Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Hampir Saja


__ADS_3

Lelaki itu merogoh saku celananya. Membuka dompet kulit berwarna cokelat dan mengambil satu kartu dari sana. Bersamaan dengan itu, tak sengaja selembar kertas yang terselip di sana jatuh. 


"Saya belum sempat kasih ini, banyak pikiran membuat saya jadi pelupa." 


William berniat memungut kertas itu tapi kalah cepat. Cinta sudah lebih dulu mendapatkannya. Cinta segera membalik kertas itu, matanya membulat seiring dengan nyeri yang dia rasakan di dadanya.


"Cinta, itu hanya ..."


Cinta tertegun. Sesosok gadis memakai toga terlihat sedang mengecup pipi lelaki yang sangat dikenalinya. Ya, foto Raisa saat sedang wisuda, tampak gadis itu sangat bahagia. Cinta mencelos saat melihat ekspresi wajah William pada saat Raisa mencium pipinya.


"Aku kembalikan, takut Bapak mencarinya," ujar Cinta, menyodorkan selembar kertas foto itu, lalu dengan cepat Cinta bergegas meninggalkan suaminya. 


"Cinta, tunggu!" William berusaha mengejar istrinya yang mulai menjauh.


Cinta menulikan pendengarannya, sengaja dia mempercepat langkah menghindari William. Dia butuh sendiri sejenak, dia butuh memikirkan langkah yang akan dia ambil selanjutnya.


"Cinta, tunggu! Tunggu aku Cin!"


Cinta tahu William masih berusaha mengejarnya, tapi bertepatan dengan itu sebuah taksi melintas dan Cinta segera masuk ke dalamnya.


"Cepat jalan, Pak."


"Baik Mbak," supir taksi menyahut.


Cinta merasakan gemuruh di dadanya kian menggelegak. Ingin sekali dia menumpahkannya, tapi bingung harus dengan cara apa. 


Sesuai permintaan suaminya, Cinta meminta supir taksi untuk menurunkannya di sebuah restoran mewah. Usai membayar makanannya, dengan taksi yang sama Cinta kembali menuju rumah. Dengan langkah lebar Cinta memasuki rumah yang barunya.


Terdengar suara televisi dari ruang tengah, begitu Cinta membuka pintu.


"Apa Mas Willi sudah sampai?" Monolognya sambil mempercepat langkah.


Deg.


Jantung Cinta rasanya seakan melompat dari tempatnya saat melihat sesuatu terjadi di sana.


Willmar terperanjat begitu menyadari kedatangan Cinta. "Ka ... Kakak ipar sudah pulang?" Gugup, Willmar segera beringsut dari atas tubuh istrinya.


Pun dengan Raisa. Wajah gadis itu merah padam menahan malu saat kepergok. Dengan cepat dia membenahi bajunya yang sudah tersingkap. Belum lagi penutup dada yang juga tidak terpasang dengan benar.


Cinta mendesah kasar. Tak habis pikir dengan kelakuan kedua adik iparnya. Dia tahu mereka pengantin baru yang masih begitu menggebu ingin mereguk madu cinta, tapi tidakkah mereka tahu sopan santun? 


Mereka memiliki rumah sendiri yang juga tak kalah besar. Ada banyak tempat yang bisa mereka berdua gunakan untuk melakukan kegiatan suami istri, kenapa mesti di rumahnya? Rasanya kepala Cinta mau meledak.


"Cinta, maaf ... Aku nggak tahu kalau kamu sudah pulang," kata Raisa, gadis itu salah tingkah. 


'Jadi kalau aku tidak di rumah, kalian bisa bebas melakukan apapun yang kalian mau, begitu?' kedua tangan Cinta menggenggam kantong plastik, semakin terkepal.


"Panggil dia Kakak! Meskipun kamu dan dia seumuran, tapi dia tetap kakak iparmu. Kau lupa!" tegur Willmar.


"Tidak apa-apa. Aku ke dapur dulu ya, menyiapkan makanan."


"Iya Kak."


Mengambil piring dan mulai menuangkan satu per satu bungkusan makanannya, Cinta terus mendumel. 


"Cinta."


Tubuh Cinta menegang begitu mendengar suara William. Lelaki itu mendekati istrinya yang masih menata peralatan makan di meja.


"Kenapa nggak angkat telepon dariku?"


"Ponsel saya setel mode silent," jawabnya acuh.


