Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Resmi Berpisah


__ADS_3

"Hoek ... Hoek ... Hoek."


Matahari baru saja menyapa pagi itu. Seperti itulah Cinta mengawali harinya. Morning sickness yang mulai melanda membuatnya mengalami sedikit kesulitan.


Setelah lebih dari sepuluh menit gadis itu berdiri di depan wastafel, Cinta pun membasuh wajah serta mulutnya dengan air, lalu menarik beberapa lembar tisu untuk menyeka wajahnya.


Dalam keadaan seperti ini, ingin sekali rasanya dia menangis. Hamil muda tanpa didampingi suami, tanpa ibu, dia benar-benar sebatang kara.


"Jangan nakal sama Bunda dong Nak, kita harus saling menguatkan satu sama lain. Perjalanan kita masih panjang Sayang," monolog Cinta. Diusapnya lembut perutnya yang masih datar itu.


Berjalan dengan gontai, Cinta menuju dapur untuk membuat teh. Air matanya mulai merembes, tak sanggup ia bendung lagi.


"Ibu ... Kenapa ibu harus pergi secepat ini? Pada siapa aku harus membagi rasa ini," ratap Cinta.


Setiap teguk teh yang memasuki tenggorokannya terasa mengganjal, seiring dengan derasnya hujan di wajahnya.


Melirik jam yang menggantung di dapur, Cinta memutuskan untuk mengganti pakaiannya. Hari ini adalah hari yang sangat dia tunggu-tunggu.


Ya, tidak lama lagi. Dalam hitungan jam, statusnya akan berubah. Hari ini merupakan sidang terakhir sekaligus sidang putusan hakim.


Cinta bergegas memasuki bangunan itu begitu taksi online yang dipesannya tiba di depan gedung pengadilan. Langkah kakinya mantap menapaki jalan yang akan membawanya menuju masa depan.


Sesampainya dalam gedung tersebut, ternyata William sudah lebih dulu sampai. Pria itu tak henti memindai wajah wanita yang sempat mengisi hidupnya itu.


Setiap tatapan itu, seiring dengan luka yang kian mengiris hati William. Wajah Cinta begitu pucat dan sendu, akan tetapi tidak mengurangi kadar kecantikannya sedikitpun.


'Kenapa di saat seperti ini aku baru menyadari kalau kau lebih cantik dari Raisa. Semua yang ada dalam dirimu, juga hatimu membuatku selalu teringat padamu. Aku bahkan masih dapat menghirup aroma tubuhmu dengan jelas meskipun kau tak lagi ada di sisiku. Aku tak bisa makan dengan baik, jadwal tidurku berantakan, tidak ada satu menit pun yang aku habiskan tanpa memikirkanmu. Katakan ada apa denganku? Kenapa aku begitu terluka mendapati keterdiamanmu.' buru-buru William menyeka sudut matanya.


Lelaki itu sengaja datang sendiri, tanpa pengacara, juga tanpa keluarganya. Dirinya saja sudah sangat hancur sedemikian rupa hingga ke dasar, bagaimana dengan Hanum jika melihat kejadian ini secara langsung.


Cinta terus menatap ke depan, tak sekalipun gadis itu berusaha melirik lelaki yang saat ini duduk di sampingnya. Hingga hakim mengetuk palu tiga kali usai mengatakan bahwa telah terputus sudah hubungan antara William Raka Candra Pradipta dengan Clarissa Cinta Kirani.


Dengan begitu Cinta telah resmi menjanda. Ada lara juga kebahagiaan yang sulit untuk Cinta ungkapkan. Betapa hatinya pun hancur detik itu juga, merasa harga dirinya sebagai wanita tak berarti apa-apa.


Cinta bangkit dari kursinya, menyalami hakim dan petugas yang telah bekerja dalam persidangan hari ini. Terakhir, gadis itu mendekati pria yang masih menunduk di kursinya. Cinta tahu William menangis, tapi Cinta tak tahu apa yang telah membuat lelaki itu menitikkan air mata.


"Selamat ya Pak, kita sudah resmi berpisah. Saya harap Bapak bisa menemukan kebahagiaan, kebahagiaan yang tidak pernah dapat saya berikan. Sekali lagi selamat menjalani hari baru." Cinta menyodorkan tangannya.

__ADS_1


William mendongak. Ini kali pertama Cinta menatapnya usai tragedi itu terjadi. Ada goresan luka yang makin membuat batinnya berdarah-darah. Gadis yang telah dia sakiti sedemikian rupa, bahkan dengan lapang dada menegakkan wajah di hadapannya.


Dengan tangan bergetar, William menjabat tangan mantan istrinya.


"Maaf ... Maafkan aku," lirih William hampir tak terdengar.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Bapak nggak salah, saya yang salah karena terlanjur menambatkan hati saya pada Bapak. Apapun yang terjadi, tetaplah berjalan maju. Hidup masih panjang, Anda masih muda dan Anda bisa dengan mudah menemukan wanita yang sesuai dan yang Anda cintai. Jaga kesehatan, Bapak punya asam lambung yang bisa sewaktu-waktu kumat kalau tidak menjaga pola makan dengan baik. Saya permisi."


