FORGIVE ME

FORGIVE ME
Namaku Patricia


__ADS_3

Charlie telah datang. Bahkan mobil yang dikendarainya sudah berhenti tepat di hadapan Eldrey. Gadis dengan langkah kaki menjauh dari Vila. Entah dirinya sadar atau tidak kalau dari tadi Kevin terus mengikutinya.


“Aku sudah menjemputmu. Jadi ayo pulang,” ajak Charlie yang dibalas senyum tipis oleh Eldrey.


Putri Dempster itu pun masuk ke dalam mobil di sebelah sang supir. Dan akhirnya, Charlie pun mengedipkan sebelah matanya pada Kevin sebagai salam perpisahan.


Untung saja tangan kiri Presdir Betrand itu membawa ajudannya, sehingga Kevin bisa pulang dengannya. Bukankah akan sangat menyedihkan kalau dirinya harus berjalan kaki lagi untuk kembali ke Vila?


“Terima kasih.” Kevin pun menoleh pada pemuda yang juga semobil dengannya. “Terima kasih karena sudah ikut serta menjaga adikku.”


“Santai saja, lagi pula aku memang ingin melakukannya.”


Evan tersenyum pelan menanggapi jawaban juniornya itu. Mereka, tidak semobil dengan Charlie dan Eldrey. Bagaimanapun menurut bawahan Betrand, itu yang terbaik.


Charlie adalah salah satu orang yang telah lama bersama Eldrey. Tentu saja ia tahu kebiasaan gadis itu. Jika dirinya ingin dijemput olehnya, berarti sang majikan tak ingin ditemani siapa pun juga.


Kendaraan pribadi bawahan Betrand itu pun sampai di kediaman mewah Dempster. Tanpa suara, Eldrey meninggalkannya duluan.


“Eldrey, kamu sudah pulang? Evan mana sayang?”


Gadis itu hanya melirik sekilas ibunya lewat sudut matanya. Berlalu menuju kamar dan diam di tengah ruangan. Menatap udara kosong entah apa yang ia pikirkan. Perlahan, langkah kakinya berjalan menuju balkon.


Memperhatikan kedalaman kolam renang di bawahnya. Lambat laun, tubuhnya pun di dudukan untuk menatap langit biru di atas sana. Sampai akhirnya beberapa detik kemudian ia rebahkan raganya di lantai balkon yang diselimuti rumput buatan lalu menutup mata.


“Patricia, itu namaku. Namamu Eldrey bukan? Salam kenal,” seorang gadis tersenyum sambil mengulurkan tangan. Eldrey tersentak, tersadar dari mimpinya barusan. Ditatapnya keadaan sekitar secara tiba-tiba.


Langit tengah malam, angin dari balkon yang menusuk badan, serta lampu bercahaya terang namun kondisinya tak menyala. Tapi sekarang, tubuhnya di atas ranjang sambil ditutupi selimut untuk menghangatkan. Eldrey telah dipindahkan oleh seseorang dan ia tak peduli itu siapa.


Hanya saja, ingatan gadis itu tiba-tiba menghantui dirinya. Dan semua karena sesosok pemuda yang sudah menarik salah satu tali di masa lalunya.


Eldrey, sekarang terdiam menatap langit-langit kamarnya.


Plafon mewah berhiaskan lampu klasik. Kamar yang hanya ditemani cahaya dari luar karena rembulan. Siapa pun di rumah itu tahu kalau putri Dempster tak bisa tidur jika jendela dan pintu di balkon tertutup.


Dirinya agak tidak sanggup menghadapi keadaan seperti itu. Benar-benar tidak bisa seolah sesak ingin menghimpit dadanya jika kamarnya tak menampilkan jalan terbuka.


Walaupun dinginnya malam, jelas-jelas sangat tidak baik untuk kesehatan raga muda miliknya.


“Eldrey? Kamu mau ke mana?” orang-orang di ruang makan kaget melihat dandanan sang gadis muda saat sarapan.


Hot Pants serta baju kaos serba hitam. Bahkan rambutnya digulung asal-asalan namun tetap elegan. Sambil tangan menyandang tas dan headphone tergantung di lehernya. Dia hanya duduk di hadapan mereka, meminum susu dan memakan buah di atas meja.


“Eldrey?” tanya ayahnya sekali lagi.


“Kampus.”


“Tapi, Nak. Kita sudah sepakat kalau kamu kuliahnya daring.”

__ADS_1


“Aku bosan.”


Selesai mengatakan itu Eldrey langsung berdiri dari duduknya. “Tolong tetaplah di rumah, sayang. Demi kebaikanmu, ayah mohon,” pinta Presdir Betrand padanya.


“Demi kebaikanku?” nada Eldrey terdengar berubah.


Orang-orang terdiam dan tampak enggan untuk ikut bersuara. Sampai akhirnya Bu Anna memberanikan diri menimpali pembicaraan mereka.


“Maksud ayahmu, situasi kita kan sedang tidak bagus sejak insiden penembakannya. Kami hanya khawatir jika terjadi sesuatu padamu Nak, makanya ayahmu berkata seperti itu,” dirinya mencoba memberikan alasan yang paling masuk akal. Jujur ia agak takut jika Eldrey salah menangkap makna dari kalimat Betrand.


