
Seminggu kemudian.
Pagi itu seperti biasa, Hanum sedang menyiapkan segala keperluan suaminya sebelum pria itu berangkat ke kantor.
"Sayang," panggil Sultan pada istrinya.
"Ada apa? Semuanya sudah aku siapkan di atas kasur." Hanum yang saat itu sedang menyiram bunga di balkon pun menyahut.
"Kemarilah sebentar!"
Hanum meletakkan wadah penyiram bunganya di lantai, kemudian bergegas masuk ke kamar.
"Apa aku melupakan sesuatu?" tanyanya pada Sultan begitu keduanya telah saling berhadapan.
"Tolong bantu aku mengancing kemejaku."
Kening Hanum berkerut begitu mendengar perintah suaminya.
"Ayo tolong cepatlah! Ada rapat penting dengan klien dari Filipina pagi ini."
Hanum tak menyahut tapi tangannya mulai bergerak di dada suaminya, dengan cekatan mulai memasukkan satu persatu kancing baju pada lubangnya.
"Aku sampai meminta Mbok Darmi membawakan sarapanku kemari," oceh Sultan. "Hanya ada roti lapis dan susu jadi kalau kamu menginginkan sesuatu yang lain untuk di makan, mintalah di bawah nanti ya!"
Hanum mengangguk, bibirnya tak berhenti mengulas senyum ketika melihat suaminya mulai melahap roti lapisnya.
Ternyata roti lapis yang dimaksud Sultan disini adalah selembar roti tawar yang diisi dengan daging, sayuran dan diberi topping saus tomat, saus cabai dan mayonaise. Kalau kata Hanum sebenarnya itu adalah sandwich.
"Ya ampun, ternyata aku belum memakai sabuk," kata Sultan dengan mulut penuh. "Dasinya juga belum? Astaga ...!"
"Biar aku yang pakaikan," sahut Hanum.
"Biar aku memakai sabuk sendiri sementara kau bisa memakaikan dasinya," titah Sultan membagi tugas.
Sultan masih menggigit roti lapisnya hingga makanan itu masih menggantung di bibirnya.
Tubuh keduanya saling berhimpitan, iseng, Hanum menggigit roti lapis milik suaminya dan itu membuat Sultan hampir tersedak.
Dengan senyum penuh kemenangan, Hanum kemudian kembali menggigit sisa roti tersebut hingga bibir keduanya saling bersentuhan.
"Kau mau menggodaku?" tanya Sultan begitu dia berhasil menelan makanannya.
"Aku hanya membantumu menghabiskan makananmu, itu saja," kilah Hanum.
"Tapi yang tadi itu sengaja kan?"
Sultan memberikan tatapan mata penuh selidik.
Dia ingat betapa tadi dengan nakalnya Hanum menyapukan lidah pada bibirnya. Gerakannya seolah disengaja agar memancing sesuatu dalam diri pria itu untuk muncul.
"Apa? Aku tidak tahu apa maksudmu." Hanum tersenyum.
Gadis itu memundurkan tubuhnya begitu dia selesai melingkarkan sehelai kain bermotif garis-garis di leher suaminya.
"Tidak! Kau pasti sengaja melakukannya, ayo mengaku!"
"Melakukan apa? Apa yang harus aku akui jika aku tidak melakukan sesuatu yang kamu tuduhkan," kelit Hanum.
Sultan geram bukan main, merasa telah dikerjai oleh istrinya.
Dengan gerakan cepat dia menarik tangan Hanum yang sudah berada di ambang pintu. Sultan menyudutkan istrinya hingga tubuh Hanum membentur tembok.
"Apa kau benar-benar lupa dengan apa yang telah kamu lakukan padaku tadi?" telisik Sultan.
Hanum tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, sepertinya kau harus diingatkan!" Sultan menyeringai licik.
Tak lama setelahnya, Sultan segera mendaratkan bibirnya pada bibir ranum istrinya. Dengan begitu sensual dia menggerakkan lidah dan juga bibirnya, sama persis seperti apa yang tadi dilakukan oleh Hanum padanya.
