FORGIVE ME

FORGIVE ME
Kasih sayang seorang ayah


__ADS_3

“Tuan,” Charlie masih tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


“Membawa kakak Eldrey?” Dean terlihat masih bingung.


“Ya. Bawalah Evan ikut denganmu. Sepertinya kalian sebaya. Jika kamu tidak keberatan, maka Eldrey bisa pergi denganmu.”


Entah apa yang direncanakan pria Dempster tersebut dengan berkata seperti itu. Tapi, jelas ia baru saja menarik tali yang tajam dari diri Eldrey.


Gadis itu memandang dingin wajah ayahnya. “Benar, bawalah Evan. Dan sebagai gantinya aku tidak akan pergi,” ia menyeringai tipis. Tanpa aba-aba dirinya berlalu dari sana. Seolah tak peduli dengan istilah sopan santun yang memang tak lagi diajarkan sejak dulu oleh keluarganya.


Presdir Betrand hanya fokus menatap Dean. Sang pemuda tertegun dan mencoba bersuara tenang. “Sepertinya Eldrey, tidak ingin ikut denganku.”


“Ya, dan aku juga tidak mengizinkannya.”


Charlie dan putra Kendal terkesiap. “Lalu kenapa?” Dean dibuat penasaran olehnya.


“Eldrey tak begitu akur dengan kakaknya. Jika mereka tetap di rumah, gadis itu hanya akan mengurung diri di kamar. Tapi jika mereka pergi denganmu, tentu saja ada harapan hubungan keduanya membaik walau tidak sepenuhnya.”


Dean terdiam. Sosok di depan matanya seperti seorang kepala keluarga dingin yang tidak berperasaan.


Bohong jika dirinya tak mendengar gosip apa pun tentang Presdir Betrand. Kepala keluarga Dempster, pimpinan tertinggi di tahta kerajaan bisnisnya serta sosok angkuh dalam langkah kakinya.


Dia pria yang diselimuti pagar batu dan dinding besi, namun rupanya di balik penampilan menekannya, sosoknya tetaplah seorang ayah untuk anak-anaknya.


Dean merasa agak iri karena Tuan Kendal yang tak berupa dingin seperti Presdir Betrand, sikapnya jauh lebih tidak berperasaan untuk anak-anaknya. Andai papanya itu tahu apa yang diharapkan kedua putranya.


Sungguh Dean juga ingin kehidupan dengan orang tua yang normal seperti Ramses ataupun anak-anak lainnya.


Dia terkadang merindukan pelukan sang papa yang tak kunjung ia dapatkan. Senyuman di meja makan atau sebuah kabar bagaimana hari-harinya dijalankan. Bukan kenyataan hidup yang sudah dilukiskan Tuan Kendal agar dipandang orang-orang dan takkan mencoreng nama keluarga.


Jujur muak sudah menyelimuti dirinya dan Kevin dalam kehidupan keluarga harmonis di luar namun hambar di dalam. Iri benar-benar menumpuk di perasaan.


Mereka anak-anak yang kekurangan kasih sayang papanya, namun diberkahi harta melimpah keluarganya.


Jalan hidup setiap keluarga memang tidak bisa disamakan. Tapi, apakah salah jika ia berharap dan berangan?


“Baik. Aku tak masalah ikut membawa kakak Eldrey, tapi bagaimana dengannya? Dia benar-benar terlihat tidak ingin pergi.”


“Charlie,” panggil Presdir Betrand.


“Ya Tuan?”


“Katakan pada Evan, bersiaplah untuk jalan-jalan dengan teman dan adiknya,” selesai mengatakan itu Presdir Betrand pun berdiri dari posisinya meninggalkan mereka.

__ADS_1


Charlie hanya memandang diam Dean, lalu memainkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Cukup lama untuk tersambung. Sampai akhirnya di panggilan kedua telepon terangkat.


“Halo.”


“Tuan muda?”


“Cih! Kita serumah, kenapa menghubungiku?”


Tawa pelan berkumandang di bibir Charlie yang ditonton Dean. “Aku hanya ingin memberi tahumu jika ayahmu memberi perintah agar kau bersiap untuk jalan-jalan bersama teman dan adikmu.”


“Apa!”


“Bersiaplah sekarang. Temanmu sudah menunggu di ruang tamu utama,” lalu panggilan diputus begitu saja.


Evan mengernyitkan wajah bingung dengan pemberi tahuan barusan. Jalan-jalan dengan adik? Apa itu berarti Eldrey? Sontak saja ia langsung memakai baju karena baru selesai mandi. Benar-benar terburu-buru seperti dikejar waktu.


“Apa lagi?” begitulah kata sambutan yang dilirihkan Eldrey di dalam kamarnya.


