FORGIVE ME

FORGIVE ME
Calon tunangan Ramses


__ADS_3

Langkah kaki berbalut pantofel itu cukup mencolok iramanya. Pria dengan rokok di tangan melewati jembatan lorong sambil menyemburkan asap di mulut dan hidungnya. Ia tampak lelah, sesekali menengadah. Kembali teringat dengan ocehan seorang gadis muda tentang sosok asing yang sedang diburunya.


Seorang pria dengan tato bergambar tulang tengkorak di lehernya. Menggendong seorang balita yang diperkirakan anaknya.


Sosok itulah yang ditemui putri Dempster di Supermarket sehingga membuat syok dirinya.


Esoknya saat makan siang, semua dikejutkan dengan penampilan putri Dempster.


“Eldrey? Kamu mau ke mana?” tanya Betrand. Pria itu masih cuti bekerja. Dan sosoknya dengan pakaian santai agak kaget melihat dandanan cantik yang dipamerkan putrinya.


“Ke makam Paul.”


Tentunya penjelasan itu mengusik perasaan. “Reynald akan mengantarmu.”


“Tidak. Aku pergi sendiri. Dan tolong jangan ada pengawal. Aku tak suka diikuti. Mengerti?” tekannya.


“T-tapi—”


“Mengerti?” ucapnya memotong kalimat ibunya.


“Baiklah. Tapi jaga dirimu. Kalau ada apa-apa segera hubungi siapa pun di sini.”


“Mm.”


Dan gadis itu pun berlalu sambil memakai jeep unlimited yang sudah jarang ia pakai.


“Betrand. Bagaimana bisa kamu menyetujuinya? Eldrey itu masih butuh pengawalan!”


Tampaknya, Raelianna Jin tak setuju dengan permintaan putrinya. Kepala keluarga Dempster terdiam sejenak sebelum membalas ucapannya.


“Mungkin dia butuh privasi. Walau tak suka, tapi aku paham keinginan Eldrey. Tak ada yang senang jika aktivitasnya menjadi tontonan bawahan.” Wanita itu pun tertunduk mendengarnya. “Lagi pula, Eldrey pasti bisa menjaga dirinya. Percayalah.”


Sejujurnya, Raelianna hanya cemas takut-takut kejadian penculikan yang dulu pernah menimpa putrinya terjadi lagi.


Bagaimanapun, status Eldrey sebagai putri keluarga Dempster pasti menjadi incaran musuh-musuh mantan suaminya. Dan mereka mungkin akan memakainya sebagai kelemahan Betrand. Mengingat dirinya merupakan pebisnis sukses yang sangat terkenal.


Dan di sinilah Eldrey. Di pemakaman umum yang cukup sepi. Dengan sebuket lily putih di tangan ia tatap lekat nisan Paul di sana.


“Apakah kamu senang menjalani hidup seperti ini? Mati seperti kakakmu yang sangat kamu sayangi.” Begitulah untaian kata Eldrey setelah menaruh buket bunga di atas makam. “Sungguh, aku tidak akan berterima kasih. Kamu pantas mendapatkannya karena sudah bermain-main dengan nyawa. Aku tidak membencimu, Paul. Karena aku, menyayangi Patricia walau dia harus menderita sebagai ganti tindakannya.”


Selesai mengatakannya ia pun pergi. Walau sorot matanya sekilas menatap nisan Patricia di samping makam adiknya. Tapi hanya satu buket bunga untuk Paul yang dibawa.


Sekarang sosoknya melajukan mobil menuju Restoran di tengah kota. Dengan pemandangan kolam buatan serta jembatan indah di samping kirinya. Tak buruk memilih meja di tepian. Lukisan di luar dinding kaca cukup menenangkan hatinya.

__ADS_1


Sampai akhirnya ia mendapati kedatangan seorang laki-laki yang tak disangka-sangka.


Ramses Turner.


Putra Tuan Harel itu menuju sebuah meja di mana seorang gadis sudah duduk di sana. Berada di tengah-tengah dan berjarak tak jauh dari Eldrey.


Tampaknya laki-laki tersebut tak menyadari keberadaannya. Dan mungkin ia sedang melakukan pertemuan dengan pacar barunya.


Tapi sebenarnya suasana benar-benar canggung di meja yang ditempati Ramses dan Barbara itu.


“Bagaimana dengan kuliahmu?”


“Masih seperti biasa.”


“Setelah lulus apa kamu akan lanjut atau bekerja?”


“Mungkin bekerja.”


Barbara jadi bingung harus menanyakan apa lagi. Ramses agak cuek menurutnya namun ia suka. Karena laki-laki itu benar-benar tampan di depan matanya.


