
Sesuai waktu yang dijanjikan, dengan diantar Reynald dan Afro, presdir Betrand bersama Eldrey menuju ke tempat yang tidak diketahui gadis itu.
Laju mobil terhenti di sebuah toko bunga. Lagi, bunga magnolia dan Forget Me Not yang dibeli presdir Betrand.
Eldrey terdiam melihat keanehan dari ayahnya, namun ia tak bersuara. Bahkan dirinya terlalu tenang saat diberikan buket bunga biru itu. Tak ada ucapan terima kasih, kecuali lirikan mata aneh.
“Ada yang ingin kubicarakan dengan Anna. Setelah itu kita jalan-jalan bersama. Bagaimana?”
Rasanya dada Eldrey perlahan bergemuruh mendengar namanya. “Bersama? Dengannya?”
“Ya. Dengan Evan juga.” Tampak presdir Betrand benar-benar serius ingin menjalin hubungan kembali dengan wanita dan anaknya itu. “Tenang saja. Ada pengawal yang mengiringi kita.”
Eldrey cuma berekspresi jengkel. Untung saja ia sudah meminum obat penenang, setidaknya kontrol dirinya masih stabil. Semoga.
Mereka berdua tiba di depan toko roti yang menjadi saksi bisu penembakan presdir Betrand.
Turun tanpa keraguan, lalu masuk ke dalam tanpa izin terlebih dahulu.
“Betrand, Eldrey,” bu Anna kaget melihat kedatangan keduanya.
Dirinya tampak kelabakan, mempersilakan mereka duduk di kursi yang tersedia. Tapi, Eldrey masih berdiri tanpa mengindahkan sambutannya.
“Eldrey?” presdir Betrand menyentuh tangan kiri putrinya yang tak lagi diperban.
“Bukankah ada yang ingin Ayah bicarakan dengannya? Aku akan pergi. Saat sudah selesai hubungi saja aku. Aku akan kembali,” ucapnya melangkah meninggalkan mereka.
“Eldrey!” panggil bu Anna namun tak diacuhkan.
Presdir Betrand pun memerintahkan Reynald untuk mengikuti Eldrey. Terlebih kondisi gadis itu masih belum baik-baik saja.
Namun, entah kesialan atau keberuntungan yang menimpa, sebuah mobil terhenti di dekat Eldrey.
Gadis itu terdiam, begitu menyadari siapa yang ada di dalamnya.
“Eldrey?” sapanya.
“Bibi.”
“Kamu mau ke mana?”
“Jalan-jalan.”
“Apa kamu ada waktu? Mau makan siang bersama Bibi?”
“Baiklah.” Gadis itu memasuki mobil nyonya Amelia. Supir pun mengantar mereka ke tempat yang dituju.
Reynald bersama pengawal yang lain segera mengikuti mobil tersebut.
Sesampainya di restoran, mereka pun memesan makanan terbaik yang ada di sana. Tentu saja semua atas rekomendasi nyonya Amelia.
Keponakan suaminya tampak tidak tertarik pada sajian di daftar menu.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Seperti yang terlihat.”
“Begitu. Bibi dengar kamu sakit. Maaf karena belum sempat mengunjungimu.”
“Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan Lily?”
Raut wajah nyonya Amelia langsung berubah. “Lily baik-baik saja. Walau kejadian itu sangat menghancurkannya. Butuh waktu baginya untuk muncul lagi ke publik.”
“Benar. Karena itu sangat memalukan.” Tangan nyonya Amelia terkepal erat mendengar kalimatnya. “Bahkan dengan kuasa keluarga Gates, masih tak bisa menghapus hujatan publik. Masyarakat memang mengerikan.”
“Kamu benar. Karena itulah kita harus berhati-hati dalam bertindak. Orang seperti kita adalah konsumsi publik yang utama.”
Eldrey tersenyum. Makanan yang datang hanya ditatap datar olehnya.
“Apa Bibi baik-baik saja?”
“Maksudmu?”
“Kupikir aku tak perlu basa-basi lagi. Kita sama-sama tahu kondisi keluarga Bibi. Itu berita umum.”
