
“Baik-baik. Jangan marah begitu, aku akan pergi,” pamit Kevin sambil mengangkat kedua tangannya. Sekarang tersisa Evan dan adiknya yang masih belum sadarkan diri.
“Maafkan Kakak, karena tidak bisa menjagamu. Tapi Kakak berjanji, Rey. Apa pun yang terjadi, Kakak pasti akan melindungimu. Itu janjiku padamu,” setelah mengatakannya Evan pun mengecup lembut kening adiknya.
Dan dirinya pun pergi dari sana membiarkan Eldrey seorang diri.
“Kak Evan, mau ke mana?” tanya Alice saat bertemu dengannya di halaman.
“Aku mau ke Vila keluargaku sebentar. Ada yang harus kuambil di sana.”
“Vila keluarga?”
“Ya,” angguknya dan menjauh dari gadis itu. Alice hanya diam memperhatikan punggung sang pemuda yang menjarak darinya. Sampai akhirnya pelukan dari belakang tiba-tiba mengagetkannya.
“Dean?”
“Kenapa kamu memperhatikannya seperti itu?”
“Aku hanya memandangnya. Memangnya salah?”
“Salah. Karena seharusnya kamu hanya melihatku saja,” jengkel Dean.
Alice pun tertawa dan membalas pelukannya. “Jangan cemburu, hatiku kan sudah milik kamu.”
Mendengar itu senyum jahil pun terpatri di bibir Dean. Digendongnya Alice tiba-tiba dengan sangat mesranya. Benar-benar pasangan muda mudi yang sedang bahagia. Dan hal tersebut jelas-jelas ditonton oleh adiknya di balkon lantai dua.
Jujur terkadang Kevin tak suka melihat itu semua.
Seandainya dirinya masih sama dengan yang sebelumnya, segala cara akan ia lakukan untuk memisahkan Dean dan Alice karena dirinya juga memendam perasaan padanya.
Tapi sekarang semua berbeda. Kehadiran putri Dempster, telah mengacaukan fokus otaknya dan mengunci itu semua. Seperti menyuruh agar melihat dirinya saja.
“Yakin mau pergi sekarang? Padahal kita belum menikmati permainan di pantai.”
“Ibuku sudah menghubungiku,” jelas Henry dengan paniknya.
“Ya sudah. Iya-iya, kita balik,” sahut Steven dengan nada yang terdengar tak ikhlas.
“Aku temui Kevin dulu,” tukas Henry meninggalkannya. Tapi saat sampai di lantai dua, matanya tak sengaja menatap pintu masuk ke kamar Eldrey. Jujur dirinya agak kaget begitu mendengar perkataan Alice yang menyebutkan putri Dempster pingsan karena terpeleset di kamar mandi.
Tanpa sadar, langkahnya justru pergi ke ruangan itu. Di mana gadis yang menjadi pujaan hati masih terbaring tak sadarkan diri.
Cantik seperti putri tidur. Walau juga kasihan melihat kondisinya. Tanpa sadar matanya memperhatikan wajah Eldrey tanpa berkedip. Perlahan digenggamnya tangan gadis itu, melirihkan sesuatu yang mungkin takkan di dengarnya.
“Rey, aku balik dulu ya, aku harus menjemput ibuku ke bandara,” ucapnya. Perlahan, genggaman pada tangan Eldrey pun terlepas dan beralih menyentuh pipinya. “Cepat sadar ya dan umm ... aku ... a-aku menyukaimu,” senyum pun akhirnya berkibar di bibirnya. Tanpa ragu ia majukan wajahnya untuk mengecup lembut kening putri Dempster.
Tempat yang sama di mana Evan juga melakukan itu tadinya.
“Apa yang kamu lakukan?”
Henry pun terkesiap dan langsung berbalik. “Kevin?”
“Kamu menciumnya?”
__ADS_1
“I-itu—” dirinya mulai panik dan kelabakan. “A-aku hanya mencium keningnya, benar hanya keningnya,” jujurnya karena gugup yang dirasa.
Tiba-tiba tawa pelan tersembur dari bibir temannya. “Kakaknya pasti akan mencekikmu karena melakukan itu pada adiknya yang pingsan.”
“Aku mohon, Vin. Jangan katakan pada Kak Evan. Sumpah, aku hanya mencium kening dan menggenggam tangannya. Tidak lebih,” jelasnya sambil memamerkan tatapan memohon.
“Ya, ya. Tenang saja, aku akan tutup mulut.”
“Benarkah?”
“Tidak.”
“Sialan!”
“Jangan lupa traktiran seminggu.”
“Untuk tutup mulut?”
“Atau ingin kusebarkan?”
“Ah, jangan-jangan! Akan kutraktir, kutraktir! Cih, sialan!” umpat Henry dengan memelankan suaranya diakhir. “Ah, oh ya. Aku dan Steven balik duluan.”
“Begitu?”
“Ya. Aku harus menjemput Ibuku ke bandara jadi mau bagaimana lagi.”
“Hati-hati di jalan.”
“Siap Bos. Sampai jumpa, Eldrey,” pamitnya pada gadis yang masih belum sadarkan diri. Kevin pun tersenyum melihat keanehan temannya. Sampai akhirnya ekspresinya berubah tenang kembali setelah Henry benar-benar pergi dari sana.
“Apa mungkin aku memukulmu terlalu keras?” lirihnya sambil menyentuh sekilas pipi gadis itu.
Beberapa detik pun berlalu tenang. Dan selama itu pulalah fokusnya hanya menatap wajah Eldrey yang pingsan.
“Menarik,” ucapnya tiba-tiba. “Laki-laki mana pun pasti puas jika bisa menatap wajah seperti ini setiap hari. Sepertinya, menikah muda juga tidak begitu buruk.”
