
“Kau ingin tahu?” senyum tipis pun tersungging di bibir sang pemuda. Lalu dijambaknya rambut putri Dempster sehingga sang gadis mengangkat wajah menatap setara pada orang di depannya. “Aku hanya ingin kau merasakan apa yang dirasakan kakakku dulu. Hanya itu,” selesai mengatakannya, Paul pun pergi dari sana.
Eldrey pun diam menatap kepergiannya. Perlahan, ia tundukkan kepala dan menutup matanya. Meresapi sakit di badan beriringan dengan kenangan mencuat ke permukaan.
Dan akhirnya, kisah dua tahun lalu dimulai lagi baginya.
Di kediaman mewah keluarga Dempster, seorang gadis muda menatap tenang keadaan kamarnya. Malam tadi, para pelayan yang bekerja di bawah nama besar keluarganya, baru saja merayakan ulang tahun dirinya.
Begitu banyak kado di dalam kamar, entah pemberian siapa saja. Buket bunga beragam jenisnya, tersusun di atas ranjang.
Semua itu hanya miliknya dan memang pantas untuknya. Namun dalam perayaan ke 16 tahun ini, sensasi hambar begitu terasa. Karena tak ada satu pun yang bisa memahaminya.
Mengingat tidak seorang pun dari keluarganya mengucapkan selamat langsung padanya atau mendoakannya. Ke manakah mereka?
Padahal dirinya, memiliki ayah kaya yang sibuk bekerja dan sudah mengirimkan hadiah itu-itu saja. Lebih banyak menghabiskan hari di kantornya ataupun tenggelam dalam urusan bisnis di luar negeri tanpa merindukan wajah putrinya.
Dan gadis itu sudah terbiasa.
Tapi, dia juga memiliki ibu dan kakak laki-laki yang masih hidup namun terpisah darinya. Setelah perceraian dan pengusiran dari sosok kepala keluarga yang ia panggil ayah, dirinya tak lagi bertemu mereka.
Kecuali menatap dari kejauhan, di seberang toko roti sebagai ladang usaha sang ibu dan kakaknya.
Tapi dia tak bisa mendekatinya, karena sudah sangat terluka dan juga kecewa.
Walau pikirannya mengakui itu, namun naluri seorang anak dan adik masih bernyanyi di hatinya. Mungkin tanpa sadar ia masih merindukan sosok mereka.
“Nona, anda mau ke mana? Ayo sarapan dulu,” begitulah sapaan sang bibi pembantu saat melihat gadis itu memasuki ruang makan dengan dandanan modisnya.
Hanya ada mereka berdua. Di meja makan besar dengan hidangan untuk perut beberapa orang. Tapi, cuma ada sang tuan putri dan juga pembantunya.
“Mana Charlie?”
“Tuan Charlie ke luar negeri, Nona. Katanya ada bisnis yang harus ditanganinya sekalian menemani Tuan yang masih di sana.”
“Sekretaris Roma?”
“Tuan Roma tadi terburu-buru pergi karena ada urusan mendadak, Nona. Walau sayang sekali, dia jadi tidak bisa sarapan pagi.”
__ADS_1
Gadis itu pun perlahan menyendok sajian sup di depannya. “Rondolf ke mana?”
“Rondolf sedang pergi ke kampung halamannya. Dia meminta izin cuti selama dua hari.”
Begitulah penjelasan sang bibi pada gadis yang saat sarapan setidaknya ditemani salah satu atau ketiganya dari pria-pria dewasa itu.
Tapi, sekarang hanya ada mereka berdua. Walau hidangan di depan mata terasa sangat nikmat namun sensasi di perasaan dia yang memakan diselimuti kehampaan.
Putri Dempster, tak berminat lagi melanjutkan makannya.
“Nona, anda mau ke mana?”
“Keluar.”
Satu kata, bermakna kebosanan. Jeep unlimited miliknya dikendarai seenak hati. Dari lambat ke cepat, ataupun sebaliknya. Laju kendaraan yang tak stabil sesuai keinginan pengendaranya.
Dan Eldrey pun menghentikan kendaraannya tepat di depan sebuah bangunan besar area kota. Tempat yang jarang didatangi saat siang apalagi pagi.
Namun di sinilah dia. Di depan Sextoria Nightclub yang tersohor nama dan gemanya. Masuk ke sana tanpa dibatasi oleh penjaganya.
Karena mereka tahu siapa dirinya.
Putri dari salah satu pemilik saham di Club itu. Dan dirinya berhenti tepat di depan meja bar menatap bartender.
Mengetuk-ngetukkan jari seperti ingin mendapatkan perhatian. Dan dirinya pun berhasil.
