FORGIVE ME

FORGIVE ME
Larangan Dean


__ADS_3

Evan terdiam, saat langkahnya dihadang sosok cantik yang sempat bekerja di toko rotinya. Siapa lagi dia kalau bukan Alice.


Rambut tergerai panjangnya, mata rusa indahnya, dan dress floral yang ia sukai benar-benar memperindah porsi tubuhnya.


“Kakak.” Evan hanya mengukir senyum padanya. “Kudengar dari Kevin, Eldrey sudah kembali.”


“Ya.”


“Itu, apa aku bisa menemuinya?”


Ekspresi Evan agak canggung. Apa yang harus ia katakan? Dirinya sudah mendengar cerita dari ibunya kalau sosok sang adik membenci Alice. Haruskah mereka dipertemukan? Ia benar-benar tak bisa memastikan keputusannya.


“Kak?”


Lamunan beberapa detik Evan tersadar. “Itu, apa kamu bisa menemuinya lain kali?”


“Kenapa?”


“Karena Eldrey masih beristirahat dan tak bisa diganggu. Aku sendiri bahkan masih belum bisa menemuinya.”


“Begitu?” raut wajah Alice jelas menyiratkan kekecewaan.


“Tenang saja. Nanti kamu pasti bisa menemuinya,” sambil mengelus lembut kepalanya.


Perlahan, Alice mengangkat wajahnya dan melebarkan senyum pada pemuda itu.


Akan tetapi, “hah!” Alice tersentak kaget, saat tangan Evan yang mengelusnya ditahan Dean. “Dean?”


“Maaf, bisakah kakak tidak menyentuhnya?”


Evan hanya tersenyum, dan menarik tangannya agar terlepas dari cengkeraman Dean. “Kalau begitu Alice, aku pulang dulu,” pamit Evan sambil menyentuh bahu Dean.


“Dean! Apa yang kamu lakukan?!”


“Apa? Aku hanya tidak suka melihatmu dekat-dekat dengannya,” dengan tampang cool arogannya.


“Bisakah kamu tidak mengatakan itu? Kita di kampus Evan. Kalau orang-orang tahu hubungan kita, itu hanya—”


“Kamu tidak suka?” potong Dean.


“Bukan begitu.”


“Aku sudah membiarkanmu dekat dengan Ramses, ada batasan dalam menguji kesabaranku,” tegas pemuda itu sambil menarik tangannya.


“Dean!”


Tapi, bantahan gadis itu tak berlaku apa pun padanya. Sungguh Dean sedikit jengkel, mengingat ada banyak serigala mendekati wanita pujaannya. Bahkan itu termasuk adiknya yang memang bertipe serigala berbulu domba.


Langkah keduanya ditatap diam oleh Kevin dan Ramses yang sama-sama berada di tempat berbeda. Lirikan keduanya mengikuti laki-laki dan wanita itu sampai tak lagi terlihat oleh mata.


Di tempat yang berbeda, sepulang kuliah, sosok pengemudi berwajah pemalu memantapkan laju mobil ke kediaman Dempster. Entah sudah berapa kali ia ke sana dan selalu ditolak kehadirannya.


Siapa lagi kalau bukan Henry. Sang pemuda muka tomat bermental ksatria dengan langkah pasti turun dari mobil begitu tiba di sana. Masih sama, sebuket Forget Me Not tetap selalu menjadi buah tangannya.


Dan kali ini, sambutan justru tampak hangat dibanding biasanya. Raeliana Jin, wanita yang merupakan ibu kandung Eldrey mengukir senyum ramah begitu menyadari kedatangannya.


“Selamat datang.”


“Selamat sore Nyonya,” sapa Henry sopan sambil membungkuk.


“Selamat sore Henry. Silakan duduk.”


Dia menyetujuinya. Mengikuti langkah bu Anna ke sofa ruang tamu. Sejenak, pemuda itu tertegun akan pesona wanita di hadapannya. Cantik, blasteran, dirinya sempat terlena jika bukan karena dikejutkan oleh kedatangan pelayan.


“Nak?”


“I-iya Bu,” Henry tampak gelagapan. Hampir saja. Hampir saja dia menggali kuburan karena terpana akan kilau mantan istri Presdir Betrand.


“Apakah tidak berat?”


“Berat? Berat apanya Nyonya?” sang pemuda tampak bingung.


Bu Anna tersenyum. “Mendatangi tempat ini dan ditolak oleh Betrand.”


Henry terkesiap. Ditatapnya bunga di tangan, “beliau pasti punya alasan, tapi setidaknya hadiah dariku masih diterima dengan tangan terbuka,” ucapnya dengan polosnya.


