Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Lebih Baik


__ADS_3

Raisa memejamkan mata menikmati sensasi hangat nan menenangkan berendam dalam bathtub dengan busa sabun yang menutupi tubuhnya. Senyumnya terus terkembang membayangkan kejutan yang akan dia berikan berhasil nantinya.


Setelah dirasa cukup, wanita itu pun membilas tubuhnya, memastikan hanya wewangian yang menempel di sana. Berjalan mengendap menuju lemari pakaian, Raisa berusaha memilih barisan kain transparan yang telah lama ia museumkan. Semenjak kehilangan bayi yang belum sempat ia lahirkan, Raisa memang menjadi abai dengan penampilan dan perawatan tubuhnya, tapi kali ini dia akan kembali merawat diri karena merasa itu juga menjadi salah satu aset agar sang suami tak mudah berpaling ke lain hati. Ia tak boleh kalah dari Cinta, pikir Raisa.


"Hm, kira-kira lingerie mana yang paling disukai oleh para pria kebanyakan," monolognya. Meraih sehelai kain berwarna hitam dengan motif jaring di bagian dada dan bawah perut, tapi kemudian mengembalikannya lagi. Mencari lagi dengan warna dan model lain, hingga akhirnya pilihan Raisa terjatuh pada lingerie berwarna dark purple.


Raisa kembali tersenyum saat melihat pantulan tubuhnya di depan cermin. "Memang benar kalau kain ini diciptakan untuk menggoda para pria. Baiklah, aku harus segera menyelesaikan dandananku."


Raisa berjalan menuju meja riasnya, lalu mulai sibuk mengaplikasikan serangkaian make up-nya. Sebagai penutup, ia menyemprotkan parfum vanilla di beberapa titik tubuhnya.


"Selesai. Aku hanya perlu menunggu saat yang tepat." wanita itu meraih kimono tidur berbahan satin dan memakainya untuk menutupi lingerie yang dia pakai.


.


.


"Di mana Raisa, kenapa dia tidak keluar kamar? apa dia sakit?" sesekali Hanum melihat ke arah pintu kamar menantunya.


"Rai bilang mau istirahat Ma," jawab Cinta.


"Dia sakit?" tanya Hanum lagi.


"Enggak. Cuma mau me time katanya, Ma. Dia juga udah bilang sama aku katanya Jayden biar tidur sama aku nanti malam." Cinta tersenyum penuh arti.


"Duh, anak itu." Hanum terkekeh. "Sebenarnya Mama kasihan sama dia Cin. Andai saja dia juga diberi anugerah seperti kamu."


"Aku juga sedih untuk itu Ma."


"Dia sangat mencintai Jayden, Mama tahu dari caranya mengurus bayimu."


"Aku pun bisa merasakan ketulusannya Ma."


Dua wanita itu terdiam. Ada banyak hal yang sama-sama mereka tahu tanpa harus banyak bicara. Cinta hanya berharap bagaimanapun keadaannya, Raisa akan dapat menemukan kebahagiaan meski tanpa anak yang dia lahirkan sendiri.


Rintik air yang berjatuhan dari langit mulai menyerbu bumi, mengantar kepulangan anak-anak manusia usai menjalani rutinitasnya seharian penuh.


William duduk sambil memangku laptop, sementara saudara kembarnya fokus dengan benda bundar di tangannya.


"Masih banyak Kak kerjaanmu?"


"Dikit lagi," jawab si sulung. Meski mereka lahir hanya selisih lima belas menit, akan tetapi kepribadian keduanya sangat jauh berbeda. William cenderung pendiam, dewasa dan tak mudah mengekspresikan diri sementara adik kembarnya jauh lebih ceria, mudah bergaul dan lebih ekspresif.


"Kenapa nggak diselesaikan di kantor tadi?"


"Mendadak, dan aku harus segera menyelesaikannya sebelum kita tiba di rumah. Malam ini kan jatahku sama Jayden, mau aku puas-puasin. Kamu enak bisa iya-iya sama Rai. Aku musti puasa, nunggu lama." ocehan William tentu saja mengundang tawa Willmar.


"Ngapain ketawa," sinis William.


"Syukurin, emang enak disuruh puasa, mana lama lagi, nggak takut karatan itu?"


"Dasar!"


Keheningan kembali melanda setelah keduanya saling berbincang cukup lama. Masih membutuhkan waktu dua puluh menit lagi untuk mereka sampai di rumah.


"Kak," panggil Willmar. Sejujurnya dia ragu untuk mengatakannya pada saudara kembarnya, tapi dia tak mau ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Apa? tinggal ngomong aja, aku dengerin kok." jemari pria itu masih menari lincah di atas keyboard.


