Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Gagal di menit terakhir


__ADS_3

Keesokan harinya.


Sultan berjalan ke arah meja makan sambil menggandeng tangan istrinya, dia terkekeh begitu melihat tatapan mata sang kakek yang terlihat begitu sengit padanya.


" Anak nakal, selalu saja membuat orang tua menunggu, tidak sopan membiarkan orang tua menunggu terlalu lama. Aku juga sudah tua, sudah tidak kuat kalau harus menahan lapar terlalu lama." dengus Burhan, " Apa dengan hidup lama di ibukota, membuatmu kehilangan sopan santunmu? dimana-mana itu orang yang lebih muda yang seharusnya menunggu, bukan malah sebaliknya."


" N**jih, ngestoaken dawuh eyang sepuh." ( Baik, sesuai yang dikatakan kakek saja ) Sultan mencebik, saking kesalnya dirinya sampai menjawab dengan menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil pada sang kakek. Jengkel, karena lelaki tua itu terus menyebut tentang sopan santunnya.


" Ya sudahlah, Yah." Arya menimpali, " Tidak baik ribut di depan makanan, pamali. Menghina Sang pemberi rezeki."


Acara sarapan pagi pun dimulai, mereka makan dengan hikmat tanpa berani mengeluarkan sepatah kata pun. Mendengarkan Arya yang sampai angkat bicara, demi melerai pertikaian antara cucu dan kakeknya yang kalau dibiarkan akan terus berlanjut.


Namun tidak demikian dengan keduanya, Sultan terus saja memajukan bibirnya, dia terus mencibir Burhan. Bibirnya bergerak meskipun tidak keluar suara sama sekali, tapi Burhan bisa melihat dengan jelas kalau saat ini cucunya sedang memancing amarahnya. Pun sama seperti Sultan, kakek tua itu terus memelototi cucunya sambil beberapa kali mengangkat alisnya, mengejeknya, seolah berkata ' Ayo kita duel '.


Sementara yang lainnya hanya bisa menatap keduanya sambil menggelengkan kepala, kedua pria berbeda generasi itu bertingkah bak anak kecil yang berebut mainan.


Setelah selesai menjalankan ritual mengisi perut, mereka pun beranjak dari tempat duduknya masing-masing. Ratih sudah menggandeng tangan menantunya, mereka hendak menikmati pemandangan di taman samping rumah. Arya pun sudah pergi dari sana begitu selesai makan.


Kini tinggallah kedua orang tersebut di meja makan, Sultan terburu-buru menghabiskan minumannya, ingin cepat- cepat pergi dari sana. Namun begitu dia melangkah, tangannya sudah di cekal oleh kakeknya.


Dan seketika berteriak saat mendapati tangan Burhan memutar daun telinganya dengan sangat keras.


" Ya ampun, kakek. Ada apa denganmu? apa masalahmu sebenarnya? kenapa kakek suka sekali melakukan tindak kekerasan padaku? sebenci itu kah kakek padaku?" ucapnya membabi buta, telinganya terasa begitu panas dan rasanya hampir putus. Kakek tua itu masih sangat bertenaga meskipun usianya sudah uzur.


" Hei barandal kecil." menepuk bangku, menyuruh cucunya duduk kembali.


" Berhenti memanggilku begitu! Papi susah payah membuatkan nama yang indah untukku dan ... seenaknya saja kakek main ubah namaku." Anak itu menuruti perintah kakeknya, hubungan mereka memang seperti itu adanya. " Kasihan Mami, mati-matian melahirkan anak kesayangannya, dan anaknya ini punya nama. Sultan Chandra Pradipta, anak dari Arya Chanda Pradipta, cucu dari kakek psikopat bernama Burhanuddin Chandra Pradipta." ucapnya, sedikit menaikkan volume suaranya.


Plakk ...


Kali ini tangan kekar Burhan mendarat tepat di atas kepala cucunya.


" Astaga ..." Sultan memekik kesakitan, di gosoknya bagian bekas pukulan kakeknya.


