Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Ganti Lipstik


__ADS_3

"Mas!" Cinta menahan tangan William yang kini sedang melucuti kancing kemejanya.


"Apa?" Saya sudah lama menahannya dan sekarang, tidak lagi. Jangan halangi saya mendapatkan apa yang menjadi hak saya.


Usai mengatakannya, William kembali menerjang tubuh mungil itu. Bibirnya tak henti menorehkan jejak di leher Cinta, hingga membuat Cinta tak sadar meloloskan desahan yang malah makin memantik gaiirah lelaki itu. Posisi Cinta yang berada dalam pangkuan William jelas menguntungkan lelaki itu karena gerak Cinta terbatas.


"Eungh!"


Mendengar desahan Cinta membuat William semakin terbakar. Perlahan lelaki itu mengangkat tubuh Cinta, membawanya menuju kamar pribadi yang ada di belakang meja kerjanya. Bibirnya kembali meraup bibir Cinta, bibir ranum rasa manis stroberi yang sudah menjadi candu baginya.


William tertegun melihat bongkahan gunung kembar yang masih terbalut brallet warna hitam itu. Ukurannya bahkan jauh lebih besar dari milik Raisa, William dapat menilainya meskipun ini kali pertama dia melihat dada seorang wanita secara langsung. Tangannya terulur untuk membuka kaitan penutup dada Cinta sampai tiba-tiba ...


Tok ... Tok ... Tok.


"Pak, Pak William!"


Tubuh William terpaku. Bertepatan dengan lepasnya kain penutup itu hingga isinya menyembul.


Glek.


"Sial!" William menggeram murka karena ada yang mengganggu aktivitasnya.


"Pak Willi, Anda di dalam?" Daniel kembali mengetuk pintu.


"Astaga!" William terus menggeram, mulutnya terus mengumpat Daniel yang masih saja memanggilnya.


Cinta hampir saja tak bisa menahan diri melihat suaminya terus mengomel. Ini kali pertama Cinta melihat sisi lain William yang sangat bertolak belakang dengan apa yang dilihatnya selama ini. Tawanya hampir meledak. Dengan cepat dia membenahi pakaiannya.


"Apa!"


Daniel terperanjat karena bersamaan dengan pintu terbuka, William berteriak padanya.


"Daniel!" Suara William terdengar dingin, tatapannya tajam, aura membunuh terpancar di sana, membuat Daniel menggigil ketakutan.


"Kalau kau ke sini hanya untuk diam, maka ..."


"It ... Itu Pak."


"Bicara yang jelas! Gunakan mulutmu dengan baik!"


"Tad ... Tadi perwakilan dari pihak perusahaan Amerta menghubungi saya, katanya ada perubahan jam rapat. Mereka minta rapat dimulai lima belas menit lagi," jelas Daniel.


"Apa!" William menyugar rambutnya kasar.


Sumpah demi apa, dia hanya ingin membobol gawang istrinya saja, wanita yang telah halal baginya, tapi sepertinya semesta belum berpihak padanya.


"Hm, kau siapkan semuanya. Lima menit lagi, saya akan segera ke ruang rapat."


William kembali menutup pintu. Pandangannya kini tertuju pada sosok cantik yang masih tergolek di atas kasur. Sialnya, tatapan William terus tertuju pada bagian atas tubuh gadis itu, padahal Cinta telah kembali merapikan bajunya.


"Hm. Cinta ..."


"Iya Mas, akan saya siapkan semuanya." Cinta beringsut. Rambutnya yang berantakan malah membuatnya terlihat makin seksi di mata William.


"Cinta, saya ..."


"Waktu kita hanya sepuluh menit Mas." Cinta berusaha mengalihkan pembicaraan karena tahu William akan membahas soal kejadian tadi.


William membuang napas kasar, kepalanya mendadak pening. Seumur hidupnya, William baru pernah merasakan dirinya tersiksa sampai sedemikian rupa.


Kedua orang itu pun berjalan berdampingan menuju ruang rapat. Daniel yang telah menunggu di ambang pintu, terkejut saat melihat penampilan atasannya.

__ADS_1


"Kau tidak perlu menungguku, kami akan masuk," ujar William. Tatapannya masih sama seperti sebelumnya, mengintimidasi.


"Tunggu Pak!" Daniel melebarkan tangannya menghalangi langkah William.


"Daniel!"


"Cinta, ini bagaimana? Lihat suamimu!" Daniel melirik Cinta.


"Apa maksudmu!" William menyentak.


"Bibir Anda Tuan."


"Kenapa dengan bibirku?"


Cinta mendekat, menangkup wajah suaminya agar dapat leluasa melihat wajah itu. Sedetik kemudian matanya membola.


"Ada apa Cinta?" William menatap istrinya penuh tanda tanya.


Cinta merogoh sapu tangan yang dia selipkan di saku jas William lalu menyeka bibir lelaki itu.


"Kenapa Cinta? Ada apa?" Ulang William.


"Lipstikku, mengenai bibirmu."


"Apa!" William sama terkejutnya. Dia memelototi Daniel yang sedang mentertawakannya.


"Sudah bersih, sekarang masuklah!" Kata Cinta.


William memegang tangan Cinta lalu mengecupnya sekilas. Memajukan wajahnya dan berbisik. "Ganti lipstikmu, pilih dengan kualitas terbaik yang tidak mudah luntur."


Cinta tersipu malu. Gadis itu masih berdiri di tempatnya sementara William sudah masuk ke dalam ruang rapat.


