
“Ugh!” erang Eldrey. Dirinya dan Kevin terpental karena pemuda itu melompat dan menabrak tubuhnya untuk menyelamatkannya.
Hampir saja. Hampir saja gadis itu jatuh ke bawah tebing jika Kevin tak cepat membantunya.
Terdiam. Mata Eldrey menatap pemandangan di depan mata. Sementara Kevin yang masih memeluknya, belum beranjak dari menghimpit tubuhnya.
Mereka berdua sama-sama bisa mendengar hembusan napas dari masing-masingnya.
Kevin perlahan bangkit dengan menarik pinggang Eldrey ke pelukannya.
Gadis itu tak memberontak, kecuali tetap berekspresi tenang melihat sajian dunia di hadapannya.
Tak ada lagi suara, kecuali bunyi dedaunan dan ranting yang diterpa angin. Bunga-bunga tua magnolia berguguran menghiasi pemandangan mereka berdua. Gerakan api di obor-obor sekitar ikut menemani sebagai penerangan di sana.
Perlahan, Kevin mengelus lembut kepala gadis itu. Aroma bunga dari tubuh Eldrey tercium jelas di inderanya.
“Lepaskan aku.”
Satu kalimat namun tak berguna, tidak untuk keadaan seperti ini. Kevin, benar-benar memeluknya sangat erat sampai Eldrey sebenarnya agak susah bernapas.
“Lepaskan aku.”
Tangan sang pemuda yang masih memegang pinggang gadis itu, enggan beranjak untuk mengikuti perintah dari bibirnya.
“Lepa—”
“Jangan,” potong Kevin tiba-tiba. “Biarlah tetap seperti ini.”
“Ini menyesakkan,” gumam Eldrey.
“Jangan lepaskan pelukanku.”
“Aku membencimu.”
“Jangan lepaskan pelukanku.”
“Aku tak ingin bertemu denganmu.”
“Jangan lepaskan pelukanku.”
Eldrey menggigit bibir bawahnya. “Aku ingin pergi.”
“Tolong jangan lepaskan pelukanku,” ucap Kevin lagi. Hanya itu, kalimat serupa namun bermakna yang dikatakannya berulang-ulang.
Detak jantung yang saling bersahutan mewakilkan perasaan.
“Apa yang sebenarnya kamu lakukan?”
“Tetaplah seperti ini. Tetaplah di pelukanku, aku mohon,” pinta Kevin padanya. Lirihan suaranya, jelas menyentuh leher Eldrey lewat hembusan napasnya.
Gadis itu tak mengerti, tidak memahami jika perlakuan Kevin untuk menenangkan dirinya.
Apa yang terucap di bibirnya, telah terlupakan begitu saja. Namun berbeda dengan sang pemuda, perasaannya begitu pilu, sesak setiap mengingat untaian kata yang mengalir dari mulut gadis di rangkulan.
Dia manusia bukan batu. Rasa simpati di dirinya, mendorong tubuhnya untuk melakukan semua itu. Kevin benar-benar tak ingin melepaskan Eldrey walau hanya sebentar saja.
“Aku lelah Kevin, lepaskan aku.”
Tak ada jawaban, pemuda itu masih diam di posisinya. Sungguh Eldrey jengkel akan ulahnya. Sontak didorongnya Kevin untuk melepaskan pelukan.
Akan tetapi semua sia-sia. Rahang gadis tersebut jelas menegas akan keras kepala Kevin yang masih merangkulnya.
“Aku akan memukulmu Kevin.”
“Lakukanlah. Jika itu bisa membuatmu senang maka lakukanlah.”
Eldrey terdiam akan respons sang pemuda. Diliriknya Kevin lewat sudut matanya, merasa bingung kenapa ia bersikap seaneh itu.
“Sungguh Kevin, kau menyebalkan.”
Tak ada jawaban, hanya perlakuan lembutnya yang berbicara.
“Jika kau ingin memeluk seseorang maka akan kucarikan, jadi lepaskan aku,” lanjut Eldrey namun tak ada tanggapan. “Dadaku sesak jika kau memelukku seerat itu.”
Perlahan, Kevin pun tersenyum akan kalimat Eldrey. Begitu polos menurutnya, dan juga sangat cerewet rupanya.
Dia pun melonggarkan pelukan di tubuh wanita dalam dekapan. Sampai akhirnya Eldrey mendorong dada Kevin agar berjarak darinya.
“Mati lebih baik daripada memelukmu," sinis Eldrey.
