Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Lulus Ujian


__ADS_3

"Di mana Mauryn Bi?" tanya Dion pada Bi Jum, wanita yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah Mauryn.


"Nyonya dari kemarin tidak pulang Tuan, saya juga sudah berulang kali mencoba menghubungi beliau tapi tidak tersambung,"


"Sejak kemarin?" tanya Dion kaget, pandangannya beralih menatap Sultan dan kedua temannya bergantian.


"Iya Tuan, padahal Nyonya pergi sejak pagi tapi sampai sekarang belum juga pulang," terang wanita itu lagi.


"Apa sebelumnya dia pernah mengatakan pada Bibi, kemana dia akan pergi kemarin?"


"Nyonya bilangnya mau ke salon Tuan, memangnya ada apa Tuan? kenapa kalian datang kemari beramai-ramai? siapa Tuan Tuan ini?" tanyanya pada Dion.


"Mereka teman saya Bi."


"Tunggu dulu! Mauryn pergi sejak kemarin pagi dan belum pulang sampai sekarang? sebelum pergi dia bilang sama Bibi, mau ke salon katanya?" kali ini gantian Adam yang mengajukan pertanyaan kepada Bi Jum.


"Iya Tuan, nyonya bilang begitu," jawab perempuan itu sedikit ketakutan.


"Dia bilang sama Bibi kalau dia mau ke salon mana? apa nama tempatnya?" lagi, Adam bertanya.


"Kalau itu saya tidak tahu Tuan, nyonya cuma bilang mau ke salon, itu saja. Memangnya ada apa toh?"


"Tidak ada apa-apa Bi," Dion mendekati wanita itu dan menepuk lembut bahu nya. "Bibi lanjutkan saja pekerjaan Bibi," titah Dion.


Bi Jum mengangguk kemudian mulai berjalan pelan meninggalkan ruangan tersebut.


"Tunggu Bi!" cegah Dion.


"Ada apa Tuan?" Bi Jum membalikkan badannya.


"Di mana Yara?"


"Non Yara ada di kamarnya Tuan, dia baru saja makan dan begitu selesai langsung tidur."


"Ya sudah. Bibi boleh pergi."


"Baik Tuan, saya permisi dulu."


"Berarti sudah jelas kalau Mauryn yang menculik istriku," gumam Sultan, tangannya mengepal kuat mengindikasikan kalau ada perasaan marah yang begitu kuat dalam diri pria itu.


"Kemana kita harus mencari mereka kalau Mauryn sama sekali tidak meninggalkan satu pun petunjuk untuk kita?" tanya Dion, penampilannya sangat berantakan, dia masih mengenakan kemeja yang sama, dengan noda darah di bagian lengan tangannya, di tambah dengan tatapan matanya yang penuh kesedihan.


"Tan, memang dia sama sekali tidak menghubungi kamu apa?" Adam membuka suara.


"Tidak sama sekali! bagiamana ini?"


"Sebenarnya kita bisa saja melacak keberadaannya kalau saja ponselnya aktif, tapi masalah nya handphone nya tidak aktif sejak semalam. Aku menelponnya karena ingin melakukan video call untuk bisa melihat Yara, dan ternyata sama seperti yang Bi Jum bilang kalau nomor Mauryn memang tidak aktif sampai sekarang."


Ya Tuhan, aku sudah hampir putus asa, aku bisa gila kalau terus menerus begini. Tolong aku Tuhan, bantu aku untuk menemukan di mana keberadaan istriku saat ini. Beri aku jalan, aku mohon! Sultan menjerit dalam hati, meminta petunjuk agar dia bisa segera menemukan Hanum.

__ADS_1


"Bagiamana ini? apa yang harus aku lakukan? aku tidak bisa terus tinggal diam seperti ini." Sultan mengguncang tangan Adam, berharap pria itu bisa membantunya tapi sepertinya itu sangat tidak mungkin karena Adam sendiri tak tahu harus berbuat apa.


.


Sementara itu, di sebuah bangunan tua yang rapuh, dengan atap rumah yang telah rusak, dinding yang di tumbuhi dengan lumut. Bangunan tua itu telah lama di tinggalkan oleh penghuninya, menyisakan satu ruang yang tersisa, meski pun sebagian besar kondisi rumah tersebut sudah rusak parah dan sama sekali tidak layak untuk di huni. Banyak rumput ilalang yang tumbuh subur di setiap jengkal nya, menandakan kalau bangunan tersebut sudah lama di biarkan tak terawat. Belum lagi posisinya yang jauh dari keramaian, suasana yang sunyi begitu mencekam membuat bulu kuduk Hanum terus meremang.


Semalaman dia duduk di lantai tanpa alas dengan kedua tangan dan kaki terikat dan mulut yang di sumpal kain. Air matanya terus berjatuhan sekuat apapun dia mencoba menahannya. Dia percaya kalau suaminya akan segera datang untuk menyelamatkannya, tapi tanpa sadar butiran bening itu terus saja jatuh tanpa bisa dia kendalikan, terlebih jika mengingat belum ada tanda-tanda kalau suaminya akan datang.


