
“Sedang apa kamu di negara ini?”
“Menurutmu?”
Timmothy hanya diam, begitu pula Arabella. Akan tetapi tatapan gadis itu begitu lekat pada sahabat adiknya.
Dan menjelang sore, suasana berbeda terlukis di kediaman seorang Daniel. Tatapan tajam pria itu pada kakak angkatnya, membuat Damien hanya bisa membuang muka. Karena kecerobohannya Eldrey pun sekarang menghilang entah ke mana.
“Jika begitu tidak diragukan lagi, dia pasti pergi bersama orang Dome Bosmova,” selesai mengatakannya ia pun menghubungi seseorang. Sayangnya sambutan di seberang memang tak pernah hangat padanya.
“Jangan menghubungiku jika tidak penting!”
Daniel pun mengedarkan pandangan malas. Agak jengkel dengan kalimat Charlie, padahal kalau harus memilih ia juga tak sudi menghubunginya.
“Hey! Putri Bosmu mungkin sedang di perjalanan kembali ke negaranya. Berterima kasihlah karena aku sudah memberitahumu informasi penting itu.”
“Kau—”
“Kemungkinan dia bersama orang-orang Dome. Yah, kurasa tujuannya mungkin wanita iblis itu.”
Charlie terkesiap. Tanpa aba-aba ia putus panggilan itu sehingga mengundang umpatan lawan bicara. Raut wajah menegang terlukis di sana. Dan tatapannya berpindah pada seorang pria yang tampak kalut menghubungi bawahan lainnya.
“Betrand—”
Dua hari, perjalanan yang ditempuh Eldrey untuk kembali ke negaranya. Sekarang sosoknya berada dalam sebuah mobil bawahan Dome Bosmova. Mereka menuju penthouse pak tua itu, demi menuntaskan negosiasi antara putri Dempster dan dirinya.
Harus diakui penjagaan di sini sangatlah ketat. Sesuai dengan harga juga status Dome yang terkenal.
Sambil dituntun seorang pria bersetelan lengkap, mereka pun tiba di pintu masuk itu.
Dan mungkin Eldrey takkan pernah menduga, kalau posisinya sekarang telah terlacak oleh putra Cesar akibat trench coat sang pemuda yang dikenakan olehnya.
Luas dan nyaman. Di dominasi dinding kaca di area kiri, pemandangan indah dan menenangkan tercermin di penthouse itu.
Aroma lavender menyeruak di sekitar, juga lukisan kuno yang menggambarkan musim gugur menghiasi pandangan, dan akhirnya sang pemilik kediaman terlihat bersantai di ujung sana.
Berjalan pasti dengan segelas wine di tangan kanan. “Mau?” ia menyodorkan. Hanya saja dibalas senyum tipis sang putri Dempster. “Kau angkuh, berbeda dengan kakakmu. Ikut aku.”
Mendengar itu bawahannya pun pergi dari sana, meninggalkan Eldrey dan Dome berdua di dalam ruangan. Seperti katanya, Eldrey mengiringi pak tua untuk duduk di sofa. Berseberangan dengan gaya yang cenderung berbeda.
__ADS_1
“Ini pertama kalinya kita bertemu. Apa kau tidak akan memperkenalkan dirimu?” ujarnya lagi sambil memainkan gelas kosong di tangan.
“Kurasa kita sudah saling mengenal.”
Perlahan Dome meliriknya dengan tampang tak berminat. Tak tahu kenapa ia merasa jengkel padanya. “Jujur saja, kau terlihat lebih menyebalkan dibandingkan ayahmu juga tangan kirinya itu.”
Eldrey terkekeh pelan. Dibandingkan anggun sosoknya lebih cenderung meremehkan. Kepala yang agak dimiringkan dan sorot mata lurus tanpa keraguan menyiratkan tantangan.
“Terima kasih pujiannya. Jadi, bisakah kita masuk ke inti pembahasan?”
Suasana langsung berbeda. Walau Dome tampak santai, aura yang dipancarkan Eldrey seakan menekan udara. Memang dia sangat mirip dengan Betrand walau cenderung kurang berperasaan.
“Apa yang kau inginkan?”
“Satu pistol. Hanya itu.”
“Pistol?” tak ada respons apa pun dari lawannya. “Siapa yang ingin kau bunuh?”
Hening menerpa mereka. Detik-detik dalam kesunyian tak tahu kapan mencapai ujungnya. Selain tatapan mereka yang saling berbicara.
Lambat laun Eldrey mengambil botol wine di atas meja, cengkeramannya seolah-olah ingin mencekik mangsa. Dan semua itu tak luput dari pandangan orang di seberangnya.
“Keluarga Gates. Nyonya rumah juga putra pertamanya.”
“Aku teman ayahmu, guru, bahkan kolega bisnisnya. Aku mengetahui dengan jelas seperti apa kasih sayang Betrand pada ibunya, bahkan jika dia dikhianati oleh mereka. Apa kau ingin menghancurkan ayahmu sendiri?” suaranya terdengar berat.
