kepanasan. Dress lengan pendek sebatas lutut itu berkibar tertiup angin.
Cinta mengangkat kedua sudut bibirnya manakala merasakan bayi dalam kandungannya bergerak aktif.
Ya, lima purnama telah berhasil dilalui. Tak mudah bagi Cinta untuk melewati semuanya, akan tetapi dia bersyukur karena dia masih bisa mengatasinya. Diusapnya pelan perutnya yang mulai membola.
'Nanti sore jadwalnya kita bertemu Sayang, Bunda akan cek kondisi kamu ke dokter,' batin Cinta.
Sesampainya di gerbang sekolah, Cinta tertegun saat mendengar keributan di dalam ruang guru. Samar-samar Cinta mendengar namanya disebut, gadis itu pun mempercepat langkahnya.
"Kami nggak mau ya, anak-anak kami diajar sama guru yang hamil tanpa suami. Apa itu belum cukup untuk menunjukkan kalau Bu Cinta bukan perempuan baik-baik!" Teriak salah satu wali murid siswa.
"Bu, kan sudah saya jelaskan. Bu Cinta punya suami dan dia baru mengetahui dirinya hamil setelah proses perceraian itu berlangsung. Bu Cinta sama sekali tidak seperti yang ibu-ibu pikirkan, dia bukan wanita yang hamil di luar nikah," ucap Fatma berusaha menjelaskan.
"Bu Fatma mungkin bisa saja percaya, tapi siapa yang tahu, bisa saja Bu Cinta bilang begitu untuk menutupi aibnya. Kami para orang tua wali murid nggak mau ambil resiko. Kami minta secepatnya Bu Cinta dihentikan dari sekolah ini."
"Iya Bu, setuju," salah satu ibu menyahut.
"Ibu-ibu tenang dulu, kita akan adakan rapat umum untuk membahas masalah ini. Tolong hargai keputusan Bu Fatma, beri kami waktu untuk berpikir sebelum kami mengambil keputusan," Nella ikut menimpali.
Cinta menggenggam erat tali tasnya. Tubuhnya sedikit bergetar ketika dia mendengar dengan jelas orang-orang dalam ruangan itu membicarakannya.
"Pokoknya kami nggak mau tahu, Bu Cinta harus diberhentikan mengajar di sini, atau kami akan memindahkan anak-anak kami ke TK lain, ada banyak sekolahan di sini," ancam salah seorang ibu.
Berulang kali Cinta menghembuskan napasnya, ia berusaha mengumpulkan segenap kekuatannya sebelum dia memasuki ruangan itu.
"Permisi ibu-ibu," ucap Cinta sambil membungkukkan tubuhnya, ia melangkah ke depan, di dekat Fatma dan Nella.
"Cih, nggak tahu malu, masih berani dia menampakkan wajahnya di sini."
"Iya, lihat perutnya! Itu pasti hasil hubungan gelapnya sampai bisa hamil anak haram gitu," bisik salah satu dari sekumpulan ibu-ibu itu.
"Muka tembok, bisa-bisanya dia bersikap biasa saja dan malah dengan bangganya mengusap perutnya yang membuncit. Anak haram doang kok dibanggakan."
Telinga Cinta panas mendengarkan banyak kata-kata kasar dan umpatan yang orang tua wali murid itu tujukan padanya.
"Mohon maaf Bu Fatma, izinkan saya berbicara sebentar pada ibu-ibu wali murid," mohon Cinta.
"Bu Cinta, saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini," ucap Fatma.
"Nggak apa-apa Bu Fatma." Cinta beralih menatap Nella seolah meminta izin untuk bicara.
Ibu satu anak itu mengangguk, mempersilakan Cinta bicara.
Cinta menghela napas dalam-dalam. "Selamat pagi ibu-ibu sekalian, semoga ibu-ibu semua dalam keadaan sehat dan senantiasa diberkati oleh Tuhan Yang Maha Esa."
Kasak kusuk terdengar, kentara sekali jika mereka tidak menyukai Cinta.
"Ibu-ibu, sebelum dan sesudahnya saya mohon maaf karena kedatangan saya di sini menimbulkan kegaduhan. Terima kasih saya ucapkan kepada Bu Fatma beserta rekan-rekan sekalian, juga untuk ibu-ibu yang telah memberikan kesempatan pada saya untuk membagi sedikit ilmu yang saya miliki. Namun demikian, saya juga meminta maaf karena selama ini masih ada banyak kekurangan. Saya akan mundur dari sekolah ini, sekali lagi mohon maaf untuk segala kekurangan saya dan untuk kesalahan yang saya perbuat selama saya berada di sini," ucap Cinta.
