
Hanum meraba kasur di sebelahnya manakala dia tak merasakan adanya Sultan disana. Dengan rasa malas perlahan Hanum membuka matanya, terpaksa dia bangun dari tidurnya untuk mencari keberadaan Sultan.
Kamar mandi menjadi tempat pertama yang akan dia periksa. Tidak terdengar aktifitas apapun di dalam sana membuat Hanum membuka pintu kamar mandi untuk memastikan, dan ternyata memang benar suaminya tidak ada disana.
Hanum kembali mengayunkan kakinya, kali ini ia menuju balkon. Dadanya berdebar, ketakutan menghinggapi dirinya, bagaimana seandainya suaminya tidak ada disana. Berbagai macam pikiran buruk mulai terbersit dalam benaknya.
Hanum menghentikan sejenak langkahnya begitu dia telah sampai di sana, sebuah lengkungan tipis terbentuk di sudut bibirnya tatkala melihat sosok yang dicarinya sedang berdiri di pagar pembatas.
"Mas," panggilnya lirih sambil berjalan mendekati suaminya.
Mendengar seseorang memanggilnya membuat Sultan menoleh.
"Ah, kenapa ..., kenapa kau tidak tidur?" tanya Sultan begitu istrinya mendekat.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, kenapa kamu tidak tidur?" tatapan mata Hanum terlihat begitu mengintimidasi.
Hanum melihat suaminya menyeka sudut matanya, sisa-sisa air mata yang membasahi wajah Sultan belum mengering sepenuhnya.
Pria itu menghabiskan beberapa jam untuk menangis, Hanum yakin itu.
"Aku ...,"
"Mau aku buatkan teh? atau minuman apa yang sedang ingin kamu minum, biar aku turun kebawah dan membuatnya untukmu."
"Kopi yang ku buat saja masih ada." Sultan menunjuk meja tempat ia meletakkan secangkir kopi buatan tangannya sendiri.
Sultan mengapit lengan istrinya kemudian membimbingnya untuk duduk di kursi malas yang ada di sudut balkon.
"Kau masih memikirkan tentang temanmu?" tebak Hanum.
Sultan mengangguk, dia tertunduk lemas dan menjadikan bahu Hanum sebagai sandarannya.
"Banyak hal yang telah kami lewati bersama, melupakannya tidak akan semudah yang orang bayangkan," ucap Sultan.
"Maka dari itu, cobalah berdamai dengan diri sendiri. Jangan siksa dirimu dengan mencoba melupakan suatu hal yang memang tidak bisa kamu lupakan. Dia temanmu, bahkan sudah seperti saudara kandung bagimu terlepas dari kejahatan yang dia lakukan di akhir hayatnya. Kalian telah menjalani hampir selama hidup kalian dan menghabiskan waktu bersama jadi mustahil kamu akan bisa melupakan dia." tangan Hanum masih bergerak lembut di kepala suaminya. "Kenanglah dia karena biar bagaimanapun dia telah menjadi bagian dalam hidupmu. Pesanku, cukup ingat Reno dalam versi baiknya saja karena jika kamu terus mengingat Reno dengan pengkhianatannya, itu hanya akan membuatmu sakit hati."
__ADS_1
"Seandainya saja kisah persahabatan kami tidak berakhir dengan tragis seperti ini," sesal Sultan.
"Tidak ada yang perlu disesalkan, ini semua sudah menjadi bagian dari takdir Tuhan yang harus kamu jalani," timpal Hanum. Dia masih berusaha untuk menghibur suaminya.
"Padahal banyak sekali impian bersama yang kami rangkai sejak lama. Berharap kami bisa saling menjaga satu sama lain, menjalin persaudaraan hingga kami menua bersama tapi semuanya pupus sudah. Semua impian kami telah kandas begitu saja karena kepergian yang begitu mendadak. Aku memang pernah sempat membencinya tapi aku juga tidak rela jika Reno tutup usia dengan cara yang tragis seperti ini."
"Sudah, sudah ..., sudah cukup!" Hanum kembali memeluk suaminya. "Ini semua sudah terjadi jadi biarkanlah berlalu. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya kita melakukan suatu hal yang bisa membuat Reno bahagia di sana."
"Omong-omong dimana Alea?" tanya Sultan. Begitu mendengar ucapan istrinya mendadak dia teringat akan kehadiran bayi mungil cantik yang menjadi satu-satunya harta tak ternilai yang ditinggalkan oleh Reno.
"Alea?" Hanum mengerutkan keningnya, tak habis pikir. Untuk apa suaminya menanyakan tentang bayi itu di jam seperti ini, tentu saja Alea masih tertidur. "Mas menanyakan tentang Alea di pagi buta begini?" tanyanya untuk memastikan kalau tidak ada yang salah dengan pendengarannya.
"Ya, tiba-tiba aku teringat padanya."