Cinta membalikkan tubuhnya. Satu kedipan saja, maka genangan di sudut matanya akan berjatuhan, dan dia tidak mau William melihatnya.


William berusaha mengejar Cinta yang mulai berjalan menjauh. Terlampau sibuk dengan lamunannya membuat lelaki itu tak sadar kalau ternyata Cinta telah pergi meninggalkannya.


Dengan cepat William menyalakan mesin mobilnya untuk mengejar Cinta, beruntung gadis itu masih berdiri di halte yang tak jauh dari sana.


"Cinta," panggilnya dengan suara tertahan.


"Ya Pak, ada apa?"


'Bagaimana bisa kau berpura-pura biasa saja sementara aku tahu luka di hatimu telah menghancurkanmu. Kau pandai menyembunyikan kesedihanmu padahal kau rapuh dan butuh sandaran. Lelaki macam apa aku yang tega menyia-nyiakan wanita sebaik dirimu. Aku telah dibutakan dengan perasaan yang entah aku sendiri tak bisa menyebutnya apa. Salahkah aku jika cinta itu hadir terlambat, di saat aku dan kamu tidak bisa saling mendekap satu sama lain?'


"Eh, iya ..." William terkesiap.


"Bus saya sudah datang, saya duluan," pamit Cinta.


Baru saja Cinta bangkit dari kursinya, dengan cepat William menarik tangan gadis itu dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Pak!" Protes Cinta.


"Izinkan saya mengantarkanmu sampai rumah."


"Tidak perlu Pak, saya bisa pulang sendiri," tolak Cinta. Tangannya bersiap membuka pintu tapi dengan cepat William langsung menguncinya automatis.


"Pak!"


"Saya hanya ingin mengantarkanmu, itu saja. Kamu tenang saja karena saya nggak akan macam-macam sama kamu."


Sepanjang perjalanan tak ada satupun dari orang itu yang membuka suara. Suasana mencekam terasa begitu mencekik William. Pendingin udara berfungsi dengan baik akan tetapi dia kesulitan bernapas.

__ADS_1


Pandangan Cinta terus tertuju ke depan. Dapat ia lihat dengan ekor matanya, sesekali William meliriknya.


'Itu Ayahmu Nak, kau bisa lihat sepuasmu sebelum kita pergi meninggalkan kota ini. Bunda nggak ingin ada satupun kenangan menyakitkan bersama ayahmu yang akan menghantui Bunda. Mari kita sambut hidup baru. Percayalah, Bunda akan selalu menyayangimu dan berusaha untuk menjadi yang terbaik untukmu.' Cinta mengelus perutnya. Sedikit memalingkan wajahnya menatap ke arah jendela lalu dengan cepat menyeka benda bening yang telah terkumpul di sudut mata dan bersiap terjun bebas.


'Pengecut! Benar kata papa kalau aku sangat pengecut. Ingin rasanya aku menyeka air matamu, membalut luka yang terlanjur aku goreskan sangat dalam di hatimu. Apakah kau mau memberikan kesempatan padaku setelah semua yang terjadi?'


"Terima kasih atas tumpangannya Pak, maaf nggak bisa ajak mampir, takut dijadikan gosip tetangga. Sekali lagi terima kasih."


"Tunggu Cinta!" Cegah William. "Kau benar-benar akan mengundurkan diri dari perusahaan?"


"Iya Pak, saya ingin rehat sejenak. Mungkin lain waktu saya akan kembali bekerja."


'Tapi tidak di perusahaanmu, ayahmu, atau yang berhubungan dengan keluargamu,' imbuh Cinta dalam hati.


"Baiklah," balas William, singkat.


Cinta turun dari mobil lelaki yang kini resmi menyandang gelar sebagai mantan suaminya itu. Tanpa menoleh, Cinta langsung masuk ke dalam rumahnya.


Sepersekian detik, tangisnya kembali pecah. Entah sampai kapan Cinta akan terus seperti itu, tapi rasanya gadis itu tak bisa menahan tangis jika mengingat tentang William.


Malam harinya.


Berjalan kaki menyusuri gang setapak Cinta hendak menuju minimarket. Dia baru teringat kalau dia belum membeli susu ibu hamil.


Sesekali gadis itu merapatkan cardigan rajutnya demi menghalau udara dingin yang membelai kulitnya. Sudah memakai pakaian tebal pun Cinta masih merasa kedinginan, dan biasanya jika sudah begitu, Cinta akan kembali di dera mual dan muntah.


Begitu sampai di minimarket itu, langkah kaki Cinta langsung tertuju pada rak berisi susu khusus ibu hamil. Ada berbagai macam susu dengan verian berbeda, membuat Cinta bingung menjatuhkan pilihannya.


Setelah cukup lama memilih, akhirnya Cinta memutuskan untuk memasukkan dua kotak susu dengan rasa yang berbeda, rasa Cokelat dan stroberi. Pikirnya bisa untuk gonta ganti setiap ia ingin meminumnya.


"Cinta, kamu beli susu hamil? Kamu hamil?"


Deg.


Tubuh Cinta membeku saat mendengar suara yang sangat dikenalinya. Menelan ludahnya kelat, Cinta perlahan membalikkan tubuhnya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2