Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Dia menendangku


__ADS_3

Hanum menyibakkan gorden jendela kamarnya, sedikit membuka jendela agar udara segar bisa leluasa masuk.


Sultan yang masih enggan meninggalkan alam mimpinya, menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Mencoba menghalau sinar matahari yang begitu menyilaukan matanya.


"Maaf aku menganggu tidurmu, tapi hari sudah pagi. Sekarang kan hari Senin, kau bisa terlambat karena biasanya terjadi kemacetan di mana-mana. Jadi, berangkatlah lebih awal." Hanum mendekati suaminya.


"Lima menit lagi," jawab Sultan, parau.


"Tidak bisa, cepat bangun atau ...,"


"Ya baiklah." 


Sultan mengalah, dia menghempaskan selimut yang sejak tadi membungkus tubuhnya.


"Kau sudah wangi, kapan kau mandi? sudah aku bilang berkali-kali jangan bangun terlalu pagi. Kau sedang hamil jadi perlu banyak istirahat, sekali-sekali bangun terlambat juga tidak masalah." 


Sultan memeluk istrinya, meletakkan dagunya di ceruk leher Hanum dan menghirup wangi aroma tubuh perempuan yang perutnya mulai membuncit itu.


"Aku memang biasanya bangun sebelum jam lima pagi kan," Hanum menyahut.


"Iya tapi mulai hari ini pengecualian. Aku perhatikan kamu kurang tidur, kamu selalu tidur di atas jam dua belas malam dan bangun pada pukul empat pagi. Itu tidak baik untuk kesehatanmu, Sayang."


"Huh, memang Mas pikir siapa yang menggangguku tiap malam? kau sendiri yang membuatku tidur larut malam. Apa kau lupa, jika aku sudah naik ke tempat tidurku lebih awal pun, kamu masih saja terus menggangguku," cebik Hanum.


Terkekeh, Sultan menyahut. "Sekarang kau sudah pandai menjawab ya!" dicubitnya pelan, hidung sang istri.


"Kan kamu yang mengajari, jangan bilang kalau kamu lupa!" Hanum tersenyum sinis, menyindir suaminya.


"Ya sudah aku mandi dulu." Sultan melepaskan kedua tangannya dari perut Hanum.


"Aku akan turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan untukmu," kata Hanum.


"Tidak usah, kan sudah ada Mbok Darmi yang akan mengurus semuanya. Duduk diam saja disitu, jangan kemana-mana!" ucap Sultan memperingatkan istrinya.


"Sekalian aku mau buat minuman untukmu."


"Itu juga tidak perlu kamu lakukan, biar aku suruh Mbok Darmi untuk membawakan sarapan ke atas. Kita sarapan di balkon saja, ya?" pinta Sultan.


"Ya sudah." Hanum mengangguk.


Sepeninggal suaminya, Hanum memilih untuk masuk ke dalam ruang ganti. Dibukanya lemari pakaian berukuran besar yang ada di sana, tangannya mulai menyusuri setiap kemeja yang tergantung rapi. Mengeluarkan sepotong kain berwarna soft pink dengan perpaduan warna abu-abu pada bagian kerah juga ujung lengan nya, kemudian membuka laci, disentuhnya setiap dasi yang tergulung rapi. Memilih warna yang cocok untuk dipadupadankan dengan kemeja yang tadi diambilnya.


Perlahan Hanum mulai mengayunkan langkahnya menuju rak sepatu, dia kembali dibuat bingung dengan banyaknya sepatu yang berjajar rapi disana.


Pastilah sepatu-sepatu itu mahal, begitu pikir Hanum.


Lima menit kemudian dia sudah kembali ke kamar. Baru saja dia meletakkan barang bawaannya di atas kasur bertepatan dengan suaminya yang keluar dari kamar mandi.


