
"Sejak kapan?"
Setelah cukup lama dua lelaki bersaudara itu duduk sembari menikmati pemandangan malam dari atas balkon, meluncur juga pertanyaan yang sejak tadi mengganjal di hati William.
"Apa?"
"Sejak kapan kau mencintai Raisa?" Ulang William.
"Aku sendiri tidak tahu kapan, tapi yang jelas kami saling mencintai Kak. Aku sangat bahagia saat tahu Raisa juga memiliki perasaan yang sama sepertiku," ungkap Willmar. "Bagaimana menurut Kakak?"
"Apanya?" Dahi William sukses berkerut, lelaki itu masih belum tahu apa maksud dari ucapan adik kembarnya.
"Menurut Kakak, apa kami serasi?"
"Tentu saja, kalian akan menjadi pasangan paling serasi di negeri ini." Ada setitik kebahagiaan yang bercampur dengan kepedihan yang serasa mengiris hati William.
"Kakak setuju aku menikah dengannya?"
"Sangat setuju," William menimpali.
"Terima kasih, Kak," ucapnya sambil memeluk sang kakak.
"Hm. Sudah malam, pergilah tidur karena besok pagi-pagi sekali kita akan menjemput Opa dan Oma di bandara."
Willmar mengangguk. "Aku masuk ke kamarku dulu, Kak. Kakak juga harus tidur."
"Ya."
Senyuman palsu yang sejak tadi membingkai wajah William perlahan pudar, seiring dengan Willmar yang semakin menjauh. Tak ada lagi rona kebahagiaan yang sempat dia perlihatkan pada adiknya. Sorot mata penuh antusias pun telah lenyap, berganti menjadi sangat redup.
William mendongakkan kepalanya, ia memejamkan mata, berharap dengan begitu cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya tak berjatuhan. Namun, William salah. Nyatanya butiran bening itu terus berjatuhan sekalipun dia telah memejamkan matanya rapat-rapat.
'Aku tidak mungkin merebut kebahagiaan adikku sendiri, terlebih lagi mereka berdua saling mencintai. Ya Tuhan ... Bantu aku menghapus rasa cinta ini pada orang yang salah. Aku tidak mau menjadi penghancur rumah tangga adikku. Aku mohon, Tuhan ...'
William terus berganti posisi, sudah lebih dari dua jam lelaki itu menaiki kasurnya dan selama itu juga matanya tak bisa dikompromi. Melirik jam yang menggantung di dinding, jarum pendek berada di angka dua. William meraih ponselnya. Sesosok gadis cantik yang tengah tersenyum menghadap kamera menyambutnya saat ia menggulir layarnya.
"Aku tak pernah menyangka aku akan jatuh cinta pada gadis kecil yang cengeng sepertimu. Kau akan menangis dan mengadu padaku jika Willmar menggodamu. Lalu dengan senang hati aku selalu memberikan jatah cokelat dan es krim yang Mama berikan padaku, untukmu. Menjelang dewasa, barulah aku menyadari kalau ternyata aku telah jatuh cinta padamu. Dan, sayangnya aku terlambat. Kau akan menjadi milik adikku tidak lama lagi," William bermonolog.
Malam semakin merangkak naik, tapi kantuk tak kunjung datang. William masih terus menatap potret Raisa dalam ponselnya. Angannya sibuk mengembara pada masa saat mereka masih kecil. Raisa merupakan putri kedua dari pasangan Adam dan Ajeng, rekan papanya. William dan Willmar kecil menghabiskan banyak waktu bersama dengan Raisa yang usianya hanya berjarak dua tahun di bawahnya.
Pagi menjelang. Semburat cahaya jingga nampak anggun membingkai langit. Matahari masih malu-malu meninggalkan peraduannya.
William telah rapi dengan kemeja lengan panjang warna biru dongker yang dia padukan dengan celana kain berwarna hitam. Sambil membelitkan jam tangan keluaran produsen jam ternama dunia, matanya tak henti mengawasi jarum jam yang terus bergerak.
"Kak," panggil Willmar.
"Ya, Dek."
"Sudah siap belum? Di tunggu Mama sama Papa di bawah," ucapnya.
"Iya ini sudah selesai. Kau duluan saja, aku menyusul nanti."
__ADS_1
"Baiklah."
Willmar duduk di bangku penumpang sementara William sibuk dengan benda bundar di tangannya. Sultan dan Hanum telah lebih dulu berangkat dengan mobil lain. Sesampainya mereka di bandara, ternyata Arya dan Ratih telah tiba di sana.
"Mi, Pi."
Sorot mata Sultan penuh haru menyambut kedatangan kedua orang tuanya. Mereka pun saling berpelukan satu sama lain.
"Langsung pulang saja Mi, atau mau mampir sarapan dulu? Kebetulan kami juga belum sarapan," tawar Sultan.
"Memangnya Mbok Darmi nggak masak?"
"Masak, Hanum juga masak banyak tadi, takutnya Mami sama Papi sudah kelaparan."
"Kita langsung pulang saja!" Titah Arya.
"Opa sama Oma ikut kami saja, biarkan Papa sama Mama pacaran," canda Willmar.
"Sudah sedewasa ini tapi kau masih tetap nakal!" Arya menepuk bahu cucunya.
"Biar aku saja yang bawakan koper Opa dan Oma," William mengambil alih dua koper besar yang sejak tadi terus Ratih pegang.
