FORGIVE ME

FORGIVE ME
Kepergian


__ADS_3

Dalam waktu yang terus bergulir, pemulihan Eldrey pun akan dipindahkan ke rumah. Sekretaris Roma sedang mengurus surat-suratnya.


Dan sekarang, dua orang pria berjalan pasti menuju ruangannya.


“Selamat datang, Tuan.”


“Ini kamar, Eldrey kan?”


“Benar.”


Pria yang bertanya membuka pintu begitu saja, sementara sosok di sebelahnya serta bawahan sekretaris Roma tetap di luar untuk berjaga.


“Kudengar kau sudah sadar. Jadi, bagaimana kondisimu?” Bill pun mendekatinya.


Akan tetapi, Eldrey hanya diam. Menatap lekat sosoknya, tanpa memamerkan niat untuk membalas ucapannya.


“Kenapa kamu diam saja? Kamu tidak bisu kan?” dan tangannya pun mencengkeram pipi keponakannya. Perlahan, sebuah tawa berkumandang di bibirnya. “Apa ini? Apa ibuku masih waras untuk menggunakanmu sebagai jodoh keluarga Jackson? Padahal putriku, jauh lebih pantas untuk itu.”


Dan sentuhan di pipi Eldrey pun perlahan dilepaskan. Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka yang menampilkan sosok Sekretaris Roma.


“Kau!”


“Selamat siang, Tuan. Suatu kehormatan bisa bertemu anda di sini.”


Tapi, hanya sorot mata tajam yang dipamerkan Bill kepadanya. “Jangan kira kalau aku sudah melupakan apa yang kau perbuat pada Perusahaanku,” tekannya dan pergi dari sana.


Tampaknya, kakak dari Presdir Betrand masih belum bisa memaafkan Sekretaris Roma atas keputusannya yang menarik saham tiba-tiba. Padahal itu semua, merupakan perintah Eldrey karena ingin menarik keluar musuh-musuh ayahnya.


“Nona, anda baik-baik saja?”


Namun Eldrey hanya membalas pertanyaannya sambil mengedarkan pandangan ke langit-langit ruangan. Membuat laki-laki itu merasa kecut hatinya karena terabaikan.


“Mulai besok, pemulihan anda sudah bisa dilakukan di rumah. Jadi sekarang istirahatlah,” Sekretaris Roma pun undur diri dari hadapannya.


Seperti ucapannya, esok harinya Eldrey sudah bisa pulang. Tapi, alat-alat untuk menunjang kondisinya masih terpasang. Atas permintaan Betrand, dia ingin putrinya sembuh total seperti sedia kala.


Namun miris karena suara tetap enggan keluar. Dokter Arlene pun datang mengajaknya bicara namun tak ada tanggapan. Respons fisiknya ada tapi tidak dengan irama dari mulutnya.


Padahal pita suaranya tidak rusak tapi kenapa putri Dempster enggan berbicara?


Dan akhirnya, Nyonya Camila datang lagi dengan angkuhnya. Membuat Raelianna terkesiap akan bawaan yang diangkut bersamanya.

__ADS_1


“I-ibu—”


“Aku bukan ibumu! Ingat itu!” hardiknya tiba-tiba.


Rasanya, kesadaran mantan menantunya seperti ditendang dengan kejam. Bibir bawah digigit perlahan dan sakit di hati ia coba tenangkan. Langkahnya, mengiringi Ibu dari Betrand menuju kamar Eldrey yang ingin ditemuinya.


“Sayang, kamu sudah istirahat di sini? Jadi, bagaimana kondisimu sekarang?”


Detik-detik berlalu tenang. Keriput di rahang menegas karena sosoknya diacuhkan. Sampai akhirnya, Nyonya Camila pun menoleh pada Anna yang berdiri di belakang.


“Sebenarnya, apa yang terjadi pada cucuku?!” hardiknya. “Kenapa dia diam saja?! Sejak aku menjenguknya di rumah sakit, dirinya tidak bersuara. Apa dia tidak bisa bicara?! Kau kan ibunya, apa saja yang kau lakukan?!”


Amarah Nyonya Camila jelas-jelas mengundang kehadiran pelayan. Tapi mereka tak sanggup untuk masuk ke kamar, karena suasana di dalam memberikan batasan.


“I-ibu—”


“Aku tidak butuh tangisanmu! Sejak kau masuk ke keluarga ini, hidup putraku pasti jadi sulit! Apa kau lupa?! Gara-gara kau Betrand sampai kehilangan hak warisnya! Gara-gara kau juga, Eldrey sampai diculik dan disiksa! Gara-gara kau juga, aku jadi tidak bisa bertemu dengan Evan. Dan sekarang gara-gara kau juga, putraku tertembak di depan tokomu yang tidak berguna! Dan gara-gara kau juga, cucuku terluka lalu tidak bisa bicara! Kau sumber masalah, Anna! Kau pembawa sial! Seharusnya kau mati saja jika kau memang ingin keluargaku bahagia!”


Terbungkam.