" Kau memanggilku apa tadi?" Burhan mendelik.


" Psikopat, memangnya kenapa?" tanya Sultan tanpa rasa berdosa, " Bukankah kakek punya panggilan khusus untukku, begitu juga aku, mulai sekarang aku akan memanggil kakek dengan sebutan Ksatria psikopat." Sultan terkikik, tertawa bahagia, seolah dia telah memenangkan pertandingan. Akhirnya dia mempunyai panggilan kesayangan juga untuk kakek tercintanya.


Burhan yang merasa dongkol akibat perbuatan cucunya, hendak memukul Sultan lagi. Namun kali ini pukulannya meleset karena Sultan dengan sigap menangkis tangan kakeknya ketika pria tua itu menaikkan tangannya.


" Bisa tidak, jangan main kekerasan Kek? bagaimana kalau aku mengalami gegar otak? atau bagaimana kalau ada sarafku yang pecah akibat dari pukulan yang Kakek lakukan padaku? Aku masih muda, aku belum mau mati karena penyakitan, aku masih ingin menjalani kewajibanku sebagai seorang suami sekaligus ayah yang baik untuk keluarga kecilku nantinya Kek."


" Sudah selesai pidato mu?" sindir Burhan, " Aku memintamu duduk bukan untuk mendengarkan omong kosongmu."


" Dasar pemarah." gumam Sultan.


" Apa katamu?"


" Tidak ... tidak, Kek."

__ADS_1


Pria tua ini sungguh merepotkan, usianya saja yang berkurang, tapi indra penglihatan dan pendengarannya masih luar biasa sempurna, tidak berkurang sedikitpun. Telinganya masih berfungsi dengan baik, terlebih matanya yang tajam seperti elang. Hah ... Sultan terus mendengus, kesal.


" Baiklah, kalau begitu katakan? ada perlu apa Kakek denganku? mau bicara apa?"


" Kakek sudah menyuruhmu untuk berhati-hati."


" Soal?"


" Kampret!" sekali lagi Burhan memukul kepala cucunya.


" Sudah kubilang untuk tidak memukulku." pekik Sultan, dia meringis kesakitan, "Memang apa salahku?"


" Apa kau tidak bisa menahan diri?"


" Soal apa sih?" Sultan menyentuh tengkuknya, " Bicara terus terang Kek."


" Soal itu." Burhan menaikkan alisnya beberapa kali.


Dan tawa Sultan pecah seketika, dia terpingkal melihat tingkah konyol kakeknya yang baru pernah dilihatnya kali ini.


" Kurang ajar!" desis Burhan.


" Lagi pula, sejak kapan kakek berubah menjadi ganjen begitu?" cebik Sultan, dia menirukan perbuatan kakeknya, " Apa ini?" menaikkan alisnya beberapa kali.


Melihat cucunya terus saja mentertawakan dirinya, membuat kesabaran Burhan mulai terkikis.


" Sembarangan saja kakek kalau bicara, kalau bibirku di jahit, nanti aku jadi tidak bisa mencium Hanum, bagaimana?"


" Kakek serius, Sultan."


Mendengar namanya disebut, membuat Sultan merinding, dia menghentikan tawanya. Jarang sekali Burhan menyebutkan namanya, dan jika pria tua itu sudah menyebut nama nya dengan baik, itu artinya pembicaraan mereka akan menjurus ke arah yang lebih serius.


Hening.


Butuh waktu dua menit untuk kemudian Burhan kembali membuka mulutnya.


" Apa kamu semalam melakukannya dengan istrimu?" tanyanya terus terang, raut wajahnya yang sudah dipenuhi oleh keriput itu pun sedikit tegang.


" Melakukan ... melakukan apa maksud kakek?"


" Itu." lagi, Burhan menaikkan turunkan alisnya beberapa kali.


Sultan hampir tertawa begitu melihat kakeknya kembali melakukan hal konyol, namun dia segera membungkam mulutnya. Sebisa mungkin menahan tawanya agar tidak memancing kemarahan pria tua di hadapannya.


