Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Kebakaran Jenggot


__ADS_3

Cinta menatap pantulan dirinya di depan cermin, cukup lama dia berdiri di sana. Matanya yang teduh terus memindai penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Ini kali kedua dia memakai gaun pengantin, wajahnya masih sama terlihat cantik seperti ketika dia menikah untuk pertama kalinya, hanya bedanya pernikahan keduanya ini dengan perut yang sudah membuncit.


Ya, hari ini adalah hari pernikahan kedua bagi Cinta dan William. Tiga hari usai pulang dari rumah sakit, William memaksa agar pernikahan keduanya dengan wanita yang sama itu dipercepat.


"Cinta."


Gadis itu menoleh saat Ratih memanggilnya.


"Iya Oma."


"Kamu percaya kan sama Oma? Ini adalah jalan yang terbaik untuk kalian, semoga. Kamu harus memastikan perasaan William dan menghukum anak itu," ujar Ratih.


"Baik Oma. Cinta percaya sama Oma."


"Pokoknya kita harus mulai menjalankan rencana ini begitu kalian tinggal serumah nanti."


Cinta mengangguk.


Pintu kembali terbuka, kali ini Hanum yang datang.


"Mami, Cinta, ayo kita keluar, pengantin prianya sudah siap," ujar wanita cantik itu.


"Ayo Sayang." Ratih membantu Cinta bangun dari kursinya.


"Jangan gugup ya, jangan biarkan William menikmati indahnya pernikahan ini sedikitpun, kau tahu itu," Hanum ikut angkat bicara.


"Iya Ma."


Ratih dan Hanum mengapit lengan Cinta, membawanya menuju karpet di mana William sudah menunggu di sana. Sultan mengambil alih Cinta dan menuntunnya membawa menuju William.


Sekali lagi William terpukau melihat belahan jiwa yang baru saja dia sadari sangat dicintainya itu. Beberapa kali lelaki itu memejamkan matanya, berusaha membendung lelehan air asin yang sejak tadi memberontak. Haru dan bahagia bercampur menjadi satu. William merasa sangat beruntung ketika pada akhirnya Cinta mau memberinya satu kesempatan lagi dan mau menikah dengannya.


Masing-masing dari mereka kembali mengucap janji suci. Cinta tak sanggup menahan deraian air matanya, dia merasa malu sekaligus menyesal karena telah sempat mempermainkan ikatan suci pernikahan mereka dihadapan Tuhan.


Pemuka agama selesai dengan nasehatnya pada dua mempelai itu agar tak kembali mengingkari janji pernikahan mereka lagi. Setelah memberikan doa, pria itu menyuruh William untuk mencium istrinya.


William mendekat dan mengapit pinggang Cinta. "Terima kasih untuk kesempatan yang kau berikan Cinta, aku berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahanku lagi. Aku mencintaimu," bisik William sebelum lelaki itu menghadiahkan sebuah kecupan di kening Cinta.


Cinta memejamkan matanya, merasakan setiap ketulusan lelaki itu membuat hatinya menghangat. Pun ketika dia merasakan gerimis di wajah William yang berakhir di pipinya. Ya, William menangis.


William menarik kembali bibirnya, lalu dengan kedua ibu jarinya dia mengusap air mata yang membasahi wajah Cinta.


"Tidak akan pernah aku izinkan kau untuk meneteskan air mata lagi, kecuali untuk menangisi kebahagiaan yang akan aku berikan," janji William.


Cinta masih mengunci rapat mulutnya. Dia tak bisa memilih kata yang tepat untuk dia ungkapkan pada lelaki itu.


Upacara pernikahan berjalan lancar dan khidmat. Para tamu undangan mulai sibuk menyalami pengantin baru, ada juga sebagian yang mengantre di bagian catering.

__ADS_1


Hanya ada sedikit tamu yang datang, sesuai dengan permintaan Cinta.


"Kak, maafin aku ya sempat bersikap kekanak-kanakan padamu. Selamat untuk pernikahan kalian, jaga istrimu baik-baik sebelum kau kembali menyesal." Willmar mendekap erat saudara kembarnya.


"Tidak, aku yang seharusnya minta maaf. Aku terlalu bodoh sampai tidak menyadari kalau rasaku pada Raisa murni hanya sebatas kakak yang tidak ingin adiknya terluka. Maafkan aku."


"Selamat Kak Cinta, aku ikut bahagia untukmu. Jaga bayimu dengan baik agar aku bisa ikut menggendongnya ketika dia lahir nanti," ucap Raisa, tulus.


Cinta mengangguk, lalu mengurai pelukannya.


"Aku merasa ikut berdosa atas apa yang terjadi padamu, sungguh ... Aku sangat menyesal. Aku janji akan lebih menjaga diri dan hubunganku dengan Kak Willi."


"Jangan berkata begitu! Semua yang telah terjadi memang sudah suratan takdir yang harus aku jalani. Hidup berbahagialah dengan suamimu." Cinta kembali mendekap tubuh iparnya.


Suasana haru kembali tercipta di sana. Dua pasang suami istri itu terlihat asyik berbincang. Sesekali William melirik istrinya, Cinta terlihat lelah.