Ceklak.


Hanum kembali meringkuk di atas dinginnya lantai yang membeku, berpura-pura tidur. Tidak ada yang bisa dia perbuat, sekumpulan preman yang semalam membawanya ke tempat ini memang sama sekali tidak berbuat kasar padanya tapi tetap saja dia harus waspada begitu mendengar kedatangan seseorang.


Hanum terus memejamkan matanya, berusaha untuk terlihat kalau dirinya benar-benar sedang tidur. Dia menajamkan pendengarannya, tidak salah lagi. Yang datang pastilah seorang wanita karena dia bisa mendengar ketukan hak sepatu yang beradu di lantai.


Dalam hati dia terus berdoa, semoga saja Tuhan melindunginya dan juga calon anak-anak dalam kandungannya. Mengetahui siapa yang sudah menculiknya membuatnya takut, bagaimana kalau sampai Mauryn kembali berbuat nekad seperti di toko perlengkapan bayi tempo hari. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Byur!


Tubuh Hanum bereaksi ketika air dingin yang Mauryn tumpahkan tepat di atas tubuhnya, mengalir membasahi pakaiannya. Hanum terkesiap, dia kesusahan untuk bergerak karena kedua tangan dan kakinya terikat oleh seutas tali yang di ikat menjadi satu.


Perempuan biad*b! sebagai sesama wanita tega-teganya dia memperlakukan wanita hamil dengan tidak manusiawi seperti ini? Hanum berusaha menahan tangisnya, dia tahu kalau sampai Mauryn melihatnya menangis, itu akan semakin membuat Mauryn senang.


"Aku baru tahu kalau ternyata selera Sultan itu wanita pemalas sepertimu, bangun!" Mauryn menghardik sambil menendang kaki Hanum.


Hanum hanya bisa meringis merasakan kakinya yang memanas bekas tendangan Mauryn.


"Mau aku bantu?" Mauryn tersenyum licik dan seketika Hanum bisa merasakan kepalanya berdenyut hebat manakala Mauryn menarik kasar rambutnya dan menghentakkan kepalanya dengan sangat keras membentur dinding.


"Aku baru saja mengangkat sedikit tanganku dan kau sudah menangis begitu? bagaimana jika aku sampai memakai senjata untuk menyakitimu?" Mauryn berjongkok, dia tertawa terbahak-bahak begitu melihat air muka Hanum yang menurutnya sangat sayang jika di lewatkan.


Perlahan tangan perempuan jahat itu menyusup ke dalam ikatan tali pinggangnya, Hanum terbelalak begitu melihat benda yang baru saja Mauryn selipkan di sana.


Kembali Hanum terus melafalkan doa dalam hati, sekujur tubuhnya bergetar hebat ketika Mauryn meletakkan pisau lipat yang dia bawa dan memainkannya di wajah Hanum.


"Siapa suruh main-main denganku hah!"


Teriakan Mauryn begitu memekakkan telinga, membuat Hanum tersentak, keringat dingin sudah membasahi tubuhnya, bercampur dengan air dingin yang tadi di siramkan Mauryn di atas tubuhnya membuatnya semakin menggigil.


"Aku sudah memberimu banyak peringatan, tinggalkan Sultan atau hidupmu akan aku buat sengsara melebihi di neraka."


"Lakukan apapun yang membuatmu senang karena sekeras apapun usahamu untuk memisahkan aku dan Mas Sultan tidak akan pernah berhasil," Hanum menyahut penuh percaya diri.


Plak!!


Kali ini pipinya yang memanas, telinganya sampai berdengung akibat kerasnya tamparan Mauryn di pipi kanannya. Bibirnya pecah dan darah mengalir dari sudut bibir tipisnya yang membiru.


"Masih berani kau bicara di depanku? kau lupa kalau nyawamu saat ini ada di tanganku?"


"Cih! memang kau pikir siapa dirimu? kau hanyalah perempuan rendahan yang kejam, bukan seorang malaikat pencabut nyawa. Jadi untuk apa aku takut padamu, kau bukan utusan Tuhan, kau bahkan seorang pendosa yang akan di hukum dengan berat oleh Tuhan. Perempuan jahat seperti dirimu akan mendapatkan ganjaran yang setimpal atas setiap perbuatan jahatmu pada orang lain."

__ADS_1


"Beraninya kau!" Mauryn berteriak.


Hanum menutup matanya bersiap menerima sebuah tamparan lagi di pipinya, selang sekian detik dia memberanikan diri membuka matanya perlahan, di lihatnya tangan Mauryn masih menggantung di udara karena Reno mencekalnya.


"Lepaskan aku! kenapa kau menghalangiku? aku sangat ingin membungkam mulutnya, rasanya ingin aku robek saja mulutnya itu dengan pisau ini." Mauryn menunjukkan pisau lipat yang dia pegang di tangan kirinya.


"Aku sama sekali tidak mengkhawatirkan dia, justru aku mengkhawatirkan dirimu. Emosimu tak terkontrol begitu, aku takut terjadi sesuatu padamu," ucap Reno lembut.


