Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Season 2. Apa Yang Harus Aku Lakukan?


__ADS_3

Seorang pemuda berperawakan gagah dengan rahang tegas terus memusatkan perhatiannya pada salah satu staf yang sedang melakukan presentasi. Tak dia hiraukan getaran ponsel dalam saku yang terus meronta sejak tadi.


Selang satu jam kemudian, rapat pun berakhir. Pemuda itu bangkit dari kursi dan gegas memasuki ruang kerjanya.


"Cinta, tolong suruh OB untuk membuat teh chamomile tanpa gula!" Titah pemuda itu.


"Baik, Pak." Gadis bernama Clarissa Cinta Kirani itu menyahut.


Gadis yang akrab disapa Cinta itu memang baru setahun ini bekerja pada William, tetapi dia mudah menyesuaikan diri. Cinta tak banyak mendapatkan kesulitan saat bekerja untuk William.


William Raka Chandra Pradipta. Buah cinta yang Hanum lahirkan dua puluh tujuh tahun lalu, menjelma menjadi pria tampan nan mapan dengan sejuta pesona. Parasnya yang rupawan menurun dari sang ayah, Sultan. Pun makin di sempurnakan dengan tubuh kekar yang menjadi dambaan banyak gadis.


William merogoh saku jasnya. Lelaki itu tersenyum saat melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Hanum. Bisa dipastikan sepulang dari kantor nanti Hanum akan kembali mencecarnya. Menanyakan hal yang sudah lebih dari sebulan ini selalu menjadi topik utama di rumah itu.


Kapan nikah?


Ah, andai saja Hanum tahu kalau dirinya telah siap menikah. William telah menemukan cintanya, menambatkan hatinya pada seorang gadis. Hanya saja, dia terlalu takut untuk mengakuinya. Butuh waktu baginya mengungkapkan perasaannya. Nanti saja dia sampaikan saat selesai jamuan makan malam.


"Ini tehnya, Pak."


Ucapan Cinta membuyarkan lamunan William. "Terima kasih. Oh ya, apa ada jadwal penting lagi sore ini? Rencananya saya mau pulang cepat."


"Masih ada satu pertemuan penting dengan Mr Yang dari Hongkong jam lima sore, atau Bapak mau saya membatalkannya dan membuat janji baru," tawar Cinta.


"Tidak usah. Lakukan saja sesuai jadwal, kebetulan saya ada urusan pribadi, tapi masih bisa ditunda."


"Baik. Saya permisi dulu, silakan panggil jika Bapak membutuhkan sesuatu."


William mengangguk. Dia meraih cangkir berisi cairan kecokelatan yang tidak terlalu pekat. Menghirup aromanya dalam-dalam sebelum menyesapnya perlahan. Senyuman terus membingkai wajahnya.


'Secepatnya aku harus memikirkan cara untuk mengungkapkan perasaanku pada Raisa. Lalu setelahnya, aku akan meminta Papa dan Mama untuk melamarnya,' batin William.


Jarum jam berjalan dengan cepat. Kini, William dan Cinta sedang berada dalam perjalanan menuju restoran mewah, tempat yang telah direservasi oleh Cinta sejak beberapa hari lalu. William kedatangan tamu dari Hongkong untuk membahas rencana kerja sama antara kedua belah perusahaan.


Berjalan anggun dengan sepatu hak tinggi setinggi tujuh centi, rambut panjang Cinta yang dia ikat tinggi berayun sering dengan langkahnya. Memegang beberapa dokumen penting di tangannya, Cinta memimpin langkah.


"Silakan Pak," ujarnya sopan di depan sebuah ruangan privat. Dua orang pelayan telah sigap membukakan pintu.


Aneka hidangan telah tersaji rapi di atas meja. Tak berselang lama, yang ditunggu pun datang. Mr Yang dengan seorang sekretaris pria.


Kedua pria itu asyik membahas proyek kerja sama yang rencananya akan segera direalisasikan awal bulan ini. Kesepakatan pun di dapat. William dan Mr Yang saling berjabat tangan. Acara dilanjutkan dengan jamuan makan.


"Saya permisi ke toilet sebentar, jika ada yang ingin Anda tanyakan, Anda bisa bertanya pada sekretaris saya," kata William.


"Tentu. Silakan."

__ADS_1


Suasana berubah mencekam sepeninggal William dari ruangan itu. Cinta merasa risih saat pria berkepala botak yang dia perkirakan berusia kepala lima itu menatapnya dengan tatapan lapar.


Cinta menundukkan pandangannya. Dia menelisik kembali penampilannya, tak ada yang salah. Baju kerjanya tertutup, roknya juga di bawah lutut, tidak ada kesan seksi atau mengundang sama sekali.


"Apa kau terbiasa melobi klien?" Mr Yang bertanya sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Mak ... Maksud Anda?" Cinta terlihat gugup.


"Tidak perlu berpura-pura. Atasanmu pergi ke toilet, saya rasa itu hanya alasannya saja."


