
Cinta mengusap pusara ibunya. Air matanya masih terus berjatuhan, gadis itu merasa hancur sehancur hancurnya, hingga tak ada lagi yang tersisa.
"Pulang Nak, sudah hampir malam," bujuk Hanum.
Hanya lelehan air asin yang menjawab setiap ucapan wanita cantik itu, Cinta terus mengunci rapat mulutnya.
"Ibumu telah tenang di surga Sayang, jangan terus menerus menangisinya. Kamu masih memiliki kami, cukup sudah penderitaanmu Sayang." Kali ini Ratih angkat bicara.
"Ayolah Nak, jangan seperti ini terus. Ikhlaskan kepergian ibumu, dia sudah tenang di surga. Dia akan sedih jika kau terus menangisi kepergiannya." Hanum mendekap tubuh menantunya, dan seperti sebelumnya, Cinta tak merespon apa-apa selain hanya air matanya yang terus berjatuhan.
Cinta kembali menumpahkan air matanya. Dipeluknya tanah basah bertabur bunga segar itu, seolah sedang memeluk ibunya. Baju putih yang membalut tubuhnya kini telah ternoda, tapi sama sekali tak Cinta pedulikan.
Keluarga besar itu tiba di rumah saat langit telah gelap sepenuhnya. Cinta kembali ke kamarnya, sementara yang lainnya berkumpul di ruang keluarga.
Plak!
Bunyi tamparan itu terdengar begitu nyaring. Sultan merasakan tangannya panas, cukup menjadi bukti betapa keras dia menampar putranya.
Hanum mengumpulkan orang dan menceritakan semua kejadian yang terjadi di dapur siang tadi, membuat Sultan murka.
"Apa yang bisa kau jelaskan! Katakan! Bukankah kau punya mulut! Katakan sesuatu!" Hardik pria paruh baya itu.
Napas Sultan memburu, tangannya bergetar hebat. Ingin sekali rasanya dia memberikan pelajaran lagi pada William, tapi berusaha dia redam.
"Sudah Mas," bujuk Hanum. Wanita itu menyuruh suaminya untuk kembali duduk.
"Aku kecewa, aku sungguh sangat kecewa. Perbuatannya telah mencoreng wajahku Han, aku malu memiliki anak sepertinya. Di mana letak hatimu Will? Tega-teganya kau mempermainkan perasaan Cinta."
Willmar terdiam. Tentu saja pria itu syok setelah mengetahui kebenarannya. Sedangkan Raisa tetap diam, tak berani berkomentar apa-apa. Mereka semua tahu, ini murni kesalahan William.
William mendekati Hanum, ia berlutut pada ibunya.
"Maafkan aku Ma, aku nggak bermaksud membuat semuanya menjadi kacau!" Memeluk kedua kaki Hanum dengan erat.
"Bedebaah! Masih berani kau mengucapkan kata maaf! Kau pikir itu bisa membalikkan keadaan? Kau pikir dengan begitu kau bisa mengumpulkan kembali kepingan hati Cinta yang terlanjur hancur?" Sultan masih meninggikan suaranya. Emosi benar-benar telah merasukinya.
"Maafkan aku Pa," cicit William.
"Minta maaflah pada istrimu! Dia yang paling berhak mendapatkan itu darimu. Papa nggak yakin dia bisa memaafkanmu setelah semua kejadian ini. Secara tidak langsung kau telah membunuh ibunya, Will!"
"Sudah cukup Tan! Semuanya sudah terjadi, keadaan tidak akan berubah sekalipun kau membunuh putramu. Sekarang yang harus kita lakukan adalah menemukan solusinya," Arya menyela.
"Solusi apa yang bisa kita dapatkan dari permasalahan yang rumit seperti ini Pi."
"Duduk Kak!" Titah Arya. Lelaki itu masih cukup sabar menghadapi tingkah cucunya hingga masih sopan memanggilnya begitu.
"Aku nggak akan duduk sebelum Mama memaafkanku, Opa," tolak William.
"Duduk Kak!" Tegas Arya. "Jangan menambah masalah semakin ruwet. Kita selesaikan ini baik-baik."
__ADS_1
William menurut. Lelaki itu duduk di single sofa, persis seperti tawanan yang hendak diadili.