Semua dibuat terdiam. Ketakutan menjalar pada diri mereka yang menyaksikan, akan pecahan kaca dari gelas di nakas, karena telah menyapa dinding di pinggiran.


“E-Eldrey,” kaget Raelianna.


“Keluar.”


“Nak, Nenek datang karena ing—”


“Keluar.”


Nyonya Camila terkesiap.


“Aku bilang keluar!” usir keras Eldrey akhirnya. Benar-benar teriakan lantang yang mengejutkan.


Dokter Arlene yang baru datang sampai terkejut karena suara barusan. “A-apa yang—”


“Kalian tuli? Aku bilang keluar!” deru napasnya memburu keadaan.


Dan atas permintaan sang Dokter, mereka semua pergi dari kamar gadis itu. Ini cukup mengejutkan, karena Eldrey akhirnya bersuara walau amarah yang ia lontarkan.


“Saya mohon dengan sangat, Nyonya. Tolong jangan bebani kondisi Nona. Karena bagaimanapun juga, tindakan barusan bisa memicu terbuka lagi jejak jahitannya,” Dokter Arlene memperingatkan. Mengingat Eldrey, telah melakukan gerakan tak terduga seperti melempar gelas ke dinding di hadapan.      

__ADS_1


Pernyataan itu tentu saja memberikan beban mental tersendiri bagi Bu Anna. Terlebih, akhirnya ia kembali mendengar cacian sang mantan ibu mertua.


Haruskan ia dihina seperti itu? Bahkan dirinya tak tahu apa-apa akan kejadian yang menimpa putrinya. Tapi, semua kesalahan dilimpahkan kepadanya. Seolah label pembawa sial memang pantas disandang oleh sosoknya.


Eldrey tak bisa tidur. Langit telah memperlihatkan nuansa malam, walau nyatanya dunia sedang menampilkan pukul 02.13 pagi di daerah kekuasaan. Tapi, memang kesialan bagi sang perempuan sebab kantuk enggan datang menyerang.


Dan suara helaan napas kasar pun ia semburkan sambil menatap sekelilingnya. Perlahan dirinya bangkit, terdiam sejenak melihat jarum infus yang tertanam di punggung tangan. Luka di perut berbisik mencekam, mencoba menyadarkan kalau beragam gerakan hanya akan mempersulit keadaan.


Tapi, memang Eldrey namanya karena sosoknya suka menantang. Tanpa pengalaman apa pun di bidang kedokteran, ia cabut jarum infus di tangan. Nyeri tentu saja. Ada darah mengalir di sana namun ditatap dengan tenang.


Langkahnya berjalan pelan, sensasi sakit menemani jejak jahitan, tapi tetap ia abaikan.


Hening menemani sepanjang jalan.


Lampu terang di rumah kiri, namun pengawal sedang merebahkan diri. Terlihat istirahat karena kelelahan. Dan Eldrey tetap diam memandangi keadaan.


Tanpa di duga, ia memandangi kamera CCTV. Dengan mengibarkan seringai tipis di bibirnya, sebuah pemikiran aneh tercetus di otaknya. Entah apa yang ada di bayangannya, kakinya pun mendekat dan wajahnya tetap menatap lekat.


Sampai akhirnya, bibirnya bergerak menampilkan kata tak bersuara pada tangkapan lensa kamera CCTV.


“Apa maksudmu?!” pekik Charlie tiba-tiba.


Laporan menghebohkan kembali terjadi di pagi hari. Berita lenyapnya Eldrey, sungguh mengundang sensasi. Lagi-lagi, ibunya menangis keras. Merasa bersalah atas apa yang terjadi. Mencoba yakin kalau ini semua, memang karena ulahnya.


Mungkin saja putri Dempster dari awal tak pernah setuju akan kehadirannya.


“Biarkan aku sendiri, Dempster.” Afro pun menoleh pada Sekretaris Roma yang berdiri di belakangnya.


“Apa kau yakin itu yang diucapkan Nona?”


“Ya, aku yakin. Jika anda tak percaya silakan pastikan sendiri,” sahut bawahan Charlie itu. Sosoknya, kembali memperhatikan tangkapan di CCTV di mana wajah Eldrey menatap tepat ke arah sana.


Menggerakkan bibir dan memberi tanda kalau ia tak ingin lagi berada dengan orang-orang di sekelilingnya.


“Padahal dia masih terluka, bagaimana bisa dirinya begitu keras kepala?!” umpat Charlie. Sungguh rasanya ia begitu emosi, mengingat masalah sering terjadi akhir-akhir ini. Dan semua di dominasi oleh sang putri.


 


NOTE : Maaf semuanya. Jujur aku terkena writer’s block. Jadi, maafkan aku jika kalian merasa alurnya berjalan sangat pelan dan mungkin saja membosankan. Aku akan berusaha yang terbaik untuk update setiap hari, dan semoga karya ini tidak berakhir dengan sangat menyedihkan. Terima kasih semuanya karena sudah mendukungku sampai ke titik ini. Bab selanjutnya akan membuka tabir misteri, semoga kalian terhibur, makasih :)


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2