Hanum melenguh, tubuhnya mulai bereaksi ketika Sultan memberikan sentuhan lembut yang membuatnya selalu mendamba. Perlahan tangannya terangkat, dia meremaas jas yang telah terpasang rapi membalut tubuh suaminya.
Permainan yang dilakukan oleh Sultan membuat Hanum tak bisa tinggal diam, dia pun membalas setiap perlakuan lembut Sultan, di bibirnya.
Gadis itu terkejut bukan main begitu Sultan mendadak melepaskan bibirnya di saat gairah cinta diantara keduanya mulai memanas.
"Gadis nakal! Tunggulah aku karena begitu aku pulang dari kantor nanti, aku tidak akan mengampunimu!" ucapnya sambil mengelap bibirnya yang basah. "Sekarang aku harus berangkat kerja dulu. Ingat, biaya hidup kita setelah si kembar lahir akan bertambah jadi aku harus bekerja lebih giat lagi."
Hanum membiarkan suaminya mengecup keningnya sebelum akhirnya dengan tergesa pria itu berlari keluar kamar.
.
Hanum tengah santai menikmati secangkir teh bersama kakeknya di taman. Udara di sana terasa sangat sejuk, melihat beraneka jenis bunga yang bermekaran membuat Hanum merasa betah berlama-lama berada di sana.
Dengan tergopoh-gopoh Mbok Darmi berjalan mendekati majikannya.
__ADS_1
"Maaf menganggu waktunya, Non." Mbok Darmi membungkuk sopan.
Padahal sudah berulangkali Hanum mengingatkan padanya untuk tidak melakukan hal tersebut di depannya tapi wanita tua itu bersikeras. Merasa perlu menjaga sopan santunnya mengingat sebaik apapun Hanum, sedekat apapun hubungan yang terjalin diantara keduanya, tetap saja, Mbok Darmi tidak bisa melupakan indentitasnya yang hanya seorang asisten rumah tangga.
"Ada apa Mbok? Lho itu Ajeng ...,"
Hanum melihat sosok temannya muncul di belakang Mbok Darmi.
"Iya Non. Katanya Non Ajeng rindu bertemu dengan Non Hanum, itu sebabnya dia kemari," ujar Mbok Darmi.
Mustahil Ajeng jauh-jauh kemari jika tidak ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan, tapi ... hal penting apa yang akan dia bicarakan denganku. Hanum membatin.
"Ya sudah kalau begitu kakek akan kembali ke kamar untuk istirahat," tutur Burhan.
Dengan kehadiran pria tua itu disana ditakutkan akan menganggu dua orang wanita yang hendak mengobrol.
"Biar aku antar Kakek." Hanum bangun dari tempat duduknya.
"Tidak perlu, kakek bisa masuk sendiri jadi nikmati saja waktu bersama temanmu," tolak Burhan, halus.
"Selamat beristirahat, Kek. Terimakasih," timpal Ajeng.
"Ya." Burhan mengangguk. "Buatkan minuman untuk tamu kita!" perintahnya pada Mbok Darmi.
"Baik, Tuan sepuh."
Kedua orang tua itu pun meninggalkan taman.
Ajeng segera menghempaskan tubuhnya pada bangku kayu panjang yang berada di samping pohon mangga yang rindang.
"Sejuk sekali di sini," kata Ajeng sambil meletakkan tas mahalnya, tepat di sampingnya.
"Hari juga masih pagi, hamparan tanaman bunga yang ada di sini juga menambah suasana asri taman ini," Hanum menyahut.
"Ya, akan lebih menyenangkan jika pohon mangga nya sedang berbuah. Kita bisa buat rujak di sini, hm ... Pasti sedap," celoteh Ajeng.
"Ya, tapi sayangnya saat ini belum waktunya musim buah mangga. Oh ya, Bening kenapa tidak di ajak?"
"Kebetulan dia sedang tidur sewaktu aku mau berangkat ke sini."
"Ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan denganku, Jeng?" tanya Hanum.
