
Secangkir teh telah berhasil Cinta buat sesuai pesanan William. Setelah cukup lama bergelut dengan pemikirannya, juga menimbang lelaki itu yang terus duduk di kursi rotan teras rumahnya tak bergeming, membuat Cinta pada akhirnya mengalah.
William masih menampakkan raut muka yang sama seperti saat pertama kali ia menginjakkan kaki di sana. Pembawaannya tetap tenang meskipun telah empat jam lamanya dia menunggu di sana. Tak sedikitpun lelaki itu bergerak meninggalkan kursinya.
Ceklak.
Pintu terbuka. Dapat William lihat wanita yang sekarang resmi menjadi jandanya itu kesulitan membawa nampan berisi dua cangkir teh. Senyuman terus membingkai wajah rupawan itu.
"Jangan senang dulu! Saya hanya tidak tega melihat orang terlunta-lunta di depan rumah saya," cibir Cinta.
Oh, demi Tuhan. William tak peduli apa yang gadis itu katakan, baginya dapat bertemu dan berbincang berdua merupakan sebuah anugerah.
"Kenapa diam? Katanya mau sarapan bersama, cepat keluarkan makanannya dan pergi dari sini! Saya juga butuh istirahat!" Ketus Cinta lagi.
"Kamu sakit? Aku perhatikan wajahmu pucat semenjak menghadiri sidang kemarin," ucap William.
"Bukan urusanmu!"
'Ya ampun, apa dia sudah tidak waras? Sejak kapan dia lupa memakai bahasa formal, dia bahkan selalu menggunakan kata saya kamu tiap berbicara denganku,' Cinta membatin.
William mengeluarkan kotak makanannya. Dua porsi ketupat sayur yang telah dingin, William tak bisa membayangkan rasanya meskipun penjualnya membungkus kuah dengan plastik terpisah. Lelaki itu lalu melirik arloji mahal yang membelit pergelangan tangan kirinya. Jam sebelas lebih lima belas menit.
"Ehm, Cinta ... Sepertinya makanan ini sudah tidak enak dimakan. Kau mau aku menggantinya dengan yang lain? Atau kita bisa pergi ke restoran, kau mau makan apa?"
"Tidak usah banyak alasan!" Hardik Cinta.
Tubuh William sedikit terlonjak, pasalnya dia belum pernah sekalipun mendengar Cinta meninggikan suara di depannya. Belum lagi bunyi perutnya yang terus terdengar, ah, memalukan.
"Aku serius Cinta, aku takut kita akan sakit perut setelah memakannya nanti."
Cinta melirik bungkusan makanan yang dibawa William. Mendengar bunyi perut lelaki itu, sudah dipastikan William sangat kelaparan. Mendadak Cinta teringat sepasang suami istri yang sempat ia temui sewaktu pulang dari minimarket.
"Bisa kau belikan bakso rusuk?"
"Tentu saja, kau makan di ma ..."
"Pesan antar saja. Duduk berdua dengan pria yang bukan suaminya seperti ini saja sudah bisa menimbulkan gosip, apa lagi jika tetangga sampai melihat kita pergi berdua," ucap Cinta memotong ucapan William.
"Baiklah. Ada lagi?"
"Bakso rusuk, asinan buah sama es boba," Cinta mengeja nama makanan yang sedang ingin dia makan.
"Ya."
Cinta menatap lelaki yang tengah sibuk berselancar dengan gawainya itu, lalu mengusap lembut perutnya.
__ADS_1
'Akhirnya kamu dapat merasakan juga kasih sayang ayahmu juga Nak, meskipun tidak secara langsung.'
Cinta gegas melemparkan pandangannya ke lain arah begitu menyadari William juga sedang menatapnya.
'Seandainya saja kamu memberikan aku satu kesempatan lagi, aku bersumpah untuk tidak menyia-nyiakanmu lagi Cinta.' William menatap sendu paras ayu itu.
Tubuh ringkih itu terlihat kurus, pipi Cinta yang tirus cukup membuktikan betapa ia banyak kehilangan berat badannya. Lingkaran mata yang menghitam, wajah yang memucat, melihatnya membuat penyesalan William bertambah menggunung. Apakah mungkin dia dapat menebus kesalahannya? Pria itu terus berpikir.
"Terima kasih ya Mas!" William menyodorkan lembaran kertas merah pada kurir yang mengantarkan makanannya.
"Tadi kan sudah dibayare lewat aplikasi Pak," balas kurir itu.
"Ini buat Masnya, anggap aja bonus."
"Ooh, tapi kebanyakan Pak."
"Nggak apa-apa, ambil aja! Terima kasih sudah dengan cepat mengantar pesanan saya," kata William.
"Sama-sama Pak. Kalau begitu saya permisi dulu, terima kasih."
Suasana hening kembali tercipta usai kurir itu pergi. Cinta bangkit dari kursinya hendak mengambil mangkuk saat William mencegahnya.
"Kamu duduk aja ya, biar aku yang ambil mangkuk sama sendoknya. Aku lihat wajahmu pucat seperti orang sakit."
