FORGIVE ME

FORGIVE ME
Aku menyukaimu


__ADS_3

Eldrey terdiam, saat kamar yang dimasuki ternyata tidak berantakan lagi. Lampu di langit-langit sudah berganti, dengan desain mirip jaring yang terlihat cantik.


Meja riasnya juga baru, membuat suasana kamar terasa berbeda. Eldrey merebahkan tubuh, menutup mata akibat rasa lelah di badan.


Beberapa jam kemudian, dirinya terbangun dari tidur. Menatap suasana gelap sekeliling.


Mungkin ia jenuh, memilih mandi dan berendam di bathup dengan aroma bunga yang segar untuk membasahi tubuhnya.


Tiba-tiba, Eldrey menenggelamkan badan tanpa alasan secara perlahan. Sekian detik bertahan di posisi itu, ia mulai kehabisan napas dan bangkit dari sana. Aroma shampo yang cukup khas, menutupi rambut panjangnya.


Di guyur air shower secara perlahan untuk lebih menenangkan otak. Gadis itu, terduduk diam dalam mandinya.


“Bagaimana keadaanmu?” sebuah suara lembut menghiasi suasana pagi.


Sosok terbaring yang ditanya, jelas hatinya kaget namun menampilkan ekspresi biasa seolah tak merasakan apa-apa.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya presdir Betrand dengan tekanan suara dingin di balik rasa sakitnya.


“Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaanmu.”


“Kamu sudah lihat. Jadi kembalilah. Aku tak ingin putriku salah paham melihat kehadiranmu di sini.”


“Dia juga putriku.”


“Aku tak ingin berdebat denganmu.”


“Tak ingin berdebat?” napas bu Anna tampak memburu. “Lalu apa yang kamu lakukan padanya sampai dia seperti itu?! Putri yang kukenal, bukan anak seperti itu! Apa yang sudah kamu lakukan padanya?! Katakan padaku Betrand, katakan!” teriaknya.


Tiba-tiba pintu kamar dibuka dengan kehadiran Rondolf yang kaget mendengar teriakan bu Anna.


“Nyonya.”


Wanita itu berlinangan air mata. “Apa yang sudah kamu lakukan? Eldrey yang kukenal, takkan pernah bersikap seperti itu. Anakku, tidak akan pernah bersikap seperti itu,” bu Anna terisak sambil mencengkeram erat ujung bajunya.


“Berhenti menangis. Sikap anakku, itu urusanku. Tak ada hubungannya denganmu.”


Bu Anna mengangkat wajahnya. Tak menyangka kalau mantan suaminya akan berkata seperti itu.


“Berisik apa ini?” sela sebuah suara dari sosok yang muncul tiba-tiba. Ia terdiam, saat melihat rupa dari orang tak diharapkan bersama dengan ayahnya.


“Ayahku sedang sakit. Bisa tidak anda tak berisik seperti itu?” tegas Eldrey.


Bu Anna kaget, begitu pula dengan presdir Betrand. Tapi ia sudah mengira jika putrinya pasti akan bersikap seperti itu.


“Eldrey,” panggil presdir Betrand dengan pelan.


“Ya?”


Ayahnya terdiam sejenak. Eldrey mendekatinya tanpa memedulikan sosok wanita yang sedarah dengannya.


“Eldrey,” panggil bu Anna sambil memegang lengannya.


Seketika gadis itu tersentak dan menepisnya.


“Ah!” pekik wanita itu tiba-tiba.


Presdir Betrand langsung meraih tangan putrinya yang menatap tajam ibu kandungnya. Tanpa bicara, tapi perlakuan itu menyiratkan kalau pria tersebut tak suka mantan istrinya diperlakukan kasar.


Eldrey lalu melepas pegangan ayahnya. “Aku sudah terlambat, aku pergi kuliah dulu,” hanya itu kata pamit dari Eldrey yang pergi meninggalkan mereka.


Bu Anna tak punya pilihan selain merelakan kepergian putrinya dengan beruraian air mata.