"Cinta, foto itu hanya ..."


"Masa lalu dan Mas menganggapnya sebagai adik!" Sambar Cinta, memotong ucapan suaminya. "Tidak usah dibahas!" Pungkas gadis itu yang kemudian meninggalkan William di meja makan.

__ADS_1


Setiap gerakannya berusaha Cinta percepat, mandi dan menyiapkan segala keperluan William.


Selang dua puluh menit.


"Will, ajak istrimu makan. Semuanya sudah saya siapkan, kalian makan saja terlebih dulu."


"Kak Cinta nggak sekalian?" Tanya Willmar.


"Saya belum lapar, kalian saja dulu. Mas Willi sudah menunggu di meja makan," beritahu Cinta.


"Sekalian aja Kak, kan enak makan ramai-ramai," ajak Raisa.


"Saya ada kerjaan. Sudah, kalian duluan saja, temani Mas Willi."


Cinta mengayunkan kakinya menuju bilik kecil dekat taman. Seharian sibuk dengan pekerjaan, dan sekarang dia harus menyetrika pakaian karena kebetulan belum dikerjakan oleh Nur, asisten rumah tangga yang bekerja setengah hari di rumah itu.


"Lho, tadi bukannya Cinta manggil kalian buat makan malam, terus sekarang dia di mana? Kenapa nggak ikut sekalian?" Tanya William.


"Kak Cinta bilang belum lapar, masih ada kerjaan katanya," Willmar menyahut.


"Kerjaan," gumam William.


"Ya, tadi sudah aku ajak, Kak. Dianya nggak mau," Raisa ikut menimpali.


"Ya sudah. Makanlah, kalian pasti sudah lapar." William bangkit dari kursinya.


"Kakak mau ke mana?"


"Mau lihat Cinta dulu, sebentar. Kalian makan saja, tidak usah sungkan."


William menangkup rahangnya. Entah, semakin dia melangkah, dia makin merasa gugup. Seolah dihantui rasa bersalah, tapi sejujurnya dia pun tak ingin rumah tangganya menjadi dingin seperti ini.


"Iya, Cinta sudah makan kok, Bu, barusan. Ibu lagi apa?"


" ... "


" ... "


"Jangan pikirin Cinta, Bu. Aku di sini baik-baik saja. Oh ya, besok rencananya aku pulang, mau nginep di rumah ibu, boleh ya? Aku kangen sama Ibu."


" ... "


"Ya, aku janji akan minta izin dulu sama suamiku. Mas Willi baik, Bu. Dia titip salam sama Ibu, maaf katanya belum bisa mampir ke rumah soalnya dia lagi banyak kerjaan. Cinta tutup dulu ya, Bu. Ibu langsung tidur ya."


Klik.


Cinta kembali mengantongi ponselnya, ia membuang pandangannya ke arah taman. Jendela kaca yang dia buka, membuat semilir angin menjangkau kulitnya. Matanya memanas, lalu sepersekian detik genangan itu jebol tanpa sanggup Cinta membendungnya.


Bahu Cinta berguncang hebat hingga dia membekap mulutnya sendiri, berharap tak ada yang mendengar tangisnya. Namun, Cinta salah. William yang sejak tadi berdiri di dekat pintu telah mendengar semuanya.


Mendadak seperti ada bongkahan batu yang menimpa dada William saat untuk pertama kalinya dia mendengar Cinta menangis. Terlebih saat gadis itu dengan pandainya merangkai kata-kata manis pada sang ibu. Ah, William merasa hatinya teriris.


Dengan langkah kaku, William mulai memangkas jarak, mendekati wanita yang baru seminggu lebih itu dinikahinya. Wanita yang saat ini sedang menangis memunggunginya, ingin sekali William memeluknya.


"Nggak boleh lemah, Cinta. Nggak boleh! Harus kuat, kamu pasti bisa. Semangat!" Cinta mengusap lelehan air asin di wajahnya. 


"Cinta."


Secepatnya Cinta menoleh, dia terkejut saat melihat William sudah ada di belakangnya.


"Oh, Mas. Sejak kapan Mas berdiri di situ? Butuh apa, biar saya ambilkan," mengulum senyum seolah tak terjadi apa-apa.


'Dia ... Bisa-bisanya dia berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.'


"Saya tunggu kamu di meja makan, kenapa malah di sini?" Akhirnya hanya kalimat itu sanggup William ucapkan.