“Nona? Ini masih pagi.”
Orang itu tersenyum padanya. Menyiapkan minuman yang tak lebih dari sekadar juice bagi sang gadis. Bukan minuman bersoda ataupun berakohol lainnya.
Dan putri Dempster hanya menatap datar sajian di depannya. Sampai akhirnya, sebuah brownies dalam kotak kecil yang dihias sedemikian rupa tersodor kepadanya.
“Selamat ulang tahun, Nona.”
Begitulah kalimat yang diucapkan bartender sambil mengukirkan senyum kepadanya. Perlahan, Eldrey pun mengambilnya.
“Bahagia dan sehat selalu untukmu. Kami, akan selalu di sini untukmu, Nona,” selesai mengatakannya sebuah kejutan tak terduga menghiasi suasana sekitar sang putri.
__ADS_1
Para bartender dan bar waiter tiba-tiba bermunculan. Tertawa dan juga sesekali memeluknya. Memberikan kue ulang tahun berhiaskan lilin demi dirinya.
“Ucapkan doamu, Nona,” lirih seorang wanita yang bertugas sebagai seorang penari striptis di sana. Kue itu di hadapkan tepat di depan Eldrey, terlihat gadis tersebut hanya diam sampai akhirnya seseorang menyentuh bahunya dari belakang.
“Ucapkan doamu, bocah,” lirih laki-laki itu dan menyentuh kedua tangan sang putri untuk dimajukan. Seakan menuntunnya, agar memanjatkan harap dalam hari penuh kebahagiaan bagi orang-orang terlebih dirinya.
Saat ulang tahun sekaligus pertambahan usia menuju dewasa. Atau menjadi penentuan dari berapa umur yang tersisa.
Dan Eldrey Brendania Dempster pun menutup mata seakan berdoa. Entah apa harapannya, orang-orang tak ada yang tahu. Sampai akhirnya, lilin ditiup dan lagu dinyanyikan. Wujud nyata senang dan bahagia dari mereka, dalam merayakan ulang tahun dirinya.
Jadi, ada di manakah keluarga sedarahnya? Sekarang justru orang lain memeriahkan hari kelahirannya.
Lambat laun senyum pun perlahan muncul di bibir Eldrey karena disuapi kue ulang tahun untuknya. Dan sang lelaki yang tadi menyentuh bahunya, sekarang mengelus lembut kepalanya lalu memeluk dirinya.
“Selamat ulang tahun, bocah. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu,” dan sebuah kecupan dihadiahkan di puncak kepalanya.
Bentuk kasih sayang laki-laki tersebut, selain sosoknya sebagai pemilik dari Club yang disponsori beberapa orang itu. “Ayo ikut aku. Jangan kaget dengan hadiah yang akan aku berikan untuk dirimu,” ucapnya sambil menarik tangan Eldrey.
Langkah mereka pun memasuki lantai dua, di salah satu belokan di mana ruangan sang raja berada. Tempat yang menjadi sarana bekerja sekaligus lokasi istirahat untuk menyamankan badan.
Dan sebuah buket bunga mawar serta boneka panda besar terpampang di atas sofa. Diiringi cemilan sekaligus kue ulang tahun bertengger indah di atas meja. Sang gadis pun dituntun untuk mendekatinya.
“Bagaimana? Kau takkan menyangka bukan? Pasti aku satu-satunya orang yang memhadiahkan ini untukmu,” kelakarnya menyodorkan boneka besar itu padanya.
Tanpa sadar, Eldrey memeluk gumpalan gemuk itu. Begitu empuk rasanya, halus bulunya dan aromanya seperti bunga. Serupa dengan mawar merah di sebelahnya.
“Jangan lupa dibawa tidur bersamamu ya,” laki-laki itu terkekeh pelan akan tiadanya respons putri Betrand. Tapi ia tahu kalau sang gadis muda cukup menyukai hadiahnya.
Walau simpel dan harganya tak seberapa, tapi memberikan langsung dan melihat ekspresi pemberi akan menjadi hiburan tersendiri bagi sang gadis muda.
Tapi miris karena itu tak ia dapatkan dari keluarganya.
Walau tak bersuara, tapi dirinya mungkin juga menginginkan keberadaan mereka untuk di sisinya. Bahkan jika simpati dan empati telah membeku, tapi dia tetaplah manusia. Dan hati kecilnya pasti masih bisa menyanyikan harapannya.
Sekalipun kebencian sudah berakar dan tak ia perhatikan dengan benar, namun kesepian nyata bersamanya.
Dia tak memiliki siapa pun di sisinya.
__ADS_1