
Tangisan Jayden di malam hari laksana kidung yang terdengar indah di telinga William. Tak peduli akan rasa lelah yang menderanya, pria itu akan langsung membuka mata saat sayup-sayup mendengar buah hatinya itu merengek. Dengan gerakan yang dia buat sepelan mungkin, William mengecek popok bayinya, mana tahu telah basah dan membuat bayi gembul itu tak nyaman.
Benar saja, ternyata popoknya telah penuh. William mengambil beberapa keperluan untuk mengganti popok Jayden.
"Sayang, berhenti menangis ya. Bundamu pasti sangat lelah seharian ini, Ayah ada untukmu, jadi berhentilah menangis, oke?"
Tangan William cekatan mengusap bokong Jayden dengan tisu basah. Setelah memastikan semua kering, pria itu pun membuka selembar popok. Tak heran jika pria itu luwes dalam melakukan semuanya, hal itu William pelajari dari Cinta dan mamanya. Seringkali melihatnya secara langsung, William tak segan minta diajari. Ketika dirasa pria itu mampu, barulah Hanum memberikan izin pada ayah baru itu untuk mengganti popok Jayden sendiri.
Namun, ketika William sedang membenahi popoknya, pria itu terkejut bukan main ketika air tiba-tiba mengenai sebagian wajahnya.
"Ya Tuhan," pekik William, hampir saja tubuhnya terjatuh di lantai saking kagetnya, tapi kemudian dia dengan cepat menguasai diri dan malah tertawa terpingkal. Bagaimana tidak? ternyata itu semua ulah buah hatinya. Jayden pipis lagi sebelum William memasangkan perekat popoknya.
"Jagoan Ayah udah mulai nakal, masa muka Ayah yang ganteng gini mau dipipisi? Kamu cemburu sama Ayah ya? nggak usah takut Sayang, kamu tetap lebih tampan dari Ayah." William mulai membereskan kekacauan yang baru saja terjadi. Ia melirik ke arah istrinya yang masih meringkuk, beruntung keributan tadi tak sampai membuat Cinta terbangun.
William terpaksa mengganti popok dengan yang baru karena popok tadi telah basah. "Kamu itu tampan. Sangat tampan. Perpaduan antara wajah Ayah dan bundamu."
Melihat binar mata Jayden membuat William yakin jika makhluk menggemaskan itu akan membuatnya begadang kembali. William pun mengajaknya berbicara layaknya seorang teman. Mengambil salah satu mainan yang dibelikan Raisa dan menunjukkannya pada bayinya.
"Sayang, udah jam dua Nak. Kamu nggak capek apa? Ayo tidur." William mengusap pelan punggung Jayden.
Pria itu mulai dilanda kantuk lagi, tapi apa boleh buat, ia tak mungkin meninggalkan Jayden ataupun membangunkan istrinya. William tak tega karena tahu betul Cinta pasti kelelahan seharian mengurus bayi mereka.
Karena tak kunjung tidur, William pun menggendong Jayden dan menyanyikan lagu pengantar tidur. Cukup lama ia terus menimang Jayden, tapi bukannya tidur Jayden malah menangis.
"Sayangnya Ayah, nggak boleh nangis Sayang kan udah Ayah gendong."
Jayden terus menangis sambil menggosok-gosokkan tangan di wajahnya, membuat William menebak jika Jayden kehausan.
"Sayang, Cinta ..."
Panggilan pertama tak berhasil, Cinta masih larut dalam mimpi hingga William memutuskan untuk mencium pipi wanita itu. "Sayang, bangun! Jayden seperti haus."
Cinta menggeliatkan tubuhnya, ia kaget melihat pemandangan di depannya. "Mas ..."
"Sepertinya Jayden haus, kamu susui dia dulu ya," ulang William.
Cinta mengangguk. "Baringkan dia di sini Mas." menepuk bantal kecil milik Jayden sambil mengeluarkan tangki asi dari dalam wadahnya.