"Oh, saya belum lapar. Dari pada nggak ngapa-ngapain, mending saya nyetrika, bantuin Bik Nur biar dia nggak terlalu banyak kerjaan, besok."

__ADS_1


Tanpa aba-aba, William meraih tangan Cinta, menarik gadis itu untuk mengikutinya.


"Hm. Mas ..."


"Temani saya makan. Saya nggak biasa makan sendirian," alibinya.


"Lho, kan tadi saya sudah panggil adik ipar untuk menemanimu makan."


"Mereka sudah pulang begitu selesai makan malam."


Memang benar. Tadinya Willmar berniat untuk memanggil saudara kembarnya kembali ke meja makan, tapi yang terjadi justru dia mematung saat melihat William berdiri di depan pintu. Meskipun tak mengetahui kejadian yang sebenarnya, tapi Willmar tahu kalau suasana hati Cinta sedang tidak baik. Itulah sebabnya dia mengajak Raisa mempercepat makannya agar bisa langsung pulang.


Cinta membisu, pun saat William memberikan kursi dan mempersilakan dia mendudukinya.


"Kamu mau pakai apa? Ayam kecap, cumi, atau ..."


"Saya bisa ambil sendiri, Mas," tolak gadis itu. Melihat William mengambilkan nasi untuknya saja dia sudah merasa tidak enak.


"Tapi saya mau mengambilkannya untukmu."


Hening sesaat.


"Ayam sama capcay?"


Cinta mengangguk. Mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya malah membuatnya heran. Ada apa gerangan? Gadis itu bertanya-tanya dalam hati.


"Kenapa tidak dihabiskan? Kamu diet?" Suara William masih mendominasi. Cinta menggelengkan kepalanya.


"Saya sudah membuang foto itu, jadi kamu tidak perlu marah lagi padaku," beritahu William.


Cinta meletakkan sendoknya. "Memang apa hak saya untuk marah Mas?"


"Saya takut kamu cemburu."


"Kenapa saya mesti cemburu? Bukankah Mas sendiri yang bilang kalau di antara kalian tidak ada hubungan apa-apa selain hubungan kakak adik," sindir Cinta. Tembakannya mengenai sasaran. Terbukti, William terdiam seketika.


"Saya sudah kenyang."


Cinta membawa piring kotornya menuju sink, lalu mencuci peralatan makan yang menumpuk di sana. Dalam hati dia terus mengumpat, Raisa hidup seperti apa sampai mencuci piring bekas makan sendiri pun tidak mau.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih tiga belas menit saat Cinta menaiki kasurnya. Di sebelahnya sudah ada William, lelaki itu sudah lebih dulu naik tentunya.


"Cinta," panggil William.


"Ya Mas."


"Besok pagi sebelum berangkat ke kantor, tolong kamu siapkan keperluan kita ya," pinta William, mendadak. Sejak kejadian di ruang setrika tadi, lelaki itu terus terngiang-ngiang percakapan Cinta dengan ibunya di telepon.


"Keperluan apa?" Tanya Cinta, bingung.


"Baju dan semua keperluan kita. Pulang kerja kita akan pulang ke rumah Ibu, kita menginap di sana," jelasnya.


"Sungguh?"


William menarik kedua sudut bibirnya saat melihat reaksi Cinta. Kebahagiaan yang terpancar dari wajah gadis itu tak dapat dia sembunyikan.


"Iya. Kau persiapkan kira-kira untuk tiga hari, sekalian saya mau bujuk Ibu biar mau pindah ke sini. Kasihan jika Ibu dibiarkan tinggal sendirian."


Reflek, Cinta mendekap tubuh suaminya. "Terima kasih, Mas," ucapnya tulus.


"Sama-sama. Kamu senang?" Mengusap surai panjang Cinta. Gadis itu mengangguk.


Dalam jarak sedekat ini, minim pencahayaan. Ada gelombang yang membuat tubuh William bergetar hebat. Perlahan William mulai memajukan wajahnya, memangkas jarak hingga wajah ayu Cinta kini dapat dia lihat dari jarak sangat dekat. Satu centi.


Cinta memejamkan mata bersiap menerima sesuatu yang kemungkinan akan mengubah kehidupannya nanti. Wanita itu pasrah jika memang William akan meminta haknya sebagai seorang suami malam ini juga. 


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2