FORGIVE ME

FORGIVE ME
Diabaikan


__ADS_3

“Aduh, bagaimana ini? Padahal aku ada janji untuk bertemu calon mertuaku,” keluh Fiona setelah dari tadi sibuk memainkan ponselnya.


“Mertua?”


“Orang tua pacarku,” jawabnya tanpa basa-basi. Benar-benar risih tampangnya. Ia terlihat tak tenang dan seperti cacing kepanasan. “Apa aku pergi saja ya? Bagaimana menurutmu?”


Eldrey malah menyipitkan matanya. “Maka Nyonya Nera akan mengamuk nantinya.”


“Ah,” Fiona pun teringat sosok mengerikan ibunya. “Benar juga.”


Sementara Kevin yang sudah selesai bersiap-siap dan akan bertemu temannya, terdiam saat menuruni tangga.


“Jadi beritanya benar? Kalau putra keluarga Jackson akan melakukan perjodohan dengan putri keluarga Dempster?”


Pertanyaan dari salah seorang tamu Nyonya Julia pun berhasil mengundang tatapan aneh putra Cesar.


“I-itu—”


“Aku dengar sendiri lho, dari Nyonya Jackson. Katanya dia akan menjodohkan putranya dengan putrimu, Nyonya Anna. Bahkan keluarga Gates sudah menyetujuinya.”


Ucapan itu lagi-lagi memotong kalimat ibunya Eldrey. Tentunya Raelianna Jin terkejut mendengarnya. Walau ia tahu pembicaraan itu sudah dilayangkan mertuanya tapi belum ada kata setuju mengingat putrinya masih belum mengetahuinya.


Sekarang, ia berharap Eldrey tidak kembali ke ruang tamu bersama Fiona.


Akan lebih baik jika para wanita konglomerat itu tidak mencecar putrinya dengan beragam pertanyaan.


Mengingat kepribadian Eldrey, bisa saja dia marah karena kehidupannya sudah diatur tanpa izinnya.


Bagaimanapun juga, memang belum ada yang setuju dengan rencana perjodohan ini. Mengingat Betrand lebih suka anak-anaknya menikmati masa muda dulu seperti belia normal lainnya.


Tapi di satu sisi, Kevin memandang dingin pertemuan berisik itu dari kejauhan. Berlalu menuju belakang karena enggan lewat depan.


Dan di sinilah dirinya. Menatap Eldrey dan Fiona di gazebo.


“Eldrey, apa kamu mau membantuku?” tanya Fiona tiba-tiba.


“Bantu apa?”


“Kita pergi keluar. T-tapi—” lanjutannya pun tertahan jeda. “Setelah itu aku ketemu pacarku,” ucapnya dengan volume yang kian mengecil.


Tiba-tiba Eldrey pun menyeringai tipis.


“Oh, jadi kakak ingin memakaiku sebagai tumbal ya?”


Fiona tersentak. Tak menyangka kalimat seperti itu akan keluar dari putri Dempster.


“Bukan! Maksudku bukan begitu. A-aku cuma ingin minta bantuan padamu,” sahutnya kelabakan.


“Bukankah sama saja? Baiklah. Lagi pula aku juga jengah dengan pertemuan ini. Ayo pesan taxi,” ajaknya.


Tentunya kakak Ramses itu terkejut mendengarnya. Tapi ia pun mengangguk senang karena rencananya pergi dari sana bisa terlaksana. Setidaknya dirinya punya alasan pada ibunya kalau ia pergi jalan-jalan dengan Eldrey.

__ADS_1


“Halo.”


Keduanya pun menoleh pada sosok yang menyapa.


“Kevin? Mau ke mana? Tampan sekali,” kakak Ramses tampaknya tak ragu menyanjung laki-laki lain.


“Mau keluar sebentar.”


“Eh, ke mana? Aku dan Eldrey boleh menumpang tidak? Cuma sampai taman,” bahkan mulutnya juga ringan dalam meminta bantuan.


“Oh boleh. Kebetulan aku juga lewat sana,” senyum ramah bak anak muda yang patuh juga penuh hormat tercetus di bibirnya.


Tentunya Eldrey diam saja. Walau ia merasa aneh kenapa anak itu seperti tidak mengenalinya namun dirinya tak bersuara.


“Oh ya. Kamu mau ke mana? Karena aku akan bertemu mertuaku,” ucap Fiona sambil dihiasi tampang sungkan.


“Pulang.”


“Ibumu takkan marahkan kalau kamu pulang duluan?”


“Tidak,” jawab Eldrey singkat sambil memainkan ponselnya. Tampaknya ia sedang mengirim pesan pada Raelianna kalau dirinya keluar bersama Fiona.


“Maaf ya Eldrey, gara-gara membantuku kamu jadi ikutan pergi.”


“Tak masalah. Aku juga jengah,” benar-benar tanpa basa-basi.


“Kalau begitu biar kupesankan taxi untukmu pulang.”