'Andai kamu tahu bahwa janinmu sedang berkembang di rahimku Mas, apa yang akan kau lakukan?'
Tanpa kata, Cinta meraih sendoknya dan mulai menyeruput kuah kaldu itu. Cinta menambahkan saus, sambal dan sedikit kecap dalam mangkuknya, mengaduk pelan dan kembali menyuapkan sesendok kuah itu ke dalam mulutnya.
"Kok nggak enak sih," gumamnya.
"Kenapa? Mau diganti makanannya," tawar William.
"Ng ... Nggak usah."
"Ya sudah ayo di makan," ucap William.
Belum pernah Cinta mendengar ucapan William selembut itu padanya. Gadis itu sibuk memperhatikan mangkuk mantan suaminya, entah ... Cinta merasa bakso dalam mangkuk William terlihat lebih enak.
"Hm ... Mas, eh Pak." Cinta mengutuk dirinya yang sempat grogi.
"Ada apa?" William tersenyum simpul mendengar nada bicara Cinta yang tak lagi ketus padanya.
"Itu ..." Cinta ragu untuk memintanya.
"Itu apa? Katakan saja!"
__ADS_1
"Ehm. Boleh nggak mangkuk baksonya tukeran, aku lihat punya Mas lebih enak kayaknya."
Tenggelam saja kau Cinta! Gadis itu terus mengutuki kebodohannya. Di satu sisi dia merasa malu, tapi di sisi lain Cinta sangat menginginkan makanan yang sudah sempat William cicipi itu.
"Oh, tapi ini sudah aku makan, nggak apa-apa? Atau mau beli lagi yang baru?"
"Nggak usah! Ini aja Mas."
Cinta makin gila. Bagaimana mungkin dia seperti tak tahu malu begitu. Ah, apa boleh buat. Salahkah jika si jabang bayi ingin mencicipi makanan bekas ayahnya?
William mendorong mangkuknya dan menerima mangkuk Cinta. Kini keduanya bisa makan dengan nikmat.
Sesekali William mencuri pandang, matanya tak lepas barang semenitpun dari sosok itu. Ada kebahagiaan tersendiri saat melihat raut wajah puas yang tercetak di wajah Cinta.
Sengaja William memperlambat makannya agar dia bisa lebih lama menghabiskan waktu bersama gadis itu.
'Dulu aku menyia-nyiakanmu, aku sama sekali tak tertarik ataupun berpikir kau akan sakit karena menungguku pulang, sementara aku sedang asyik mengobrol dengan wanita yang bisa membuatmu cemburu. Sekarang, di saat semuanya tak lagi sama, aku sangat merindukan saat-saat seperti ini. Ini adalah saat-saat yang sangat langka. Tuhan ... Hukumlah aku karena aku memang pantas mendapatkannya, tapi tolong ... Setelahnya bantu aku kembali bersatu dengan Cinta. Kembalikanlah dia padaku Tuhan. Aku baru menyadarinya kalau ternyata aku sudah jatuh cinta padanya. Sungguh, aku tak bisa hidup tanpanya.'
Suapan terakhir berhasil mendarat ke dalam mulut William. Lelaki itu tersenyum, manis sekali. Dapat makan dengan sendok juga makanan bekas Cinta saja rasanya sudah sangat membahagiakannya.
"Semua makanan sudah habis, cangkirmu juga telah kosong, sekarang pulanglah!" Cinta memberesi mangkuknya.
"Tidak bisakah ..."
"Tidak! Silakan pergi atau saya akan ..."
"Ya baik. Aku akan pulang sekarang. Terima kasih untuk semuanya ya, lain waktu aku akan kembali lagi," sahut William.
"Tunggu apa lagi? Cepat pergi!"
"Iya ini aku pergi. Jaga dirimu baik-baik," pesan William.
"Tentu saja. Semenjak lepas darimu aku hidup bahagia karena tidak ada lagi orang yang memberikan aku luka setiap harinya, jadi jangan khawatir."
Ucapan Cinta bagai ribuan anak panah yang menghujam jantung William hingga menembus hatinya. Remuk redam, tak ada yang tersisa selain hanya penyesalan yang masih setinggi gunung.
"Aku pergi," lirih William.
Lelaki itu sempat berdiri lama di sana untuk melihat Cinta menutup pintu.
'Secepatnya aku harus pergi dari sini, jika tidak, aku tidak yakin bisa mempertahankan pendirianku. Bisa-bisa aku luluh jika Mas Willi terus bersikap seperti ini padaku.'
Cinta menghela napas panjang. Ketukan palu dari hakim telah terjadi, ia juga resmi menyendiri, tapi Cinta masih dapat merasakan lukanya. Ini tidak boleh terjadi, Cinta tidak boleh terus menyimpan rasa itu untuk mantan suaminya.
Berulang kali Cinta menggelengkan kepalanya, menolak mentah-mentah bayangan buruk yang bisa saja kembali mengikatnya dengan William.
__ADS_1
Bersambung ....