Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Lebih berisi


__ADS_3

Sultan yang baru saja di usir secara terang-terangan oleh istrinya pun memutuskan untuk keluar dari kamar itu. Dengan berat hati dia berjalan menuju ruang tengah, karena sudah tidak ada pekerjaan yang bisa dia lakukan, dia memilih untuk menyibukkan diri dengan menonton siaran langsung pertandingan sepakbola di salah satu stasiun TV lokal.


Hampir satu jam lebih sejak dia duduk disana, pertandingan sepakbola yang dilihatnya pun telah usai tapi dia belum juga mengantuk. Lalu dia beranjak dari tempat duduknya kemudian menuju dapur, berniat membuat secangkir kopi.


" Ealah ... Den bagus belum tidur toh?"


Sultan terlonjak kaget begitu mendengar suara Mbok Darmi yang tiba-tiba muncul di dapur.


" Astaga, mbok ... mengagetkan saja." Sultan mengurut dadanya.


" Maaf Den." wanita itu tersenyum, " Mau buat kopi? sini biar si Mbok saja." meraih cangkir dari tangan Sultan yang baru berisi sesendok gula.


" Mbok, belum tidur?" Sultan sedikit menggeser posisinya.


" Sudah Den, ini mau ambil air minum buat Bapak, tadi sebelum tidur, si mbok lupa tidak bawa air minum." menuangkan air panas ke dalam cangkir, mengaduknya pelan lalu menyerahkannya pada Sultan.


" Terimakasih Mbok."


" Omong-omong, kenapa Den Sultan belum tidur? apa masih ada pekerjaan?"


Keduanya berjalan bersama menuju ruang tengah.


" Tidak Mbok, Sultan ... itu, anu ... Hanum marah sama saya mbok."


" Marah?" mbok Darmi duduk di sofa, berhadapan dengan anak asuhnya yang sudah dia anggap seperti anak kandung sendiri, " Marah kenapa?"


" Sebenarnya gara-gara masalah sepele Mbok."


" Masalah sepele?" kening wanita tua itu makin berkerut, bingung.


Hanum tipikal orang yang tidak mudah terbawa emosi, pada dasarnya dia adalah wanita yang sabar. Dia tidak akan marah untuk hal-hal biasa, selama itu masih dalam tahap, bisa di terima olehnya dan tidak melampaui batas. Mbok Darmi paham akan itu, selama dia hidup bersama Hanum, belum pernah dilihatnya Hanum marah, gadis itu justru lebih suka memendam masalahnya sendiri, tidak mau berbagi, cenderung sabar menghadapi berbagai situasi yang menyulitkan dirinya, termasuk saat masalah rumah tangganya yang melibatkan Mauryn.


Jadi, mendengar Sultan berkata demikian, membuat mbok Darmi sangsi sebenarnya.


" Memang apa masalahnya? kalau si Mbok boleh tahu?" wanita tua itu memberanikan diri untuk bertanya.


" Saya lupa tidak membelikan pesanannya mbok." menatap lurus pada wanita dengan ciri khas yang selalu memakai kain, itu, " Dia meminta saya untuk membelikan sorbet melon, sebenarnya saya berusaha mengingatnya sepanjang jalan menuju pulang Mbok, dan kebetulan sewaktu saya sedang berhenti di lampu lalu lintas, saya melihat sekelompok pedagang asongan yang membuat hati saya tersentuh. Jadilah saya melupakan pesanannya Mbok, saya malah langsung pulang." terang Sultan.


" Hanya karena itu?"


" Hm, iya Mbok."


Mbok Darmi menggeleng.


" Gadis itu, padahal sejak menjelang siang, dia terus makan berbagai macam jenis es, tanpa makan sesendok nasi pun. Den Sultan tahu, untuk pertama kalinya si Mbok melihat dia mengerjai pak Dadang sampai berulang kali. Menyuruhnya membelikan es campur, padahal dia sudah menghabiskan stok es krim di kulkas."


"Benarkah?" Sultan tersenyum simpul.


" Bukan hanya es campur, hampir setiap dua jam sekali, pak Dadang di repotkan olehnya. Menyuruhnya membelikan es buah, es dawet, es pisang ijo, sampai es ... apa itu namanya, si Mbok lupa."


" Jadi seharian ini dia hanya makan es?" mbok Darmi mengangguk, " Sebanyak itu?" lagi, wanita tua itu mengangguk.