Guratan wajah nyonya Amelia mulai menajam. Rahangnya ikut mengeras.
“Aku hanya khawatir, nenek bersikap yang aneh-aneh, mengingat kita juga sama-sama mengetahui seperti apa dirinya,” lanjut Eldrey.
“Khawatir?”
“Aku cuma teringat sosok ibuku yang direndahkan nenek saat melihat kondisi Bibi sekarang. Maafkan aku.”
Tak ada jawaban. Tapi pembahasan mereka jelas bukan topik yang baik bagi nyonya Amelia. Menurutnya, siapa pun yang membahas tentang keluarganya sama saja dengan merendahkannya.
“Entah kenapa aku tak bisa menyukai sikap nenek yang seperti itu,” sambung Eldrey.
“Beliau orang tua. Itu hal yang wajar.”
Eldrey kembali tersenyum. “Bibi benar-benar wanita yang bijaksana.”
__ADS_1
“Menjadi menantu dari keluarga Gates, bukan sekadar kehormatan. Tapi itu juga tergantung latar belakang keluarga yang mendidik anak-anaknya untuk menyikapi hal seperti ini.”
“Aku bersyukur, karena lahir dari keluarga terpandang dan mendapat pendidikan yang tak sama dengan orang-orang miskin di luar sana. Bukti kalau kita memang berbeda dengan mereka.”
“Bukankah, orang miskin yang mencoba masuk ke keluarga kaya namun tak berkaca pada dirinya, adalah hal yang menjijikan? Bagaimana menurutmu? Tidak mengherankan bukan, kalau mereka tak bisa diterima di lingkungan kita?” oceh nyonya Amelia panjang lebar.
Eldrey terdiam menyorot wajahnya yang sibuk mengumbar suara.
“Hah,” gadis itu menghela napas pelan sambil tersenyum tipis. “Entahlah. Mau kaya atau miskin, kalau sudah mati tak ada artinya. Hanya nama yang tersisa dan mereka tak ada bedanya.”
Raut wajah nyonya Amelia yang sombong langsung memudar menjadi masam.
“Aku cuma gadis bodoh. Jadi pembahasan ini terlalu luar biasa. Lagi pula, mau latar belakang dari dewa atau budak sekalipun, kalau sudah tertimpa skandal itu tak ada gunanya. Cuma memalukan nama keluarga. Bukankah aku benar?” lanjut gadis itu.
Tanpa sadar nyonya Amelia menggertak giginya sendiri.
“Bibi? Bibi baik-baik saja? Aku mendengar sesuatu dari mulutmu. Gigimu tak patahkan? Apa perlu kupanggilkan dokter?!” Eldrey berlagak panik.
“Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Sepertinya aku sedikit pusing, aku akan pulang duluan. Maaf tak bisa menemanimu makan lama-lama. Biar Bibi yang bayar semuanya,” ucapnya meninggalkan gadis itu sendirian di sana.
Sedikit pun Eldrey tak menyentuh hidangan di depan mata. “Kau memuntahkan kotoran. Dan kusodorkan kembali padamu. Rasanya menjijikan, sama seperti keluargamu,” gumam Eldrey mengambil minuman di hadapannya lalu menuangkan isinya ke hamparan makanan di atas meja.
Di dalam toko roti.
“Aku sudah mempertimbangkan. Sebelum kujawab, bolehkah aku menanyakan sesuatu?”
“Silakan.”
“Kenapa kamu melakukan ini? Aku yakin kalau kau masih belum memaafkanku Betrand.”
Pertanyaan yang dilontarkan bu Anna, lama rasanya akan dijawab. Pria itu hanya menatapnya, membuat mantan istri mengalihkan pandangan.
“Aku sudah memaafkanmu. Bahkan jika hatiku masih sakit karenamu. Tapi demi anak-anakku, akan kulupakan semuanya. Hanya itu.”
“Demi anak-anak ya,” bu Anna tersenyum kecut. “Apa mengirim putrimu ke rumah sakit jiwa juga demi dirinya?”
“Jika di masa lalu jawabanku ya.”
“Kenapa?!”
“Menurutmu, apa yang terjadi pada Eldrey setelah perceraian kita?”
