
Hanum saling melirik dengan mertuanya, kemudian keduanya menahan tawa saat melihat jejak keunguan di leher Cinta. Keluarga besar itu sedang sarapan bersama pagi ini.
Sementara Cinta terus memberengut masam, senyuman di bibir William terus terkembang. Ide untuk mengikat rambut Cinta tinggi ala ponytail sebenarnya adalah ide William, pria itu yang memaksa Cinta dan menawarkan diri untuk mengikat rambutnya. Jadilah sekarang Cinta merasa malu karena sudah pasti keluarga besar suaminya mengetahui kejadian yang dia dan William lalui hingga tak keluar kamar.
"Hm, kamu rapi banget Rai?" Cinta mencoba mengurai keheningan yang terjadi di meja makan.
"Iya Kak, aku kan sekarang kerja."
"Hm, kerja sekantor sama Willmar?" tanya Cinta lagi.
"Iya. Dari pada bingung di rumah nggak ada kegiatan," jawab Raisa.
"Jangan sekali-kali kamu berpikiran buat kembali kerja, kamu fokus aja sama bayi kita." William ikut menimpali.
'Mau jadi apa aku kalau nanti seandainya setelah punya anak aku kerja. Di kantor capek, di rumah pun musti urus anak, belum lagi urus kebuasan kamu di ranjang,' batin Cinta.
Sarapan pagi berakhir, para pria gegas menuju kantor masing-masing usai saling berpamitan pada orang tua juga istrinya. Lain halnya dengan Arya yang memilih menghabiskan waktunya dengan berkebun bersama sang istri.
Hanum mengajak menantunya duduk di taman sambil memperhatikan dua orang berusia senja itu bergelut dengan tanah.
"Gimana Sayang, Mama harap akan mendengar kabar baik perkembangan hubungan kalian."
"Seperti yang Mama lihat, kami udah sepenuhnya baikan kok," jawab Cinta.
"Syukurlah, semoga ke depannya kalian bisa lebih mawas diri lagi dalam menjaga pernikahan kalian. Semoga Willi bisa menjadi suami sekaligus ayah yang baik untukmu dan anakmu kelak."
Cinta mengaminkan doa ibu mertuanya. Cukup lama mereka berbincang sampai matahari naik sepenggalah. Hanum menyuruh Cinta kembali ke kamar untuk beristirahat.
Cinta membaringkan tubuhnya di kasur, mengelus perutnya yang kini membesar. Dalam hitungan empat Minggu lagi mungkin dia akan melahirkan jika sesuai dengan apa yang dikatakan Rania.
Cinta mengambil ponselnya saat sebuah notifikasi pesan masuk terdengar. Ia mengulum senyum saat melihat barisan kata yang dikirimkan suaminya. Sederhana saja, hanya menanyakan sedang apa Cinta sekarang, apa bayi mereka merepotkan atau tidak, juga ungkapan terima kasih atas pelayanan terbaik yang Cinta berikan pada pria itu semalam.
Namun, sungguh, hal itu membuat suasana hati Cinta menjadi lebih baik.
.
.
Willmar melirik istrinya, wajah wanita itu terus tertekuk sedari tadi.
"Kenapa?"
Pertanyaan Willmar membuyarkan lamunan Raisa. "Apanya?" gadis itu balik bertanya.
"Kamu dari tadi aku perhatiin diam terus. Kenapa emangnya?"
"Nggak apa-apa."
"Jangan bohong," desak Willmar.
Raisa menghela napas berat. "Dosa apa yang udah aku perbuat sampai kita dihukum seperti ini Wil?"
"Ngomong apa sih kamu? Kita udah sering bahas masalah ini Rai, dan aku sama sekali nggak keberatan. Kita masih bisa hidup bahagia tanpa adanya anak."
"Kamu bisa aja ngomong gitu karena kita masih baru menjalaninya. Nanti kalau kamu udah mulai bosan sama aku ..."
"Ssstt! Kamu makin ngawur. Udah ya, jangan bahas masalah yang nggak penting kayak gini, fokus aja dengan apa yang ada di depan kita." Willmar bangkit dan membawa Raisa ke dalam pelukannya.
"Kita hampir mendapatkannya Will, kita hampir saja memiliki anak."
__ADS_1
"Udah, ikhlaskan. Tuhan memberikan ujian seperti ini padamu karena percaya kamu bisa melewatinya."
"Aku ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki anak."
"Kita bisa mengadopsi anak kalau kamu mau," usul Willmar.
"Nggak mau, aku maunya anaknya Kak Cinta kalau misalnya nanti dia udah melahirkan."
"Kamu juga bisa ikut merawatnya nanti, Kak Cinta pasti mau memberikan kesempatan pada kita untuk merawat anaknya juga."
"Hm."
"Berhenti menangis. Aku benci melihatmu menangis."
Bukannya reda, tangis Raisa malah semakin menjadi-jadi.
Ditemani senja mengantarkan bumi memeluk malam, William melajukan kendaraannya menembus padatnya jalan. Lelah karena padatnya aktivitas di kantor seharian tak memadamkan semangatnya untuk segera menemui istri tercintanya.
Dia telah sepakat untuk mengajak Cinta keluar malam ini, sekedar berjalan-jalan. Jika dipikir-pikir lucu juga karena William bertingkah layaknya ABG yang sedang kasmaran.