Bu Anna tertunduk sejenak. Anak di hadapannya begitu baik di mata. “Apa kamu ingin menemui Eldrey?”


“Tidak, aku hanya ingin memberikan bunga ini saja,” sambil menyodorkan pada Bu Anna.


“Henry.”


“Ya Nyonya?”


“Apa kamu menyukai putriku?”


Henry terdiam. Pertanyaan tiba-tiba itu, justru perlahan membuat mukanya memerah sampai ke telinga. Bu Anna tertawa pelan melihat respons manis anak muda itu. Laki-laki yang ditanya, menutup separuh wajahnya dengan punggung tangan kanannya.


“Kamu tidak perlu malu. Jika kamu ingin menemuinya ibu akan mengizinkannya.”


Henry tak menjawab. Beberapa saat kemudian, “kupikir aku belum pantas untuk menemuinya.”


“Kenapa?”


“Karena aku tak yakin bagaimana perasaanku saat menemuinya. Aku takut jika kehadiranku hanya akan memperburuk suasana hatinya.”


Bu Anna terdiam. Sedikit banyaknya kalimat itu mengusik sudut hatinya. Tapi, senyum tetap ditorehkan pada pemuda polos di depannya.


“Begitu?”

__ADS_1


“Ya. Kalau begitu, aku pulang dulu, terima kasih banyak Nyonya,” pamitnya hendak berdiri.


“Henry.”


“Ya?”


“Kamu belum meminum minumanmu,” sela Bu Anna.


Henry tersentak. Dengan senyum malu-malunya diminum apa yang tersaji di depannya dalam sekali teguk.


“Terima kasih banyak Bu, kalau begitu aku pulang dulu,” pamitnya sekali lagi dengan benar. Dirinya menepuk-nepuk pipinya karena sudah tampak memalukan di hadapan wanita itu.


Sementara Bu Anna, tak henti-hentinya tersenyum melihat keluguan anak muda tadi. Ditatapnya bunga biru itu, sungguh indah dan miris.


Entah karena memang pesona biru cantiknya atau karena arti di dalamnya, batinnya serasa ditusuk saat mengingat kenyataan tak ada satu pun yang ia tahu tentang bunga kesukaan putrinya. Tak hanya dirinya, bahkan itu juga berlaku untuk Betrand ataupun pelayannya.


Seolah, bisikan karma memang menyelimuti pemikirannya. Menyadarkan mereka, kalau pernikahan tak direstuinya, telah membuatnya bersalah besar sehingga putri kecil itu harus menjadi korban tanpa tahu apa-apa.


Malam harinya dengan ditemani Charlie, Bu Anna pun masuk ke kamar Eldrey sambil membawa bunga pemberian Henry.


Entah sudah berapa banyak bunga itu terpajang di kamarnya. Bukan hanya pemberian Henry, bahkan Forget Me Not yang disiapkan presdir Betrand untuk putrinya juga ada. Seolah tak ingin kalah dari bocah yang tahu lebih awal tentang bunga kesukaan putrinya.


Masih sama, posisi Eldrey masih sama. Tak beranjak dari sofa dan tetap menatap balkon seperti biasa. Seakan menganggap orang yang datang dan berbicara tak ubahnya makhluk astral.


Bu Anna tersenyum miris. Menaruh bunga itu di ranjang sambil berjalan mendekati putrinya. Charlie hanya diam memandang mereka, berjaga bila seandainya sesuatu yang tak diharapkan terjadi tiba-tiba.


“Eldrey,” panggil Bu Anna menyentuh lembut kepala putrinya. Ditatapnya makanan yang tidak tersentuh sama sekali. “Apa kamu lapar Nak?”


Tak ada jawaban. Menoleh pun tidak, layaknya manekin yang sesekali berkedip tak berarti.


Mata Bu Anna perlahan berkaca-kaca, namun tetap ia teguhkan pendiriannya. “Ibu akan minta Bibi membawakan makanan baru. Ibu mohon, dua suap pun tak masalah setidaknya kamu makan ya,” sahutnya penuh harap.


Respons yang tak kunjung ia dapatkan seolah menusuk keberadaannya. “Ibu keluar dulu, nanti ibu akan kembali,” lirih Bu Anna sambil mengecup pelan kepala putrinya.


Bayangkan saja, sekembalinya dari kota kelahiran Tuan Kendal, gadis itu sedikit pun tak bicara. Hari-harinya masih tetap sama seperti biasa.


Esoknya, hari libur bagi para mahasiswa. Tentu saja itu juga berlaku untuk Evan. Dirinya, sekarang sudah berdiri di depan pintu kamar adiknya. Memegang gagang pintu dengan keraguan untuk masuk ke dalamnya.