Bu Anna terdiam.
“Kupikir kau pasti belum lupa, keadaannya yang babak belur dan bersujud-sujud menahan kepergianmu.”
Hati bu Anna serasa ditusuk ucapan pria di depannya.
Bu Anna menggigit bibir bawahnya. “Keluargamu takkan menyetujuinya.”
Presdir Betrand mengalihkan pandangan menatap jalanan. “Aku sudah membayar mahal, untuk posisiku yang hancur di keluarga itu. Sudah dari dulu.”
Rasanya, kalimat itu sangat menyindir bu Anna. Begitu telak sehingga tak dapat dihindari.
“Maafkan aku.”
Presdir Betrand tertegun mendengar kalimat istrinya. “Lupakan itu. Karena semuanya masa lalu.”
Wanita itu tertunduk sendu di hadapan pria tersebut. Rasanya waktu mulai menekan suara yang akan dikeluarkan.
“Jadi, apa jawabanmu?”
“Bahkan jika aku kembali, Eldrey takkan menerimaku,” lirih bu Anna mulai terisak.
“Itu hutangmu Anna, sebagai ibu. Dan ini tanggung jawabku, sebagai ayah dari Evan dan Eldrey.”
Rasanya benar-benar menyesakkan. Terlebih, nada bicara presdir Betrand masih seperti saat mereka bersama. Perbedaannya, sudah tak ada perlakuan romantis dari kepala keluarga yang dulu bersusah payah meluluhkan hati bu Anna untuk menjadi belahan jiwanya.
“Mungkin, aku terlalu terburu-buru. Tapi, saat melihat kondisi Eldrey yang memburuk, pikiranku tak bisa berhenti membayangkan kalau dia akan menghilang di hadapanku. Aku tak ingin lagi, terlambat menyelamatkannya di saat dia benar-benar membutuhkan kita,” ucap presdir Betrand sambil menggenggam tangan kanan bu Anna.
“Tak perlu buru-buru. Apa yang terbaik menurutmu, maka itu jawabanmu. Aku akan menunggu, terlepas dari salah kita berdua, maafkan aku Anna.”
Bu Anna mulai tersentuh mendengar perkataan mantan suaminya. Seakan, kembali mengingatkan diri pada masa lalu. Terlepas dari keangkuhan dan sosok dinginnya, presdir Betrand memiliki sisi hangat yang jarang ia tunjukkan.
Saat sisi itu muncul, rasanya dunia benar-benar memihak dirinya pada setiap tutur kata dan perlakuannya.
Presdir Betrand, sosok suami yang luar biasa, jika tidak dihancurkan egois mantan istri dan juga orang tuanya.
Evan akhirnya pulang. Dirinya kaget saat mendapati presdir Betrand di toko ibunya.
“Sayang? Kamu sudah pulang Nak?” sapa bu Anna.
“Iya.”
Matanya tak begitu fokus menatap rupa kedua orang tuanya.
“Aku berencana mengajak kalian jalan-jalan. Aku akan menghubungi Eldrey dulu,” lanjut presdir Betrand mengeluarkan ponselnya.
Akan tetapi, jawaban tak diharapkan justru datang dari gadis yang mengatakan akan kembali jika dihubungi.
__ADS_1
Ia ingin istirahat di rumah. Jalan-jalan saja tanpa dirinya. Atau adakan lagi makan malam bersama, yang jelas Eldrey enggan pergi karena dirinya sudah rebahan di kasurnya.
Batin presdir Betrand menggeleng dengan jawaban putrinya itu.
Di sebuah mobil, tampak seorang pemuda mengendarainya dengan tekad baja tapi bertampang pengecut.
Siapa lagi kalau bukan Henry. Sepertinya, ia sudah mengumpulkan keberanian untuk menemui Eldrey jika melihat sebuket besar bunga Forget Me Not yang bertengger indah di kursi sampingnya.
“Tenang Henry, tenang! Kau hanya berniat baik, pasti takkan apa-apa,” ucapnya meyakinkan diri sambil menampar pelan kedua pipinya bersamaan.
“Ha-halo!” sapanya pada penjaga gerbang begitu turun dari mobil.
