FORGIVE ME

FORGIVE ME
Terkejutnya dua gadis muda


__ADS_3

Akhirnya, mereka bertiga masuk ke dalam mobil Dean. Eldrey duduk di depan, sambil memasang earphone untuk mendengarkan lagu di ponsel agar tidak terganggu.


Berbeda dengan Dean dan Evan yang saling berbincang. Di pembicaraan ini, putra Kendal jadi tahu kalau pemuda itu ramah dan cukup blak-blakan. Senior yang menarik perhatian terlebih hidungnya menawan dan garis wajahnya rupawan.


Kakak adik yang seperti minyak dan batu jika dibandingkan. Harus diakui Dean sebagai laki-laki, kalau pesona Evan dan Eldrey memang membuat keduanya banyak diikuti mata yang kagum dengan visualnya.


Sepertinya, Dempster terlalu menang banyak dalam harta, tahta, rupa dan otaknya.


Tapi keadaan berbeda diperlihatkan di depan halaman rumah keluarga Kendal. Kevin mendecih saat mobil temannya datang untuk mengganggu rencananya.


“Mau apa kalian ke sini?” ia yang hampir masuk mobil, terpaksa membatalkannya.


“Tentu saja mengajakmu pergi. Aku sudah pasang janji dengan senior, ayo pergi,” ajak Steven tanpa basa-basi.


“Sepertinya Kevin sibuk,” timpal Henry yang memperhatikan dandanan temannya dari bawah ke atas.


“Ya aku sibuk. Jadi kalian saja yang pergi.”


“Hah? Memangnya kau mau ke mana?”


“Vila keluargaku. Jadi sorry, aku tidak bisa ikut,” Kevin lalu melambaikan tangannya dan membuka pintu mobilnya.


“Eh, tunggu Vin!” cegat Steven menahannya.


“Apa?”


“Vila? Apa itu berarti kamu akan ke sana sendirian?”


“Ya.”


“Ikut!”


“Tidak!”


“Boleh ya? Aku bosan.”


“Bukannya kalian sudah janjian dengan senior? Jangan aneh-aneh.”


“Cih, pelit!” timpal Henry.


“Iya! Padahal kita ini berteman, bagaimana bisa kau tidak mengajak kami untuk ikut bersenang-senang? Teman tidak berperasaan! Laki-laki egois!” cecar Steven.


Kevin benar-benar jenuh dibuatnya. Seharusnya tadi ia cepat-cepat pergi agar tidak berpapasan dengan mereka.


“Ya sudah. Boleh-boleh! Terserah kalian.”


“Benarkah?”


“Iya!” jengkelnya lalu menutup pintu mobil.


Steven pun langsung tertawa senang, “Ayo Hen, ikuti mobil rekan seperjuanganmu itu!”


“Dia juga rekanmu!” Henry pun menghidupkan mesin mobil Steven.


Ya begitulah mereka. Steven adalah tipe yang sangat pemalas melajukan kendaraannya. Jadi setiap bawa mobil, Henry dan Kevin pasti sering ditumbalkan untuk jadi supirnya.


Sementara Alice yang diajak Ramses, terkesiap melihat temannya itu datang menjemputnya dengan sosok tak terduga.


“Erin? Kamu juga ikut?”


“Ya. Lagi pula, sudah lama juga kita tidak berkumpul seperti ini kan?”


Seketika kecanggungan muncul di perasaan Alice. Erin, mantan pacar Dean sekaligus temannya juga turut hadir. Batinnya benar-benar tak menyangka dan membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Ini, akan menjadi perkumpulan di luar dugaan mengingat dua sosok yang dekat dengannya telah terpisahkan hubungan cintanya.


Hati Alice benar-benar tak karuan dibuatnya.


“Apa Eldrey benar-benar ikut?” tanya Erin memecah keheningan di dalam mobil.


“Ya. Dan Dean akan menjemputnya.”


Sontak saja kalimat itu menohok kedua gadis di sana.


“Eldrey, juga ikut?” Alice mengulangi pertanyaan temannya.


“Ya. Bukankah itu bagus? Setidaknya hubungan kalian mungkin akan membaik.” Ramses lalu fokus ke depan.


Seketika Alice mengernyitkan dahi bingung. Bertanya-tanya apakah Eldrey benar-benar akan ikut seperti kata Ramses. Kehadiran sosok itu benar-benar di luar dugaan, terlebih mengingat hubungannya dengan putri Dempster tidak baik-baik saja.


“Aku tidak menyangka, sepertinya dia dan Dean cukup dekat,” sela Erin tiba-tiba. Ramses melirik sosok di sampingnya, lalu menoleh pada Alice di belakang yang tak bersuara. “Apa kamu juga berpikiran seperti itu?” tanya Erin membalik badannya.