Gadis itu pun bangkit dan membiarkan Kevin masih duduk di posisi yang sama.
“Jangan katakan lagi.”
“Aku pergi,” gadis itu hendak beranjak.
Tapi, Kevin menahan tangan Eldrey agar ia tak meninggalkannya. “Tolong jangan katakan lagi,” sambil mendongak padanya.
“Apa yang kau bicarakan?”
“Jangan katakan mati lagi.”
“Hidupku bukan urusanmu.”
“Bagiku itu urusanku.”
Eldrey memiringkan wajah dan menatap jengkelnya. “Kamu tahu apa yang paling menyebalkan darimu? Selalu ikut campur. Bukankah kau tak ingin terlibat denganku lagi? Aku sudah membukakan jalan untukmu.”
Kevin tertawa. Membuat Eldrey berekspresi masam akan sikapnya. Perlahan sang pemuda bangkit dan berdiri tepat di hadapannya.
“Ayo kita turun,” sambil menarik tangannya.
Sontak Eldrey langsung menepisnya, membuat Kevin menoleh padanya.
“Aku takkan kembali.”
“Baiklah.”
“Silakan kau pergi.”
“Hah,” hela napas pelan Kevin. “Bersamamu?”
“Kau tuli?”
“Bersamamu kan?”
Eldrey semakin kesal karena kalimat Kevin. Rasanya ingin sekali ia menghajar pemuda di depannya, dan kepalan tangannya sudah mewakilkan perasaannya. Menanti saat-saat tertentu untuk dilayangkan ke wajah rupawan di hadapannya.
“Ini sudah malam dan dingin,” keluh Kevin.
__ADS_1
“Pergi,” usir Eldrey.
“Bersamamu kan? Kamu menginap di mana?”
“Kuhitung sampai tiga. Pergi atau kutendang kau.”
“Hah,” Kevin menghela napas kasar.
“Satu.”
Kevin tersenyum tipis menatapnya.
“Dua.”
Sontak sang pemuda langsung menarik pinggang Eldrey dan menggendongnya di bahunya.
“Sialan! Turunkan aku keparat!” Eldrey menggoyangkan kaki menendangnya.
“Ugh,” Kevin menahan kaki itu agar tak meronta. “Tidak bisakah kamu patuh saja? Kita bisa jatuh.”
“Aku akan membunuhmu.”
“Ya-ya,” Kevin melangkah pergi dari sana. Pegangan tangannya cukup erat menahan kaki Eldrey, sehingga tak bisa lagi bergerak.
Akan tetapi, tangan bebas gadis itu tentu saja masih memukul punggung orang yang menggendongnya. Sayang, semua berakhir sia-sia, karena sang pemuda cukup keras kepala.
Sampai akhirnya Eldrey pasrah begitu saja dibawa di bahunya.
“Aku sudah sering menggendongmu, tapi aku baru sadar kalau kamu ringan. Apa kamu jarang makan?”
Tak ada jawaban, Eldrey tetap diam dengan kekesalan serta kejengkelan tertanam layaknya kuburan di otaknya.
“Kamu juga cukup kurus. Tapi ... dadamu cukup besar,” tambahnya sambil mengulas senyum di bibirnya.
“Kurang ajar.”
“Aku tak sengaja melihatnya. Jangan marah begitu. Kamu ingat ulahmu di rumah Henry kan?”
“Aku pasti akan mengoyak mulutmu.”
Kevin makin tak bisa melenyapkan senyumannya. “Kamu tinggal di mana? Akan kuantar.”
“Turunkan aku.”
“Akan kuantar.”
“Bocah keparat.”
“Apa mungkin di hotel? Kudengar pemandangan di hotel sekitar sini sangat indah,” sahut Kevin tak mengacuhkan umpatan Eldrey.
“Dasar brengsek.”
“Benar juga, sudah berapa banyak umpatan yang kamu layangkan padaku?”
“Aku membencimu.”
Kevin tersenyum. “Kupikir aku mulai menyukaimu.”
“Menyebalkan.”
“Aku memang tampan.”
“Keparat tuli.”
“Kau mau membawaku ke mana?” tanya gadis yang masih memendam kesal padanya.
“Benar juga. Ada orang tuaku di rumah. Apa kamu mau kuperkenalkan pada mereka?”
“Turunkan aku brengsek!”
“Tidak? Jadi kamu menginap di mana?”
“Apa kau tidak malu menggendong seorang gadis seperti ini?!”
“Kenapa? Orang-orang pasti akan mengira kita romantis.”