"Nah, begitu seharusnya dari dulu. Ngapain lama-lama ngajar di sini, bikin malu aja," celetuk seorang ibu.
__ADS_1
Cinta mengelus dadanya. Rasa nyeri yang tak terperi dia rasakan, bukan karena penghinaan yang dia terima, bukan. Rasa sakit itu kian nyata karena ibu-ibu menghina bayi dalam kandungannya yang bahkan tidak bersalah.
Para orang tua wali murid itu pun langsung membubarkan diri. Ruangan itu menjadi kembali hening, menyisakan Cinta, Fatma dan Nella.
"Bu Cinta, maafkan saya ya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa," ucap Fatma penuh sesal.
"Tidak apa-apa Bu, mungkin jalan saya memang bukan di sini. Terima kasih Bu Fatma, Bu Nella, kalian sudah sangat baik pada saya selama saya di sini."
"Saya juga minta maaf Bu Cinta." Nella memeluk tubuh Cinta, bergantian dengan Fatma.
"Saya akan membereskan barang-barang saya terlebih dulu, setelahnya saya akan langsung pulang," kata Cinta.
"Ya Bu, sekali lagi kami minta maaf karena kami tidak bisa berbuat apa-apa. Biar kami bantu."
Fatma dan Nella membantu membereskan meja kerja Cinta. Barang-barang itu kini telah masuk ke dalam kardus berukuran cukup besar. Cinta meraih foto pernikahannya dan memasukkannya ke dalam tas. Ya, Cinta memang membawa beberapa bingkai foto pernikahan dia dan William sebelum angkat kaki dari rumah William dulu, dan salah satunya dia letakkan di meja kerjanya.
"Saya pamit ya Bu, mohon maaf jika selama ini saya ada salah," lirih Cinta.
"Kami juga minta maaf Bu Cinta."
Sekali lagi, tiga wanita itu saling berpelukan sebelum akhirnya Cinta benar-benar meninggalkan sekolah itu.
.
.
Cinta terkesiap saat mendengar panci di dapur terjatuh.
"Pasti ulah tikus-tikus nakal," gumam Cinta.
Gadis itu pun mengayunkan kakinya menuju dapur, memunguti panci yang terjatuh dan menaruhnya di tempat semula kemudian Cinta kembali ke kamarnya untuk mengambil tas. Kebetulan taksi online yang dipesannya telah tiba.
"Sesuai dengan tujuan di aplikasi ya Mbak?" Tanya si supir.
"Iya Pak. Rumah sakit Mitra Husada," jawab Cinta.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Cinta menatap pemandangan di sepanjang jalan yang terlihat semakin mengecil. Terlalu menikmati pemandangan membuatnya tak sadar jika mobil yang ditumpanginya telah sampai di lobi rumah sakit.
"Sebentar Mbak saya ambil dulu kembaliannya."
"Nggak usah Pak, buat Bapak aja," tolak Cinta.
"Tapi ini kebanyakan Mbak."
"Nggak apa-apa, anggap aja rejeki Bapak." Cinta membuka pintu mobil dan gegas menyusuri lorong-lorong rumah sakit menuju poli kandungan.
Setelah mengurus pendaftaran, Cinta duduk di kursi tunggu. Mengawasi keadaan sekitarnya, sesekali bibirnya melengkung ke atas. Hampir semua ibu hamil ditemani suaminya, sementara hanya dirinya yang datang seorang diri tanpa didampingi siapa pun.
Cinta mengusap perutnya. 'Nggak apa-apa Nak, Bunda akan jadi ibu sekaligus ayah buat kamu,' batinnya.
Setelah satu jam menunggu, kini giliran Cinta mendapat panggilan. Cinta memang sengaja datang lebih awal agar mendapatkan nomor antrean lebih dulu, dan beruntungnya dia mendapat nomor tiga.
"Selamat sore Dok," sapa Cinta ramah.
"Selamat sore Bu Cinta." Dokter cantik bername tag Rania itu menjawab tak kalah sopan. "Gimana kabarnya Bu?"
"Baik Dok."
"Baiklah, ayo kita langsung cek kondisi si kecil."
