
"Ada apa sebenarnya? Apa terjadi masalah lagi?" sembur Raka, ia sampai menekankan kata 'lagi' di dalam kalimatnya.
Lelaki itu mengutuk dalam hati, kenapa perempuan bernama Mauryn itu selalu menjadi sumber masalah di kehidupan mereka. Dia menyesali kehadiran Mauryn di kehidupan mereka, perempuan pembawa bencana, kata itu saja Raka kira tidak akan cukup untuk mendefinisikan seorang wanita yang kerap dijuluki sebagai wanita siluman oleh para kaum istri. Bagaimana bisa kedua temannya itu masih saja menyebut Mauryn sebagai teman jika perempuan jahat itu terus berlanjut memberikan malapetaka yang tak pernah ada habisnya. Bahkan setelah mendekam dalam jeruji besi sekalipun.
"Apa pihak kepolisian sudah menghubungimu?" tanya Adam.
"Apa dia juga menghubungimu?" Sultan balik bertanya.
Sumpah demi apapun, Raka ingin sekali mengadu kepala kedua temannya itu. Kehadirannya disana seolah tak ada artinya di mata Sultan dan Adam yang masih saja perang dingin dengan saling tatap.
"Kebiasaan buruk!" Raka berteriak.
Secara bersamaan tubuh Sultan dan juga Adam terlonjak kaget, pendengaran mereka sempat terganggu sekejap akibat dari ledakan suara Raka.
Ini kali pertama keduanya mendengar Raka berteriak dengan sangat keras, suaranya mungkin terdengar hingga di luar ruangan itu.
Raka pun sama kagetnya, dia sendiri tidak sadar jika teriakannya akan sekencang itu.
"Sebaiknya kita duduk dulu."
Sultan menggiring kedua temannya untuk duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan.
"Kau sungguh ingin tahu apa yang telah terjadi?" tanya Sultan pada Raka begitu ketiganya telah mengambil posisi duduk saling berhadapan.
"Apa perlunya kau bertanya begitu? Memang masih perlu aku perjelas lagi begitu?" sentak Raka, ucapannya terdengar tak bersahabat.
"Aku hanya memastikan saja, jika kau memang penasaran maka duduklah diam dan jangan menyela. Kau cukup mendengarkan apa yang akan aku dan Adam bicarakan." Sultan beralih menatap Adam.
Sultan kembali membuka mulutnya manakala dirinya melihat Raka mengangguk, tanda jika temannya itu tidak akan menyela percakapannya dengan Adam nantinya.
"Jadi bagaimana? Kau sendiri sudah mendengar penjelasan dari mereka?"
Mereka yang Adam maksud tentu saja adalah pihak kepolisian yang sempat menghubungi Sultan tadi.
"Ya, aku hampir tidak percaya. Aku baru saja akan menghubungi dirimu dan untunglah kamu sudah ada di sini jadi kita bisa ...,"
"Memang kejadian apa yang telah terjadi hingga membuatmu berkata begitu?" Raka memotong perkataan Sultan.
Untuk sesaat Sultan menatap Raka, yang di tatap itu hampir saja terbahak setelah melihat Sultan menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya. Dia mengira Sultan akan marah, tapi ternyata hanya sebuah peringatan kecil untuknya agar tak bertanya lebih banyak lagi.
"Jadi dia benar-benar melakukan hal itu?" Adam meninju lututnya. "Mereka berdua memang tidak waras," makinya lagi.
Kejadian yang baru saja menimpa Mauryn membuatnya teringat kembali kejadian memalukan yang terjadi di bangunan tua, dulu.
"Apa perempuan jahat itu kabur dari penjara?" pekik Raka hampir tak percaya.
"Ssttt ...!" lagi-lagi Sultan menaruh jari telunjuknya di depan bibir. "Bagaimana kronologi kejadian yang sebenarnya?" Sultan kembali menatap Adam.
Kampret, apa mereka berdua benar-benar tidak menganggap kehadiranku ada, disini? batin Raka sambil mengelus dada.
"Ya, dari keterangan polisi tadi mengatakan kalau Mauryn melakukan percobaan bun*h diri."
