
Sunyi dan menyesakkan, itulah yang dirasakan Dean sekarang. Bayangan tentang kejadian antara dirinya, tuan Kendal dan Alice di rumah sakit masih membekas jelas di ingatannya.
Tamparan yang ia dan Alice terima benar-benar tak bisa dihapus dari benaknya. Berulang kali ia menghubungi Alice namun panggilannya tak lagi tersambung membuat Dean semakin kalut rasanya.
Ini benar-benar menyesakkan baginya.
“Dean! Dean! Di mana kamu?!” teriak sebuah suara keras di bawah. Suara yang tak asing lagi membuat Dean beranjak dari duduknya untuk keluar kamar menemui sumber suara tersebut.
“Papa?! Ada apa teriak-teriak seperti itu?!” tanya nyonya Julia heran dengan sikap suaminya.
Tak lama tampaklah sosok Dean yang berjalan menuruni tangga. Perlahan-lahan ia pun berjalan mendekat ke arah tuan Kendal dan istrinya.
“Dasar anak kurang ajar!”
“Plaakkkk!” tamparan serta amarah pun diluapkan ke pipi Dean tersebut. Ini kedua kalinya dalam hari itu ia ditampar tuan Kendal.
“Berani-beraninya kamu berpelukan dengan gadis rendahan itu! Apa kamu tahu bagaimana pendapat tuan Adam tentang itu?! Ia berpikir kalau gadis kotor itu pacarmu!” teriak tuan Kendal emosi.
“Papa! Apa-apaan ini! Siapa yang papa bicarakan?!” tanya nyonya Julia heran.
“Siapa lagi kalau bukan putri temanmu itu! Berani-beraninya mereka berdua berpelukan di depan tuan Adam! Apa kamu tak sadar kalau Diana akan menjadi tunanganmu?! Otakmu di mana Dean! Di mana!”
“Apa yang salah dengan itu?! Alice adalah temanku! Aku bahkan tak menyukai Diana! Kenapa aku harus berpura-pura baik di depan ayahnya?! Aku bukan papa yang suka berpura-pura seperti itu!” ucap Dean akhirnya.
“Plaakkkk!”
Sebuah tamparan keras kembali dilayangkan ke wajahnya. Sekarang pinggiran bibir Dean tampak ada sedikit darah yang mengalir.
“Papa!” pekik nyonya Julia kaget. Ia langsung memeluk Dean dan menyentuh pelan pipi anaknya dengan rasa iba.
“Dasar anak sialan! Apa kau tak tahu kalau semua itu demi kebaikanmu?! Kalau bukan karena usahaku kau takkan bisa hidup seperti ini! Kau dengar Dean! Jika kau sampai berani berulah lagi, papa pastikan wanita kotor itu takkan pernah lagi ada di kota ini!” bentak tuan Kendal keras. Ia pun pergi meninggalkan mereka dengan emosi.
Dean hanya bisa menatap kepergian papanya dengan pandangan tertunduk, matanya memerah namun tak menangis. Hanya saja, kekesalan benar-benar memuncak di dirinya membuat tangan Dean yang terkepal gemetaran.
“Sayang, ayo kita obati dulu luka di wajahmu,” ajak nyonya Julia yang matanya sudah berkaca-kaca.
Dean hanya mengangguk pelan mengikuti langkah ibunya tanpa berbicara.
“Dean? Kenapa sayang? Kenapa kamu dan Alice bisa berpelukan di depan tuan Adam?” tanya nyonya Julia sambil mengoleskan obat ke wajah Dean.
“Aku hanya mencoba menghibur Alice yang merasa sedih Ma.”
“Alice sedih? Kenapa? Apa yang terjadi?”
__ADS_1
“Temannya masuk rumah sakit dan kami tak bisa menjenguknya karena diusir pengawal. Karena itulah Alice jadi sedih dan aku pun menghiburnya,” jelas Dean.
“Dengan memeluknya?”
“Iya.”
“Di depan tuan Adam?“
“Mmm iya.”
“Dean, mama tahu kalau kamu dengan Alice itu sudah sangat dekat sejak dulu, tapi bagaimanapun juga kamu sebentar lagi akan bertunangan dengan Diana. Cobalah untuk memahami situasinya Dean,” nasihat nyonya Julia pada putra sulungnya itu.
“Maafkan aku Ma, tapi aku gak bisa,” tegas Dean.
“Gak bisa?! Kenapa sayang?!” tanya nyonya Julia heran.
“Ma, aku gak menyukai Diana Ma.”
“Kenapa?! Apa karena kamu sudah punya pacar? Kamu lebih menyukai pacarmu dibandingkan Diana? Itu hal yang wajar sayang, sekarang kamu mungkin tak menyukainya, tapi nanti kamu pasti akan begitu,” sahut nyonya Julia kelabakan.