“Eh.”


“Tentang mereka yang dekat,” lagi-lagi Erin bersuara yang terasa menyudutkan bagi Alice.


“I-itu—”


“Apa mungkin mereka berpacaran?”


“Tidak,” jawab Ramses dan Alice secara bersamaan.


“Benarkah?” Erin agak kaget mendengar jawaban keduanya. “Lalu kenapa Dean memutuskan hubungan kami?” nada suaranya terdengar berbeda.


Ramses dan Alice tak mampu bersuara. Masing-masing sama-sama tenggelam dalam pikiran yang diyakini sebagai jawabannya.

__ADS_1


Ramses pun melirik Alice lewat kaca spion dan menghela napas pelan. “Entahlah. Jika kamu penasaran tanyakan saja. Tapi aku yakin jika Eldrey dan Dean hanya berteman.”


Erin mengatupkan bibirnya. Masih berpikir akan jawaban Ramses yang cukup masuk akal.


“Jadi, kamu dan Eldrey itu ada masalah apa?” gadis itu pun mengalihkan pembahasan pada Alice.


Sosok yang ditanya terkesiap, seperti ragu untuk menjawabnya. “Hanya masalah pribadi.”


Wajah Erin pun langsung berkerut bingung. “Apa aku tidak boleh tahu?”


“Maafkan aku Rin.”


“Oh,” Erin pun kembali menghadap ke depan.


Rasanya, sekarang suasana benar-benar canggung untuk ketiganya. Ramses bertanya-tanya apakah pilihannya dalam mengajak Erin ke vila keluarga Dean keputusan yang salah atau benar. Mengingat keduanya sudah menjadi mantan.


Setelah setengah jam lebih menempuh perjalanan, mobil Ramses sampai duluan di kawasan vila keluarga Kendal yang tak jauh dari tepi pantai.


Bangunan mewah yang jarang di datangi pemiliknya namun cukup sering dibersihkan pelayannya.


“Sepertinya mereka masih belum datang,” lirih Erin memperhatikan halaman depan di mana kendaraan mereka terparkir.


Dulu, saat dirinya dan Dean belum berpacaran, mereka termasuk Alice, Ramses, dan Sarah sering bermain ke sini. Menghabiskan waktu untuk bersenang-senang.


Tapi semenjak beberapa bulan yang lalu, mereka semua sudah jarang melakukan itu. Mengingat kesibukan dalam hal tertentu ataupun libur kuliah yang diisi aktivitas masing-masingnya.


Tak lama kemudian mobil Dean pun datang. Tentu saja sosok yang mengendarainya terkesiap karena ada seseorang yang tak diduga.


Erin, teman sekaligus mantan pacarnya. Kenapa dia juga di sini? Batinnya bertanya-tanya.


“Eldrey, Kak Evan,” sapa Alice tak menyangka sekaligus senang. “Kakak juga ikut?” ia lalu menghampirinya.


“Iya. Dean yang mengajakku,” jelas putra Dempster.


Sementara Erin, pandangannya yang bertemu dengan Dean terasa menggetarkan sesuatu di dada. Sesak dan rindu saling bertautan. Andai mantan pacarnya tahu kalau dia masih memendam perasaan bahkan jika pemutusan hubungan mereka bisa dibilang tidak baik.


“Eldrey,” Alice pun menyentuh lengannya. Sungguh ia sangat senang bisa bertemu dengan gadis yang merupakan sahabat terbaiknya.


Akan tetapi, lirikan mata dingin sekaligus pengabaian sebagai responsnya. Eldrey berlalu melewatinya.


Senyum kecut langsung tertera di bibir Alice dan disaksikan beberapa pasang mata.


“Pintunya, Dean!” sela Eldrey tiba-tiba membuyarkan suasana. Pemuda itu akhirnya mengikutinya dan membuka pintu memakai sidik jarinya.


Dan tanpa basa-basi, Eldrey langsung masuk duluan menaiki tangga ke lantai atas. Membuat orang-orang yang masih di depan pintu terbungkam olehnya.


Percayalah, beberapa pasang mata pasti bertanya-tanya yang jadi pemilik vila Dean atau Eldrey. Mengingat sang putri Dempster justru bersikap seperti bos di sana.


Lagi pula Dean juga tak begitu peduli, karena sepanjang dirinya mengenal Eldrey, gadis itu memang tak bisa diperkirakan sikapnya.


Lebih baik membiarkannya, mengingat jasa dari sosok putri Dempster sangat besar untuk dirinya dan Alice. Bahkan namanya juga merupakan keselamatan tersendiri bagi Dean untuk berhadapan dengan papanya.