Sama seperti Evan, dia juga baru selesai mandi tadi saat menemui Dean. Namun rambutnya dibiarkan basah meneteskan air dan sekarang masih belum dikeringkan. Sepertinya malas telah menerpa tubuh yang membaca novel horor di tangan.


“Temanmu di bawah.”


Presdir Betrand menaruh buku tebal yang tadi di bawanya di atas sofa dan berjalan ke arah meja rias mengambil hair dryer. Mendekati putrinya, dan menyentuh lembut rambut basahnya.


“Ayah senang karena kamu memiliki banyak teman,” ucapnya sambil menghidupkan hair dryer tanpa kabel itu dan mengeringkan rambut putrinya.


Tangannya melakukan itu dengan cekatan dan hati-hati agar sang putri tidak kesakitan.


“Kenapa ayah mengizinkanku pergi dengannya?” Kalimat itu sedikit menyentak kesadaran kepala keluarga Dempster. “Ayah tahu sendiri kan bagaimana kondisiku?”


“Ya, Ayah tahu. Kamu baik-baik saja. Jadi kamu tidak perlu cemas karena Ayah akan melindungimu apa pun yang terjadi.”


Gadis itu tak lagi bersuara. “Aku, tak ingin pergi.”


“Ada Evan, sayang.”


“Aku semakin malas pergi.”


“Kamu juga butuh hiburan.”


“Ada Alice juga, aku tidak menyukainya.”

__ADS_1


Presdir Betrand terbungkam. Memang tak disangka, tindakannya yang pernah menolong Alice justru menjadi bumerang tersendiri untuk keluarganya. Untuk putrinya yang terpuruk tanpa pernah merasakan uluran tangan agar bisa keluar dari kegelapan.


Rasa sesal menghampirinya. Tapi, masa lalu takkan bisa diubah lagi. Hanya masa depan yang bisa diperbaiki dengan cara menata lebih baik dan hati-hati.


Luka Eldrey masih menganga di permukaan mereka. Dan semua takkan bisa diobati dengan cepat.


Sang ayah hanya berharap agar putrinya bisa sembuh bahkan jika harus memakan waktu lama dan mengorbankan apa pun miliknya selain keluarganya.


Dia sangat menyayangi putrinya walau caranya terkadang salah.


Perlahan rambut yang telah mengering disisirnya. Benar-benar penuh kasih sayang jika orang-orang melihatnya. Para penonton mungkin akan kaget jika tahu kalau Presdir Betrand bersikap seperti ini sekarang.


Benar-benar seperti ayah yang sempurna walau masih jauh dari hati putrinya.


“Pergilah, lepaskan kebosananmu. Ayah akan perintahkan pengawal untuk berjaga dari jauh. Kamu juga perlu bersenang-senang, sayang. Sekarang gantilah pakaianmu. Jangan ikat rambutmu agar tidak sakit kepala.”


Lalu ia pun mengecup lembut puncak kepala putrinya sebelum pergi dari sana. Semerbak apel hijau yang wangi terpancar dari surai coklat Eldrey.


Gadis yang masih duduk tenang di pinggiran ranjang, akhirnya perlahan mengganti pakaiannya.


“Evan.”


Pemuda itu terkesiap saat melihat kedatangan ayahnya. Jujur ia sangat kaget dengan keputusan Presdir Betrand. Bahkan begitu pula Dean, ia masih tak menyangka, jika seniornya sekaligus putra bos di toko roti tempat Alice bekerja ternyata adalah keluarga Eldrey.


Dunia ternyata begitu sempit jika dilirik kenalannya.


Akhirnya, setelah beberapa saat menunggu, Eldrey pun datang dengan dandanan boyish style miliknya.


Presdir Betrand tersenyum tipis karena putrinya terbujuk juga. Sedikit banyaknya rencananya untuk mengakrabkan anak-anaknya mungkin akan terwujud.


Dean juga berekspresi sama. Begitu pula Evan, ia bahkan menyodorkan jaket karena adiknya hanya memakai kemeja hitam lengan pendek.


“Karena sudah malam di luar sangat dingin,” ucapnya. Eldrey hanya memiringkan wajah lalu mengabaikan mereka dengan berjalan duluan.


Evan pun cuma bisa tersenyum kecut mendapati sikap cuek adiknya.


“Apa Eldrey tidak bawa baju tambahan?” timpal Dean mengingatkan. Terlebih Eldrey dan Evan malam ini akan menginap di Vila keluarganya.


“Vila keluargamu berdekatan dengan Vila Dempster. Jadi Nona bisa ke sana mengambil bajunya,” ujar Charlie.


Dan akhirnya, Evan serta Dean pun keluar rumah untuk menyusul Eldrey yang memasang tampang masam menunggu mereka di depan mobil putra Kendal.


 

__ADS_1


 


__ADS_2