
Sebuah rumah kosong. Berukuran 6 x 7 meter. Penampakan dua lantai, dan jangan lupakan rimbunnya tanaman liar dari arah balkon.
Menggantung bebas tanpa beban, nyatanya menimbulkan sensasi keangkeran. Kediaman di kedalaman hutan dan disaksikan dengan tenang oleh tiga sosok yang baru keluar dari mobil.
Walau faktanya mereka tidaklah sendirian di sana.
Dome Bosmova, sang pria ikut hadir bersama. Dirinya sudah terlebih dahulu memasuki rumah di depan mata. Bersama seorang ajudan yang selalu setia bersama dan juga keponakan laki-lakinya.
Timmothy, terdiam menyaksikan tampilan seorang putra Gates yang lumayan tersohor namanya.
Bill.
Mulut tersumpal sapu tangan mahal dan kondisi terikat di sebuah kursi kayu single semakin membuat pesonanya menyedihkan.
Dan mungkin sumpah serapah telah diturunkan lewat ekspresinya yang menyimpan dendam.
“Kau pasti takkan menyangka akan bertemu denganku.” Selesai Dome mengatakan itu, sang ajudan segera membuka penutup mulutnya. Dan mereka pun terpaksa mendengar teriakan lantangnya.
“Dasar orang-orang keparat! Apa maksudmu menculikku seperti ini?! Apa kau lupa?! Aku seorang Gates! Aku bisa menuntutmu atas tindakanmu ini!”
Hanya tawa pelan yang berkumandang di balik mulut lawan bicara. Menatap remeh seolah itu bukanlah masalah. Dan disaksikan dengan kebingungan oleh Timmothy yang masih bungkam.
Dia pun mulai menampilkan ekspresi menekan.
“Berani-beraninya bocah ingusan sepertimu mengirimkan mata-mata ke ranjangku?” Bill dan Timmothy pun terkesiap. “Kau pikir aku tidak tahu? Kalau dia pelacurmu. Sepertinya, ambisi akan bisnis membuatmu lupa siapa yang menjadi lawanmu.”
“K-kau,” tapi fokusnya segera teralihkan. Oleh kehadiran tiga sosok yang tak asing baginya. “Kalian! Dasar brengsek! Apa-apaan maksudnya ini?!”
Dua di antara mereka memasang tampang serupa. Tak berminat seolah kicauan barusan bukanlah apa-apa.
“Aku, Pamanmu! Bisa-bisanya kalian berdua terlibat dalam hal seperti ini?!”
Di satu sisi kegaduhan sedang terjadi. Raelianna Jin terlihat panik sambil beruraian air mata. Penyebabnya tentu saja sang putri dan juga putra yang tak jelas kabar berita. Orang-orang di sekitar termasuk keluarga Kevin ataupun Ramses hanya bisa menatap prihatin padanya.
“Aku harus pergi!”
“Tenangkan dirimu, Nak! Tenang!” Kendal menahan sang putra. “Ayah sudah suruh orang untuk mencari gadismu. Jadi tahan dirimu karena kamu juga tidak baik-baik saja.”
“Aah! Sial!” umpatnya tiba-tiba. Walau sedang duduk di kursi roda, nyatanya tubuhnya masih belum baikan. Mengingat lukanya kembali terbuka akibat sikap keras kepalanya.
Dan seorang Betrand juga dilanda kegundahan. Bersama beberapa bawahan yang ikut bersama walau dalam mobil berbeda sedang melacak keberadaan anak-anaknya.
Sesekali ia berdecih, saat sadar kalau Charlie ikut terlibat di dalamnya.
“Bagaimana bisa aku lupa? Kalau Charlie sangatlah membencinya.”
__ADS_1
Roma terdiam. Sosoknya fokus membawa kendaraan, walau ocehan itu jelas terdengar namun dirinya tak ingin ikut campur. Karena bagaimanapun juga, memang begitulah faktanya.
Charlie Stevano jelas menaruh dendam besar pada keluarga Gates.
Insiden dahulu kala, di masa seorang Bill masih menempuh kuliah di negara tetangga, dirinya yang mabuk dengan tega memperkosa seorang gadis di bawah umur.
Kekejian miliknya telah menghancurkan kehidupan seseorang sampai tak bersisa.
“Nyonya besar memberitahu kalau ajudan Tuan besar sudah mendapatkan lokasinya.”
Sontak Betrand melirik supirnya. Tak menyangka kalau bawahan ayahnya lebih dulu bergerak cepat di bandingkan mereka.
“A-apa maksudmu?!”
Seringai tipis terpatri di sana. Semakin memperkeruh ekspresi tenang seorang Charlie. Dia lebih mirip seperti singa, yang mengintai mangsa sebelum menerkamnya.
“Oho, apa mungkin kau lupa? Dengan seorang bocah yang sudah kalian rudapaksa sampai meregang nyawa.”
Orang-orang terdiam. Beberapa tentu menatap tak percaya, akan ocehan yang dilontarkan tangan kiri Betrand.