Cinta membaringkan tubuhnya di bed. Seorang perawat menutupi tubuhnya dengan selimut dan membuka dress-nya ke atas.
Setelah mengoleskan gel khusus, dokter itu pun mulai menggerakkan tranducer.
"Gimana Dok? Bayi saya sehat kan?" Tanya Cinta.
"Syukurlah Bu, dede bayinya sehat dan sangat aktif. Terakhir kali Bu Cinta datang posisi bayinya tidak memungkinkan untuk kita melihat jenis kelaminnya, sekarang kita bisa melihatnya Bu," jelas Rania.
"Sudah terlihat Dok?" Tanya Cinta, antusias.
__ADS_1
"Sudah Bu. Selamat ya, bayi ibu laki-laki."
Cinta terdiam. Setangkup haru melingkupi hatinya hingga membuat butir bening di telaga matanya merembes, tapi dengan cepat Cinta menyekanya.
Seperti biasa, Rania menuliskan resep obat dan juga vitamin untuk Cinta tebus di bagian farmasi.
"Tetap jaga kondisi ya Bu, banyak makan makanan bergizi dan kalau bisa ikut senam hamil atau olahraga kecil seperti jalan kaki. Usia kandungannya sudah memasuki bulan ke tujuh," jelas Rania.
"Baik Dok. Terima kasih, saya permisi dulu."
"Iya Bu silakan."
Cinta meninggalkan ruangan itu.
Hanum yang tengah duduk di bangku tunggu terkejut bukan main saat melihat sosok yang begitu mirip dengan mantan menantunya. Wanita itu pun berjalan mendekati Cinta yang sudah agak jauh menuju lorong bagian farmasi.
Hanum hampir berlari menyusul Cinta jika saja nomor antreannya tidak dipanggil. Ya, Hanum ke sini mengantar Raisa yang ingin check up kondisinya pasca rahimnya di angkat. Bersamaan dengan itu Raisa dan Willmar yang baru saja kembali dari toilet pun mengajak Hanum masuk ke dalam ruang periksa.
"Mama liatin apa sih? Sejak tadi aku perhatikan Mama terus menatap ke arah sana?" Tanya Willmar.
"Mama barusan lihat Cinta, Dek."
"Cinta?" Tanya Willmar dan Raisa bersamaan.
"Iya," jawab Hanum singkat.
"Mama salah lihat kali," timpal Willmar.
"Nggak mungkin Dek," sergah Hanum.
"Ya udah ayo sebaiknya kita masuk dulu," ajak Willmar.
Setelah ketiga orang itu duduk dan sempat berbasa basi sebentar dengan Rania, akhirnya Hanum tak tahan untuk tidak bertanya.
"Dok, maaf sebelumnya saya mau nanya," seloroh Hanum.
"Oh, silakan Bu. Soal apa?"
"Pasien yang barusan keluar tadi, kalau boleh tahu siapa namanya ya?"
"Oh yang tadi pake dress warna navy?" Tanya rania memastikan.
"Iya Dok."
"Namanya Cinta, Clarissa Cinta Kirani. Ada apa memangnya Bu?"
Deg!
Hanum merasa tubuhnya lunglai seketika.
"Jadi benar dia Cinta Ma," ujar Willmar.
"Maaf, ada apa sebenarnya ya?" Rania penasaran.
"Itu tadi adalah mantan menantu saya Dok."
"Mantan menantu? Jadi dia janda?" Rania dan suster itu saling bersitatap.
"Iya Dok. Lima bulan yang lalu dia dan anak saya resmi berpisah," ungkap Hanum.
"Ya Tuhan," desis Rania.
"Kenapa Dok?" Tanya Raisa.
"Bukan apa-apa. Saya hanya kasihan saja padanya, selama ini hanya dia satu-satunya pasien saya yang datang dengan tidak didampingi siapapun. Setiap saya tanya, Bu Cinta selalu mengatakan kalau suaminya dinas di luar kota."
"Jadi, Cinta hamil?" Tanya Hanum.
"Iya, Bu. Usia kandungannya memasuki bulan ke tujuh."
__ADS_1
"Ya Tuhan. Itu berarti saat bercerai dengan William dia sudah hamil satu bulan lebih." Hanum memegangi dadanya, tak lama setelahnya dia merasakan pandangannya menggelap dan dia tidak ingat apa-apa lagi.
Bersambung ....