“Jadi rencananya kita mau apa di sini?” Ramses memulai pembicaraan sambil membawa beberapa minuman kaleng dari dalam kulkas.


“Bakar-bakaran?” Erin terlihat semringah.


“Bakar apa? Bakar rumah,” Ramses pun tertawa lalu melempar minuman kaleng ke arah Evan dan Erin. “Bahkan makanan untuk dimasak pun tidak ada. Kau mengajak kami kemari tanpa persiapan?” tanyanya pada Dean.


“Aku akan ke supermarket.”


“Ya pergilah. Aku akan menunggu di sini,” Ramses terlihat tak berniat menemaninya. Sementara Erin, mulutnya entah kenapa terasa berat untuk menawarkan diri pergi bersamanya.


Lain halnya Alice. Dirinya diam dalam kecanggungan, takut Erin akan berprasangka yang tidak-tidak jika ia ikut bersama Dean.


Tapi tiba-tiba Eldrey turun sambil dihiasi tampang tak ramahnya.


“Eldrey?” panggil Erin.


Namun diabaikan oleh sang pemilik nama.


“Kamu mau ke mana?” tanya Ramses.


“Dapur.”


“Lapar? Tidak ada makanan di kulkas,” jelas Ramses sebelum Eldrey sempat mengarahkan kaki ke tempat tujuan. Dirinya pun berbalik dan memasang tampang masam ke arah Dean. “Cih.”


Orang-orang di sana terdiam mendengar decihannya.


“Aku akan ke supermarket. Apa kamu mau ikut?”


Putri Dempster pun melirik sekelilingnya. Tapi, begitu sorot matanya bertemu Evan ia langsung memamerkan tampang tidak suka.


“Ayo. Aku sudah lapar.”


Mereka cukup terkejut karena Eldrey menyetujui ajakan Dean.


“Aku ikut!” timpal Evan dan Erin secara bersamaan.


“Selamat malam!” kata selamat datang tiba-tiba muncul di depan pintu. “Eh,” Steven langsung menutup mulutnya karena di ruang tamu tampak ramai.


“Kalian,” Dean memandang tak percaya jika adik dan teman-temannya juga datang.


Begitu pula Henry. Matanya langsung tertuju pada sosok gadis yang menggetarkan hatinya. Bertanya-tanya ada acara apa malam ini di sini sampai bisa bertemu dengannya.


“Kombinasi macam apa ini?” gumam Kevin pelan yang hanya di dengar kedua temannya.

__ADS_1


“Kalian juga ke sini?”


“Ya. Lagi pula ini malam minggu kan? Kurasa Kakak takkan keberatan jika kami ikut serta,” balas Kevin dengan tatapan santai pada Dean.


Putra tertua Kendal hanya memutar bola mata malas sampai Eldrey merusak suasana mereka.


“Abaikan mereka. Aku lapar!” hardiknya melewati Dean.


Dengan helaan napas pelan putra pertama Kendal pun mengikutinya.


“Minggir! Kalian menghalangi jalanku!” perintahnya pada ketiga pemuda di depan pintu.


“Mau ke mana?” tanya Kevin.


“Bukan urusanmu,” Eldrey pun menerobos mereka. Akan tetapi, begitu sampai di depan pintu langkahnya malah tertahan.


“Rey? Ada apa?” tanya Dean bingung dan sudah berada di belakangnya.


Eldrey berbalik dan menatapnya dengan tampang meledek. Ia lalu mengangkat bahunya sekilas. “ Ini menarik.”


Selesai mengatakan itu dirinya melewati Dean dan duduk di sofa sebelah Ramses.


“Apa ini? Tidak jadi pergi?” tanya Ramses saat Eldrey merebut minuman kaleng di tangannya.


“Rey? Ada apa? Tidak jadi pergi?” tanya Dean yang mengundang tatapan bingung orang-orang sekitar.


Gadis itu kembali mengangkat bahu sekilas dengan senyuman aneh terpatri di bibir. Lalu meminum minuman kaleng Ramses tanpa peduli apakah itu bekasnya atau tidak.


Tentu saja orang-orang bingung dengan sikapnya. Terlebih, ada suara langkah dari high heels yang mulai mendekat ke pintu dan suara seseorang yang berbicara entah dengan siapa.


Beberapa penghuni di dalamnya, terkesiap karena kedatangan sosok tak disangka-sangka.


“Diana?!” pekik Dean kaget melihat gadis itu berdiri di depan pintu masuk.


“Dean!” jeritnya bahagia lalu memeluknya. Tentu saja pemandangan itu langsung membungkam beberapa pasang mata yang penasaran dengan sosoknya. “Ah, tunggu! Aku matikan dulu panggilan dari Paman,” sambil melepaskan pelukan.