" Padahal, si mbok sudah mengingatkan untuk makan makanan yang lain, jangan cuma es, tapi non Hanum bersikukuh, dia bilang dia hanya mau makan es hari ini. Makanya si Mbok kaget, malam dingin begini pun dia masih menginginkan es, sementara sejak pagi entah sudah berapa banyak es yang masuk ke dalam perutnya?"


" Apa dia mau membuat perutnya sakit?" gumam Sultan.


" Ya sudahlah, si Mbok masuk ke kamar dulu Den, keasyikan ngobrol sampai lupa, pasti Bapak sedang menunggu." menunjukkan poci kecil berisi air.


" Ya Mbok, selamat malam."


" Ya Den, jangan tidur terlalu pagi, ini juga sudah pukul satu malam."


Mbok Darmi menepuk bahu Sultan sebelum meninggalkan pria itu sendirian di ruang tengah.

__ADS_1


Satu jam kemudian.


Perlahan Hanum membuka matanya, dia melihat ke arah samping, suaminya memang tidak ada disana.


Dia benar-benar pergi.


Hanum menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, membuka handle pintu dan kemudian menuruni anak tangga. Kamar tamu akan menjadi tujuannya kali ini, melihat apakah suaminya sudah tertidur. Belum juga dia sampai di kamar tamu, dia sudah dikagetkan dengan pemandangan yang disuguhkan di hadapannya.


Pria yang di carinya, pria itu sedang terlentang di atas sofa sempit, menggunakan tangan kirinya yang dilipat, dijadikan sebagai bantal. Sofa yang berukuran sempit itu tidak cukup untuk menampung tubuh suaminya yang tinggi. Kaki Sultan menjuntai ke lantai meskipun sudah menjadikan bahu sofa sebagai pijakannya. Melihatnya, membuat Hanum tertawa, kemudian mendekati suaminya.


Dia langsung menindih tubuh Sultan, menyentuh rahang suaminya, membelai rambutnya beberapa kali, dan mencubit gemas, hidung mancung milik suaminya. Membuat Sultan yang baru saja sampai ke alam mimpi, kembali terjaga.


" Apa yang kamu lakukan?" tanyanya lembut saat menyadari tubuh istrinya yang sudah berada di atasnya.


" Aku tidak bisa tidur." Hanum memainkan jari telunjuknya di atas dada Sultan.


" Memangnya kenapa?" mengambil rambut istrinya yang menjuntai, jatuh mengenai wajahnya dan menyelipkannya di telinga Hanum.


" Aku takut sendirian."


" Hah ... bukankah kamu yang memintaku untuk tidur di kamar tamu?" suaranya masih sama, terdengar begitu lembut meskipun gadis yang saat ini sedang menindihnya itu, sudah mengganggu tidurnya.


"Sekarang kamu tidak perlu melakukannya."


" Jadi?"


" Ikutlah ke kamar, tidurlah bersamaku, aku ingin memelukmu." cicit Hanum.


Dan kata terakhir yang di ucapkan oleh istrinya, membuat Sultan terbahak.


" Hanya sebuah pelukan?" Sultan menguji istrinya, " Tidak lebih."


" Tentu saja." cebik Hanum, " Memangnya apa yang kau pikirkan?"


" Itu sih maumu." Hanum bangun dari atas tubuh suaminya.


Sultan pun melakukan hal yang sama, dia lalu berjalan ke arah anak tangga, sementara Hanum terpaku di tempatnya berdiri.


" Mas ..." setengah berteriak.


Membuat Sultan membalikkan badannya, dia baru tersadar kalau dia meninggalkan Hanum disana.


" Kemari." Sultan melambaikan tangannya.


" Tidak mau."


" Tadi katanya mau tidur? memang mau tidur di kamar tamu?" tanya Sultan.


Hanum menggelengkan kepalanya, " Sini." serunya.


Tanpa pikir panjang, Sultan berjalan mendekati istrinya.


" Gendong." ucap Hanum dengan manja nya,


" Tidak mau?" tanyanya sarkas ketika melihat suaminya masih diam tak bergerak.


" Kau ini bicara apa?" langsung menyambar tubuh istrinya, menggotongnya dan berjalan menuju lantai atas. " Aku akan menggendongmu, setiap hari kalau perlu."


