Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Gelisah


__ADS_3

William terbangun saat merasakan guncangan kecil di bahunya. Ia mengerjap, siapa lagi yang akan membangunkannya selain wanita hamil yang sekarang bertambah cantik, Cinta.


"Mas, cepetan bangun."


William melirik ke arah jam dinding. Pantas saja istrinya merengek karena jam sekarang pastilah wanita itu sudah kelaparan.


"Eumh, iya Sayang?"


"Cepetan pesan makan Mas, aku kelaparan."


Benar dugaan William. "Udah Sayang. Aku udah memesannya sekalian tadi malam. Biasanya akan diantar jam enam nanti, tunggu sepuluh menit lagi ya, kalau belum datang juga nanti aku hubungi pihak hotel."


"Ya udah sana Mas buruan mandinya."


"Kamu bisa makan dulu kalau makanannya udah datang dan aku masih belum keluar dari kamar mandi. Oke?" Wanita itu mengangguk.


"Sambil nunggu kamu bisa makan roti dulu Sayang."


"Udah habis," jawab Cinta.


Sontak William menghentikan langkahnya, melirik sebentar ke arah meja yang hanya menyisakan bungkusan plastik kosong. Pria itu menggeleng pelan lalu memulai ritual mandinya. Di bawah guyuran air dari shower, pria itu terus tersenyum ketika membayangkan betapa panas malam yang telah dia lewati bersama Cinta.


Bibir yang semula hanya mengulum senyum itu kini terbuka lebar. William menelusuri kulit lehernya, tepat di bagian tanda berwarna keunguan yang tercetak sedikit memanjang. Lagi, pria itu tertawa. Setelah sekian lama, bukan hanya dirinya saja yang mempunyai kuasa membuat tanda cinta, istrinya juga dan William sangat senang mendapatkan tanda buah karya Cinta.


"Habis sarapan kita ke mana Mas?"


"Eh, kamu nggak bilang kita mau pergi," kata William. Mereka tengah duduk di balkon. Sarapan sambil menikmati pemandangan indah di bawahnya.


"Kalau dipikir-pikir bosan juga Mas tiga hari kita nggak ke mana-mana."


"Habiskan dulu makanannya ya, nanti kita pikirkan lagi soal ini. Atau kamu mau pergi ke suatu tempat?"


"Pengen nonton. Aku belum pernah nonton di bioskop," cetus Cinta.


"Aduh, Sayang. Bukannya Mas nggak mau, tapi kan kamu lagi hamil besar. Aku nggak mau kamu bepergian dalam keadaan seperti ini."


"Masa nggak boleh." wanita itu mengerucutkan bibirnya.


"Bukan nggak boleh Sayang. Aku cuma khawatir aja dengan keadaan kamu. Kita bisa pergi ke sana lain kali, masih ada banyak kesempatan."


William tahu istrinya kecewa, tapi dia tetap tak mau menuruti keinginan Cinta dengan alasan kehamilannya. "Gimana kalau kita ganti aja tujuannya? Kita bisa jalan-jalan ke mall, atau ke taman hiburan. Kamu masih bisa menaiki beberapa wahana permainan yang aman untuk ibu hamil," usul pria itu.


"Ya udah, jalan-jalan ke mall aja lah," ucap Cinta setelah cukup lama berpikir.


"Nah gitu dong. Masih ada banyak sekali tempat yang bisa kita kunjungi."


setelah melanjutkan kembali acara sarapan mereka, William membantu istrinya bersiap untuk pergi ke mall. Mereka hanya perlu berjalan kaki saja menyeberangi jalan karena letak pusat perbelanjaan itu berada persis di seberang hotel yang mereka tempati.


"Mau beli apa Sayang," tawar William.


"Belum ada."


"Ya udah kita duduk dulu ya, takut kecapekan dari tadi kamu jalan terus."


William membawa istrinya untuk duduk di kursi tunggu. Suasana dalam bangunan itu tak begitu ramai mengingat hari ini masih hari kerja.


"Minum."


Cinta menerima botol minuman yang disodorkan suaminya, meneguknya hingga rasa dahaganya terpuaskan.


"Mas ..."


"Apa Sayang?"

__ADS_1


"Aku mau itu." Cinta menunjuk anak kecil yang sedang duduk di seberangnya sambil menyantap jajanan berkuah dalam mangkuk plastik.


William mengikuti arah telunjuk istrinya. "Hm, baso aci itu, Sayang."


"Mau."


"Ya udah, tunggu di sini ya, biar aku beli."


"Jangan kelamaan."


"Ya. Ingat, tetap tunggu di sini!" titah William yang dijawab dengan sebuah anggukan.


Tanpa menunggu lama, William menuju stand jajanan yang diinginkan Cinta. Letaknya agak jauh dari tempat duduk mereka tadi, juga antreannya yang cukup panjang membuatnya tak mau mengajak istrinya turut mengantre.


.


.


Willmar membantu mengangkat beberapa barang belanjaan Raisa dan menaruhnya di bagasi.


"Yang, kita masuk ke dalam lagi yuk?"


"Ada yang ketinggalan?" tanya Willmar.


