
Sultan memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah makan Padang, sesuai dengan kemauan istrinya yang mengatakan kalau saat ini wanita yang tengah hamil itu ingin memakan masakan Padang.
Hanum tergesa memasuki rumah makan yang berukuran kecil tersebut, dia sedikit menyeret suaminya agar pria itu mempercepat langkahnya.
"Pelan-pelan saja, sayang. Makanannya masih banyak tuh," Sultan menunjuk meja yang di atasnya penuh dengan wadah berisi makanan.
"Tapi aku sudah sangat lapar." Hanum terus menyeret suaminya, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Hampir semua meja penuh dengan pengunjung.
"Di sana, sayang." Sultan membimbing istrinya untuk mengikutinya ke arah sebuah meja yang masih kosong.
"Akhirnya ada bangku kosong juga, coba kalau misalnya tadi penuh semua. Bisa-bisa kita tidak jadi makan," kata Sultan.
"Siapa bilang, kita bisa menunggu sampai kita mendapatkan bangku."
"Begitukah?" Sultan hampir tidak mempercayai perkataan istrinya, banyak sekali rumah makan Padang yang bertebaran di seluruh sudut Ibukota tapi dia tidak tahu apa yang membuat Hanum ngotot hanya ingin makan di rumah makan yang sedang mereka datangi saat ini.
"Iya, Ajeng bilang masakan Padang yang paling enak di sini jadi aku tidak mau pindah tempat, sekalipun penuh aku akan tetap menunggu sampai aku bisa makan."
"Ya sudah, mau pesan apa?"
"Rendang, ayam pop, gulai otak, paru goreng, perkedel sama daun singkong plus sambalnya jangan lupa." Hanum mengeja beberapa nama jenis makanan yang sedang dia inginkan.
"Yakin habis nantinya?"
"Tentu saja, bukankah Mas yang akan menghabiskannya nanti? kan kamu membutuhkan tenaga ekstra untuk bisa menghukumku nanti malam," gombal Hanum membuat Sultan terkekeh.
"Ya baiklah, apa sih yang tidak bisa aku lakukan untukmu, jangankan membeli seluruh makanan yang ada di sini, rumah makan nya pun bisa sekalian aku beli kalau kamu mau." Sultan berusaha menunjukkan pada sang istri kalau dia juga bisa menggombal, bahkan levelnya jauh di atas Hanum.
Tawa keduanya pun pecah memenuhi ruangan hingga membuat beberapa pengunjung sempat melirik mereka, sesaat.
Beberapa menit kemudian, meja di depan Hanum sudah penuh dengan piring yang berisi makanan yang begitu Menggoda. Selera makan Hanum meningkat pesat, dia pun mulai melahap makanannya, memuaskan hasratnya untuk memakan makanan yang berasal dari salah satu kota di Sumatera Barat.
"Pelan-pelan saja makannya," ucap Sultan memperingatkan istrinya, "Kau bisa memesannya lagi jika dirasa masih kurang, jangan makan dengan terburu-buru begitu takutnya perutmu akan sakit nanti."
__ADS_1
"Sudah makan saja, jangan cerewet." Hanum melanjutkan aktivitasnya, gadis itu lalu memasukkan sepotong rendang daging ke dalam mulutnya. "Emh ... kenapa rasanya enak sekali? apa karena sudah lama aku tidak makan masakan Padang ya?" ucap Hanum begitu mendramatisir bak seorang aktris yang sedang syuting iklan makanan.
Apa katanya tadi? dia bilang aku cerewet? yang benar saja, apa karena hormon kehamilan dia berubah menjadi wanita yang sangat garang. Sultan membatin sambil terus tersenyum.
Dan ketika waktu terus berjalan mendekati menit-menit terakhir ketika pasangan suami istri itu hendak menghabiskan makanannya, sesuatu yang tak terduga terjadi. Secara mengejutkan Dion tiba-tiba saja muncul dan duduk tepat di samping Hanum.