Tangis bayi mungil itu berangsur reda usai Jayden mendapatkan apa yang dia mau. Jayden terus menghisap kuat air sumber kehidupannya sambil memandangi Cinta.
"Jayden haus? kasihan," kata Cinta, beralih menatap suaminya. "Kebiasaan kamu Mas, kenapa nggak membangunkan aku?"
"Karena kamu pasti juga capek seharian ngurus dia. Lagi pula selama aku masih bisa menenangkan dia, aku nggak mau ganggu waktu istirahat kamu."
Cinta mencebik mendengarnya.
"Aku pernah mergokin salah satu stafku di kantor. Dia merupakan orang yang paling rajin selama ini, sampai suatu ketika aku memergoki dia terus menguap, bahkan sampai ketiduran di meja kerjanya, tapi anehnya semua kerjaan dia itu selalu rapi. Bagus lah kinerjanya, dan karena kejadiannya berulang kali terjadi, makanya aku penasaran. Eh, setelah diselidiki ternyata tiap malam dia itu begadang demi jagain bayinya. Dia sama sepertiku Cin, baru pertama punya anak. Kalau dia aja bisa memperlakukan istri dengan baik, kenapa aku enggak? Apalagi kalau ingat gimana perjuangan kamu di ruang bersalin."
William tak mau melanjutkan ceritanya lagi, membayangkannya saja sudah membuat pria itu merinding.
"Tapi kan kamu juga capek Mas, seharian kerja di kantor, malamnya jagain Jayden."
"Capek yang aku rasakan, belum sebanding dengan lelah yang kamu dapatkan dengan mengurus Jayden," balas William.
__ADS_1
Cinta sampai kehabisan stok kata-kata untuk menjawab ucapan suaminya.
Malam berlalu dengan cepat. Pagi pun datang menjemput sinar mentari mengantar anak manusia mengawali hari baru.
Cinta kembali ke kamarnya dengan membawa secangkir kopi di tangannya. Setelah menaruh cangkirnya di meja, hal yang dia lakukan selanjutnya adalah menyiapkan baju ganti suaminya yang kini tengah asyik mandi. Semua kebutuhan William telah Cinta taruh di sofa, ia kemudian kembali naik ke kasur, mendampingi Jayden yang masih terlelap.
Gemericik air di dalam sana tak terdengar lagi, setelahnya pintu kamar mandi terbuka lebar, William keluar dengan hanya selembar handuk yang melilit di pinggang.
"Kopi kamu aku taruh di meja Mas," beritahu Cinta.
"Ya Sayang, terima kasih." William menghempaskan tubuhnya di sofa, meraih cangkir itu dan mulai menyesap isinya.
"Lho, Sayang. Kamu nggak salah ini nyiapin aku baju ini?" William melongo melihat setelan kerja yang disiapkan Cinta untuknya.
"Emangnya ada yang salah?" Cinta balik bertanya.
"Kamu yang benar aja dong Yang, masa hari libur gini aku disuruh kerja."
"Hah, emang sekarang hari Sabtu?" kedua alis Cinta saling bertautan, dia bahkan tak mengingat hari.
"Iya istriku yang cantik," sahut William.
"Ya ampun Mas, maaf. Aku kira masih hari kerja. Ya udah, tunggu sebentar." Cinta bersiap turun dari kasurnya.
"Udah nggak apa-apa, nanti aku ambil baju ganti sendiri aja."
"Aku ambilkan aja Mas."
"Nggak usah Sayang." William lebih dulu bangkit ke arah lemari bajunya. "Apa rencana kita hari ini Sayang? mumpung aku libur," imbuh pria itu.
"Masa nggak ada sih?"
"Ya lagian kan Jayden juga masih bayi, emang mau diajak jalan-jalan ke mana?"
"Aku kira udah boleh diajak jalan ke mall," celetuk William.
"Ya ampun Mas, kamu yang benar aja deh. Masa bayi baru mau tiga Minggu udah diajak jalan-jalan ke mall. Ada-ada aja kamu."
"Emang nggak boleh ya?"