"Sebelumnya aku minta maaf, aku bukannya lancang sama kamu Kak."


"Mau ngomongin soal apa sih? kayaknya serius banget." William pun menutup komputer lipatnya usai menyimpan file pekerjaannya.


"Janji jangan marah ya?"


"Tergantung, kalau apa yang mau kamu omongin sama aku itu hal yang nggak benar, ya udah pasti aku marah lah."


Willmar meneguk ludahnya satir. Ia sungguh tak bisa membayangkan bagaimana reaksi William saat dia mengatakan isi hatinya pada pria itu.


"Soal apa sih? Kamu nggak selingkuh kan," tuduh William.


"Enak aja kalau ngomong! Aku setia Kak."


"Terus?"

__ADS_1


"Sebenarnya aku ..."


"Timbang ngomong aja apa susahnya Dek," sambar William.


"Aku takut kamu marah, serius."


"Ya udah kalau gitu nggak usah ngomong," kata William.


"Tapi aku harus ngomong, demi Rai, Kak."


William menatap adiknya sekilas, mendengar ucapan Willmar membuat pikirannya berkelana.


"Aku siap mendengarkan."


Willmar melirik saudara kembarnya, berusaha menguatkan hati untuk mengatakan isi hatinya tanpa peduli dengan reaksi William.


"Harusnya aku ngomongin hal serius ini di depan Kak Cinta juga Kak."


"Akan aku sampaikan padanya nanti." William yang pada dasarnya orang penyabar, tapi melihat adiknya berbelit-belit membuatnya dilanda penasaran juga.


"Hm, itu ... nggak jadi deh, lain kali aja aku bilang langsung di depan kamu sama Kak Cinta."


"Dasar! bikin orang penasaran aja," gerutu William.


"Nggak apa-apa Kak."


Willmar mengelus dadanya, bagian yang sejak tadi terus bergemuruh itu kini telah jauh lebih tenang.


Mobil yang ditumpangi keduanya pun tiba di garasi. Mereka berebut masuk ke rumah lebih dulu, macam anak kecil yang sedang berlomba.


"Astaga, coba saja ada opa, mana berani kalian lari-lari seperti ini di dalam rumah," omel Hanum melihat kelakuan putra kembarnya.


"Ada apa? kenapa lari-lari? Kalian nggak sedang lomba kan," sindir Sultan, koran di tangannya ia letakkan di meja.


"Siapa bilang? kami lomba lari siapa yang lebih dulu sampai di ruang tengah." Willmar menyahut.


"Oh ya? siapa pemenangnya?" ayah yang masih tampan di setengah abad usianya itu sudah lama tak melihat tingkah kekanak-kanakan si kembar.


"Kak Willi yang menang, kakiku slip tadi."


"Nggak ada." si kembar menjawab berbarengan.


"Ya udah nih, Papa kasih hadiah."


Hanum terkekeh melihat tingkah konyol ketiga pria di hadapannya. Sultan mengeluarkan dompet dari dalam sakunya dan mengeluarkan dua lembar uang kertas.


"Ini buat Kakak yang menang." memberikan lembaran merah itu pada William.


"Ini buat Dek Willmar." Sultan menekankan nada suaranya menggoda anak bungsunya, kali ini lembaran uang kertas biru yang dia berikan pada di bungsu.


"Juara satu seratus ribu, juara dua lima puluh ribu, adil kan?" Sultan tersenyum jenaka.


Dua pria kembar itu pun saling bertatapan. Mereka melihat uang dalam tangan mereka, bergantian menatap kedua orang tuanya, sementara Hanum terkekeh-kekeh.


"Apaan Papa, ini mah buat beli bakso aku sama Rai juga kurang. Nggak bisa beli minum ini Pa," protes Willmar.


"Salah siapa kamu kalah."


"Salahin Kak Willi tuh, nggak pernah mau ngalah sama adiknya." nada bicara Willmar dibuat semanja mungkin.


"Mama ... papa sama kakak sekongkol tuh." mengadu pada ibunya.


"Lah, kok nyalahin Papa?"


"Awas aja, aku mau laporin sama opa, nanti juga aku dikasih lebih banyak lagi sama opa." Willmar tersenyum penuh kemenangan.


Sudah sangat lama keceriaan lenyap dari keluarga besar itu, semenjak cobaan bertubi-tubi datang silih berganti. Bagaimana mereka tertawa begitu lepas tanpa beban hanya karena meributkan uang yang tak seberapa, padahal tabungan di rekening masing-masing dari mereka cukup fantastis. Sesederhana itu kebahagiaan mereka.