"Aku kebelet pipis, sama pengen beli jajan."


Willmar menghela napas panjang. "Tadi nggak sekalian."


"Belum kebelet tadi. Ya udah deh kamu tunggu di sini aja, aku cuma sebentar kok," kata Raisa.


"Beneran aku nggak ikut nih?"


"Ya. Udah kamu tunggu di mobil aja," pungkas Raisa.


Di sisi lain.


Cinta mulai gelisah menantikan suaminya yang tak juga kembali. Sepuluh menit baginya tentu sangat lama.


"Hai Cin."


Cinta menoleh ke arah sumber suara, senyuman indah menghiasi wajah cantiknya. "Hai Azka."


"Kamu apa kabar? Udah lama banget kita nggak ketemu."


"Iya nih. Kabarku baik, kamu sendiri?"


"Seperti yang kamu lihat. Oh ya, sebulan lagi aku menikah," cetus Azka, mendaratkan bokongnya di kursi kosong dekat Cinta.


"Wah, selamat ya. Aku ikut senang mendengarnya."


"Kamu sama suamimu wajib datang lho."


"Iya, tentu saja akan aku usahakan. Ngomong-ngomong kamu ngapain di sini? nggak kerja?"


"Aku baru aja dari lantai empat buat lihat-lihat perhiasan."


"Calon istri kamu mana?"


"Udah pulang duluan soalnya ada kerjaan dia. Aku juga mau pulang pas kebetulan lihat kamu, seneng bisa ngobrol walaupun cuma sebentar," kata Azka.


"Iya."


"Kamu lagi istirahat? Kenapa nggak ikut sekalian sama William?"

__ADS_1


"Suamiku lagi beli baso aci. Aku disuruh nunggu di sini karena antreannya panjang."


"Oh ya? tapi tadi aku lihat dia kayak lari-lari gitu," sahut Azka.


"Lari-lari, ke mana? orang dia mau beli baso aci buat aku kok."


"Beneran. Tadi aku lihat dia lari-lari kayak lagi ngejar perempuan."


"Perempuan?" kedua alis Cinta saling bertautan.


"Kalau nggak salah dia itu istrinya saudara kembar Willi deh," cetus Azka.


"Hah? Masa sih? kamu salah lihat kali," ujar Cinta, sangsi.


"Yaelah Cin, mataku masih normal lho."


Cinta mulai terusik dengan ucapan Azka. Batinnya berusaha menyangkal jika suaminya kembali membohonginya seperti dulu, tapi pikirannya juga mulai berkecamuk. Bagaimana jika yang dilihat Azka adalah benar suaminya? William mengejar Raisa untuk kembali merajut kasih yang sempat tertunda.


Cinta dibuat pusing memikirkan berbagai macam pikiran buruk yang kini menggelayuti benaknya.


"Kamu bisa lihat kalau nggak percaya." Cinta masih diam, bingung hendak berbuat apa.


"Tadi aku lihat mereka lari ke arah gedung parkir. Kalau kamu mau memastikan yang tadi aku lihat benar-benar suamimu atau bukan, kita bisa cek sebelum mereka benar-benar pergi," imbuh pria itu.


"Ajak aku ke sana, ke tempat kamu melihat suamiku tadi," kata Cinta. Dia sendiri tak sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya, tapi yang jelas dia perlu memastikan kebenarannya.


"Ayo, kamu masih bisa jalan cepat kan? Aku takut mereka udah jauh."


Cinta pun bangkit. Ia tak sadar tangannya telah digenggam erat oleh Azka. Cinta mengikuti ke mana Azka membawanya tanpa banyak bertanya.


Sesampainya di tempat parkir, kedua orang itu mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan sosok yang dicarinya.


"Yah, jangan-jangan mereka udah pergi Cin," kata Azka, putus asa.


"Pergi ke mana?"


"Aku nggak tahu, cuma tadi aku sempat dengar Willi akan terus kejar Raisa, begitu katanya."


"Kira-kira ke mana ya?"


"It ... itu mobil siapa?"


Di tengah kebimbangan Cinta, ia melihat mobil merah meluncur dengan cepat keluar dari gedung parkir tersebut.


"Bukankah itu mobil Raisa?"


"Entah, aku nggak yakin," balas Cinta.


"Sebaiknya kita kejar, kebetulan mobilku di sebelah sana."


Belum sempat Cinta menjawab, pria itu sudah lebih dulu menggenggam tangannya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Pasang sabuk pengamanmu dulu Cin," kata Azka.


"Iya."


Azka gegas menyalakan mesin mobilnya dan melajukan dengan kecepatan tinggi.


"Pelan-pelan aja bawa mobilnya Azka, aku takut," cericit Cinta.


"Kamu tenang aja, kita akan tetap aman kok. Kalau aku lambat, kita nggak akan bisa ngejar mereka, yang ada kita bakalan kehilangan jejak."


Cinta berpegangan erat pada pegangan mobil di dekat pintu. Dia mulai merapal doa dalam hatinya. Perasaannya sungguh berkecamuk. Mungkinkah William kembali mengulangi kesalahannya dengan mengkhianati dirinya lagi?

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2