Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Kejam sekali


__ADS_3

"Kurang ajar!" Mauryn berteriak memaki Hanum, dia memandangi pantulan dirinya di depan cermin, tangannya mengepal. Wajahnya terlihat merah padam akibat emosi yang memuncak. "Kau hanya wanita kampung yang tidak ada apa-apa nya dibandingkan denganku. Lihatlah, wajahku bahkan lebih cantik darimu. Badanku, sama sekali tidak ada yang berubah sedikitpun, orang tidak akan tahu kalau aku telah melahirkan dan memiliki seorang anak. Tapi kenapa ..." air matanya jatuh berderai. "Kenapa Sultan tidak pernah sedikitpun membuka hatinya untukku? dia malah tergila-gila pada perempuan rendahan sepertimu."


Tubuh Mauryn luruh di lantai, dia menangis tersedu, meratapi kisah cintanya yang tragis. Bagaimana tidak, setelah sekian lama memendam perasaan kepada Sultan bahkan sejak dia kecil, pria itu tak pernah sedikitpun meliriknya. Tadinya Mauryn berpikir kalau dia masih punya banyak kesempatan untuk mendapatkan hati Sultan, terlebih ketika dia mengetahui kalau saat itu Hanum telah menikah dengan Sakti. Itulah yang membuatnya memutuskan untuk meninggalkan Dion dan kembali ke Indonesia. Dan prahara di mulai saat dia mengetahui kenyataan bahwa Sakti telah meninggal dunia dan memberikan wasiat terakhir kepada Sultan untuk menjaga sekaligus menikahi Hanum.


Mengetahui hal tersebut, sama sekali tidak membuat Mauryn mundur. Dia malah semakin berniat untuk merebut Sultan dari istrinya. Dia sampai melakukan cara halus agar tidak ada satu pun orang yang menaruh curiga terhadapnya.


Mauryn bangkit ketika mendengar derap langkah seseorang mendekat ke arahnya dan kemudian dia menyalakan kran air untuk membasuh wajahnya. Dia menyadari kalau saat ini dia sedang berada di toilet dan masih dalam gedung kantor Sultan. Dia tidak mau terlihat kacau oleh siapa saja yang bisa melihatnya.


Tak lama, dia pun keluar dari gedung tersebut dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya.


"Awas saja kau Hanum. Ini masih belum berakhir, aku akan memastikan kalau Sultan akan menjadi milikku, selamanya," ucap Mauryn sambil memukul stir mobil.


.


"Jangan menyentuhku!" hardik Hanum saat Sultan kedapatan hendak menarik pinggang Hanum, menyuruh gadis itu untuk duduk di sampingnya.


Sultan tersentak, baru lima menit yang lalu istrinya terlihat begitu manja bergayut dan selalu menempel padanya seakan tak mau lepas. Tapi kali ini, gadis itu tak mau di sentuh olehnya, bukan itu saja, Hanum juga membentaknya.


"Sayang ..." lirih Sultan.


"Sayang ... sayang ... jangan panggil aku sayang! enak saja." Hanum duduk memunggungi suaminya.


"Sayang maafkan aku, aku ..."


"Sekali lagi kau memanggilku sayang, aku akan menaruh selotip di bibirmu agar kau tidak bisa bicara," ucap Hanum, mengancam Sultan.


"Argh ..." frustasi, Sultan menjambak rambutnya sendiri.


"Berapa kali aku mengatakannya padamu kalau aku tidak suka melihat wanita siluman itu!"


Setengah mati Sultan menahan tawanya ketika mendengar istrinya memakai istilah wanita siluman, enggan menyebutkan nama rivalnya ataupun kata 'perempuan itu', kata yang sering Hanum ucapkan untuk menunjuk Mauryn.


"Aku sudah melarang nya tap ..." ucapan Sultan terpotong saat Hanum menyambarnya dengan cepat.


"Diam!" teriak Hanum lagi, membuat tubuh Sultan terlonjak kaget. "Diam kataku! kau tidak boleh bicara kalau aku sedang berbicara. Kau dilarang bicara sampai aku selesai bicara dan mengizinkan mu untuk bicara." menatap tajam suaminya. "Paham!"


Sultan mengangguk pelan, entah seperti apa wajahnya saat ini yang jelas dia tidak peduli, yang dia pikirkan adalah tetap diam tanpa membantah setiap ucapan yang keluar dari bibir tipis istrinya.

__ADS_1


Masih siang tapi aku harus sport jantung, dia terus berteriak sejak kepergian Mauryn. Hanum mengerikan sekali kalau sedang begini, ternyata benar, marahnya orang pendiam itu sangat menakutkan. Ini bahkan lebih membuatku takut dari sekedar menerima hukuman cambuk dari Kakek dan di marahi Papi habis-habisan, dulu. Sultan mengurut dadanya.


"Ini terakhir kalinya aku melihat dia datang kemari."


Sultan kembali mengangguk saat mendengar suara istrinya yang kembali menggelegar memenuhi ruangan.


"Minta petugas security untuk melarangnya masuk!"


Lagi, Sultan mengangguk.


"Kalau sampai dia masih bisa masuk dan sampai kedapatan aku melihat dia disini, sekalipun bayangannya saja, aku akan memberikan perhitungan. Bukan hanya pada perempuan itu, tapi juga padamu." Hanum mendelik, tatapan matanya tajam bak seekor singa yang hendak menerkam mangsanya. Dan melihatnya, membuat Sultan merinding.


Sultan membuka mulutnya tapi sama sekali tak ada suara yang keluar dari sana, menunjuk dirinya.


"Memang siapa lagi?" pekik Hanum masih dengan nada suara tinggi yang melengking. "Kak Raka? Mas Adam? atau Mbak Audy? Mbak Mira? jelas-jelas kamu yang salah."