Sudah cukup acara berbasa-basi mereka kali ini, waktunya membahas mengenai alasan Ajeng datang kemari.
"Kau sudah mendengar berita buruk mengenai percobaan bunuh diri Mauryn, bukan?" raut wajah Ajeng berubah menjadi serius.
"Mas Sultan langsung memberitahuku begitu dia pulang dari kantor, hari itu juga," jawab Hanum.
"Apa saja yang dia katakan padamu?"
"Tidak banyak, dia hanya menceritakan kronologi kejadiannya padaku dan mengatakan kalau saat ini perempuan itu masih menjalani perawatan di rumah sakit."
"Wanita itu masih saja menyusahkan kita meskipun dia sudah di penjara," keluh Ajeng.
"Aku meminta izin pada Mas Sultan untuk menjenguknya di rumah sakit," cetus Hanum.
"Apa kau sudah gila? Kau mau menemui wanita yang telah menjadi sumber malapetaka di dalam kehidupanmu!" sentak Ajeng.
"Aku hanya ingin melihatnya saja. Aku kasihan padanya, dan lagi Mas Sultan juga tidak memberikan izin," sambung Hanum.
"Baguslah, lagipula memang tidak seharusnya kau menemuinya," ucap Ajeng, begitu geramnya.
Dia tak tahu kenapa bisa memiliki teman sebaik Hanum. Menjadi manusia yang baik memang suatu kewajiban bagi makhluk di dunia ini tapi dia juga harus bisa menempatkan diri.
Adakalanya kebaikan dalam diri seseorang menjadi anugerah dan akan berubah menjadi bencana dalam waktu yang bersamaan.
Seperti pada kasus Hanum, Ajeng sudah seringkali memberikan peringatan kepada Hanum agar dia tak terlalu lunak pada Mauryn. Tidakkah dia lupa dengan setiap perbuatan jahat Mauryn padanya? Berapa kali Ajeng harus mengingatkan hal tersebut pada temannya itu.
"Huh, ya sudahlah jangan membahasnya lagi. Membuatku jadi serba salah." Hanum menggerutu.
"Aku juga tak sudi menyebut namanya. Kedatanganku kemari hanya untuk mengatakan sesuatu mengenai Wina," seloroh Ajeng.
"Memang apa yang terjadi dengan Wina?"
Hanum tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Itu yang ingin aku katakan padamu." Ajeng mengambil jeda sejenak sebelum dia melanjutkan perkataannya. "Kemarin aku sempat bertemu dengannya di rumah sakit sewaktu mengantar Bening melakukan imunisasi."
Hanum masih diam, berusaha menjadi pendengar yang baik.
"Dari pertemuan singkat itu aku bisa mengorek informasi kalau sebenarnya dia ragu," sambung Ajeng.
"Dalam hal apa?"
"Pernikahannya dengan Dion." Ajeng menatap lekat manik mata temannya. "Dia sempat bercerita tentang kejadian dimana dia ditinggalkan sendirian di sebuah restoran setelah mereka selesai fitting baju pengantin,"
__ADS_1
"Sungguh?" pekik Hanum.
"Ya, mereka sedang sibuk mempersiapkan segala pernak pernik kebutuhan pernikahan di hari yang sama ketika Mas Adam menghubungi Dion untuk menceritakan perihal Mauryn," ungkap Ajeng.
"Astaga, dia pasti begitu terluka ketika Dion meninggalkannya begitu saja," lirih Hanum, batinnya perih seolah dia sendiri yang sedang mengalaminya.
"Begitulah, awalnya dia hanya ingin menguji Dion saja dengan menyuruh calon suaminya itu untuk pergi menemui mantan istrinya tapi ternyata Dion malah benar-benar pergi dari sana."
"Jadi apa kau juga sependapat dengan pemikirannya? Wina ragu karena dia tidak yakin jika Dion tulus mencintainya."
"Ya, dan entah kenapa ketika melihat Wina, seolah aku sedang melihat sosok kedua Hanum dalam dirinya. Kalian berdua sama-sama terluka akibat dari tindakan bodoh pasangan masing-masing. Ya ... meskipun pihak pria berulangkali menyangkalnya tapi dengan tindakan yang dia lakukan, orang pasti akan berpikiran kalau masih ada cinta diantara mereka," oceh Ajeng.