“Jangan dekati lagi putriku. Dia sudah cukup terluka, jadi jangan sakiti lagi dia lebih dari itu.”


“D-dia juga anakku,” lirihnya terisak.


“Tapi anakku tidak menganggapmu sebagai ibunya. Jadi maklumi saja, karena itu memang salahmu. Rondolf!” panggil presdir Betrand.


“Iya Tuan.”


“Perintahkan supir untuk mengantar nyonya Raelianna pulang ke rumahnya.”


“Baik Tuan.”


Bu Anna terdiam di balik tangisnya. Tanpa bicara lagi dirinya berbalik pergi meninggalkan kediaman itu dengan hati penuh luka. Pertama dari perlakuan putrinya, kedua dari kalimat dan pengusiran secara tidak langsung oleh mantan suaminya.


Niat baik untuk menjenguk presdir Betrand, berubah menjadi pisau terselubung ke dalam jiwanya. Bu Anna benar-benar terluka dengan sikap mereka berdua.


“Nyonya.”


“Tidak perlu mengantarku!” bu Anna berlalu sambil membawa perasaan sakitnya.


Supir yang diperintahkan untuk mengantarnya tak diacuhkan. Wanita itu lebih memilih naik taxi daripada kendaraan keluarga Dempster.


Itu lebih baik, mengingat ia sudah diperlakukan begitu.


“Ibu?” Evan kaget melihat ibunya pulang dengan mata merah. “Apa Ibu ke sana lagi?!” 


“Bukan begitu sayang. Ibu cuma-”


“Cuma apa?! Apa Eldrey mengatakan sesuatu lagi pada Ibu?!”


“Tidak. Bukan begitu sayang.” Bu Anna tampak kelabakan dengan Evan yang mulai emosi melihat kondisinya. “Kamu tidak pergi kuliah?” ucapnya mengalihkan perhatian.


“Iya, aku memang akan pergi.”


“Kalau begitu hati-hati di jalan sayang,” bu Anna memeluknya.


Evan masih terdiam. Ekspresinya jelas melukiskan perasaan berkecamuk di dada. Tapi ia tahan, karena tak ingin ibunya tambah terbebani.


“Kalau begitu aku pergi dulu Bu.”


“Iya sayang.”


Evan pun melangkah pergi dengan ekspresi geram di dada.


Di kampus Xercoln, Alice sibuk mencari sosok Erin yang tak bisa ditemuinya. Bahkan panggilan tak diangkat. Dirinya begitu ingin menemuinya, karena bagaimanapun ia harus melakukan sesuatu mengingat hubungannya dengan Dean saat ini.


“Kak Alice?” sapa Kevin sambil menyentuh bahunya.


“Kevin. Kamu di sini?”


“Iya.”


“Kamu tidak ada kelas?”


“Tidak, dosenku tidak datang.”


“Kakak sendiri?”


“Aku ada tugas, ingin mencari bahan di perpustakaan.”


“Begitu? Ingin kutemani?”


Alice sejenak terdiam sebelum akhirnya menyetujuinya.


“Kakak terlihat tidak seperti biasanya. Ada apa?” Kevin menatap lekat wajahnya sambil duduk berhadapan.


“Itu ... tidak ada apa-apa.”


“Benarkah? Aku sudah lama kenal Kakak. Wajahmu tak bisa berbohong.”


Tiba-tiba, mata Alice berkaca-kaca.

__ADS_1


“Kak?”


“Apa yang harus kulakukan? Aku benar-benar merasa bersalah.”


“Ada apa Kak?”


Alice menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


“Kak?” panggil Kevin sekali lagi karena melihat sikap sedihnya.


“Eldrey, dia mungkin membenciku.”


“Eldrey?”


“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Sejak insiden di rumah sakit, dia tak bisa lagi dihubungi. Aku benar-benar merasa bersalah. Jika bukan karenaku, maka ayahnya tidak akan terluka seperti itu,” ucap Alice terisak-isak.


“Ayahnya?”