Arya memang sangat memanjakan kedua cucunya, tapi dia memiliki belas kasih lebih pada Willmar yang dinilai lebih fleksibel dan tidak sekaku kakak kembarnya tentu saja.


"Laporin aja sana! kamu lapor sama opa, aku lapor sama oma. Asal kamu tahu aja, uang opa itu dipegang semua sama oma," William menyahut.


"Ah, Mama!" jerit Willmar kesal.

__ADS_1


"Ya ampun, udah. Nggak usah berantem. Nanti Mama tambahin deh uangnya. Sekarang sebaiknya kalian masuk kamar, bersih-bersih, makan malam terus istirahat," kata Hanum.


"Kita nggak makan malam bersama?" si bungsu bertanya.


"Mama sama papa udah makan malam barusan. Kalau Cinta katanya nunggu kamu Kak, kalau Raisa minta makan malamnya diantar ke balkon kamarnya," jelas Hanum.


"Rai sakit Ma?"


"Iya," jawab Hanum singkat.


"Hah? sakit apa? kenapa Mama nggak bilang dari tadi?" Willmar mulai diliputi kepanikan.


"Kamu temui aja deh, Mama tanya yang sakit apanya, tapi nggak dijawab sama dia."


Tanpa meminta penjelasan lagi, Willmar langsung menghambur ke kamarnya.


"Emang Rai sakit Ma?" tanya Sultan.


Bukannya menjawab, Hanum malah tersenyum.


.


.


"Sayang, kamu sakit apa? kenapa nggak bilang sama aku?" sembur Willmar begitu memasuki kamarnya.


Raisa yang tengah berbaring pun lekas mengubah posisinya. "Kamu udah pulang?" tanyanya lembut.


"Kamu sakit apa Sayang? udah minum obat belum? kenapa nggak bilang sama aku? atau perlu kita ke dokter?" berondong Willmar lagi. Pria itu menaruh telapak tangannya di kening Raisa.


"Tapi nggak panas," gumam Willmar.


"Aku nggak sakit Mas," lirih Raisa.


Willmar terperangah, tak percaya dengan panggilan Raisa padanya tadi.


"Kamu bilang apa?"


"Aku nggak sakit, aku baik-baik aja," ulang Raisa.


"Bukan itu, kamu tadi panggil aku apa?"


"Mas."


"Ke ... kenapa kamu panggil aku begitu, nggak biasanya."


"Karena menurutku itu panggilan yang paling pas buat kamu Mas. Ada selisih beberapa tahun di antara kita, dan melihat Kak Cinta memanggil suaminya dengan sebutan 'mas' padahal mereka cuma selisih satu tahun, jadi bikin aku mikir. Kayaknya kurang sopan aja kalau aku manggil kamu dengan nama langsung. Kenapa? kamu keberatan?"


"Ya enggaklah Sayang. Aku justru senang, kedengarannya romantis," balas Willmar. Masih dengan berpakaian lengkap dia memeluk erat tubuh istrinya.


"Tapi kata mama tadi kamu lagi sakit," desak Willmar.


"Ya, emang."


"Kenapa nggak ke dokter? mana yang sakit?"


"Mana bisa disembuhkan sama dokter kalau yang sakit punyaku, dia kangen sama ini."


Willmar hampir mendesah ketika dengan sensual Raisa menyentuh miliknya yang masih terbungkus rapi dengan celana kain di balik boxer yang memenjarakan senjatanya.


"Ah, Sayang." Willmar mendesis.


"Aku udah nggak tahan Mas," bisik Raisa.


"Tunggu aku mandi," sahur Willmar.


"Sekalian minta tolong kunci pintunya Mas," kata Raisa begitu membiarkan suaminya lepas dari pelukannya.


"Siap." usai memutar anak kunci, Willmar berjalan ke kamar mandi. "Kamu yang udah mulai Rai, jadi jangan minta aku berhenti nanti," ujarnya memperingatkan.


"Siapa takut," jawab Raisa sembari merebahkan tubuhnya.


Willmar memasuki kamar mandi dengan perasaan yang sulit ia gambarkan. Raisanya yang dulu telah kembali. Raisa yang ceria, Raisa yang memberinya banyak warna kehidupan, dan Willmar beruntung Cinta membawa dampak positif atas perubahan Raisa menjadi lebih baik.

__ADS_1


Pria itu mempercepat ritual mandinya, tak sabar dengan kejutan yang akan diberikan Raisa untuknya.


Bersambung ....


__ADS_2