"Huh." Hanum melenguh panjang kemudian menyandarkan punggungnya pada bahu kursi. "Aku selalu berharap dengan segala kejadian buruk yang menimpaku semoga tidak terjadi pada wanita-wanita lainnya terutama teman-teman dan juga orang terdekatku. Melihat sikap plin plan seorang Dion membuatku ikut meragukan kesungguhannya untuk menikahi Wina."
"Entah apa yang ada dalam diri perempuan jahat itu hingga membuat para pria seakan susah lepas dari jeratnya."
Hanum mengangguk, setuju dengan pendapat temannya.
"Lalu apalagi yang kalian bicarakan?"
"Oh ya, aku hampir lupa tidak mengatakannya padamu."
"Apa itu?" desak Hanum.
Obrolan panas antara dua wanita cantik itu pun masih terus berlanjut.
.
"Apa kau sudah memesan makan siang untuk kita?" Sultan bertanya pada Raka.
"Sudah," jawab Raka. Pria itu melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. " Seharusnya sudah sampai," imbuhnya.
"Aku sangat lapar!" Sultan menggeram sambil mengusap perutnya.
"Memangnya kau tidak sarapan?" Raka meneguk segelas air putih yang ada di meja kerjanya.
"Hanya sepotong roti lapis, itupun dimakan oleh Hanum sebagian. Sementara kita sudah memeras otak dan juga keringat selama lebih dari empat jam, mana ada sisa tenaga dari separuh roti lapis yang masuk ke dalam lambungku?" keluh Sultan.
"Sabarlah!"
Raka baru saja selesai berucap ketika dia mendengar suara ketukan pintu dari luar.
Raka menggeleng pelan ketika melihat raut wajah girang tercetak jelas di wajah temannya begitu seorang office boy masuk membawakan kantung yang dia pastikan berisi makanan yang dipesannya.
"Terimakasih," kata Sultan singkat, pada bawahannya.
Raka pun menghentikan sejenak aktivitasnya, sama seperti Sultan, dia pun membutuhkan tenaga untuk menyelesaikan tumpukan pekerjaan yang sudah menantinya.
"Hm, bagaimana kondisi terkini Mauryn? Ku dengar dia sempat kritis selama beberapa hari," ucap Raka membuka percakapan.
"Ya, dan dia sudah siuman kemarin."
"Apa pihak kepolisian juga yang menghubungimu?" tanya Raka.
Sultan menggeleng.
"Dion yang mengatakannya padaku."
"Jadi selama ini dia benar-benar menjaga Mauryn? Dion yang menunggu perempuan itu di rumah sakit sampai Mauryn terbangun?"
Sultan mengangguk. Dia sudah menduga akan seperti apa reaksi temannya itu selanjutnya. Raka akan mengumpati kebodohan Dion, sama seperti pria itu dulu ketika mengumpati dirinya.
"Kalau dipikir-pikir, aku melihat ada kesamaan dalam dirimu dengan Dion," seloroh Raka.
"Kesamaan apa?"
"Sama-sama bodoh!" Raka tergelak di akhir kalimatnya.
"Sialan!"
"Ada satu hal lagi kesamaan dalam diri kalian," sambung Raka.
"Perset*n dengan itu semua, aku tidak peduli." Sultan melanjutkan makan siangnya.
"Kau benar-benar tidak ingin tahu?"
"Minggir!" seru Sultan sambil menepis wajah Raka yang sedang menatapnya tajam tepat di depan wajahnya.
"Kalian sama-sama tergila-gila pada satu wanita!"
Raka kembali tergelak, tawanya renyah begitu membahana memenuhi ruangan tersebut.
"Amit-amit! Sejak dulu aku hanya mencintai satu wanita saja," tegas Sultan.
.
__ADS_1
Kira-kira masih pada mau lanjut gak ini ceritanya? 🤔🤔🤔