Karena bagaimanapun juga, menyinggung perasaan putrinya sama saja dengan mimpi buruk.  


Walau kenyataannya, memang benar jika itu adalah salah satu alasan kekhawatiran. Bahkan bila pelaku yang terlibat dalam insiden penusukan Eldrey serta penembakan ayahnya di masa lampau telah ditemukan, namun pemimpin sebenarnya masih tetap dalam bayangan.


Mengingat sosok yang mereka yakini sebagai tersangka adalah dia dengan kekuasaan mengerikan. Begitu mengerikan sampai-sampai bisa menghancurkan ikatan keluarga Presdir Betrand.


Seandainya bukti tak seberapa itu diperlihatkan, akan seperti apa respons kepala keluarga Dempster? Entahlah. Para bawahan masih mencoba menutupinya sampai mengumpulkan semua bukti yang ada.


Agar saat ketahuan, sang pemimpin benar-benar yakin kalau orang yang tak disangkanya sebagai pelaku sangat ingin menusuk dirinya.


Bukankah ini begitu ironis?


Tak peduli seberapa suksesnya seseorang, faktanya musuh dalam selimut memang akan selalu ada. Terkadang, dinding pun bisa menjadi mata serta telinga untuk menjatuhkan dirinya.


Cukup menyedihkan, bila membayangkan masalah internal keluarga kaya-raya ini. Mengingat Presdir Betrand, harus tetap menjadi pilar bagi semua orang di sisinya.


Untuk Evan dan Anna yang berhasil ia rangkul walau belum sepenuhnya.       


Dan untuk orang-orang kepercayaannya yang belajar darinya serta berdiri bersamanya.


Dia harus tetap kuat demi mereka yang sebenarnya sangat bergantung pada sosoknya. Merekalah keluarga Presdir Betrand selama ini. Dan harus tetap begitu, jika ingin bahagia kembali.


Hanya mereka tanpa ada tambahan orang lain.


“Baiklah kalau begitu.”


Orang-orang pun terkesiap mendengar jawaban Eldrey. Terlebih karena ini pertama kalinya nada suaranya terdengar tenang membalas kalimat ibunya. Tentu saja angin sejuk langsung menerpa hati Bu Anna. Apalagi sepertinya anaknya itu takkan memarahi dirinya lagi.


Akhirnya, putri Dempster pun kembali lagi ke kamarnya karena tidak jadi pergi.


Sementara di tempat yang berbeda yaitu Universitas Oxtello Rako, terlihat sebuah sportcar hitam pengundang lirikan mata mahasiswa terparkir di seberang gerbang masuk.


Entah siapa pemiliknya namun sejak pagi sudah berada di sana.


Sampai akhirnya sang pengemudi jengah dan turun dari kendaraan yang membuat penonton dirinya terkesiap.


“Hai, maaf aku mengganggumu. Aku mau menanyakan sesuatu, apa tak masalah?”

__ADS_1


Gadis yang dihampiri dengan dress floral di badan pun terdiam menatapnya. Tak menjawab seolah tersihir saat bertemu muka, sampai akhirnya sang penanya menjentikkan jarinya untuk mengacaukan fokus perempuan muda di depannya.


“Kamu baik-baik saja?”


“A-aah, aku baik-baik saja. Maaf-maaf! Kamu tadi mengatakan apa ya?” dia tampak gelagapan.


“Aku ingin numpang tanya, apa tak masalah?”


“Silakan-silakan. Tak masalah, tanyakan saja apa pun aku tak masalah,” diiringi tangan yang bergerak setiap kali ia berbicara.


Laki-laki itu pun tersenyum melihat responsnya. “Apa kamu kenal Eldrey?”


“Eldrey? Apa mungkin maksudmu Eldrey Brendania Dempster?”


“Ya benar. Memang dia.”


“Tentu saja aku mengenalnya,” jawab gadis itu sehingga senyuman laki-laki di depannya kian melebar.


“Benarkah?”


“Ya. Dia kan terkenal, bagaimana mungkin aku tidak mengenalnya?”


“Kalau begitu, apa kamu bisa memanggilkannya?”


Gadis itu terdiam sejenak. “Maafkan aku. Tapi senior Eldrey selama beberapa minggu ini sudah tidak masuk kuliah lagi.”


“Kenapa?”


“Mm ... aku juga tidak tahu,” gadis itu memamerkan tatapan ke atas seakan sedang menerawang. “Tapi gosip yang beredar mungkin karena skandal sepupunya.”


“Sepupunya?”


“Iya. Kamu pasti tahukan skandal yang sedang viral di kampus ini?”


“Ah, apa mungkin skandal video serta foto tak senonoh itu?”


“Benar. Karena bagaimanapun juga, orang di dalam foto itu adalah sepupunya.”


“Sepupu Eldrey? Kedua gadis itu?”


“Tidak, hanya salah satunya. Gadis itu bernama Lily. Sementara yang seorang lagi temannya, Naomi. Walau sekarang nasib Naomi sangat menyedihkan karena harus meringkuk di penjara,” terlihat tampang simpati terlukis di wajahnya.


Mendengar kalimat itu, sontak saja senyum samar terlukis di bibir laki-laki tersebut entah apa maksudnya.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2