“Halo Paman, aku sudah sampai di Vila,” dan lanjutan tertahan jeda, sepertinya Diana sedang mendengar balasan dari sosok paman yang disebutkannya. “Iya. Dean sudah menyambutku, kalau begitu sampai jumpa lagi Paman. Terima kasih sudah memberi tahuku,” ucapnya senang dan beberapa detik kemudian menyimpan ponselnya.


“Itu tadi ayahmu. Paman Kendal yang memberi tahuku kalau kamu di sini. Maaf sudah memberi kejutan seperti ini, tapi aku benar-benar merindukanmu,” ucapnya kembali memeluk Dean tanpa peduli jika ada banyak pasang mata yang menonton mereka.


Dan tentu saja dua sosok gadis muda yang mempunyai rasa tak terduga, hatinya menggeram sekaligus sesak dengan siaran langsung di depan mata. Siapa lagi kalau bukan Alice dan Erin yang mempunyai cerita bersama Dean.


“Ah, apa itu teman-temanmu? Halo?” sapanya lancang tanpa menunggu balasan Dean.


Rahang sang pemuda jelas menegang mendapati sosok paling tidak diharapkan muncul di vila. Dia tak bersuara dan membiarkan Diana berbicara karena pikirannya terlanjur kalut memikirkan Alice yang menonton ini semua.


“Siapa?” Erin akhirnya memecah suasana. Jujur dirinya sangat syok melihat gadis itu memeluk mantan pacarnya.


“Ah, halo. Mm ... aku Diana, tunangannya Dean. Salam kenal,” sambil tersenyum manis di hadapan mereka semua. “Eh, Kevin, halo,” ia pun melambaikan tangan ke arah putra kedua Kendal.


Sontak, hal itu menyentak hati dan pikiran mereka yang tak menyangka. Kalau tunangan Dean yang tak pernah diketahui sekarang muncul tiba-tiba.


Ramses terdiam. Menatap lekat sosok yang asing di depan matanya. Entah kenapa rasanya ia pernah melihat tunangan Dean itu walaupun dirinya tak yakin di mana.


“Tunangan Dean?” timpal Alice dengan nada suara yang jelas syok iramanya.


Diana menoleh dan menatap gadis yang berbicara. Wajahnya mengernyitkan bingung karena tak asing dengan sosok di depannya.


“Ah, apa kamu teman perempuan Dean? Aku pernah melihatmu di foto di kamarnya Dean.”


Lagi-lagi suasana dibuat panas oleh penjelasan Diana. Sementara Dean, masih tak bersuara karena tangannya terkepal begitu erat oleh sosok di sampingnya.


Akan tetapi, ada dua orang yang tak memperhatikan sang bintang utama.


Kevin dan Henry.


Kedua pemuda itu, fokusnya tak lepas dari sosok gadis muda yang tersenyum tak biasa. Sesekali meminum minuman kaleng milik Ramses di sebelahnya.


Eldrey, entah kenapa ia menyeringai tipis melihat itu semua.


“Apakah aku mengganggu kalian?” tanyanya bernada pelan. Padahal jelas-jelas Erin dan Alice masih syok dengan kehadirannya namun sepertinya ia tak peka. Pandangan Diana pun menyapu orang-orang yang masih belum menjawabnya.


Sampai akhirnya ia terbelalak mendapati penglihatannya bertemu dengan sosok paling menyebalkan di dalam vila itu.


“Kamu!” dirinya melotot pada gadis muda di sebelah Ramses. Spontan hal itu mengundang lirikan kaget dan heran dari mereka. “Kenapa kamu ada di sini?!”


“Bukan urusanmu,” Eldrey yang tersenyum tipis pun langsung menaruh minuman kaleng di tangan ke meja. Berdiri dari posisinya dan melirik Dean yang tak bersuara. “Ayo Dean, jangan lupa kalau banyak mulut yang harus diberi makan.”


“Apa maksudmu?!” Diana terlihat kesal saat melihat Eldrey mendekati tunangannya.


“Bukan urusanmu.”


“Tapi Dean itu tunanganku!” teriaknya yang memekakan telinga.


“Jangan berisik Diana,” Dean akhirnya bersuara.


“Tapi kenapa dia ada di sini?! Aku tidak menyukainya!” tunjuk Diana tiba-tiba ke arah wajah Eldrey.


Putri Dempster hanya tersenyum remeh. “Kalau begitu aku sendiri saja yang pergi. Silakan urus drama pertunanganmu. Kunci mobil dan uangnya, karena aku miskin jadi butuh traktiran,” sambil menyodorkan tangan meminta pada Dean.


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2