Hanum terus mengulas senyum tipis di bibirnya, melihat suaminya yang hanya terbalut handuk yang dililitkan sebatas pinggang hingga lutut, menampilkan dengan jelas perut yang tak ubahnya seperti roti sobek lengkap dengan enam sekat. Rambutnya yang masih setengah basah menciptakan droplet droplet yang berkilauan ketika menetes jatuh dan terkena pantulan sinar matahari.


Hanum sudah sering melihat suaminya dalam keadaan seperti itu sebelumnya  tapi entah mengapa rasanya sungguh berbeda kali ini. Sungguh, dia dibuat terpukau oleh penampilan Sultan, aura karismatik dalam diri pria itu begitu jelas terpancar.


Menyadari saat ini istrinya tengah larut dalam lamunannya, membuat Sultan tersenyum jahil. Tiba-tiba saja ide untuk menggoda Hanum, terbersit di kepalanya.


"Nah, ambillah!" 


Hanum tersentak begitu melihat suaminya memberinya beberapa lembar tisu padanya. Untuk beberapa saat dia termangu, terus menatap lembaran kertas putih yang saat itu masih menggantung di udara. Menatap tajam suaminya seolah bertanya 'untuk apa?'


"Lap bibirmu, air liurmu menetes tuh." 

__ADS_1


"Apa?" reflek, Hanum menyeka bibirnya dengan punggung tangannya. Membuat tawa Sultan pecah. "Kau mau menggodaku ya?" 


"Salahmu! melihat suami sendiri sampai sebegitunya, seperti tidak pernah lihat saja. Aku tahu kalau kau begitu terpesona padaku, iya kan?" Sultan melemparkan senyumnya.


"Biasa saja," gumam Hanum.


"Bohong! jelas-jelas kau terus menatapku sampai tak berkedip." 


"Mana ada?" elak Hanum.


"Masih saja mengelak, kau itu tidak pandai berbohong." 


Sultan sungguh dibuat gemas melihat kelakuan istrinya, dia pun mencubit pipi Hanum dengan begitu mesranya.


"Hari ini sepertinya aku akan pulang terlambat," kata Sultan. Dia mulai memakai kemejanya.


"Kenapa? apa kau sangat sibuk?" 


Hanum mendekat, berniat membantu suaminya memasang kancing kemejanya.


"Duduk saja, aku bisa sendiri. Sudah aku katakan kalau kau harus banyak istirahat, jangan terlalu banyak bekerja!" tolaknya, halus.


"Hanya membantu memasangkan kancing baju, mana bisa di bilang kerja sih?" cebik Hanum.


"Apa kau mau bibirku ini jadi lebih tebal karena terlalu sering mengingatkanmu untuk selalu menjaga kondisimu? jangan membantah!" 


Mendengar penuturan suaminya malah membuat Hanum terkekeh geli.


"Memang apa hubungannya tingkat ketebalan bibirmu dengan hal itu, Mas?" 


Gadis itu meraih dasi yang telah di siapkan olehnya, mengalungkan di leher suaminya.


Tak menyerah, Hanum membungkuk untuk mengambilkan sepatu suaminya.


"Berapa kali harus aku bilang, duduk diam saja! aku bisa melakukan semuanya sendiri, Sayang." Sultan meraih bahu Hanum dan membimbingnya untuk duduk di bibir ranjang sementara dirinya duduk di samping wanitanya.


"Aku hanya ingin melaksanakan tugasku sebagai seorang istri, apa itu salah?" cicit Hanum.


Sultan mendesah panjang. "Bakti seorang istri tidak hanya di tentukan dari hal-hal seperti ini saja, Sayang. Menuruti perintah suami juga sudah termasuk wujud dari bakti seorang istri lho. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan perlakuanmu padaku karena sesungguhnya aku malah sangat bahagia. Hanya saja, aku tidak mau kamu membuang waktu untuk hal sepele yang bisa membuatmu kelelahan hingga berujung pada memburuknya kondisi kesehatanmu."


"Membuang waktu untuk hal sepele kamu bilang?" Hanum mengulang ucapan suaminya.