__ADS_1
"Apa ...."
Raka membekap mulutnya, ini kali kedua dia berteriak. Dia merasa tidak enak hati melihat kedua temannya itu memberikan tatapan mematikan yang seolah dapat diartikan sebagai sebuah peringatan keras.
Apa perempuan jahat itu benar-benar telah kehilangan kewarasannya? Setelah semua kejahatan yang dia lakukan dia mencoba bunuh diri, berpikir dengan cara itu dia bisa terbebas dari hukuman? Enak sekali, padahal bisa saja nanti di alam berikutnya dia mendapatkan hukuman yang lebih berat. Karena sebaik-baiknya penghukum pelaku kejahatan tentu saja Yang Maha Kuasa. Siapa yang tahu, Raka kembali membatin.
"Dia merasa sangat bersalah atas meninggalnya Reno," sambung Adam.
Secara tak langsung dia menjawab rasa penasaran Raka.
"Begitu mendengar kabar kematian Reno, ku dengar semalaman dia tidak bisa tidur. Dia terus menangis," imbuh Adam.
"Itu berarti ... Apa kemungkinan dia mencintai Reno?" tanya Sultan.
Adam menggeleng. "Aku rasa tidak. Kalau aku perhatikan malah sebenarnya dia itu begitu mencintai Dion tapi dia juga terobsesi denganmu. Kau adalah orang pertama yang selalu memberikan perhatian lebih padanya semenjak kepergian kedua orang tuanya. Dia terbiasa bergantung padamu, setelah menikah sebenarnya juga dia bahagia. Kalian tentu bisa berpikir demikian dengan lahirnya Yara, kan? Lalu Hanum tiba-tiba masuk ke dalam kehidupanmu dan itu membuatnya iri, Mauryn merasa terancam dengan adanya istri yang mendampingimu. Berpikir Hanum pasti merebut semua perhatian yang semula hanya kamu berikan padanya."
"Itulah yang melatarbelakanginya melakukan semua ini?" selidik Sultan.
Beberapa kali Adam mengangguk kecil, membenarkan perkataan temannya.
"Jika dia memang benar-benar mencintaimu dia tidak akan mungkin mau tidur dengan Reno. Dia bisa saja memenuhi kebutuhan biologisnya seandainya saja hubungannya dengan Dion tidak serumit itu."
Sultan terdiam, butuh waktu untuk mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Adam. Kalau dipikir-pikir benar juga apa yang diucapkan oleh temannya, begitu pikir Sultan.
"Argh ...." merasa frustasi, Sultan menjambak rambutnya.
"Jangan memikirkan soal itu lagi! Pikirkanlah kembali masalah yang sedang kita hadapi saat ini," ujar Adam.
"Ya, kau benar. Sejujurnya aku pun sudah muak berulangkali berurusan dengannya tapi masalahnya ... Sudah berada dalam penjara pun dia masih saja menghantui kita. Seolah tidak rela jika kita semua ini hidup bahagia dan damai dengan pasangan masing-masing," urai Adam.
"Ya sudah biarkan saja kalau begitu. Selesai permasalahannya," celetuk Raka.
"Tidak semudah itu!" seru Adam. "Memang kau pikir untuk apa pihak kepolisian menghubungiku? terutama kamu." menunjuk Sultan.
"Ya karena istrinya Sultan yang jadi korban kejahatan Mauryn kan? maka dari itu mereka menghubungi Sultan agar supaya dia dan juga istrinya mengetahui kondisi terkini Mauryn," cetus Raka.
"Lebih dari itu," sahut Adam. "Mauryn dan Reno sama-sama tidak memiliki keluarga, hanya bedanya Reno memang sengaja dibuang oleh keluarga besarnya secara terang-terangan sementara Mauryn benar-benar sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini."
"Itu lebih bagus, jadi sekarang mereka berdua sudah impas. Sama-sama mati tanpa ada satu orang pun yang sudi mengantarnya ke peristirahatan terakhirnya." Raka terlihat begitu antusias dengan pembicaraan mereka kali ini.
"Dan anggapanmu itu salah besar!"