“Eh, benarkah? Bukankah kamu ada keperluan?” Fiona menimpalinya karena merasa tak enak sudah merepotkan.


“Tidak apa-apa, Kak. Lagi pula bisa kuundur sebentar. Tidak mungkin kan kubiarkan seorang perempuan pulang sendirian?” nadanya seperti seorang gentleman tapi ia malah cengengesan. Benar-benar mirip bocah di mata putri Dempster.


Mereka pun sampai di taman yang dituju Fiona. Dan Kevin pun meminta Eldrey pindah duduk ke depan. Karena tak nyaman rasanya seolah ia seorang supir.


“Bukankah kamu memang supir,” gadis itu benar-benar tidak berperasaan. Padahal pemuda di sampingnya sudah berbaik hati memberi tumpangan.


Sekarang, tak ada yang berbicara. Eldrey sibuk memainkan ponselnya. Menonton sebuah film tanpa memakai volume suara.


Bayangkan saja bagaimana perasaan Kevin yang merupakan mantannya, duduk di sampingnya dan fokus melajukan mobil.


Beberapa saat kemudian, Eldrey pun melirik ke sekelilingnya. Mengernyitkan wajah bingung karena merasa aneh dengan sekitar.


“Ini, di mana? Kita masih belum sampai?”


Tapi, tak ada jawaban dari laki-laki itu. Semakin membuat putri Dempster heran.


“Perasaanku saja atau ini memang bukan jalan ke rumahku?”


Lagi-lagi Kevin mengabaikannya. Tentunya rasa jengkel menyeruak di hati sosok penanya.


“Apa kau tuli? Aku bertanya padamu.”

__ADS_1


Parahnya lagi, dia seperti bayang-bayang. Dan Eldrey yang kesal pun langsung membuka pintu mobil padahal kendaraan masih berjalan.


“Kevin!” hardiknya akhirnya karena pintu terkunci.


Tapi apa yang ia dapatkan? Sedikit pun putra Cesar tak menoleh padanya. Dan tanpa keraguan ia sambar stir kemudi.


Mengejutkan Kevin sehingga langsung menginjak pedal rem agar berhenti.


“Kamu mau kita mati?!”


“Oh, matamu masih normal, bisa lihat aku kan?” seringainya menatap wajah pias sang pemuda.


Laki-laki itu pun menghela napas kasar. Tiba-tiba ia keluar dari mobil dan membuat heran putri Dempster.


Tentunya Eldrey mengikuti gerakannya. Walau sebenarnya ia ingin melarikan kendaraan itu tapi sayang kunci di tangan adiknya Dean.


“Kevin, ada apa denganmu? Tidak jadi mengantarku pulang?” tanyanya dengan nada sedikit berteriak.


Sungguh laki-laki yang berjalan sambil menjauhinya itu meradang. Mengumpati gadis itu akan ketidak pekaan level dewanya.


Apa benar ia gadis yang cerdas? Banyak sanjungan untuk level otaknya tapi bagaimana bisa hal seperti ini terlalu minus baginya?


Kevin jengah dan mulai putus asa berhadapan dengannya.


Langkah Eldrey yang tadi mengikuti Kevin pun terhenti. Jujur saja, berjalan mengenakan heels tidaklah nyaman.


Mereka berada di area jalanan dekat pantai. Entah kenapa Kevin membawanya ke sini, dirinya juga tidak tahu.


Andai sosoknya tak terlalu fokus menonton, mungkin saja ia bisa melakukan sesuatu sebelum sampai ke tempat tak asing ini.


Sekarang sorot matanya menatap putra Cesar yang kian menjauh darinya.


“Apa dia marah karena kudorong semalam?” gumamnya sambil memiringkan wajahnya. “Heh, apa peduliku?” kekehnya.


Dan dirinya pun memilih berbalik. Jujur saja, tempat ini tak begitu buruk menurutnya.


Menghabiskan hari sendirian di sini pasti lumayan menyenangkan. Eldrey pun melangkah menuju pinggiran pantai. Di sela-sela jalannya ia lepaskan blazer abu-abu bernuansa santai itu dan diikat ke pinggangnya.


Sekarang tersisa crop top hitam yang dipadukan dengan celana senada blazernya namun pendek.


Bahkan heels itu masih terpegang di tangan kanannya. Menyusuri pijakan pasir sambil diterpa angin laut cukup menenangkan otak.


Sampai ia terdiam saat melihat sepasang anak bermain istana pasir bersama sosok yang diperkirakan orang tuanya.


Entah melodrama seperti apa yang mengalun ke nalurinya, ia teringat masa lalu. Dan itu membuatnya mendecih kasar.


“Kupikir kita memang berjodoh,” ucap seseorang tiba-tiba sambil menutup mata putri Dempster dari belakang.


Jujur ia terkejut, tapi sosoknya makin tersentak saat mendapati laki-laki tak diharapkan lah yang melakukan itu padanya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2