"Sayang," panggil William begitu ia memasuki kamarnya.
"Ya Mas."
"Kamu lagi apa?"
"Baca buku parenting. Kamu baru pulang?" Cinta meninggalkan sofa. " Aku buatin minum ya."
"Nggak usah. Kamu duduk aja, tunggu aku selesai mandi habis itu kita cari ... jajanan apa yang kamu bilang tadi?"
"Serabi."
"Iya. Aku mandi dulu habis itu kita berangkat cari serabi."
"Meskipun naik mobil, kamu harus tetap pakai jaket biar nggak kedinginan," ujar pria itu.
Cinta diam saat William menggenggam tangannya meninggalkan rumah demi mencari kue tradisional yang diinginkan Cinta.
"Kita mampir makan malam dulu, mau?" tawar William.
"Boleh."
"Mau makan apa?"
"Terserah Mas aja."
"Aku nanya sama kamu."
"Beneran terserah kamu aja Mas, aku lagi nggak ada yang ingin dimakan selain serabi."
"Oke, habis makan kita cari serabinya. Bebek goreng mau nggak?"
"Mau."
"Oke."
William memarkirkan mobilnya di sebuah rumah makan sederhana bernuansa klasik. Begitu masuk, pelayan yang sudah hafal betul dengan apa yang akan dipesan oleh William pun membawa nampan besar ke meja.
"Kamu sering makan di sini?"
__ADS_1
William mengangguk. "Bebek goreng itu makanan kesukaannya papa, dari kecil udah sering diajak makan di sini makanya pelayannya sampai hafal menu favorit aku."
Cinta ber-oh ria.
"Makan dulu, kamu pasti udah kelaparan."
"Enggak juga, soalnya tadi sore Mama buatin aku salad buah. Masih kuat sampai jam makan malam kayak gini."
William mengusap puncak kepala Cinta. 'Seperti ini terus ya, akur sampai kapanpun.' William membatin.
Cinta dibuat lelah setelah hampir tiga jam lamanya dia berada di luaran. William langsung mengajak istrinya istirahat begitu mereka sampai rumah, tapi seseorang mencegat mereka saat keduanya melintasi ruang tengah.
"Baru pulang Kak? dari mana aja," tegur Raisa.
"Eh, iya. Tadi nyari ini dulu." memamerkan bungkusan makanan pada saudara iparnya.
"Kalian belum tidur?" William angkat bicara.
"Belum, Raisa belum ngantuk katanya dan dia pengen ngobrol sama Kakam Cinta," tukas Willmar.
"Oh ya?"
"Ya Kak, duduk sini!" Raisa menyuruh Cinta duduk di sampingnya.
"Ada yang diomongin?" tanya Cinta, yang dibalas dengan sebuah anggukan.
"Soal apa?" tanya Cinta lagi.
"Besok Kakak jadwal cek kandungan kan?" tanya Raisa berbinar.
"Iya. Kenapa emangnya?"
"Aku boleh ikut nggak?"
"Ke dokter?" telisik Cinta.
"Iya."
"Ya boleh lah, orang cuma ngomong gitu doang kok muka kamu sampai tegang gitu. Aku kira mau ngomongin apaan."
Raisa terkekeh pelan. "Aku iri sama kamu Kak, jaga baik-baik kandungan kamu ya. Aku udah nggak sabar pengen lihat seganteng apa keponakanku nantinya."
"Iya. Kamu jangan ngomong itu lagi, aku udah sering bilang sama kamu kalau kamu boleh anggap anak ini sebagai anak kamu juga," ujar Cinta, tulus.
"Apa aku boleh izin membawa dia nginep ke rumahku kalau dia udah besar nanti?"
"Tentu saja, kamu juga mamanya sudah pasti aku akan mengizinkan kamu membawanya ke mana pun."
"Aku janji akan menyayangi dan menjaga dia segenap hatiku Kak. Aku ..."
"Jangan nangis. Anakku anak kamu juga. Kamu masih bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu, percaya sama aku." Cinta menepuk pelan punggung saudara iparnya.
Sebagai sesama wanita, Cinta paham betul dengan apa yang Raisa rasakan saat ini. Tanpa sadar dia melirik suaminya yang sedang menatap Raisa penuh rasa iba.
Saat itulah Cinta menyadari, suaminya telah benar-benar berubah. Cara William memperlakukan Raisa, juga cara pria itu menatapnya, hanya ada ketulusan sebatas kakak yang terpancar. Maka tak pantas Cinta masih memendam keraguan dalam hatinya, terlebih setelah apa yang William lakukan padanya.
"Udah dulu ya, udah malam. Ibu hamil harus banyak istirahat," celetuk William, membuat kedua wanita itu saling mengurai pelukannya masing-masing. Cinta mengangguk dan bangkit dari duduknya.
William mencondongkan tubuhnya dan berbisik pada adik kembarnya. "Ajak dia mendaki puncak nirwana agar suasana hatinya menjadi baik," bisiknya, jenaka.
__ADS_1
Willmar mendengus, menyadari kakaknya berubah menjadi mesuum semenjak hubungannya dengan Cinta membaik.
Bersambung ....