"Salah bagiamana?" tanya Raka, bingung.
"Karena Mauryn masih hidup," balas Adam.
"Apa ...!"
Kompak Sultan dan juga Adam menggosok telinganya.
"Kenapa akhir-akhir ini kau suka sekali berteriak? Apa kau mau membuat kami berdua tuli? Ini ketiga kalinya kau mengeluarkan nada tinggimu. Berhenti atau aku akan menghajarmu!" ancam Adam.
__ADS_1
"Maaf," cicit Raka. "Kenapa dia tidak mati sekalian? Aku sampai heran, kenapa kebanyakan orang kalau menjadi jahat itu akan susah mati sementara orang yang baik, penuh belas kasih kepada sesama, cenderung mati muda." Raka menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Pemikiran macam apa itu?" jengit Sultan.
"Kau bertanya pemikiran siapa? Tentu saja pemikiran aku pribadi. Aku sudah sering melihat orang mati muda dan biasanya mereka itu orang baik-baik."
"Kau ini ada-ada saja!" Adam meninju kecil bahu Raka.
"Aku serius," cebik Raka.
"Ya, terserah apa katamu saja."
"Sepertinya Tuhan tidak merestui kalau Mauryn mati secepat itu, enak saja mau lari dari hukuman. Sebelum dia merasakan hukuman yang sebenarnya, hukuman dari Tuhan bukankah dia harus menyelesaikan hukuman di dunia terlebih dahulu? Eh ... Omong-omong bagaimana cara dia melakukan percobaan bunuh diri?" Raka begitu penasaran.
"Dia mencoba mengiris urat nadinya sendiri."
"Lalu?"
"Ya, dia kehabisan banyak darah tapi untungnya ada salah satu sipir penjara yang melihatnya sedang sekarat hingga akhirnya dia segera dilarikan ke rumah sakit."
"Itu sih namanya bukan untung tapi rugi, rugi besar jika dihitung dengan kalkulasi perusahaan," seloroh Raka.
"Kenapa?" Sultan bertanya.
"Ya akan seperti ini kan jadinya? Akhirnya dia kembali berulah. Aku takut jika berurusan dengannya, takut terkena bala bencana. Selama ini saja dia sudah cukup membuatku pusing. Apa kalian lupa kejadian di bangunan tua yang membuat kita seperti aktor dalam film action yang sedang bertaruh nyawa?" oceh Raka.
Sultan dan Adam saling pandang, sepertinya Raka sedang menunjukkan sifat aslinya di depan mereka. Jika Raka sudah mengomel, dia akan mirip ibu-ibu sales panci yang tidak akan berhenti sebelum mendapatkan konsumen sebanyak mungkin.
"Jadi kesimpulannya kalian mau bagaimana?" Raka meletakkan gelas kosong yang tadi dia gunakan untuk membasahi tenggorokannya. "Apa tindakan kalian selanjutnya?"
"Memang tindakan apa yang harus aku lakukan? Tinggal memantau kelanjutan masalah ini saja dari jauh, kan?" ujar Sultan.
"Perempuan jahat itu sungguh hebat," gumam Raka, membuat kedua temannya itu melemparkan tatapan tak suka padanya.
"Satu menit yang lalu kau terus mengutuknya dan sekarang kau berubah memujinya. Secepat itukah kau berubah pikiran?" sengit Adam.
"Kalian salah paham, pemirsa yang budiman. Yang aku maksud di sini adalah, dia hebat karena sekalipun dia sudah di penjara tapi masih saja menghantui kehidupan kita. Di sini siapa sebenarnya yang salah? Astaga ...." Raka menepak dahinya.
"Bagaimana dengan Dion?" tanya Adam. Mendadak dia teringat dengan mantan suami Mauryn.
"Hampir lupa, mana sempat aku mengabarinya karena begitu polisi tadi selesai menghubungiku secara bersamaan kau mendadak muncul," jawab Sultan.
"Cepat beritahu dia!" titah Adam.
"Tunggu!" cegah Raka.
"Memang ada apa?" Adam mengerutkan keningnya.
"Apa dia ...,"
.
__ADS_1