" Hubungan badan."


Sultan terperanjat begitu mendengar kalimat itu muncul dari mulut sang kakek.


" Maksud kakek?"

__ADS_1


" Apa semalam kalian melakukan kegiatan suami istri?" tanyanya lagi.


Deg.


Apa pria tua ini menguping kejadian di kamarku semalam? atau jangan-jangan, beliau ini memata-mataiku.


" Aku melihatnya."


Lagi-lagi ucapan yang dilontarkan oleh kakeknya, membuat Sultan kaget.


" Apa yang kau pikirkan?" hardik Burhan ketika melihat reaksi cucunya, " Maksudku, aku melihat tanda bekas percintaan kalian semalam. Aku tidak serendah itu untuk melihat pergumulan yang kalian lakukan dengan mataku yang suci ini." ucapnya begitu mengetahui apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh Sultan.


Burhan sedikit mendekati cucunya, lalu menyentuh leher Sultan lalu menekannya cukup lama disana.


" Ini!" mendorong Sultan, " Ck ... ck ... bukannya kakek mau mencampuri urusan rumah tangga kalian." menghela nafas panjang, " Hanya saja, Hanum kan pernah sekali, dulu keguguran. Dan bukankah kamu sudah mendengar sendiri apa kata Noh? istrimu itu lemah jantung. Bagaimana kalau sampai kejadian itu terulang kembali?"


" Ish, sepertinya kakek salah paham."


" Salah paham bagaimana? jelas-jelas aku melihat buktinya di sini." kembali menekan leher Sultan.


Sultan menjerit dalam hatinya, dia sangat terkejut begitu melihat ada tanda ungu kemerahan yang tercetak jelas di atas kulit lehernya yang putih. Dia juga tidak menyadari kalau ternyata semalam Hanum sempat menorehkan sebuah tanda disana. Kejadian semalam mungkin membuat Hanum sangat terangsang sehingga membuatnya tak sadar melakukan itu.


" Ah, ini." Sultan mengusap lehernya, " Ini tidak seperti yang kakek pikirkan."


" Apa maksudmu? memangnya darimana kamu mendapatkannya kalau tidak dari istrimu?"


" Ini memang hasil karya Hanum Kek, wajar kan, dia kan istriku."


" Apa? kakek sudah memperingatkanmu untuk berhati-hati. Apa kamu tidak bisa menahan diri sampai usia kandungan istrimu sudah lebih kuat. Di usai kehamilan nya yang masih muda, dia akan sangat rentan mengalami keguguran. Belum lagi riwayat kesehatannya yang ..."


" Kakek tenang saja, ini semua tidak seperti apa yang ada dalam pikiran kakek."


" Aku harap begitu." lirihnya, " Jadi, kalian melakukannya atau tidak?"


" Tentu saja tidak Kek."


" Hah?" kening pria tua itu makin berkerut.


" Semalam itu seranganku gagal." Sultan tersenyum masam.


" Bicara apa anak ini." Burhan menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Ya, semalam memang aku berusaha mengajaknya, tapi seranganku gagal di menit terakhir. Karena kacang kecilku menolak untuk aku kunjungi." Sultan terkikik, dia lalu bangun dari duduknya. " Sepertinya calon cicitmu itu membenciku, sama seperti kakek, sampai-sampai mereka tidak mengizinkan ayahnya datang menjenguk."


Sultan berjalan meninggalkan kakeknya sendirian setelah selesai mengucapkan kalimatnya. Pria itu terus mengulum senyum sambil terus mengusap lehernya, tepat di bagian yang mana istrinya meninggalkan tanda cinta untuknya.


Sementara sang kakek masih terduduk di bangkunya, beberapa kali menggelengkan kepalanya, heran melihat tingkah anak zaman sekarang yang cenderung terus terang dalam mengatakan hal yang menyangkut urusan pribadi.


Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu tanpa rasa malu sedikit pun, dasar berandal kecil. batin Burhan.

__ADS_1


__ADS_2