“Ayahnya tertembak saat menyelamatkanku. Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku bahkan tidak tahu bagaimana keadaan paman itu. Aku benar-benar ingin menemuinya. Aku, benar-benar merasa bersalah Vin.”


Kevin terdiam. Secara garis besar sekarang ia tahu apa yang terjadi. “Apa kata Eldrey?”


Mendengar itu, Alice semakin tak bisa menghentikan tangisannya. Kevin langsung menyodorkan sapu tangan untuknya.


“Bagaimana jika Kakak pergi menemuinya?”


“Bagaimana? Aku bahkan tidak tahu di mana keberadaannya.”


“Oxtello Rako.”


Alice seketika terdiam, ia lepas tangan yang menutup wajah. “Benar! Dia pasti sudah mulai kuliah. Aku harus ke sana.”


“Mau kutemani?”


Alice mengangguk.


Sekitar siang pukul 13.54, dengan diantar Kevin, Alice pun pergi menuju kampus Eldrey.


Akan tetapi, sepertinya ini akan menjadi pertemuan yang tak terduga. Mengingat bukan hanya mereka yang ingin menemui gadis angkuh dari keluarga Dempster itu.


Menit-menit menuju waktu tertentu, sedang menanti Eldrey di depan gerbang kampusnya.


Langkah santai namun pasti dari seorang gadis terhenti saat perempuan sebayanya menghadang jalannya.


“Apa?” Eldrey memiringkan wajah.


“Kenapa Lily tidak kuliah? Dia bahkan tidak bisa dihubungi.”


“Hubungannya denganku?”


Gadis yang bertanya terdiam dengan ekspresi geram. “Kamu sepupunya bukan? Kamu pasti tahu sesuatu.”


“Aku terlalu sibuk untuk mengetahui itu.”


“Eldrey!” bentak Naomi karena tak terima dengan kalimatnya.


“Apa? Kau bisa ke rumahnya. Oh, kau tak tahu itu di mana? Tenang saja, akan kubayarkan taxi untukmu agar tidak tersesat di perjalanan.”


“Kau!”


“Eldrey?” sebuah suara mengalihkan suasana perdebatan.


“Henry? Kamu ke sini?”


“Oh! Sepertinya kalian berpacaran ya!” sela Naomi dengan nada dingin. “Heh, Henry! Beri tahu pacarmu ini agar tidak lagi bersikap kurang ajar. Sudah menyakiti Lily bahkan tidak meminta maaf padanya. Apa orang tuamu tidak mengajarkanmu sopan santun?”


“Ah!” Henry kaget mendengar kalimat itu.


“Kyaa!” teriak Naomi tiba-tiba yang menimbulkan kegaduhan.


“Eldrey!” pekik Henry.


Tapi terlambat. Gadis itu sudah terlanjur memukul bukan menampar bibirnya sampai-sampai Naomi tersungkur saking kerasnya.


Keributan itu mengundang orang-orang untuk mulai mengerumuni mereka.


“Kau tahu? Gadis kurang ajar itu, memang harus diperlakukan seperti ini. Karena itu aku memukulmu, sebagai ganti dari kegagalan orang tuamu dalam mendidik mulutmu.” Selesai mengatakannya, Eldrey pergi dengan sikap tak bersalah.


Kerumunan itu menimbulkan hiruk-pikuk suara dari mereka yang penasaran dengan kejadian tersebut.


Beberapa merasa yakin kalau itu salah Naomi, setelah mendengar kalimat Eldrey.


Untuk membersihkan namanya, Eldrey mengatakan sesuatu yang benar-benar membuatnya terkesan tak bersalah. Bagaimanapun, dia murid kesayangan para dosen. Mengingat prestasi dan juga posisinya yang tak pernah membuat masalah di kampus.


Sebagai senior Naomi, orang-orang yakin kalau Eldrey sudah diperlakukan kurang ajar oleh juniornya itu.


“Dia ada di mana ya?”