"Semuanya sudah terlanjur terjadi, mau menyesal pun percuma, sudah terlambat. Yang harus kita lakukan saat ini adalah memperbaiki keadaan agar tak semakin memburuk." Arya menjeda kalimatnya sejenak. Menghirup napas dalam-dalam, memenuhi pasokan udara agar rongga dadanya tak bertambah sesak.
"Mulai sekarang, berhentilah melakukan apapun itu untuk Raisa, dan kau Raisa, kau juga harus terbiasa menjaga jarak dengan kakak iparmu. Opa tahu kau murni hanya menganggapnya kakak dan kamu sangat manja padanya. Demi situasi yang kondusif, tolonglah ... Kalian sudah sama-sama dewasa, sudah tidak sepantasnya kalian bersikap kekanak-kanakan. Ingat, ada banyak perasaan yang harus dikorbankan. Dan kamu Dek! Opa pesan untukmu selalu menjaga Raisa, kau tak ingin pernikahanmu berakhir di pengadilan kan?"
"Iya Opa," jawab sepasang suami istri itu bersamaan.
"Sudah malam, terserah kalian mau mengganggap Opa kejam atau apapun itu, tapi Opa minta sekarang juga kalian pulang!" Titah Arya.
"Baik Opa." Willmar membantu istrinya bangkit dari duduknya, menyalami satu per satu orang dan berpamitan dari sana.
"Kau juga, masuklah ke kamarmu! Kita akan membahasnya lagi besok. Kita masih dalam masa berduka."
Dengan lesu William menaiki anak tangga, menyisakan para orang tua yang ia buat menitikkan air mata penyesalan dan kekecewaan.
Sampai di ambang pintu, William sedikit ragu. Dia tak memiliki keberanian untuk menemui istrinya.
Cukup lama lelaki itu berada di depan pintu, hingga akhirnya dia mulai memutar kenop pintu.
Cinta termenung di depan jendela, tatapannya kosong, ia merasakan hampa yang teramat menyiksa. Menyadari kenyataan kalau suaminya lah penyebab utama kematian ibunya, begitu menorehkan luka mendalam di hati gadis itu.
"Cinta," panggil William.
Tak ada lagi kelembutan yang dapat Cinta dengar dari mulut suaminya, semuanya berubah menjadi empedu yang sangat pahit kala mendengar namanya disebut.
William melipat kedua kakinya, menelungkupkan kedua tangannya di depan dada. Meskipun William tahu Cinta tak dapat melihatnya karena posisi gadis itu yang saat ini sedang membelakanginya.
"Maafkan aku Cin."
Cinta menutup kembali gorden kamarnya, kemudian menaiki tempat tidurnya. Seolah tak terjadi apa-apa, dia ingin membuat William merasakan bagaimana rasanya diabaikan.
Mentari menyapa pagi itu. Semesta kembali ceria usai dilanda badai hujan selama hampir sehari semalam. Cinta menuruni anak tangga. Ruang keluarga menjadi tujuannya saat ini.
"Hei, Sayang. Mama kira kau istirahat lagi setelah sarapan?" Hanum menepuk ruang kosong di sebelahnya.
"Nggak capek Ma."
"Terus kenapa kamu ke sini Sayang? Ada yang mau dibicarakan?" Tebak Hanum.
Cinta mengangguk pelan.
"Soal apa?"
"Bukan persoalan penting Ma. Cinta mau pamit pulang," kata Cinta.
"Kenapa tidak tinggal lebih lama Nak? Di rumah kau akan kesepian nanti," bujuk Ratih.
"Nggak apa-apa, Oma, Ma. Rencananya Cinta mau pulang hari ini buat beres-beres, besok mau langsung masuk kerja," sahut gadis itu.
__ADS_1
"Apa tidak berlebihan? Kita bahkan masih dalam masa berkabung."
"Cinta akan terus teringat ibu jika Cinta tidak melakukan apa-apa."
Keputusan yang berat. Pada pria dewasa yang sejak tadi bungkam juga ikut kesulitan memberikan pendapat, tapi mau bagaimana lagi, benar yang dikatakan Cinta. Cinta harus memiliki kesibukan agar tak terus menerus mengingat mendiang ibunya.