“I-itu—”
“Di sebuah rumah, seorang anak kecil yang baru pulang sekolah menjadi korban keganasan kalian. Tak hanya dirudapaksa, tapi kalian tega bermain-main dengan tubuhnya sampai organ dalamnya tak lagi sempurna. Psikopat keji yang berlindung di balik uang keluarga. Bukankah ini saat yang tepat? Untuk membalas semuanya.”
“Paman, kau—”
“Bohong!” sanggahnya. Evan tersentak karenanya. “Berani-beraninya kau menuduhku seperti itu! Kau hanya sampah yang menjilat pada Betrand! Tanpa dia kau tak ada apa-apanya! Berani-beraninya kau menuduhku seperti itu!”
Tiba-tiba pistol dimainkan. Tembakan yang memekik jelas mengundang perhatian. Pada langit-langit ruangan, semua memamerkan ekspresi yang beragam.
Dan Charlie pun lambat laun mengarahkan senjata itu tepat pada dahi seorang Bill.
Anehnya, sosok yang terancam terkekeh pelan. Raut yang ditampilkan mengundang penasaran, dan keringat dingin pun berjatuhan pada kening mereka yang tak terbiasa kekerasan.
Timmothy, dirinya masih tak habis pikir dengan keadaan di pandangan.
“Lakukan, tapi apa kau pikir Betrand akan diam saja? Aku kakaknya! Tak peduli apa pun yang sudah kulakukan keluarga tetaplah yang utama! Seharusnya kau belajar itu saat dia tak memenjarakan ibunya. Karena sudah menculik putrinya dan membuat gadis ini menjadi gila.”
“Brengsek!” umpatan disertai pukulan tanpa aba-aba di pipi hampir saja menjatuhkan Bill beserta kursinya. Sungguh Evan begitu emosi, mengingat kekejian keluarga mereka.
Sudah tak peduli dengan ikatan darah namun ayahnya tidak mengambil langkah apa-apa.
Dia kesal jadinya.
“Baiklah. Kau pikir aku peduli? Lagi pula, hubungan kami hanyalah bisnis semata. Dan dendamku, akan kau bawa sampai ke neraka!”
__ADS_1
“Hentikan!” Terlambat. Tembakan sudah dinyanyikan. Tapi keterkejutan akan pekikan yang menggelora berhasil mengacaukan fokus Charlie. Dan peluru justru menembus daun telinga. Memaksa lolongan Bill mengudara ke pendengaran mereka. “Apa-apaan ini!”
“Betrand.”
Pria itu menatap tak percaya sosok Dome Bosmova yang juga hadir di sana. Dan ia terperangah menyaksikan pesakitan sang kakak yang beruraian air mata.
Telinga kiri, sudah tak berbentuk lagi.
“Charlie, kau—”
“Bill?”
Semua menoleh ke sumber suara. “Bu? Ibu! Telingaku, Bu! Mereka menembaknya! Mereka semua sudah gila!”
“Kalian! Berani-beraninya kalian semua!”
“Hentikan!”
Nyatanya percikan darah sudah berjatuhan. Berasal dari seorang pria yang refleks mengeluarkan naluri pelindungnya.
Beberapa menatap tak percaya. Empat tembakan yang pecah dari pistol Camila, satunya memang berhasil menembus paha kiri Charlie. Akan tetapi, ironisnya sisanya lagi bersarang di raga keturunan sendiri.
Betrand tumbang. Suaranya barusan tak mampu meredam emosi ibunya. Nyatanya tubuhnya yang berbicara. Dia mencoba melindungi sang putri dan putra dari kebrutalan wanita yang telah melahirkan dirinya.
“Ayah! Ayah, apa yang—”
“Sial! Cepat bawa dia!” Dome mengeluarkan perintah tiba-tiba. Ajudannya yang kaget pun terburu-buru menghampiri mereka. Membantu untuk dibawa ke rumah sakit terdekat.
“B-Betrand, a-aku—”
“Wanita keparat!”
“Evan!” teriakan Timmothy bersama meletusnya suara tembakan membungkam sosok yang menyaksikan. Eldrey berhasil menahannya, peluru menembus dinding di belakang Camila. Pekikan histeris juga ketakutan wanita itu diabaikan oleh putri Dempster yang menatap tajam kakaknya. “Kendalikan dirimu! Dan tunggu apa lagi? Cepat bawa Betrand ke rumah sakit!” perintahnya.
Semua tersadar untuk segera bertindak. Eldrey pun sontak merebut pistol sang ayah yang sedang digenggam kakaknya. Terlihat, uraian air mata berjatuhan ke pipi putra Dempster.
“Pergilah ke rumah sakit bersama mereka. Dan bawa Charlie juga.”
“Kau—” sang tangan kiri bersuara.
“Tunggu apa lagi?! Ayo cepat!” potongnya.
Charlie memilih membuang muka, sorot matanya perlahan turun ke paha, di mana jejak tembakan tersembunyi di balik celana gelapnya. Walau tampilan berlubang dan basah terlihat, pertanda darah telah merembes agar bisa disaksikan pasang mata.
__ADS_1