"Hai Baby, lama kita tidak bertemu, aku sangat merindukanmu my love," ucap pria itu tanpa rasa malu, tangannya mencomot sepotong perkedel kentang yang tersisa di atas piring.
Hanum yang melihat kedatangan Dion pun ketakutan, trauma akan masa lalunya kembali muncul ketika mencium parfum yang menyeruak dari tubuh pria itu. Reflek Sultan bangkit dari kursinya kemudian menarik tubuh Hanum untuk berpindah posisi sementara dia sendiri duduk saling berhadapan dengan Dion.
"Sebenarnya apa salahku, Tuhan? kenapa hidupku tidak pernah ada tenangnya sama sekali. Baru saja lalat pengganggu betina muncul dengan melakukan penyerangan yang membabi buta, dan sekarang ... lagi-lagi aku harus menghadapi lalat pengganggu pejantan nya. Astaga ... kalau begini terus, aku semakin yakin kalau kalian berdua memang jodoh yang sempurna, kalian pasangan yang klop satu sama lain," gumam Sultan.
Mata Sultan lurus menyoroti wajah pria di hadapannya, terlihat sekali kobaran api yang berkilatan di sana. Sungguh ... rasanya dia sangat muak jika harus selalu berhadapan dengan Dion. Lagipula memangnya lelucon macam apa ini, kenapa Tuhan seolah senang sekali mempertemukan keduanya padahal Sultan sudah berusaha untuk menghindari lelaki itu.
"Kau jangan takut sayang, kamu percaya pada suamimu ini kan?" ucap Sultan lembut sambil terus menggenggam tangan istrinya.
"Takut ... takut apa?" alis Dion saling bertaut, menatap wajah wanita yang membuat jantungnya berdebar hebat jika dia melihatnya.
Sultan sudah pernah beradu jotos dengan Dion, dan itu sama sekali tidak membuat Dion mundur. Pria itu bahkan semakin tertarik untuk mendapatkan Hanum dan mulai melakukan segala cara. Itu sebabnya Sultan merasa tindakan itu tidak cocok, ada cara lain yang lebih efektif untuk melumpuhkan pergerakan pria itu, dengan cara halus tanpa perlu beradu tanding dan membuang-buang tenaganya. Yang Sultan perlukan saat ini hanyalah sedikit memutar otak agar dia bisa terus menyerang Dion dengan setiap perkataannya.
"Ap ... apa katamu? jadi ... jadi Hanum sedang hamil?" tanya Dion terbata.
"Tidak perlu terkejut begitu, wajar kan jika seorang istri yang telah bersuami itu, mengandung? itu juga kan buah kerja kerasku tiap malam selama ini."
Ada sedikit perasaan lega di hati Hanum, dia yang sejak tadi ketakutan kali ini bisa sedikit tersenyum setelah mendengar ucapan suaminya yang terdengar sangat lucu. Bisa-bisanya Sultan mengatakan hal itu di depan musuhnya di saat-saat seperti ini, begitu pikir Hanum. Dia makin mengeratkan jemarinya, seolah sedang menyalurkan energi tambahan pada sang suami untuk bisa menghadapi Dion.
"Tidak masalah, memang apa salahnya? sekarang sudah marak seorang pria mendapatkan istri dengan status janda beranak. Bisa dikatakan kalau fenomena itu sudah menjadi trend di zaman millenial seperti sekarang ini. Jadi kalau kau berpikir aku akan mundur setelah mendengar ucapanmu, kau salah besar. Kau lupa dengan slogan 'Janda selalu menjadi yang terdepan'?" Dion tersenyum tipis.
"Kau bisa berbicara semaumu, tapi aku rasa ... kau perlu mencari janda lain karena istriku sama sekali tidak tertarik untuk menjadi jandaku."