“Sepertinya kamu tidak nyaman bersamaku.”


Sajian yang sudah diantarkan pelayan itu gagal dimakan Ramses akibat ucapan wanita di depannya.


“Mungkin karena kamu tidak banyak bicara?”


Sendok dan garpu pun kembali ditaruh Ramses. Perlahan ia topang wajahnya dengan punggung tangannya. Menatap lekat wanita yang akan dijodohkan padanya.


“Kudengar dari Papaku kamu menyukaiku.” Tersedak. Sontak saja Barbara langsung meminum minumannya akibat pertanyaan tanpa basa basi laki-laki di hadapan. Wajahnya seketika memerah karena gugup dan malu yang menerpa. “Kamu baik-baik saja?”


“Y-ya,” balas cepat wanita itu. Perlahan ia merasa udara di sekelilingnya mulai gerah.


“Barbara, apa aku boleh tahu apa yang kamu sukai dariku?”


Rasanya bagai disambar petir. Apa yang harus ia katakan? Orang yang selalu diintainya sekarang menanyakan alasan di hatinya. Bagaimana menjelaskannya? Kalau Barbara begitu menyukainya sampai-sampai mengemis-ngemis pada orang tuanya agar bisa dijodohkan dengan Ramses yang notabene tak punya pacar.


“A-apa harus kujawab?” Ramses mengangguk tanpa keraguan. Satu hal yang pasti, sepertinya dia tak suka berbasa-basi. Itulah yang ditangkap Barbara setelah berhadapan langsung dengannya. “Y-yang aku ... sukai darimu itu—”


“Eldrey?” panggilan dari Ramses itu langsung menghentikan ucapan lawan bicaranya. Ia pun menoleh pada sumber pandangan. Di mana seorang gadis muda dengan tanktop hitam, jeans hotpants dan blazer agak kebesaran melewati mereka. “Kamu—”


Tapi hanya senyuman yang dipancarkannya. Karena ia sudah selesai makan walau tak menghabiskan sajian Restoran.


“Eldrey!” panggil Ramses tiba-tiba tapi gadis itu sudah berlalu dari sana. Spontan saja ia berdiri dan mengejutkan Barbara sehingga mencekal lengannya.

__ADS_1


“Kamu mau ke mana?! Kita sedang makan.”


“Ah, itu,” sosoknya tampak kelabakan. “Nanti kita lanjutkan lagi ya sampai jumpa,” ucapnya dan menepis tangan wanita itu. Ia pun terburu-buru meninggalkannya, membuat Barbara syok atas perlakuannya.


“Apa aku baru saja ditinggalkan?” gumamnya masih tak percaya dengan ulah Ramses barusan.


Sementara Eldrey dirinya sedang menuju mobilnya di parkiran. Tapi ia tersentak karena seseorang memegang lengannya. Di mana rupa tak asing dengan napas terengah-engah berdiri di depan mata.


“Ramses? Sedang apa kamu di sini?”


“Kamu sendiri, sedang apa di sini?”


“Tentu saja makan.”


“Ah,” kaget Ramses karena jawabannya.


“Kamu meninggalkan pacarmu?”


“Dia bukan pacarku.”


“Tak baik meninggalkan seorang gadis sendirian di dalam Restoran.”


Mendengarnya membuat laki-laki itu menatap malas ke arahnya. “Kamu bawa mobil? Mau ke mana?”


“Entahlah.”


“Aku menumpang ya, mobilku dibawa kakakku,” ucapnya tanpa basa-basi.


“Mm.”


Dan keduanya pun memasuki mobil Eldrey walau putri Dempster yang mengemudi. Tak ada suara kecuali keduanya fokus masing-masing.


Sampai akhirnya di depan lampu merah seorang anak menawarkan setangkai mawar yang dijualnya. Tentunya tanpa keraguan Ramses membelinya. Bukan hanya satu tapi semua dagangannya.


“Buat apa sebanyak itu?” tanya Eldrey tiba-tiba.


“Entahlah. Aku hanya kasihan jadi tanpa sadar membeli semuanya.” Tiba-tiba tangannya menyodorkan setangkai mawar pada Eldrey. Gadis itu tersenyum remeh walau satu tangannya tetap mengambil pemberian Ramses. “Terima kasihnya mana?” Tak ada respons kecuali senyuman masih terpatri di bibir gadis itu. “Dasar. Oh ya, sebelum pulang mau lihat balapan bersamaku?” 


“Balapan?”


“Ya. Beberapa anak kampusku ikut balapan. Sekalian hiburan, bagaimana?”


“Baiklah.”

__ADS_1


Eldrey pun mengendarai mobilnya ke tempat yang sedang menjadi perbincangan hangat di dunia maya.


__ADS_2