Eldrey tak habis pikir dengan isi otak Kevin. Dia jauh lebih menyebalkan di banding sebelum mereka bertemu di sini.
Rasanya ingin sekali Eldrey menyeret kepala Kevin agar pemuda itu tak besar kepala. Benar-benar gadis tak peka akan perhatian orang sekitarnya.
“Eldrey?” panggil Kevin. “Kamu tidak pingsan kan?”
Masih tak ada jawaban.
“Hei Eldrey, kamu pura-pura tidak dengar?”
Gadis itu tetap tidak memberikan respons.
“Sial!” pemuda itu langsung menurunkannya. Tapi, kenyataan yang ada justru berbeda. Eldrey spontan menggerakkan tangannya hendak meninju wajah Kevin.
“Hei!” pemuda itu refleks menghindarinya dan menangkap tangannya. “Haruskah kamu begini?”
Eldrey pun menarik tangannya. Matanya yang masih menatap sinis Kevin, enggan bersikap ramah.
“Aku hanya akan berbicara satu kali. Jangan berhubungan lagi denganku. Dan tutup mulut kotormu tentang pertemuan kita,” tegas Eldrey meninggalkannya.
Kevin pun diam sambil mata masih mengikuti langkah Eldrey yang berjalan menjauh darinya. Perlahan, senyum mulai mengembang di rupa, sambil langkah mengikuti sosok sang gadis yang tak sudi lagi berurusan dengannya.
Malam ini, suasana berbeda benar-benar terasa di kediaman mewah Dempster. Tapi ada yang berbeda, yaitu keberadaan sosok Raelianna dan putranya di ruang keluarga bersama dengan Betrand.
Ketegangan terasa, menanti kabar sang putri yang lenyap tanpa informasi sedikit pun di telinga mereka.
“Bagaimana?” tanya presdir Betrand pada Daniel Bonapart.
“Menurut Rudan, dia terlihat sempat berhenti di tiga stasiun. Tapi langkahnya menghilang di stasiun SolX. Jadi dia masih memeriksa area kota sana,” jelasnya.
“Stasiun SolX, itu cukup jauh bukan?” timpal bu Anna berekspresi cemas. “Dia mungkin takkan kenal siapa pun di sana. Bagaimana jika terjadi apa-apa padanya?”
“Jika mendengar sepak terjang Nona, kupikir dia akan baik-baik saja,” sambung Daniel tersenyum.
“Daniel.”
“Ya Bos?”
“Kapan kamu akan kembali?”
“Dua hari lagi, bersamaan dengan pulangnya Charlie.”
Presdir Betrand tak lagi menanggapi kalimat bawahannya. Entah apa yang sedang dipikirkannya, tapi jelas ekspresinya menyiratkan emosi terpendam di wajahnya.
__ADS_1
“Dari mana saja kamu?” tanya tuan Kendal pada Kevin begitu putranya pulang.
“Jalan-jalan.”
“Sayang,” sapa neneknya yang baru keluar kamar bersama nyonya Julia.
“Nenek,” Kevin pun memeluk wanita tua yang merupakan ibu Papanya. “Bagaimana kabar Nenek?”
“Seperti yang kamu lihat sayang. Kamu habis dari mana? Pipimu dingin sekali.”
“Dari luar jalan-jalan.”
“Benarkah?” Nenek tersenyum padanya.
“Tentu saja. Memangnya di sini aku mau ke mana lagi?” balasnya.
Pertemuan mereka mulai dipenuhi pembahasan penuh tawa.
Sekitar pukul 22.54, Kevin menatap tenang ke luar jendela rumah neneknya. Kehangatan di kamar, tak menyurutkan pemikiran tidak-tidaknya.
Perlahan, setelah mematikan lampu dibukanya jendela itu, keluar dari sana dengan tampang waspada.
Menyusuri langkah menuju sebuah hotel yang berjarak sangat tidak jauh dari rumahnya. Hanya dibatasi sebuah rumah, dan lapangan rumput hijau untuk sampai ke sana.
Dan ya, Kevin memasuki hotel itu lalu menemui resepsionis.
“Permisi. Aku ingin menemui adikku yang menginap di sini.”
“Atas nama siapa?” tanya pegawai hotel itu.
“Eldrey.”
“Baiklah, tolong tunggu sebentar,” tampak ia sibuk mencari sosok pemilik nama yang disebutkan. Beberapa saat kemudian. “Maaf, tapi tak ada seorang pun yang bernama itu menginap di hotel kami.”