William dan Willmar memang kembar, tapi perangai keduanya sangat jauh berbeda. Bak langit dan bumi, bak dua kutub yang saling bertentangan.
Si sulung William cenderung pendiam, tenang, dewasa dan bijaksana. Sedangkan Willmar lebih mirip sang ibu, dia sosok lelaki yang ceria dan periang serta mudah mengekspresikan perasaannya.
Usai menyantap sarapan pagi bersama, kini keluarga besar itu pun tengah berkumpul di ruang keluarga. Tentu saja untuk membahas tentang lamaran Willmar.
"Permisi sebentar, aku perlu menghubungi sekretarisku dulu untuk menyampaikan kalau aku akan datang terlambat ke kantor," izin William.
"Iya, Ma."
Agak menjauh, William menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Cinta, tolong kamu atur ulang jadwal saya pagi ini, kebetulan saya masih ada acara keluarga dan kemungkinan saya baru akan datang ke kantor jam sepuluh nanti."
"Baik, Pak." Terdengar Cinta menyahut di seberang sana.
Klik.
Sambungan telepon terputus. William menghela napas panjang. Entah kenapa dia merasa seperti hendak diadili, padahal kan Willmarlah yang seharusnya gugup saat ini.
"Sudah bisa Opa mulai pembicaraan ini?" Arya membuka suara. Masing-masing orang mengangguk, bersiap mendengarkan pria tua itu bicara.
"Papamu menghubungi Oma, Papa bilang katanya Willmar mau melamar gadis, apa benar, Dek?"
Keluarga terdekat memang menyematkan panggilan 'Dek' untuk si bungsu Willmar.
"Ya, Opa," jawab Willmar, malu-malu.
"Huh, sudah besar rupanya kau. Rasanya baru kemarin Opa menggendongmu, menggantikan popokmu sewaktu kau mengompol. Tahu-tahu sekarang mau nikah."
__ADS_1
"Opa," Willmar mendesis.
"Ya, Opa setuju saja dengan pilihanmu. Opa dengar kalian saling mencintai, terlebih lagi kita semua juga sudah mengenalnya dengan baik karena dia anaknya teman Papamu. Bagaimana denganmu, Sultan?" Membenahi letak kacamatanya, Arya menatap lekat wajah anak semata wayangnya.
"Aku dan Hanum sudah membicarakan soal ini Pi, dan kami telah sepakat untuk membimbing Willmar menuju gerbang masa depannya," ucap lelaki itu, mantap.
"Baiklah kalau begitu, keputusan sudah dibuat. Secepatnya kita akan melamar Raisa untuk menjadi menantu keluarga ini, tapi ada yang ingin Opa katakan pada kalian."
Wajah-wajah orang yang berkumpul di sana mendadak menjadi serius. Tak sabar rasanya mendengar kelanjutan ucapan Arya.
"Soal apa Pi?"
"Kita memang akan melamar Raisa, secepatnya, tapi pernikahan ini masih belum boleh dilaksanakan," cetus Arya.
"Apa? Kenapa bisa begitu Pi?" Sultan dan Arya masih mendominasi percakapan.
"Adat kita melarang jika seorang adik menikah mendahului kakaknya. Papi hanya nggak mau kejadian padamu dulu terulang lagi," jelas Arya.
"Tapi itu kan masa lalu Pi, Sakti meninggal karena memang sudah takdir, bukan lantaran dia melangkahiku," tampik Sultan.
"Tetap saja. Papi tahu zaman sudah modern, tapi percayalah ... Papi nggak bisa melanggar apa yang sudah menjadi adat kita."
"Jadi bagaimana," Willmar menyela.
"Lamaran akan tetap berjalan, tapi untuk menikah, kau harus menunggu kakakmu menikah lebih dulu."
"Opa!" Protes kakak beradik itu, kompak.
"Opa, please ... Zaman sudah modern, masa masih percaya begituan," William angkat bicara.
"Terserah apa kata kalian, yang jelas, Willmar hanya akan menikah setelah William menikah."
"Ah, kenapa ribet begini, Opa." Willmar sedikit kecewa.
"Soal itu urusan Kakakmu, Dek."
"Kenapa aku? Willmar masih bisa menikah, dia tidak perlu menungguku," sergah William.
"Sayangnya ini sudah menjadi keputusan Opa," pungkas Arya.
"Ya sudah, untuk sementara ini kita berhenti sampai di sini. Biarkan Opa dan Oma istirahat, nanti malam kita bahas masalah ini lagi," usul Hanum.
Semua orang membubarkan diri. Arya dan Ratih langsung masuk kamar, pun dengan Hanum dan Sultan. Menyisakan si kembar di ruangan itu.
"Bagaimana ini Kak?"
"Kau tenang saja, aku akan berusaha membujuk Opa. Aku juga akan minta bantuan pada Papa dan Mama," ujar William.
"Bagaimana kalau Opa bersikeras dengan pendiriannya? Kakak tahu betul Opa seperti apa orangnya."
"Akan Kakak pikirkan jalan keluarnya, kau tenang saja. Jangan bebani otakmu dengan berpikiran macam-macam, aku janji, apapun yang terjadi kau akan segera menikah."
__ADS_1
"Terima kasih, Kak. Kau memang yang terbaik."
Bersambung ....