“Ada apa?” sela Charlie tiba-tiba yang entah muncul dari mana.


“Itu,” Evan tampak memikirkan sesuatu.


“Apa?”


“Apa yang harus kulakukan agar Eldrey mau berbicara?”


“Entahlah, aku juga tidak tahu. Yah, walaupun ini hal yang biasa.”


“Apa maksudmu?”


“Dia tak sekali dua kali seperti ini kan? Dulu kalau kumat dia juga begini. Bahkan ada masa dia tak bersuara sebulan lamanya.”


“Walau masih bocah, kau tak lupa insiden penculikan itu kan? Dia kan juga begini saat itu.”


Evan tersentak. Kata penculikan serasa tabu di pendengarannya. Saat kelam di mana sosok adiknya sudah tampak sekarat ketika ditemukan mereka. Tangannya tiba-tiba terkepal tanpa ia sadari.


Dan akhirnya, ponselnya tiba-tiba berdering. Evan terdiam cukup lama saat menyadari siapa yang menghubunginya.


“Kenapa tidak diangkat?” tanya Bu Anna yang muncul membawa makanan. “Siapa Nak?”


“Alice.”


Bu Anna terdiam. Dirinya tampak berpikir, mengingat kalimat Kevin yang pernah terucapkan.


“Biar ibu yang angkat.”


Evan pun menyodorkan ponselnya.


“Selamat pagi kak Evan.”


“Selamat pagi Alice.”


“Bu Anna, kupikir Ibu kak Evan.”


Bu Anna mengukir senyum yang takkan terlihat gadis itu.


“Ada apa Nak? Kamu menghubungi pagi-pagi begini.”


“I-itu, karena hari libur apa aku boleh pergi menemui Eldrey? Aku hanya ingin melihat keadaannya,” dengan nada sedih.


Bu Anna terdiam. Raut wajahnya menyiratkan sesuatu, terasa berat untuk mengeluarkan suara.


“Bu?” panggil Alice.


“Baiklah,” setujunya.


“Benarkah?”


“Ya Alice. Bukankah kamu temannya? Sudah sewajarnya kamu bisa menemuinya,” ucap Bu Anna dengan nada ramah.


“Terima kasih Bu,” sahut Alice dengan nada senang.


“Ibu? Ibu tahukan kalau Eldrey tidak menyukai Alice?” sela Evan tiba-tiba. Untung saja panggilan telepon sudah terputus sehingga gadis itu takkan mendengarkan kalimatnya.


“Nak, bagaimanapun Alice teman Eldrey. Bukankah kita tak boleh memutus hubungan mereka?”


“Kalau seandainya terjadi apa-apa bagaimana?”


“Setidaknya mungkin saja Nona mau bersuara begitu melihat tampangnya,” seringai tipis Charlie.

__ADS_1


Evan menatap masam pria menyebalkan itu karena dia sangat menjengkelkan.


Sekitar pukul 10.00, entah angin apa yang menerpa Eldrey gadis itu tiba-tiba keluar kamarnya sambil menuruni tangga. Pelayan yang menyadarinya tersentak kaget dan segera menghubungi pelayan lain di rumah utama.


Dirinya, menyusuri langkah keluar pintu belakang dan menatap kolam renang yang terbentang luas di hadapannya.


Menginjak tepian basah yang membuat beberapa pasang mata mengawasinya. Charlie terdiam di lantai dua bangunan utama. Dirinya yang sedang memeriksa laporan penjualan senjata ilegal memerhatikan sosok itu tanpa henti.


Sementara, di bangunan utama bu Anna terdiam begitu menyadari kedatangan Alice dengan Ramses.


“Alice?”


“Ibu,” sapa Alice dengan nada senang. Dirinya bahkan memeluk bu Anna dengan ramahnya.


Evan terdiam, terlebih melihat bingkisan bawaan besar di tangan Alice.


“Ini,” lirih Bu Anna menatap apa yang ada di tangan gadis itu.


“Ini makanan Bu. Ini ayam goreng dari ibuku untuk Eldrey,” sambil tersenyum.


Bu Anna, Evan dan beberapa pelayan berekspresi miris. Bagaimana tidak, gadis itu begitu polos ekspresinya, menandakan ketulusan di setiap kata terlontarnya. Akan tetapi, sosok yang ingin ditemui jelas menyiratkan kebencian padanya.


Jika tidak, Eldrey takkan kabur di hari kedatangannya. Tiba-tiba, salah seorang pelayan mendatangi Bu Anna dan berbisik padanya.


“Benarkah?!”