Perlahan Eldrey mengedarkan pandangan. Memilih menatap langit-langit ruangan dan terfokus pada chandelier seharga organ.
“Pistolnya,” ucap Eldrey tiba-tiba sambil mengacungkan botol wine seperti senjata. Lirikan mata pak tua itu pun turun pada benda di tangan gadis muda. “Kau tak tahu apa pun. Karena kau orang luar.”
“Sepertinya aku harus berpikir dua kali untuk menjodohkan dirimu dengan keponakanku.”
“Terserah. Berikan pistolnya.”
“Kau pikir kau sedang meminta pada siapa?” sosok itu mengambil sesuatu di bawah meja. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dirinya seperti ingin menembak gadis di depan mata. “Bagaimana jika kulubangi kepalamu?”
Keadaan mulai menegang. Eldrey masih mengacungkan botol wine begitu pula sebaliknya.
“Silakan. Dan kau juga akan bernasib sama.”
__ADS_1
“Benarkah?”
“Aku Dempster. Jika aku mati, kau akan melihat kehancuran ayahku. Karena dia memilih mengorbankan aku untuk menutupi kejahatan ibunya itu.”
Dome terdiam. Butuh sejenak waktu baginya mencerna ucapan yang terdengar. Sontak Eldrey membuang botol di tangan, dan bunyinya pun membuyarkan keheningan.
Anehnya pria itu menyodorkan pistol ke atas meja. Tepat di hadapan sang gadis muda entah apa artinya.
“Ambillah.” Dahi putri Dempster berkerut. “Aku sudah dengar bagaimana kehidupanmu. Itu bukan urusanku, tapi kau pasti tahu neraka apa yang menunggumu.”
Eldrey tersenyum. Membuat sang penonton tertegun, sebab guratan barusan terasa hangat dan juga indah. Mungkin gadis itu tak sadar kalau ia baru saja memamerkan ekspresi langka.
“Terima kasih, Paman.” Benda berbahaya pun diambil tanpa keraguan. Tapi saat akan pergi, lengannya dicekal dan membuatnya terkesiap. Entah apa yang dibisikkan Dome Bosmova padanya sehingga raut wajah Eldrey mendingin begitu saja.
“Ini ponselku. Jika ada apa-apa kau bisa menghubungiku,” sambil menaruh benda pipih itu di tangan putri Dempster.
“Kenapa?”
Dome terlihat bingung. “Apanya?”
“Membantuku.”
Sentuhan di lengan mulai dilepaskan. “Aku tidak membantumu. Aku hanya menghargaimu sebagai anak dari teman juga muridku. Bawahanku sudah menunggumu di luar. Kau bisa pergi sekarang.”
Tanpa berlama-lama Eldrey pun berlalu dari sana. Punggung rampingnya masih dipandangi lekat pria itu, sampai akhirnya menghilang di balik pintu.
“Betrand, kehidupanmu benar-benar Ironis,” gumam pelannya sambil memainkan ponsel. Dan di layar tertera sebuah nama, milik seseorang yang ia akui sebagai teman, murid, dan juga kolega.
Sementara para pemilik nama Dempster sedang merasa tertekan. Penjelasan Charlie sebelumnya membebani perasaan, akan niat tuan putri yang kembali ke tanah asal.
Tanpa aba-aba, memakai semua koneksi yang ada dan tujuannya masih samar dalam jalanan belantara.
Eldrey seperti lari namun juga menghantui. Betrand kalut pada kemungkinan terburuk, dan sudut hati berdoa akan sebuah harapan. Kalau putrinya tak akan melakukan kegilaan yang enggan ia pikirkan.
Hanya saja bisikan hati itu jelas retak akan sebuah kenyataan. Di mana sang gadis muda berada di sebuah rumah sakit ternama. Di ujung lorong dengan minimnya batang tubuh berlalu lalang.
Dan ketika mencapai tengah malam, ia berhasil memindahkan sosok yang diintai. Dengan bantuan seorang suster juga dokter, sang mangsa di tempatkan pada ruangan lain di lantai atas.
Pasti banyak yang bertanya-tanya, kenapa petugas rumah sakit sudi melakukan perintahnya, bermodalkan ancaman semua memang bisa menjadi jawaban.
__ADS_1
Sebuah video tak senonoh antara dokter dan sang suster akan tersebar di tangannya kecuali mereka rela bekerja sama. Memang kebodohan keduanya tertangkap di tangan gadis itu, hanya saja saat melihat pistol di sisi Eldrey memaksa orang-orang tersebut menjadi pesuruhnya.
Karena bagaimanapun mereka tak ingin mati, ataupun nasib pernikahan masing-masing di jalan eksekusi. Mengingat dua petugas itu hanya terikat ikatan perselingkuhan sebagai sumber hasrat juga kepuasan.