"Cih, aku tidak akan pernah mundur sedikitpun. Aku akan selalu berusaha untuk mendapatkan Hanum, sampai kapanpun karena aku yakin kalau Hanum itu jodohku."
"Segeralah memeriksakan diri ke psikiater! karena kalau kamu terus menundanya, aku takut sakitmu akan bertambah parah," ucap Sultan dengan santainya.
__ADS_1
"Seharusnya kau sendiri yang pergi, ke rumah sakit jiwa sekalian," balas Dion.
"Siapkan mentalmu, aku takut kamu akan terguncang ketika menyadari bahwa kenyataannya kamu telah kalah sebelum berperang." Sultan bangkit dari tempat duduknya lalu meraih lengan istrinya dan mengapitnya, mengajak gadis itu untuk segera pergi. "Satu hal lagi, sebaiknya kau segera bangun dari tidurmu supaya mimpimu itu tidak terlampau tinggi dan terus berlanjut hingga membutakan mata hatimu," pesan Sultan.
Mereka baru berjalan beberapa langkah tapi Sultan terpaksa menghentikan langkahnya ketika merasakan pergerakan dari istrinya. Merasa ada yang tidak beres membuat Sultan akhirnya menoleh, dia membalikkan badannya, memandangi Hanum yang terus terpaku di tempatnya karena Dion terus mencekal tangan nya.
"Lepaskan aku!" pekik Hanum, dia terus meronta agar tangannya terlepas dari jeratan Dion.
"Aku sangat merindukanmu, sayang. Di saat kita bertemu setelah sekian lama, kenapa aku harus melepaskan dirimu begitu saja tanpa melakukan sesuatu untuk menyalurkan rinduku?"
Sultan yang mulai tersulut emosi akhirnya berlari mendekati Dion, dia mencekal krah kemeja Dion.
"Jangan pernah berani menyentuh istriku!" teriaknya di depan Dion, dan ketika tangannya terangkat ke udara hendak melayangkan tinjunya pada pria itu, tiba-tiba saja ...
"Hoek ... hoek ..." Hanum membungkam mulutnya.
Drama ibu hamil yang mengalami morning sickness itu terjadi lagi, membuat Sultan panik hingga seketika dia melepaskan tangannya dari baju Dion dan segera mendekati istrinya.
"Sayang ..." ucapnya pelan.
"Hoek ... mas ak ... hoek ..." Hanum memegangi lengan suaminya. "Dimana letak toiletnya?"
"Di sana." Dion menunjukkan sebuah bilik kecil yang berada tepat di bagian sudut ruangan tersebut. "Biar aku temani," ucapnya lagi.
Dion melewati pasangan suami istri tersebut, hendak menunjukkan tempat yang di maksud, sampai pria itu berada tepat di depan hanum, secara mengejutkan Hanum memuntahkan isi perutnya dan mengenai tubuh Dion. Dion yang tidak sempat menghindar pun terkejut karena kejadiannya begitu cepat, dia terus mengibaskan kemejanya yang sebagian telah basah, menatap Hanum dengan tatapan yang sulit di artikan.
Sama terkejutnya seperti Dion, Hanum sama sekali tak menyangka hal itu akan terjadi, sementara Sultan terus tersenyum, mentertawakan kejadian yang menurutnya sangat sayang untuk dilewatkan.
Anakku pun tidak rela jika Ibunya di ganggu, dia sampai membalas perbuatan pria itu dengan membuat Hanum memuntahinya. Kacang kecilku membalas serangan Dion dengan cara yang elegan. Ayah bangga padamu, Nak. Sultan terus menutupi mulutnya karena tawanya yang makin kencang hingga membuat bahunya berguncang.
.
Segini dulu ya sayang-sayangku π₯°, gak tau ini otak rasanya gak bisa di ajak kerjasama, agak berkurang daya imajinasiku βΊοΈ rada jendel jadi mohon maaf aja ya kalo kurang ngena di hati πππ Semoga suka πππ
__ADS_1