Akhirnya, berbekal izin yang telah dikantonginya, Cinta pun kembali ke rumah William. Dia telah merencanakan sesuatu, dan dia harus segera merealisasikannya.
Sesampainya di rumah.
Cinta bergegas memasuki rumah, menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sudah cukup semua ini. Kini ia berada di ambang batas kesabarannya. Meraih koper di atas almari, gadis itu cepat-cepat merapikan baju-baju dan juga semua barang-barangnya.
"Cinta! Apa yang kau lakukan!" William menahan lengan Cinta, tapi dengan cepat Cinta berusaha menepis tangan William.
"Cinta, kita perlu bicara," ujar William.
Cinta menulikan pendengarannya, dia terus saja sibuk membenahi barang-barangnya.
"Cinta! Please, kita perlu bicara," William memohon.
"Silakan lanjutkan hubungan Anda dengannya. Sejak saat ini, saya bukan lagi istri Anda, jadi Anda bebas menjalin hubungan dengan siapapun."
William tertohok mendengar ucapan Cinta.
"Kasih aku kesempatan Cinta, kita perbaiki semua ini, kita mulai dari awal," bujuk lelaki itu.
Selesai menutup kopornya. Cinta menatap nyalang pria di hadapannya itu. William seperti dua orang yang berbeda. Membayangkan betapa lelaki itu memperlakukan Raisa, mengistimewakan gadis itu, membuatnya semakin terluka. William bagai menuang cuka pada lukanya yang menganga. Sakitnya tak terperi.
"Sebutkan satu saja alasan mengapa saya harus bertahan?"
Skak mat.
Tembakan Cinta tepat mengenai sasaran. Pertanyaan yang dia lontarkan sukses membungkam mulut William.
Cinta melepas cincin yang tersemat di jari manis tangan kirinya, mengeluarkan selembar kartu dan menaruhnya asal di kasur.
Cinta terus menyeret kopernya meninggalkan rumah William, meninggalkan sejuta kenangan pahit yang tak ingin dia kenal.
"Cinta, please ..." William menahan istrinya, di ambang pintu.
"Anda bahkan menggunakan bahasa formal ketika berbicara denganku, tapi Anda ber aku kamu dengan wanita itu. Anda begitu mencemaskannya, selalu memikirkannya. Meninggalkan saya sendirian di mall hingga berjam-jam lamanya. Memarahi saya untuk kesalahan yang tidak pernah saya perbuat saat dia pingsan dulu. Anda sibuk membelikan pesanannya ketika dia mengidam, tanpa pernah memikirkan betapa lama saya menunggu kepulangan Anda. Setiap malam terasa panjang saya lalui sendirian. Berusaha mengobati luka yang makin hari kian menganga, membiarkan dingin mendekap saya di setiap malamnya, tapi Anda memberikan kehangatan pada wanita itu."
Sudah cukup. Cinta tak lagi sanggup mengatakan sesuatu.
"Saya tidak bodoh, saya tidak buta untuk tidak menyadari betapa Anda mencintainya. Dan saya terlalu naif, berharap Anda dapat berubah suatu hari nanti. Berharap Anda dapat berlaku seperti itu juga terhadap saya. Berpura-pura tidak mengetahui semuanya, ini sangat tidak adil. Dan setelah semua luka Anda berikan, setelah ribuan kesempatan yang saya berikan Anda hempas, masih pantaskah Anda meminta saya untuk bertahan? Saya telah membebaskan Anda dari derita ini. Anda tak lagi harus menjalani pernikahan dengan pura-pura bahagia dengan saya. Permisi!"
Cinta menyeret kopornya. Luka yang ditorehkan oleh William mungkin akan sangat sulit untuk disembuhkan, dia juga tak yakin akan dapat menghapus lelaki itu dari hidupnya.
Namun, satu hal yang pasti. Cinta jengah dengan semuanya. Dia perlu waktu untuk mengobati luka hatinya yang berdarah-darah, dan setidaknya dengan dia angkat kaki dari sana, semuanya akan berakhir. Cinta tak rela William memberinya kesakitan lagi.
__ADS_1
Bersambung ....
*Happy reading Kesayanganku 😘😘😘 masih mau lanjut gak? komen yg byk ya, jgn lupa vote dan likenya jg. ❤️❤️❤️