“Aku juga tidak tahu Kak, kita tanya saja,” jelas Kevin begitu dirinya dan Alice sampai di sana.


“Wah, apa kalian lihat? Aku yakin Naomi pasti kesakitan.”


“Bukankah dia teman dari sepupu Eldrey?”


“Ya, tapi sepertinya mereka tidak akur. Aku tidak pernah melihat Lily berkumpul dengannya.”


“Wajar saja, mereka beda kelas. Lily pasti canggung bermain dengan Eldrey, terlebih gadis itu seniornya padahal ia lebih muda,” sambil diiringi tawa.


Kevin dan Alice terdiam mendengar ocehan dari mahasiswa yang membahas orang dikenalnya.


Tiba-tiba, mereka dihentikan oleh sesosok pemuda dari kampus lain.


“Maaf permisi.”


“Ya?”


“Apa kalian tahu murid bernama Eldrey?”


“Senior Eldrey?”


“Ah iya.”


“Dia baru saja pergi ke arah sana setelah terlibat kegaduhan.”


“Kegaduhan?”


“Iya. Tadi senior memukul seorang cewek yang bersikap kurang ajar padanya.”


“Begitu? Terima kasih atas informasinya.”


“Ya sama-sama,” jawab cewek itu sambil senyum tersipu karena pesona laki-laki yang tak lain adalah kakak kandung dari Eldrey.


“Kak Evan.”


“Sepertinya dia tidak menyadari keberadaan kita,” ucap Kevin melirik Alice. “Ayo kita ikuti.”


“Apa!”


“Bukankah Kakak ingin bertemu Eldrey?”


“Itu.”


“Ayo!” Kevin menarik tangannya mengikuti langkah kaki Evan yang tak begitu jauh jaraknya.

__ADS_1


Di jalanan yang berbeda, Eldrey terhenti karena seseorang mengikutinya.


“Ada apa?”


“Itu ....”


“Apa kamu ada perlu denganku sampai mengikutiku?”


“Maaf.”


Eldrey menghela napas pelan. “Aku tidak mengerti, kenapa kamu selalu minta maaf saat berhadapan denganku?”


“Itu ....”


“Kamu ke sini untuk menemuiku?”


“I-iya.”


“Ada apa?”


“I-itu, aku, aku ... aku ingin menjemputmu.”


“Menjemputku? Kenapa?”


Henry terdiam. Ia benar-benar gugup saat di hadapkan dengan sikap Eldrey yang blak-blakan. Bahkan, tatapan lurus Eldrey terasa membebani mulutnya untuk bicara.


“Kamu menyukaiku?” spontan kalimat itu meluncur bebas dari bibir Eldrey.


“Hah?”


“Tidak?”


“Itu-”


Eldrey memiringkan wajah menanti lanjutan kalimat Henry yang tertahan. Wajah pemuda itu semakin merah, tangannya berkeringat, rasanya debaran jantungnya mulai tidak normal.


Gurat wajah tanpa ekspresi Eldrey mulai melukiskan kekesalan. “Kalau begitu aku pergi dulu.”


“Tunggu!” cegat Henry.


“Apa lagi?”


“Aku memang menyukaimu. Aku menyukaimu sejak kita pertama kali bertemu!” terang Henry tanpa ragu. Tak peduli apa yang terjadi, ia harus mengatakannya, terlebih keadaan sudah terlanjur seperti ini. Perlahan, Henry memegang kedua tangannya. “Aku menyukaimu.”


Eldrey terdiam. Ia mengedarkan pandangan sekilas. “Sepertinya kamu menyukai gadis yang salah.”


“Maksudmu?”


Eldrey melepas genggaman Henry. “Menurutku, ada banyak gadis cantik yang bisa kamu sukai. Jangan sia-siakan perasaanmu.”


“Maksudmu, kamu-”


“Aku tidak bisa membalas perasaanmu,” tegas Eldrey.


“Kenapa?”


Eldrey tersenyum. “Bukankah konyol kamu menyukaiku? Mau pandangan pertama atau bukan, aku tidak bisa membalas perasaanmu.”