"Dia sudah tidur," lirih Hanum. "Akhirnya aku tahu apa yang menyebabkan dia rewel seharian ini, terlebih kemarin juga Alma mengatakan kalau Alea memang sedang bersikap aneh, tak seperti biasanya. Ternyata mungkin karena ikatan batinnya dengan sang ayah yang terlalu kuat, dia seolah bisa merasakan penderitaan yang tengah dirasakan oleh ayahnya itu sebabnya dia merasa tidak nyaman dan hal tersebut membuat dia rewel."
Hanum hendak berucap kembali namun melihat ekspresi suaminya membuat dia mengurungkan niatnya.
Hening.
Cukup lama Hanum membiarkan suaminya duduk mematung, membiarkan pria itu larut dalam angan yang terus mengembara jauh.
Mungkin suaminya sedang butuh waktu untuk menyendiri, begitu pikirnya. Akhirnya dengan berat hati Hanum pun bangun dari tempat duduknya, dia memutuskan untuk kembali naik ke peraduannya mengingat masih ada sisa waktu dua jam lagi untuk dia memulai rutinitas kesehariannya.
Sebenarnya sesampainya disana pun Hanum tidak bisa dikatakan sedang beristirahat, matanya memang terpejam tapi pikirannya melayang entah kemana. Tak tenang rasanya melihat keadaan suaminya yang tak karuan seperti itu lalu bagaimana dia bisa tidur dengan nyenyak.
Lamunan Hanum buyar ketika dia merasakan ranjangnya bergetar karena seseorang yang merangsak naik. Tubuhnya menghangat seketika begitu Sultan melingkarkan tangannya dan memeluk tubuhnya dari belakang.
"Maafkan aku," cicit Sultan.
"Untuk?"
Hanum geli karena hembusan nafas suaminya terasa begitu hangat menerpa daun telinganya.
"Tidak seharusnya aku membiarkanmu ikut dalam kesedihan yang sedang aku rasakan. Kau sedang hamil sementara aku bukannya menjaga dirimu tapi malah membuatmu stress karena terus memikirkan aku."
__ADS_1
Hanum makin dibuat gugup manakala Sultan meletakkan dagunya pada ceruk lehernya. Ini memang bukanlah yang pertama kali baginya tapi tetap saja gadis itu merasa berdebar-debar tiap kali mereka berdekatan seperti itu.
"Memang sudah sewajarnya begitu kan? aku istrimu dan memang kau wajib membagi semua perasaanmu padaku." Hanum mengelus tangan Sultan yang melingkar di perutnya. "Jangan berpikiran macam-macam, tidurlah!"
"Eits, itu kan kata-kata yang biasa aku ucapkan padamu kenapa malah kau menjiplaknya?" protes Sultan, pria itu terus menggerutu begitu mendengar Hanum melontarkan perkataan yang biasanya dia ucapkan pada istrinya.
"Iyakah?" Hanum terkekeh, dia pun membalikkan badannya hingga kini keduanya saling berhadapan.
"Iya, itu curang namanya! ternyata kau sudah pandai menirukan ucapanku dan mencoba untuk mengembalikan kata-kata itu lagi padaku!"
Entah mengapa Hanum merasa begitu gemas melihat tingkah suaminya hingga tak sadar dia mendaratkan sebuah kecupan di bibir suaminya.
Sultan terdiam, disentuhnya bibirnya yang telah basah akibat dari perbuatan Hanum.
Sementara Hanum yang merasa sangat malu begitu menyadari perbuatannya itu pun kembali memunggungi suaminya.
Sultan menyeringai licik kemudian menarik tangan istrinya hingga membuat mereka kembali saling berhadapan.
Cup.
Sultan membalas serangan istrinya, cukup lama dia mengecup bibir Hanum yang merah merekah. Ciuman yang semula terasa begitu lembut berubah menjadi sebuah ******n yang kian liar. Sultan menggigit kecil bibir bawah istrinya dan menghisapnya pelan dan seketika hawa panas tercipta.
Seharusnya dia tahu jika dia sudah memulainya, dia tidak akan pernah bisa mundur sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Kenapa?" tanya Sultan kaget begitu Hanum memutus ciuman panas tersebut secara mendadak, dia makin dibuat bingung ketika Hanum menambahkan adegan mendorong tubuhnya ke belakang, di akhir permainan bibirnya.
"Aku lelah, kau sudah membuatku kesal seharian ini jadi sebaiknya kita tidur." Hanum makin merapatkan selimutnya. "Aku mengantuk!" imbuh wanita itu sambil menguap.
Sultan tertegun, sungguh dia sangat syok karena Hanum melepaskan diri begitu dia hendak menuju puncak gairahnya.
"Tidak bisa! kau sudah membangunkan sesuatu yang sejak tadi tertidur jadi mau tidak mau kau juga yang harus membuatnya kembali tertidur!" Sultan tersenyum miring.
"Aku mengantuk, ditambah seharian ini aku lelah karena kau dan Alea telah menguras tenagaku. Tidurlah!"
"Mana bisa begitu, ini namanya pelanggaran, Sayang!" pekik Sultan, putus asa.
__ADS_1
.