"Bukan begitu, kamu salah paham." 


Sultan berusaha untuk memberikan penjelasan sebelum Hanum benar-benar salah mengerti maksud dari perkataannya tadi.


.


Di balkon.


Hanum menyendok pelan isi mangkuknya, rasanya dia sangat malas untuk sarapan. Bayangan semangkuk sereal dengan susu segar yang tadi amat dia inginkan, tak lagi menggugah seleranya karena pertengkaran kecil yang terjadi di dalam kamar.


"Masih marah?" tanya Sultan.


Hanum membuang muka, dan itu cukup menjelaskan kalau suasana hatinya masih belum membaik.


Cukup lama dia bertahan dengan terus mengunci rapat mulutnya,tidak ada kegiatan lain selain hanya dia gunakan untuk makan.


Melihat isi mangkuknya yang telah kosong, Hanum berniat untuk turun dan mengambilnya lagi. Dia pun merasa heran kenapa dirinya masih merasa lapar padahal dia sudah melahap habis serealnya. 

__ADS_1


Sedikit kesusahan Hanum bangun dari kursinya, perutnya memang sudah mulai terlihat membesar, terlebih lagi ukurannya yang memang lebih besar dari perut wanita hamil pada umumnya mengingat dia mengandung bayi kembar.


"Mau kemana?" Sultan meletakkan sendoknya.


Masih marah, Hanum tak berniat menjawab pertanyaan suaminya.


"Katakan padaku jika kau butuh sesuatu, biar aku saja yang turun." 


Sultan mendorong kursinya dan berjalan menyusul Hanum.


Belum sampai Sultan menjangkau istrinya.


Prang ...


Mangkuk dalam genggaman Hanum jatuh ke lantai dan hancur berkeping keping.


"Sayang!" pekik Sultan kaget.


Pria itu segera menghambur dan memeluk tubuh istrinya.


"Kamu tidak apa-apa? bagaimana mangkuk itu bisa terjatuh? kau tidak terluka kan?" tanya Sultan, panik.


Hanum masih terpaku.


"Sayang ... jangan diam saja! kau membuatku takut." 


"Mas ...," lirih Hanum.


"Ya, ada apa?" 


Hanum melirik ke bawah, mulutnya bergetar tapi dia tak mampu untuk mengucap sepatah kata pun. 


Sultan merasakan jemari istrinya bergetar hebat ketika telapak tangan gadis itu ia gunakan untuk memegang tangannya. Rongga dadanya masih dipenuhi dengan kecemasan, terlebih ketika Hanum menuntun tangannya dan menaruhnya tepat di atas perut buncit itu.


"Apa perutmu sakit?" Sultan makin panik.


Hanum menggeleng.


"Lalu kenapa? apa yang kamu rasakan? cepat katakan! jangan membuatku cemas."


"Di ... dia." Hanum terbata.


"Dia siapa?" tanya Sultan yang masih belum mengerti apa yang menyebabkan perubahan sikap Hanum.


"Dia menendangku Mas." Hanum menjeda sejenak ucapannya, menelan salivanya dengan susah payah. "Kacang kecilmu baru saja menendangku."


"Apa?" 


Sultan begitu terkejut, sorot mata kekhawatiran yang tadi sempat merajai bola matanya sekarang telah berubah menjadi binar kebahagiaan yang sulit dia definisikan.


Hanum mengangguk. "Aku bisa merasakannya Mas kalau tadi bayi kita menendang dalam perutku."


"Ya Tuhan." 


Sultan berlutut, dia mengarahkan kepalanya menuju perut Hanum.


"Di sini!" Hanum sedikit menggeser kepala suaminya menuju titik dimana dia merasakan getaran yang cukup kuat, tadi.


"Huh." Sultan membekap mulutnya, makin mendekatkan daun telinganya begitu dia pun merasakan perut istrinya bergetar.

__ADS_1


.


__ADS_2