“Tidak masalah. Bahkan jika kamu tidak menyukaiku, aku akan berusaha membuatmu suka padaku.”


“Dengar Henry. Berhenti berpikir seperti itu. Aku terlalu buruk untuk kau sukai. Jangan sia-siakan perasaanmu seperti itu. Mulai hari ini, lupakan aku dan anggap kita tidak pernah bertemu.”


Henry terdiam beberapa detik. “Apa aku tidak pantas untukmu?” matanya mulai memerah.


“Kamu terlalu baik untukku.”


Henry terkesiap mendengar jawabannya. “Maksudmu?”


“Eldrey!” panggil seseorang tiba-tiba membuyarkan pembicaraan mereka berdua.


“Dia,” gumam Henry karena merasa tak asing dengan wajahnya.


“Cih!”


Henry menoleh kaget saat mendengar Eldrey mendecih.


Dengan napas terengah-engah, pemuda itu berdiri tepat di depan sosok yang dicarinya dari tadi.


“Ayo kita bicara.”


“Bicara apa lagi? Apa kalimatku yang sebelumnya kurang jelas?” ucap Eldrey bernada jengkel.


“Sampai kapan kamu akan seperti ini?! Bagaimanapun kita ini tetap saudara!”


“Ah, apa ini? Kau kemari bersama pengawalmu?” Eldrey mengalihkan tatapannya dari Evan ke arah belakang pemuda itu.


Evan yang bingung menoleh ke belakang. Ia cukup kaget saat melihat sosok Alice dan Kevin yang tidak asing baginya.


“Eldrey,” gumam Alice.


“Tadi cewek brengsek, sekarang saudara keparat, selanjutnya teman sialan. Aku tidak tahu diriku terkenal di kalangan manusia seperti itu. Kenapa penghuni Xercoln datang kemari? Apa kalian ingin minta tanda tanganku?”


“Eldrey.”


“Berhenti memanggil namaku! Kau tidak berhak untuk itu!” Eldrey membungkam Evan. “Beri tahu ibumu, jangan datang lagi ke rumahku. Aku muak melihat wajahnya berkeliaran di dekatku.”


“Eldrey!” bentak Evan tiba-tiba. Orang-orang di sana kaget dengan tekanan dari suaranya.


“Kau membentakku? Heh! Siapa kau berani melakukan itu?”


Evan terdiam. Ia mengepal erat tangannya, melihat sikap adiknya yang benar-benar meremukkan hatinya.


“Eldrey,” tanpa terasa mata Alice berkaca-kaca.


“Kau.”


“A-a-aku-”


“Tutup mulutmu. Kau juga sama menyebalkan dengan bosmu,” sindir Eldrey sambil melirik Evan.


Alice tak bisa berkata-kata. Ia tak menyangka akan diperlakukan seperti itu. Ingatan saat dirinya dibentak Eldrey di rumah sakit, kembali terbayang.


“Kenapa kamu seperti ini? Padahal Alice temanmu. Padahal aku kakakmu. Padahal ibu, ibu kandungmu!”


Raut wajah Eldrey yang emosi, perlahan memudar. Mata sayunya, melirik rupa sang kakak dan sahabat. “Aku begini karena kalian. Apa perlu ditanyakan lagi? Tolong pergi. Jangan muncul lagi di depanku. Atau aku sendiri yang menghilang agar kalian tidak menemuiku.”


Selesai mengatakannya, Eldrey memilih pergi. Ia menyeberangi jalan. Meninggalkan kebungkaman untuk mereka yang merasakan.


Kevin terdiam, begitu pula Henry. Dirinya tak menyangka akan berada dalam kondisi seperti itu. Menonton masalah sang pujaan hati yang masih tidak ia ketahui seperti apa orangnya sebenarnya.


“Henry!” panggil Kevin saat melihat pemuda itu akhirnya mengejar Eldrey yang sudah jalan menjauh di hadapan mereka.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2