Entah apa maksud Kevin berbicara seperti itu sambil memandangi rupa putri Betrand.
“Tapi ini gila. Tak kusangka menyukai gadis yang juga disukai teman sendiri rasanya akan semenyebalkan ini,” matanya pun beralih ke arah kening Eldrey. Perlahan, tangannya bergerak mengusap area itu.
Seolah-olah ingin menghapuskan jejak yang tadi ditinggalkan Henry padanya. Dan akhirnya, sorotannya pun melirik bibir gadis di depannya.
“Sepertinya, Evan akan menghajarku jika macam-macam pada adiknya yang pingsan,” dirinya malah terkekeh pelan.
Tanpa mempedulikan suasana, wajahnya pun dimajukan menatap rupa Eldrey yang tenang. Begitu dekat jaraknya, sekitar 10 cm jika diperkirakan.
“Cantik,” gumamnya. Dan tanpa disangka, pandangannya pun terarah pada lekukan manis nan menggoda.
Kevin benar-benar gila.
Dalam keadaan sepenuhnya sadar, diciumnya putri Dempster yang pingsan dan tidak berdaya. Walau semua berlalu lembut tapi dirinya mungkin mulai tidak waras.
Perlahan, tawa pelan berkumandang di mulutnya. “Kalau kamu sadar, aku penasaran apa yang akan kamu lakukan jika mengetahui ini semua.”
__ADS_1
Lalu dikecupnya bibir itu untuk kedua kalinya sebelum posisinya direbahkan di samping Eldrey yang masih pingsan.
“Hah ...” suara helaan napasnya yang pelan. “Aku, benar-benar bajingan,” dan tubuhnya pun bangkit dari sana meninggalkan tuan putri yang tidak sadarkan diri sendirian.
Sekitar setengah jam kemudian, barulah kelopak mata putri Dempster terbuka. Berkedip beberapa kali untuk mengumpulkan dengan penuh kesadarannya. Tiba-tiba tengkuknya berdenyut saat ia sedikit bergerak.
“Kevin,” geramnya menyadari siapa pelaku yang sudah membuatnya sampai seperti ini.
“Ya?”
Sontak saja Eldrey melirik sang pemuda yang rupanya telah duduk di bibir jendela lewat sudut matanya. “Brengsek.”
Kevin hanya tertawa pelan mendengarnya, bersamaan dengan Eldrey yang mencoba duduk dan langsung memegang kepalanya.
“Kamu baik-baik saja?” cemas seketika menghantui pemuda itu saat melihat Eldrey, ia pun menyentuh bahunya.
Akan tetapi, Eldrey langsung menepis kasar tangan itu dan menatapnya tajam. “Keluar.”
Sang pemuda hanya tersenyum sambil menggoyang-goyangkan tangannya yang tadi ditepis. “Sepertinya kondisimu tidak baik-baik saja. Apa mungkin kamu pusing?”
Benar-benar menyebalkan. Seolah-olah ia tuli dengan pengusiran ataupun tatapan tak suka. Bagi Eldrey, pasti Kevin adalah pemuda paling menjengkelkan yang pernah ditemuinya.
“Kamu mau ke mana?” tanya Kevin saat gadis itu bangkit dari posisinya. Langkah Eldrey pun melewati lantai yang menjadi saksi pecahan gelas kaca. Untung saja Evan sudah membersihkannya. Jika tidak, kaki adiknya pasti terluka karena adiknya tidak memakai alas.
Beginilah Eldrey. Dia yang tersadar dengan tampang masam pada Kevin, seketika tampak tenang lagi. Perubahan emosi yang tiba-tiba sudah menjadi makanan sehari-hari.
Untung saja Kevin sudah meriset informasi gejala dan segala kemungkinan yang di derita Eldrey. Jika tidak, dia pasti heran kenapa perempuan muda di depannya bisa seperti itu.
Tapi, tampaknya diam dan hanya memperhatikannya adalah cara terbaik untuk saat ini.
“Eldrey? Kamu sudah sadar?” Evan tampak kaget saat berpapasan dengan adiknya di halaman Vila. Akan tetapi, dirinya terdiam melihat putri Dempster tak memakai alas kaki. Terlebih, ada sosok Kevin di belakangnya seperti mengikuti.
“Aku ingin pulang.”
Terkesiap.
Bagaimana tidak? Ini pertama kalinya Eldrey berbicara duluan pada kakaknya.
“Pulang? K-kamu mau pulang sekarang?”
“Charlie, aku ingin dia,” hanya itu lirihan kata yang dilontarkan Eldrey lalu pergi meninggalkan mereka.
Sejenak Evan membeku mendengar kalimat yang dilontarkan adiknya. “Jangan melamun. Hubungi pak tua itu, aku akan mengikutinya,” Kevin pun menyentuh bahu seniornya.
Dan seperti katanya, diikutinya putri Dempster yang entah melangkah ke mana. Jujur ia ingin menahan Eldrey terlebih gadis itu bertelanjang kaki. Tetapi, sepertinya tidak mengganggunya juga merupakan pilihan yang baik.
Terkadang, mereka yang suasana hatinya tidak stabil itu butuh ketenangan. Dan sebaliknya, mereka yang terlalu stabil juga butuh pengawasan. Sistem kerja di otak orang-orang dengan gangguan mental sedikit berbeda dari orang normal.
Walau jujur untuk penanganan sangat dibutuhkan kerja sama semua orang. Akan tetapi, keluarga Dempster yang dalam penyatuan sepertinya masih membutuhkan suntikan pemahaman.
Karena bagaimanapun juga, trauma Eldrey sedikit banyaknya juga disebabkan oleh mereka sendiri.
__ADS_1