Rapat dimulai. William duduk menyaksikan presentasi dengan seksama. Untuk sejenak dia dapat melupakan pikiran nakalnya pada Cinta, tapi akibatnya kepalanya terasa pening. Sesuatu yang dia tahan membuat tubuhnya sakit tak karuan.


Baik Cinta maupun Daniel duduk mengapit William. Cinta merasa tak nyaman duduk di sana, dan William menyadari apa yang membuat ketidaknyamanan gadis itu. Tak sengaja, melalui ekor matanya William memergoki rekan bisnisnya tak jua mengalihkan pandangannya dari Cinta. Hal itu sukses membuat lelaki itu meradang. Ternyata banyak lelaki yang terpesona pada istrinya.


.


.


Pukul lima sore, William ke luar dari kantornya. Kendaraan roda empat itu dia lajukan dengan kecepatan sedang menuju pusat perbelanjaan.


"Ini bukan jalan menuju rumah Mas?" Cinta mengawasi jalanan sekitarnya.


"Memang, kita mampir ke mall sebentar."


"Mau apa? Kebutuhan pokok masih ada, stok bahan makanan di kulkas juga masih penuh," beber Cinta.


"Nanti juga kau akan tahu."


William memarkir mobilnya dan gegas turun membukakan pintu untuk Cinta.


"Awas kepalamu!" William menaruh tangannya di atas kepala gadis itu.


"Terima kasih," ucap Cinta. Senyum termanis dia persembahan untuk lelaki yang sudah mencuri hatinya sejak dulu.


Suasana mall cukup ramai menjelang akhir pekan. Cinta terus mengikuti ke mana langkah William membawanya sampai mereka kini tiba di depan stand make up terkenal.


"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu Kakak," sapa penjaga toko, ramah.


"Sore. Tolong berikan padaku lipstik yang terbaik yang ada di sini," cetus William.

__ADS_1


"Tentu, silakan tunggu sebentar."


Tak lama kemudian penjaga toko itu kembali dengan membawa berbagai macam pemulas bibir dengan pilihan warna berbeda.


"Ayo Cinta, pilih yang mana yang kau suka! Beli apa saja yang kau mau," tutur William penuh kelembutan.


"Tapi punyaku juga masih ada banyak di rumah Mas."


"Jangan membantah suamimu Cinta."


Pasrah. Cinta mulai membuka satu per satu benda panjang berukuran mini tersebut.


"Mbaknya beruntung punya suami seperti dia, baik dan sangat pengertian. Tampan lagi," seloroh penjaga toko.


Cinta tersenyum simpul. "Mbak bisa saja."


"Saya serius Mbak."


"Iya, terima kasih Mbak."


"Sudah ketemu? Kau mau pilih yang mana?" William mengapit mesra pinggang Cinta.


"Semuanya bagus, saya bingung," cicit Cinta.


"Ini yang tahan lama kan Mbak? Yang nggak mudah luntur atau nempel di gelas pas minum?" Tanya William.


"Ya, Pak. Mbaknya bisa mencobanya."


"Ayo pilih!" Ujar William, sementara Cinta kebingungan.


"Mau saya bantu pilihkan?"


Cinta mengangguk.


"Ambil yang ini." William meraih dua buah lipstik dengan jenis yang berbeda. "Tolong dibungkus Mbak, sekalian make up-nya satu set, saya mau yang paling mahal," ujarnya pada pelayan toko.


"Baik Pak." Pelayan toko segera membungkus pesanan William.


"Nanti kau coba yang rasa cokelat. Saya sudah mencicipi manis bibirmu yang rasa stroberi, sepertinya kau sangat menyukai rasa itu, tapi saya juga ingin mencicipi yang rasa cokelat. Sengaja aku belikan dua agar kau bisa bergantian memakaikan," bisik William.


Astaga, batin Cinta jejeritan. Dia sungguh tak percaya jika sosok dingin yang selama ini dikenalnya itu bisa menjadi mesum begini.


Usai membayarnya, William menggandeng tangan Cinta memasuki restoran cepat saji. Lelaki itu menarik satu kursi untuk Cinta tempati. Cinta diam saja menerima perlakuan manis suaminya.


"Mau pesan apa?"


"Samakan saja dengan punya Mas."


"Ya sudah."


Cinta duduk manis sementara William mengantre di depan.


Sore itu, menemani senja menjemput malam. Dua insan itu terus menghabiskan waktu bersama. Setelah urusan mengisi perut selesai, William mengajak Cinta menonton di bioskop. Libur panjang di akhir pekan ini akan dia manfaatkan untuk lebih mengenal Cinta.


William berharap semoga ruang dalam hatinya lekas berganti pemilik. Di depan matanya sudah ada sosok sempurna yang telah halal baginya, sementara gadis pujaan hatinya tak mungkin lagi dapat dia miliki.


Namun, kembali lagi. Ini semua urusan hati, dan tak ada satu orang pun di dunia ini yang dapat memilih akan ke mana dia berlabuh.


Bersambung ....


*Happy reading Kesayanganku 😍😍😍 semoga kalian suka dengan jalan ceritanya ya 🙏🤗 mohon maaf belum bisa double up,lain waktu kalau aku nggak sibuk pasti aku kasih double up. Mohon dukungannya ya, vote, like, dan komen yang banyak. Membaca komentar kalian adalah hal paling membahagiakan buatku. Salam sayang 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2