"Ya enggaklah Mas, selain Mama Hanum yang marah, opa sama yang lain pasti juga nggak akan kasih izin biarpun dia anak kita."
"Aku pikir boleh."
"Boleh, tapi nanti kalau misalnya dia udah berusia tiga bulan ke atas."
"Hm, lama juga." William menyahut.
Cinta menggendong Jayden dan membawanya menuju meja makan. Jika bayi mungil itu tidak tidur memang Cinta akan bergantian menjaganya, dan Cinta sudah pasti akan meminta William sarapan lebih dulu.
"Berikan Jayden sama aku Kak, kamu sarapan aja sekalian," kata Raisa.
"Nanti aja Dek, kamu selesaikan aja makanmu." Cinta menyahut.
__ADS_1
"Udah selesai kok."
"Kalian lanjut sarapan aja, Jayden biar sama Kakek." Sultan bangkit dari kursinya.
"Pa ..." Cinta ragu memberikan bayinya pada ayah mertua.
"Papa udah selesai sarapannya. Berikan saja Jayden pada Papa, hari ini Papa khusus mau main sama si ganteng." Sultan mengambil alih bayi itu dan menggendongnya hati-hati.
"Ayo Ma, kita ke taman. Hari kita Jayden milik kita, si kembar biar pacaran sama istrinya," ajak Sultan.
Hanum terkekeh, ia menaruh kembali gelasnya di meja dan mengikuti langkah suaminya yang sudah lebih dulu memimpin jalan menuju taman.
Di meja makan.
"Mau nambah lagi Mas," tawar Raisa seraya mengangkat centong nasi dan mengisinya.
"Dikit aja Yang."
William dan istrinya saling berpandangan, mereka baru kali ini mendengar adik iparnya memanggil Willmar dengan embel-embel 'mas'. Raisa tersenyum geli melihat reaksi dua kakaknya.
"Nggak usah kaget gitu kali Kak," tegur Willmar menyadari saudara kembarnya masih membeku.
"Aku mau belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dan semuanya berkat Kak Cinta," kata Raisa.
"Apa? karena aku?" tanya Cinta, tak percaya.
"Iya, kamu inspirasiku Kak." Raisa menggenggam tangan kakak iparnya.
"Ya, dan aku merasa sangat beruntung memiliki Raisa. Terima kasih Kak," ujar Willmar tulus pada Cinta.
"Ah, kamu berlebihan Dek."
"Hm, pantesan aja kalian berisik sampai pagi," dumel William.
"Eh, iyakah?" Willmar melirik istrinya, mengusap tengkuknya malu.
"Ya, dipikir nggak kedengaran kali sampai di kamarku. Mana kencang banget lagi teriakannya," imbuh William.
"Duh, Kak. Masa sih?" wajah Willmar makin memerah, pun dengan Raisa.
"Iya, nanti kalau Jayden udah agak besar kalian musti pindah kamar biar nggak menodai pendengarannya yang masih suci," goda William lagi.
Jadi begini rasanya kepergok? pikir Willmar. Semalam memang dia merasakan sensasi bercinta yang luar biasa di tahun ketiga pernikahannya dengan Raisa, hingga ia tak sadar ternyata desahannya mengganggu penghuni kamar sebelah. Ini baru ketahuan sama saudara dan kakak iparnya, bagaimana jika kedua orang tuanya yang tahu. Untungnya lagi kakek neneknya sedang pulang ke Semarang.
"Awas nanti begitu puasaku udah selesai, kita bisa saingan. Suara siapa yang paling seksi di antara kita," seloroh William.
"Dih, Kakak mesuum," omel Willmar.
"Biarin, kamu yang mancing-mancing aku."
"Ingat, masih belum boleh," sela Raisa.
"Tinggal sebulan lagi, ya kan Yang?" William mengedipkan sebelah matanya pada Cinta.
__ADS_1
Duh, ternyata begini tingkah pria dewasa jika sedang menahan hasratnya? Semuanya berubah menjadi mesuum.
Bersambung ....