“Benarkah? Tapi supirnya memberi tahuku dia menginap di sini. Apa mungkin dia pakai nama samaran?” Kevin terlihat berekspresi bingung.
“Itu ....”
“Kalau begitu, bisa beri tahukan aku nomor kamarnya? Aku yakin adikku menginap di sini. Dia cantik dan berkulit putih. Benar juga, matanya seperti mata kucing, dan ada tiga tindikan di telinga kanannya.”
“I-itu ....”
“Ayolah. Aku harus menemuinya untuk menyelesaikan masalah keluarga kami. Bagaimana bisa dia kabur begitu saja? Kakek kami sedang sakit!” jelas Kevin meyakinkan.
Tiba-tiba, manager hotel pun datang menghampiri mereka. “Ada apa?“ tanyanya pada resepsionis itu.
“Tuan Muda ini ingin menemui adiknya yang menginap di hotel ini.”
“Begitu?“ sang manager melihat Kevin dari atas ke bawah. “Demi kenyamanan pelanggan kami, bisa berikan buktinya?“
“Bukti? Bukti apa?”
“Bukti kalau saudara anda memang menginap di sini.”
“Aku tak bawa bukti apa-apa. Aku hanya diberi tahu supir yang mengantar adikku kalau dia menginap di sini. Kami ada masalah keluarga, apa pihak hotel tak bisa membantuku untuk menemukan adikku? Aku yakin dia menginap di sini.”
“Siapa namanya?“
“Namanya tak terdaftar sebagai penghuni di kamar hotel,” jelas resepsionis pada manager tersebut.
“Aku kan sudah jelaskan ciri-cirinya. Tampangnya ketus dan mencolok. Sekali lihat kalian pasti takkan bisa melupakan wajah cantik adikku,” oceh Kevin panjang lebar.
“Apa ada yang seperti itu menginap di sini?“
“Ada Sir.”
“Baiklah, beri tahu saja nomor kamarnya.”
“Baik,” angguk resepsionis itu mencari data Eldrey. “Kamar Nona Rey ada di lantai dua nomor 21.”
“Terima kasih,” sahut Kevin sambil memamerkan senyum menggodanya. Ia pun mengeluarkan uang dan menaruhnya di meja resepsionis. “Ini tip untuk kalian, terima kasih bantuannya,” sambil meninggalkan mereka dengan sopannya.
Tentu saja kedua orang pekerja hotel itu terbungkam akan uang yang diberikan sang pemuda. Mengingat jumlahnya cukup banyak di hadapan mereka.
Kevin pun sampai di depan pintu kamar yang dicarinya. Nomor 21, yang sudah menguras isi saku dermawan miliknya.
Pintu pun diketuk tanpa keraguan, sambil telinga dinyaringkan untuk memastikan suara orang di dalamnya.
Akhirnya, setelah menunggu beberapa saat pintu kamar pun terbuka. Sosok penghuninya terdiam dengan ekspresi jengkelnya.
Tanpa aba-aba langsung ditutup kembali namun Kevin berhasil menahannya.
“Kamu melukai hatiku.”
“Pergi.”
“Buka pintunya Nona Rey.”
Eldrey semakin kesal karena harus bertemu lagi dengannya. Dirinya pun dengan keras berusaha menutup pintu namun jelas sia-sia. Tenaga laki-laki memang sangat menyebalkan kuatnya.
“Apa kamu harus sekasar itu?” Kevin berhasil memaksa pintu terbuka lebar. Dengan lancangnya, ia masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang. “Empuk sekali,” sambil mengusap tempat tidur itu.
Eldrey yang menatap tajam sosoknya, mulai naik-turun napasnya. Perlahan dirinya tersenyum.
“Kuhitung sampai tiga, pergi atau kau mati di sini.”
“Silakan. Begitu aku mati persembunyianmu akan terbongkar,” ucapnya dengan memamerkan senyum menawannya.
Eldrey memiringkan wajah sinis padanya. “Sungguh kau keparat tidak tahu diri Kevin.”
“Terima kasih,” lirihnya sambil membuka jaketnya.
“Turun dari ranjangku.”
“Aku akan tidur di sini.”
“Kembali ke sarangmu.”
“Ayo tidur bersama,” ajak Kevin sambil memukul-mukul pelan ranjang itu.
Eldrey memutar bola mata jengah menatap pemandangan di hadapannya.
“Kau benar-benar brengsek.”
“Benar, mungkin karena aku mulai menyukaimu,” sahut Kevin dengan senyum tipis di bibirnya.
__ADS_1