Jantung Cinta berpacu lebih cepat saat lelaki itu mulai mendekatinya. Sedetik kemudian Mr Yang meletakkan tangannya di paha Cinta.


"Maaf Mr, sepertinya Anda salah paham," balas Cinta. Ia berusaha menjauh saat tangan Mr Yang kembali mendarat di pahanya setelah berulang kali dia menepisnya.


"Jangan sok jual mahal, katakan saja berapa nominal yang harus aku bayar," tantang Mr Yang lengkap dengan seringai licik yang menambah sikap kekurang ajarannya.


"Astaga Mr, Anda salah paham." Cinta berusaha menjauh dengan berpindah kursi, tapi hal terduga ia alami. Mr Yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Astaga Mr, lepaskan saya! Saya bukan wanita seperti itu," jerit Cinta, ia terus berusaha memberontak.


"Lalu kau ini wanita seperti apa? Bukankah kebanyakan sekretaris begitu? Melakukan dua pekerjaan sekaligus."


"Ya Tuhan, sekretaris Wu, tolong saya. Kenapa Anda diam saja." Cinta terus menghindar, hingga akhirnya dia tersudut. Punggungnya membentur dinding, dan dia tidak bisa melarikan diri lagi.


Kini, harapan Cinta hanya satu. William segera datang untuk menyelamatkannya atau semuanya akan hancur. Cinta yakin, William bukan tipe orang jahat yang memanfaatkan dirinya sebagai pelancar bisnis yang digelutinya.


"Tidak! Jangan Mr! Saya mohon!" Cinta menjerit frustasi.


Wajah Mr Yang sudah begitu dekat dengan wajahnya, dan ...


Ceklak!


Pintu terbuka. William terkejut saat melihat posisi rekan bisnisnya yang sangat dekat dengan Cinta.


'Selamat. Terima kasih Tuhan.'


"Cinta?"


"Iy ... Iya Pak," jawab Cinta terbata.


"Bersiaplah, kita akan pulang," ajak William.


"Ba ... Baik, Pak."


"Mr Yang mohon maaf saya harus segera pergi, kebetulan ada urusan pribadi yang tidak bisa tinggalkan. Selamat menikmati jamuannya."

__ADS_1


William dan Mr Yang kembali berjabat tangan sebelum akhirnya pria botak itu murka melihat mangsanya lolos begitu saja.


William curiga saat melihat Cinta begitu gelisah usai pertemuan tadi. "Ambillah! Kau kelihatan tegang." Menyodorkan sebotol air mineral untuk sekretarisnya.


Cinta menerimanya, meneguk cairan dalam botol itu hingga isinya tersisa sebagian.


"Ada masalah?"


Cinta menggeleng. "Tidak ada, tolong turunkan saya Pak, di depan ada halte."


"Jangan dengarkan dia Pak Anto, antar dia sampai ke rumahnya!" Titah William.


"Bapak bilang ada kepentingan pribadi tadi, saya tidak apa-apa turun di depan Pak. Lagi pula baru jam tujuh, masih banyak bus yang lewat."


"Kau yakin?"


"Tentu. Pak Anto, tepikan mobilnya, Pak."


Cinta berpamitan dan langsung duduk di halte. Kebetulan ada banyak penumpang di sana, setidaknya William tidak terlalu khawatir.


Sesampainya di rumah. William langsung membersihkan diri dan ikut berkumpul dengan keluarganya yang telah lebih dulu datang di ruang makan. Acara makan malam berakhir khidmat dengan bunyi sendok dan peralatan makan yang mendominasi.


"Oh ya, Kak, ada yang mau diomongin sama Papa," ujar Hanum.


"Soal apa Pa? Kelihatannya serius sekali?" William mengembalikan gelas kosong ke tempat semula.


"Hm, begini. Besok malam, rencananya kita akan pergi ke tempat Oom Adam."


"Untuk apa? Apa ada acara khusus?"


Sultan mengangguk. "Willmar sudah bilang sama Papa, katanya dia mantap mau melamar putrinya Oom Adam," jelas Sultan.


"Yang mana? Bening bukannya sudah bertunangan," tukas William.


"Adiknya. Willmar akan melamar Raisa."


"Apa!" William tersentak. 'Tidak mungkin,' batinnya.


"Kenapa kau terkejut begitu? Kenyataannya Willmar dan Raisa saling mencintai. Oom Adam sudah tahu hubungan mereka jadi kita akan ke sana untuk melamar Raisa buat adikmu. Dari pada lama-lama berhubungan yang bisa saja menimbulkan dosa, akan lebih baik jika mereka segera dinikahkan," papar Sultan.


William bergeming. Otaknya masih belum bisa mencerna ucapan ayahnya. Selama ini dia dan Raisa memang cukup dekat, pun dengan Willmar. William tak percaya, pasalnya dua orang itu selalu bertengkar dan meributkan hal sepele. Sama sekali tidak ada tanda-tanda jika adik kembarnya dengan Raisa saling mencintai.


'Apa yang harus aku lakukan?'


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2