“Ya Nyonya,” angguk pelayan itu.


“Bu? Ada apa?” tanya Evan.


“Eldrey, dia keluar dari kamarnya.”


“Maksud Ibu?” raut Alice berubah mendengarnya. Kembali mengingat kepergian Eldrey saat kedatangannya.


“Bukan apa-apa, dia hanya jalan-jalan di tepi kolam,” jelas Bu Anna tersenyum.


“A-apa aku boleh langsung melihatnya?”


“Ya.”


Mereka pun bersama-sama berjalan ke bagian belakang di mana di sambut pemandangan kolam renang besar. Pesona air mancung di tengah-tengah yang mengelilingi tiang raksasa benar-benar luar biasa megahnya.


Alice terdiam. Tak menyangka, kalau sahabatnya ternyata anak dari orang yang sangat kaya. Bahkan rumahnya tak bisa dibandingkan dengan kemewahan dapur milik keluarga itu.


Tapi pemikiran iri atau sejenisnya ditepis Alice karena ia ingin menemui Eldrey. Sahabat sekaligus orang yang sangat berarti baginya. Sungguh waktu bersama yang mereka habiskan bukan sekadar permainan semata.


Alice menyayangi Eldrey yang sudah seperti adik baginya, dan sosok penolong di saat ia tak bisa apa-apa. Bantuan waktu dan finansial yang diberikan Eldrey jelas bukan omong kosong belaka.


Dirinya dan ibunya, sudah menyayangi Eldrey seperti keluarga, karena itu ia tak bisa menyerah begitu saja.


Langkah mereka terhenti, saat menyadari sosok Eldrey berdiri diam menatap kedalaman kolam renang.


“Eldrey,” gumam Alice. Diliriknya teras bangunan yang akan menyatukan langkahnya ke tempat Eldrey. Disusurinya sambil diiringi Bu Anna.


Entah kenapa, pijakan Evan dan Ramses tertahan di sana, seolah tak ingin terlibat urusan wanita.


Charlie terperanjat, begitu menyadari kalau Alice sudah datang. “Afro,” panggilnya.


“Ya Tuan?”


“Bisakah kamu turun ke bawah dan awasi Nona?”


“Ke bawah?” dirinya lalu berdiri dan ikut menatap sumber yang dilihat Charlie.


“Gadis itu.”


“Cepatlah, jangan sampai Nona membantainya karena emosi.”


“Baik!” laki-laki itu segera pergi dari ruang kerja Charlie dan membiarkan dokumen-dokumen yang ia kerjakan berserakan begitu saja. Tapi, saat langkahnya tiba ia dikejutkan oleh kemunculan Kevin.


“Anda.”


“Apa—”


“Jika ingin menemui Nona dia di kolam!” ucapnya terburu-buru lari.


Kevin terkesiap melihat sikapnya. Tentu saja tanpa pikir panjang diikutinya langkah Afro yang merupakan supir Eldrey sekaligus bawahan Charlie.


Hening. Pemandangan pijakan Eldrey yang didekati Bu Anna dan Alice jelas menyiratkan kecemasan. Takut-takut kalau gadis itu akan mengeluarkan bela dirinya pada dua wanita di belakangnya.


Karena beberapa pasang mata tahu kalau Eldrey gadis impulsif dan takkan pandang bulu dalam menyiksa siapa pun.


“Eldrey,” panggil Alice pelan.


Tak ada sahutan. Meliriknya pun juga tidak.


“Maafkan aku,” ucap Alice dengan nada bergetar.


Masih sama, tatapan ke kedalaman kolam masih menahan pandangan Eldrey.


“Aku benar-benar tak bermaksud apa pun. Aku, tak tahu jika semua tindakanku akan membuatmu semarah ini, tapi aku mohon Rey, jangan seperti ini. Bagaimanapun kamu temanku Rey, aku tak ingin kehilanganmu.”


Alice terisak, tak sanggup menahan perasaannya. Begitu pula Bu Anna.


Sementara Ramses dan Evan dikejutkan oleh kehadiran Kevin yang tiba-tiba.


“Kamu, kenapa kamu di sini?” tanya Ramses padanya namun tak diacuhkan.


Sosok adik Dean justru lebih fokus menatap Eldrey yang berdiri tenang. Rambut coklat basah gadis itu, tampak berkilau diterpa cahaya matahari.

__ADS_1


“Eldrey,” panggil Alice hendak menyentuhnya. Namun tangannya tertahan oleh Bu Anna sambil menggelengkan kepala. Sampai akhirnya gadis yang tadi dipanggil menoleh dengan perlahan sambil melirik dingin sosok di belakangnya.


__ADS_2