Hanum tersenyum menang, dia mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya. Namun ketika melihat Sultan yang terengah-engah saat membopongnya menaiki anak tangga, membuatnya merasa sedikit kesal.


" Apa aku berat?"


" Hm?"

__ADS_1


" Kamu sepertinya kesusahan menaiki anak tangga, kamu sampai terengah-engah begitu mas."


" Sedikit." jawabnya singkat.


" Apanya?"


" Kamu, sedikit berat."


" Apa ...? dengan kata lain, aku gendut begitu?"


" Tidak, siapa yang bilang begitu?"


" Tadi, mas sendiri yang bilang kalau tubuhku semakin berat."


" Aku tidak bilang begitu, sungguh." Sultan merebahkan tubuh Hanum di atas kasur begitu mereka sampai di kamar utama.


" Pembohong, jelas-jelas tadi mas bilang begitu."


Astaga, sudah hampir jam dua pagi, aku belum juga tidur dan dia mengajakku bicara yang tidak penting begini?


" Kamu tidak gendut sayangku." berusaha mengatakannya dengan selembut mungkin, " Mungkin karena sekarang kamu dirumah tidak melakukan apa-apa, dan mungkin nafsu makanmu meningkat, membuat tubuhmu lebih berisi."


" Tuh kan?" Hanum mendengus, kesal.


" Kenapa marah? memangnya kalimat mana yang bilang kalau kamu gendut?"


" Sama saja."


Ya ampun, salah lagi. Sultan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


.


Pagi itu, sepasang suami istri terlihat bergandengan tangan, berjalan bersama menuju meja makan.


Pemandangan berbeda yang terjadi disana, karena kali ini tidak ada bangku kosong seperti biasanya. Malahan, pak Dadang menambahkan satu bangku tambahan untuk dirinya. Sesuai permintaan Sultan, pagi itu seisi rumah duduk bersama di meja makan untuk menghabiskan sarapan pagi bersama. Kecuali, kedua petugas keamanan yang saat ini sedang berjaga di depan, itupun Mbok Darmi sudah membawakan makanan untuk mereka di sana.


Selesai sarapan, Hanum pun mengantarkan suaminya ke depan. Dia menenteng tas kerja suaminya, begitu Sultan hendak masuk ke dalam mobil. Hanum melakukan hal absurd yang membuat Sultan kembali dilanda kebingungan. Gadis itu mencekal lengan suaminya, berusaha menahan Sultan untuk tidak pergi ke kantor hari ini. Tidak biasanya.


" Aku bisa terlambat lho, kalau kamu terus memegangi lenganku begini?" Sultan urung masuk ke dalam mobilnya, " Memangnya ada apa?"


" Bisa tidak, mas temani aku."


" Memangnya kamu mau kemana?"


" Tidak kemana mana."


Jawaban Hanum membuat Sultan makin bingung.


" Temani aku, hari ini saja, ya ...? aku bosan dirumah sendirian, tidak ada siapa-siapa." Hanum mengguncang lengan suaminya berulang kali.


" Kan ada Mbok Darmi, Bi Mar, sama dua perempuan itu, kalau kamu bosan kan bisa pergi ke rumah Ajeng, aku akan mengizinkan kamu pergi kesana selama itu tidak membuatmu kecapekan, atau kamu bisa minta di temani Mbak Lastri sama Mbak Indah, belanja di mall?"


" Tidak mau."


" Terus, aku mesti temani kamu seharian di rumah, begitu?"


" Jadi, mas tidak mau?"


Belum sempat mendengar Sultan hendak berkata apa kali ini namun Hanum sudah berjalan, meninggalkan pria itu di halaman rumahnya. Membuat Sultan menggelengkan kepalanya beberapa kali dan menghembuskan nafas kasar.


.


Mohon maaf ya sayang-sayangku, kemarin aku nggak up, dikarenakan aku tuh lagi gak enak body, ( Gak nanya Thor ) 🤣🤣 udah ngetik, tapi baru dapat 500 kata udah tepar. Panas dingin aku tuh, ini aja aku paksain buat nulis. Nggak mau buat kalian kecewa, ( Siapa tahu ada yang sudah nggak sabar nunggu kelanjutan kisah HanSul ) 🤭 Sedikit tulisan dari aku, semoga bisa mengobati kerinduan kalian sama HanSul. Jangan lupa dukungannya ya, Kamsahamnida 🙏🙏🙏😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2