"Ya udah Kak, kami turun dulu ya, mau makan, laper," kata Willmar.


"Ya sudah sana." William mengangguk.


"Sekali lagi selamat atas pernikahanmu ya Kak," ujar Raisa.


"Terima kasih Rai."


Willmar menggandengnya istrinya turun dari pelaminan.


William mendekati Cinta yang masih berdiri. "Duduk ya, kamu nggak boleh kecapekan," ujarnya, lembut.


"Mumpung tamunya sudah pada makan, kamu juga harus makan." Menyodorkan piring itu pada Cinta.


"Belum lapar," tolak Cinta, mendorong piring tersebut.


"Mau aku ambilkan buah potong?" William merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sapu tangan untuk menyeka keringat di dahi gadis itu.


Lagi, Cinta menggeleng.


"Kalau perutmu nggak diisi, kasihan anakku, gimana kalau dia kelaparan?" Masih sibuk menyeka dahi dan pelipis istrinya.


"Aku mau gelato saja," cicit Cinta.


"Ya udah, tunggu sebentar ya. Biar aku ambilkan."


William berjalan menuju bagian makanan untuk mengambil pesanan Cinta. Beruntungnya tamu yang tak seberapa itu sudah mulai membubarkan diri, hanya tinggal keluarga saja yang tersisa di sana.


"Cinta."


Mendengar suara yang dikenalnya membuat Cinta yang sedari tadi menunduk langsung mendongak. Air mukanya berubah begitu melihat siapa yang datang.


"A ... Azka," lirih Cinta hampir tak terdengar.

__ADS_1


"Selamat ya. Aku ikut bahagia untukmu, ya ... Walaupun sebenarnya aku kecewa dan sangat sedih." Pemuda itu berdiri di depan Cinta.


"Kau akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku Azka," hibur Cinta.


"Sepertinya itu akan sulit karena satu-satunya wanita yang aku anggap baik lebih memilih menikahi mantan suaminya lagi."


Ucapan Azka mampu mencubit hati Cinta.


"Maaf, aku memang tidak berniat menikah lagi sebenarnya, tapi ..."


"Kau masih sangat mencintai William, aku tahu itu. Kau bahkan sudah mencintainya sejak pertama bertemu dengannya di sekolah dulu," cetus Azka.


"Maaf."


"Tidak seharusnya kau datang jika untuk mengacaukan acaraku!"


Tubuh Cinta menegang saat mendengar suara bariton itu. William berdiri di belakang Azka dengan rahang yang mengeras, menunjukkan betapa lelaki itu marah.


"Selamat atas pernikahanmu Pak," kata Azka, mencoba bersikap biasa.


"Tidak perlu basa-basi begitu. Kau sudah bicara dengan Cinta kan? Silakan nikmati jamuan makanannya dan segera pergi dari sini!" Usir William.


"Aku memang akan pergi, tapi setelah memastikan satu hal." Beralih menatap Cinta. "Aku akan selalu datang untuk merebutnya darimu," imbuh Azka, matanya melirik tajam pada William.


"Kurang ajar!" Menaruh asal gelato di tangannya dan bersiap melayangkan tinjunya pada Azka.


"Mas!" Cegah Cinta.


"Dia harus diberi pelajaran."


"Tahan dirimu, ini di tempat umum." Cinta menegang tangan Azka, bermaksud menyuruh lelaki itu pergi dari sana.


"Jangan sentuh dia!" William yang tak terima istrinya berdekatan dengan pria lain pun langsung menepis tangan Azka.


"Baiklah! Aku tidak mau membuat keributan di sini, tapi ingat! Aku akan selalu datang untuk mengambil Cinta," ucap Azka sebelum pergi dari sana. Meninggalkan William yang tengah tersulut emosi.


"Kau pikir aku akan diam saja? Jangan harap!" Teriak William.


Di sisi lain, keluarga besar sengaja diam saja membiarkan dua lelaki itu bersitegang. Hanum dan Ratih sudah mengutarakan rencananya pada Arya, Sultan dan juga Willmar beserta istrinya.


Hanum tersenyum pada Ratih. "Lihat Mi, rencana pertama berhasil, kita tinggal melanjutkan rencana berikutnya. Enak saja Willi mau dibiarkan, dia harus menerima hukuman dulu sebelum Cinta memaafkannya. Dan aku pastikan kalau dia tidak akan semudah itu mendapatkan kebahagiaan. Tidak semudah itu bambang ganteng, tapi begonya nggak ketulungan," gumam Hanum.


"Baru lihat Azka aja udah kayak kebakaran jenggot dia," ucap Arya.


Semua orang tergelak mentertawakan William.


"Aku setuju dengan usulan Mami. Terus lanjutkan rencana itu karena Willi memang perlu diberi pelajaran. Anak itu bodoh dalam urusan percintaan," imbuh Sultan.


"Lalu apa rencana Oma selanjutnya?" Tanya Willmar.

__ADS_1


"Rahasia perusahaan. Kau akan tahu nanti," sahut Ratih sembari tersenyum penuh arti.


Bersambung ....


__ADS_2