“Ah, Tuan Muda yang waktu itu. Anda ingin bertemu nona?”
“I-iya.”
“Kebetulan sekali. Nona ada di rumah. Silakan masuk.”
“Baik, terima kasih,” balas Henry sambil menunduk sopan.
Sepertinya, penjaga gerbang itu tidak tahu, kalau Henry tak diizinkan presdir Betrand untuk menemui Eldrey lagi.
“Henry?” sapa Eldrey saat ia hendak melangkah keluar rumah.
“Eldrey!” sambut Henry di teras dengan hati senang. “Bagaimana keadaanmu?”
“Aku? Aku baik-baik saja.” Gadis itu hanya menyorot tenang buket bunga besar yang disodorkan padanya.
“Apa kamu tidak bawa makanan?”
“Eh,” Henry kaget dengan pertanyaan itu. “I-itu, aku ...” ia tertunduk malu.
“Terima kasih bunganya,” ucap Eldrey sambil membawanya keluar.
Henry tersenyum, karena gadis yang disukainya terlihat baik-baik saja. Seakan apa yang terjadi sebelumnya cuma mimpi. Tapi, sang pemuda tak berniat mengungkit itu, karena ia sudah mencari informasi tentang ciri-ciri gejala yang diderita Eldrey.
Jangan menyinggungnya, atau membahas lagi masa lalunya. Semua harus secara perlahan. Dia bisa saja impulsif atau agresif. Hanya itu yang Henry ketahui.
Mereka berdua sampai di danau dekat taman labirin. Henry terkesima, sungguh pemandangan kediaman orang kaya.
Eldrey menatap kupu-kupu yang hinggap di bunga di tangannya.
Seketika ia meremas kupu-kupu bersama bunga itu dan membuangnya di dekat kaki.
Henry melongo, matanya serasa akan copot keluar saking melotot melihat tindakan Eldrey. Tapi ia memilih tak bersuara.
Gadis itu, menatap tenang pada pemandangan di depannya.
“Ada apa Henry? Lalat akan akan hinggap di mulutmu jika kau begitu.”
“Ah!” ia langsung menutup mulut dengan tangan. “Tidak, itu ... gyaaaaaa!!!” teriak keras Henry.
Seketika, presdir Betrand yang baru turun dari mobil kaget mendengar teriakan keras di area taman labirin belakang. Bukan hanya dirinya, bahkan para pelayan berlari panik, penasaran teriakan siapa itu.
Akan tetapi, di lokasi kejadian tampak pemandangan tak terduga.
“Aku kaget. Kau takut dengan kodok?” tanya Eldrey dengan santainya.
Henry tak berkedip. Ia melotot menatap gadis itu. Tubuhnya basah, karena tiba-tiba didorong Eldrey ke dalam danau saat berteriak.
“Aku tak sengaja. Bagaimana lagi? Kau berteriak sangat keras Henry,” Eldrey menatap telapak tangan kirinya yang sudah mendorong sang pemuda.
“Apa yang terjadi?!” tanya presdir Betrand dan pelayan lain saat sudah sampai di sana. Dirinya terdiam begitu melihat pemuda yang dilarang menemui Eldrey, justru terduduk di pinggir danau yang tak begitu dalam.
“Ya ampun, apa yang terjadi?” ucap bibi Arda baru datang.
“Ah,” Henry berdiri sambil menunduk untuk menutupi muka malunya.
“Aku tak sengaja mendorongnya. Apa ada baju ganti untuknya?” tanya Eldrey.
Presdir Betrand menatap heran pada putrinya. “Mendorongnya? Kenapa?”
“Sepertinya dia takut kodok. Spontan aku mendorongnya karena kaget mendengar teriakannya.”
Presdir Betrand memijit pangkal alisnya. “Ambilkan baju Roma untuknya,” perintahnya.
“Baik Tuan,” jawab salah satu pelayan.
“Ayo masuk. Ganti pakaianmu di dalam Nak,” ajak presdir Betrand pada Henry akhirnya.
Eldrey hanya menatap mereka dengan pandangan tak bersalah seperti biasa.
__ADS_1