“Maafkan aku Ma, tapi masalahnya bukan cuma itu.”
“Bukan cuma itu? Lalu apa sayang?!”
“Apa! Kamu! Kamu suka dengan Alice?!” tanya nyonya Julia yang tak percaya dengan ucapan putranya itu.
“Iya.”
“Sayang! Apa kamu sadar? Hal itu sudah jelas tidak mungkin Dean!”
“Kenapa?!”
“Karena kamu dan Alice itu beda dunia sayang.”
“Beda dunia?! Apa mama melihat itu dari latar belakangnya? Kenapa mama yang kukenal baik hati bisa berkata seperti ini?! Apa sekarang mama juga berpikiran sama seperti papa?!”
“Bukan begitu sayang, mama senang kalau kamu punya seseorang yang disukai, hanya saja kamu pasti paham maksud mama nak. Kamu dan Alice itu terlalu berbeda, sudah jelas papamu tidak akan setuju dengannya.”
“Tapi kenapa? Kenapa semuanya harus seperti ini? Aku sangat menyayangi Alice Ma,” gumam pelan Dean.
“Dean, jika kamu memang menyayangi dia maka turuti perkataan papamu nak, itu juga demi kebaikan Alice nantinya.”
“Demi kebaikan apanya?!”
__ADS_1
“Apa kamu ingin papamu melakukan sesuatu pada Alice karena rasa sayangmu itu? Kamu tahu bukan seperti apa tipe papamu, dia pasti akan melakukan sesuatu pada Alice jika kamu masih seperti ini. Karena itu sayang, lepaskan dia demi kebaikannya.”
“Aku gak bisa ma.”
“Kamu pasti bisa sayang, mama yakin itu. Kamu hanya perlu membuka hatimu untuk Diana, dengan begitu kamu pasti bisa melepaskan Alice nantinya. Percayalah, tidak ada yang tidak mungkin,” tukas nyonya Julia lemah lembut.
Ingin rasanya ia membantu Dean, tapi nyonya Julia juga sadar dengan posisinya serta posisi keluarganya. Mencari sosok yang pantas bersanding bersama adalah prinsip umum bagi keluarga-keluarga seperti mereka.
Karena jika memiliki pasangan yang rendah status atau latar belakangnya hanya akan membuat malu keluarga mereka.
Sedikit banyaknya itu juga yang dipikirkan nyonya Julia. Ia tak ingin putranya nanti dihina orang karena salah memilih pasangan. Bagaimanapun juga, tentu saja sebagai ibu nyonya Julia ingin putranya mendapatkan pasangan yang layak dan pantas untuk ia pamerkan pada siapa pun juga.
Dan sayangnya Alice, terlalu jauh dari kriteria pasangan idaman untuk Dean. Bagi mereka saat ini memang Diana yang tampak pantas untuk berpasangan dengan Dean. Karena itulah tuan Kendal mengusahakan segala macam cara agar putranya bisa berpasangan dengan gadis itu.
Di satu sisi Dean merasa prinsip keluarganya sangat kejam, di sisi lain itu semua agar masa depan Dean cerah nantinya. Apakah prinsip keluarga yang seperti itu benar-benar salah?
Sekalipun itu semua nantinya untuk diri sendiri tapi dengan mengorbankan kebahagiaan pribadi, apakah itu semua benar-benar salah?
Sebuah panggilan masuk, berdering keras di ponsel Charlie.
“Halo? Iya bos?” sapa Charlie pertama kali.
“Eldrey di mana? Ponselnya tak aktif,” jawab panggilan dari seberang yang jauh itu.
“Nona sedang di kamar bos.”
“Aku ingin bicara dengannya.”
“Baik bos, tolong tunggu sebentar,” jelas Charlie lalu melangkah memasuki rumah menuju tempat Eldrey berada.
Sebuah kamar di lantai dua pun adalah tempat peristirahatan gadis itu.
“Tok ... Tok ... Tok ....” suara ketukan pintu.
“Nona? Saya masuk,” pungkas Charlie lalu membuka pintu kamar tersebut.
Tampak di atas ranjang gadis itu sedang tiduran sambil ditutupi penuh oleh selimut.
“Nona? Anda masih tidur?” tanya Charlie menerka-nerka. “Jika belum, ada panggilan dari bos, beliau ingin bicara denganmu nona.
Eldrey pun mengangkat tangannya sehingga selimut yang menutupi kepalanya terbuka.
“Mmm,” balas Eldrey singkat pada Charlie yang sedang melangkah mendekatinya.
__ADS_1