"Aku tidak peduli." Mauryn menepis kasar tangan Reno, dia kembali mendekati Hanum dan mengarahkan pisau lipat itu pada Hanum.


"Ku mohon berhenti!" Reno merebut pisau tersebut dan menaruhnya di kantong celananya.


"Kau keterlaluan! jangan memancing amarahku!" Mauryn memaki Reno.


"Tidak Sayang, ku mohon berhenti! aku takut kesehatanmu akan terganggu kalau emosimu terus menerus tidak stabil seperti sekarang." Reno melingkarkan tangannya di pinggang Mauryn.


Dia sedikit menyeret Mauryn untuk menjauh dari Hanum, sejujurnya dia juga sedikit mengkhawatirkan kondisi Hanum tapi dia bingung harus berbuat apa. Dia bisa sedikit bernafas lega ketika melihat Mauryn mulai terpengaruh oleh kata-katanya. Keduanya pun mengayunkan langkah, pergi meninggalkan Hanum yang masih terisak dalam ruangan gelap.


"Sayang, kendalikan dirimu!" Reno masih berusaha untuk meredam emosi yang begitu meluap dalam diri perempuan itu.


"Tapi aku sangat marah."


"Aku tahu itu, tapi terus menerus marah juga akan berdampak buruk pada kesehatanmu. Sebaiknya kau gunakan waktu untuk hal yang lebih berfaedah dari sekedar marah-marah."


"Memang apa yang bisa aku lakukan di saat aku sedang marah begini?"


"Tentu saja ada, aku akan merubah suasana hatimu." Reno menyeringai licik.


Dia menggiring tubuh Mauryn menuju sebuah dipan tua namun masih kokoh yang ada di samping ruangan Hanum.


Dua anak manusia yang mulai dirasuki oleh gairah birahi itu tidak bisa berpikir dengan jernih. Tidak peduli waktu dan tempat selama ada kesempatan untuk bercinta, mereka akan melakukannya sekalipun di tempat sepi tanpa fasilitas memadai seperti di bangunan tua bekas rumah ini.


Di sisi lain, Hanum yang masih merasa syok pun tak henti-hentinya menangis, dia sama sekali tidak menyangka kalau dirinya akan mengalami kejadian buruk seperti ini.


Ya Tuhan, tolong berikan pertolongan untukku, jika memang aku tidak memiliki banyak waktu, setidaknya berikanlah aku waktu sampai aku bisa melahirkan titipanMu dalam perutku ini dengan selamat. Aku tidak bisa mengecewakan orang-orang yang begitu mencintaiku. Mas Sultan ... di mana kamu? cepatlah datang, aku mohon. Hanum menangis sambil terus memanggil nama suaminya di dalam hati.


Entah sudah berapa kali dia menangis, Hanum sudah mencoba untuk tegar dan tidak menangis tapi lagi-lagi dirinya kalah. Bayangan kejadian buruk yang bisa saja terjadi padanya selama dirinya masih tinggal dalam bangunan tua tersebut masih terus menghantuinya.


Lelah karena terlalu lama menangis, tenggorokannya pun terasa begitu kering karena sejak semalaman dia sama sekali tidak di beri makan. Jangankan makanan, setetes air minum pun tak dia dapatkan.


Hanum kembali meringkuk, rasanya dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk menangis. Dia mengantuk karena lelah semalaman terjaga itu sebabnya dia memutuskan untuk tidur, berharap jika dia bangun nanti dirinya sudah tidak berada di tempat itu lagi. Air matanya kembali melesat, tubuh mungilnya kembali menggigil di tambah dia tidur tanpa alas, bajunya saja masih belum kering, itu makin membuatnya nelangsa.


Hanum menaruh kedua tangannya yang terikat tali di bawah pipinya dan menjadikannya sebagai bantal. Merasa belum mendapatkan posisi yang nyaman, Hanum terus menggerakkan kakinya. Tak lama kemudian, dengan susah payah Hanum mencoba bangun saat menyadari kakinya menyentuh sesuatu. Dan benar saja, matanya berbinar begitu melihat benda yang teronggok tak jauh dari kakinya.


Dengan susah payah dia mencoba meraih benda tersebut dengan sisa-sisa tenaganya,dan ketika dia berhasil mendapatkan benda tersebut dalam genggamannya, gadis itu terus mengucap syukur dalam hatinya.


Semoga ada jalan keluar, tolong bantu aku Tuhan, selamatkan aku dan bayiku. Berikanlah aku kekuatan untuk menghadapi ujian dariMu sampai akhir. Sampai aku di nyatakan Lulus dan mendapatkan kado terindah dariMu atas buah kesabaranku selama ini. Hanum mengelus perutnya berulang kali. Sebentar lagi sayang, tunggu dan lihat bagaimana cara Ayah kalian datang dan menyelamatkan kita.


.

__ADS_1


Masih mau lanjut gak ini? 🤭 aku takut kalian mual baca tulisanku yang membosankan 🤣🤣🤣


__ADS_2