"Memang aku salah apa?" reflek Sultan membungkam mulutnya, menyadari kalau dirinya telah melanggar aturan.


"Ck ... ck ... kamu di diskualifikasi Mas, karena telah melanggar peraturan. Kamu tidak hanya akan dihukum, tapi juga kena penalti, kamu harus membayar ganti rugi padaku?"


"Kau tidak akan dapat jatah selama seminggu."


"Apa? apa-apaan ini?"


"Satu bulan." Hanum mengancam untuk menambah hukuman pada suaminya.


Sultan yang awalnya masih belum mengerti hendak membuka mulutnya lagi namun dia mengurungkan niatnya begitu menyadari kalau ternyata saat ini dirinya telah melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh Hanum yang melarangnya berbicara. Dan sialnya lagi, Sultan bukannya diam tapi malah kembali mengulang kesalahannya dengan terus berbicara.


"Kau harus membayar denda padaku, lalu kau juga dihukum selama sebulan kedepan. Aku tidak akan memberikan hakmu sebagai seorang suami." ancaman Hanum terdengar begitu menakutkan, membuat Sultan menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon pada istrinya agar mau berbelas kasih dengan membatalkan semua hukuman itu.


"Kau sudah boleh bicara Mas."


"Sayang ... tidakkah kau pikir hukuman itu terlalu kejam untukku? sudah ku katakan padamu kalau aku sama sekali tidak tahu menahu kalau perempuan itu ..."


"Wanita siluman," Hanum menyambar, masih ada sisa-sisa amarah yang berkobar di matanya. "Nama perempuan itu sudah aku ganti menjadi 'wanita siluman', Mas harus menyebutnya begitu," tegas Hanum.


"Iy ... iya baiklah." Sultan mengalah, "Aku tidak tahu kalau wanita si ... wani ... wanita siluman itu akan datang, sayang." Sultan kesulitan mengucapkan kalimat tersebut.

__ADS_1


"Sudah berapa kali Mas menggunakan alasan yang sama? kamu pikir aku bodoh atau bagaimana?" menarik dasi suaminya hingga membuat Sultan tercekik.


"Sayang ..."


Apa sebenarnya yang terjadi? kenapa semenjak hamil Hanum berubah menjadi menakutkan begini sih. Argh ... Sultan berteriak dalam hati.


"Capek aku ngomong sama kamu Mas." Hanum bangun dari tempat duduknya. "Aku pulang dulu, aku sendiri yang akan bilang sama petugas keamanan nanti untuk melarang perempuan itu memasuki kantormu, apalagi sampai masuk ke ruangan kerjamu."


"Sayang, tunggu." Sultan mencekal lengan istrinya.


Hanum membalikkan badannya.


"Aku tidak peduli, yang jelas kalau sampai aku melihat dia datang ke kantormu lagi. Aku tidak segan-segan untuk memotong senjatamu dan menikahkan kalian berdua. Akan aku pangkas habis milikmu sampai tak tersisa, biar saja wanita jahat itu hanya mendapatkan dirimu yang sudah tidak sempurna lagi." Hanum tertawa jahat kemudian pergi meninggalkan suaminya.


"Kejam sekali, sayang. Hanum ..." mengejar istrinya.


"Kembalilah bekerja, keputusanku sudah bulat dan tidak akan goyah sedikit pun sekalipun kamu membujukku," ucap Hanum acuh.


"Siapa yang akan membujukmu? aku mau pulang."


"Lihat jam berapa sekarang? jam kerja masih sisa dua jam lagi, itupun kalau tidak lembur."


"Kau lupa kalau aku pemilik perusahaannya?" mencubit gemas pipi Hanum. "Terserah aku mau pulang jam berapa pun, mau tidak berangkat ke kantor juga tidak masalah," ucapnya sombong.


"Aku tidak main-main dengan ucapanku barusan." mendengar perkataan istrinya membuat Sultan mau tidak mau menghentikan langkahnya, di tatapnya wajah sang istri. "Sudah cukup sampai di sini saja, sudah cukup semuanya. Aku akan sangat kecewa kalau sampai melihatmu bersama perempuan itu lagi."


Sultan mengangguk, hawa panas kembali terasa begitu Hanum mulai bicara serius padanya.


"Tidakkah Mas berpikir? selama ini dia terus saja mengejarmu, karena apa? karena dia masih bisa mencari celah, dia punya kesempatan untuk berusaha mendapatkan kamu. Dan kamu pikir dia mendapatkan kekuatan itu dari mana?" Hanum menjeda kalimatnya sejenak. "Dari kamu." menunjuk Sultan. "Karena kamu selama ini selalu berdiam diri, kamu terlalu lemah. Kamu bahkan tidak melakukan tindakan apapun padanya padahal jelas-jelas kamu tahu kalau dia pernah berniat mencelakaiku. Bahkan rumah dan kantormu sudah seperti tidak ada pintunya, dia bisa bebas keluar masuk kesana kemari semaunya. Aku kecewa, aku benar-benar kecewa sama kamu Mas."


"Aku minta maaf," lirih Sultan, menyadari bahwa saat ini istrinya kembali terluka.


"Aku sudah sering mendengar itu darimu. Aku sudah tidak membutuhkannya lagi sekarang. Sikapmu yang seperti ini bahkan jauh lebih kejam dari apa yang telah aku lakukan padamu selama ini. Seolah aku ini tidak ada artinya di matamu."


Hanum bergegas meninggalkan suaminya setelah selesai mengatakan hal itu, kalimat yang justru membuatnya sakit hati. Dia terus berjalan tanpa mempedulikan Sultan yang terus memanggilnya.


.

__ADS_1


__ADS_2