
Evan pun tertawa melihat tingkah Alice yang seperti itu, keakraban yang terjalin antara mereka berdua yang dekat pun mengundang senyum Bu Anna. Ia sangat senang, karena bagaimanapun juga Alice sudah seperti keluarga dan anak perempuan baginya.
“Alice, kapan-kapan ajak ibumu ke sini ya,” potong bu Anna sambil berjalan mendekati meja mereka dengan membawa sepiring cemilan.
“Iya bu, lain kali pasti ibuku aku ajak ke sini,” balasnya sambil memperlihatkan senyum manisnya.
Bu Anna pun tersenyum mendengarnya, “ya sudah ibu ke belakang dulu ya, kalian istirahat saja dulu,” sahut bu Anna meninggalkan mereka.
Sementara di tempat yang berbeda, di halaman sebuah kediaman mewah bergaya mediterania, tampaklah seorang anak muda sedang bermain basket dengan santainya.
“Cih, main sendiri memang menyedihkan,” gumamnya sambil melemparkan bola basket ke dalam ring. “Mau ajak siapa ya,” lanjutnya sambil mendrible bola. Pandangannya pun teralihkan saat melihat sosok lusuh memasuki halaman rumahnya.
“Loh, kak Dean?” gumamnya lalu berlari mendekati kakaknya yang akan memasuki rumah. “Kakak habis dari mana? Jelek sekali,” ocehnya menatap Dean yang lusuh dan tak terawat itu.
Dean hanya memalingkan wajah menatap Kevin yang ingin tahu itu, “aku mau mandi dulu,” balasnya sambil berpaling dan memasuki rumah.
Kevin pun hanya memperhatikan setiap langkah serta menyapu seluruh tubuh bagian belakang kakaknya dengan tatapan melototnya.
“Apa yang terjadi?” gumamnya sambil menaikkan sebelah alisnya lalu kembali lagi ke tempat bermainnya semula.
Dean memasuki kamarnya lalu segera mengambil handuk dan memasuki kamar mandi. Ia pun menggosok kedua kelopak matanya dengan jari salah satu tangannya.
“Cih! Sial!” gerutunya membuka pakaiannya dan memutar kran shower.
Sedangkan Kevin yang sudah merasa lelah dengan permainan basket kesepiannya pun memilih masuk ke rumah dan menuju dapur untuk mengambil sebotol minuman sebagai pelepas rasa hausnya.
“Sudah bosan mainnya?” sahut nyonya Julia yang datang entah dari mana. “Sudah keringatan begitu kamu,” sambungnya.
“Mmm,” balas Kevin lalu meneguk kembali minumannya.
“Kakak kamu masih belum pulang?” tanya nyonya Julia sambil mengambil sepotong cake dari dalam kulkas.
“Sudah, pulang-pulang jelek sekali,” balasnya sambil meletakkan kembali minumannya dalam kulkas.
“Jelek? Jelek bagaimana maksudmu sayang?” tanya mamanya terheran-heran.
“Iya jelek, kayak orang gak mandi-mandi, untung ganteng saja jadi gak parah amat kelihatannya,” tukas Kevin antara meledek atau memuji kakaknya.
“Terus kakakmu sekarang di mana?”
__ADS_1
“Kayaknya di kamar, mungkin lagi mandi,” tukasnya sambil mengangkat kedua bahunya sekilas.
“Nanti kalau kakakmu sudah turun suruh dia temui mama ya,” balas nyonya Julia sambil menepuk bahu anaknya.
“Iya ma,” lalu mereka berdua pun jalan ke tempat yang terpisah, nyonya Julia ke kamarnya, sedangkan Kevin menaiki tangga menuju kamar kakaknya.
“Kak!” panggil Kevin membuka pintu kamar Dean tanpa izin. “Lagi benaran mandi ya,” gumamnya sambil masuk ke kamar dan merebahkan dirinya di sofa Dean tanpa mempertimbangkan badannya yang masih berkeringat. Ia pun mengambil sebuah manga dan membacanya.
Tak lama Dean pun keluar dari kamar mandi dan mendapati adiknya yang sedang bersantai menikmati hidup di kamarnya.
“Ngapain kamu di sini?” tanya Dean sambil mengambil pakaian dalam lemari dan memakainya tanpa mempedulikan kehadiran adiknya.
“Mama mau ketemu kakak di kamarnya,” jawab Kevin seadanya tanpa sedikit pun menoleh pada kakaknya.
“Mama? Mau apa?” tanya Dean penasaran.
“Gak tahu, tanya saja ke sana,” balasnya sambil tetap fokus pada manga yang memanjakan matanya.
Setelah selesai bersiap-siap, Dean pun meninggalkan kamar beserta adiknya begitu saja. Ia menyusuri tangga dengan santai dan sesekali menyisir rambutnya ke belakang dengan jari tangannya.
Sesampainya di kamar nyonya Julia, “Ma, ini Dean Ma,” sahutnya sambil mengetuk pintu kamar.
“Iya, masuk saja Yan,” balas nyonya Julia dari dalam kamar.
“Papa menyuruh kamu sama mama buat pergi ke pertemuan,” tukas nyonya Julia sambil memoles eye shadownya.
“Pertemuan? Pertemuan apa?”
“Pertemuan dengan Diana dan ibunya. Kita akan makan siang bersamanya di hotel Belruxiar,” balas nyonya Julia yang sedang memakaikan lipstik di bibirnya sebagai sentuhan terakhir.
“Cih!”
“Dean! Kenapa kamu menjawab seperti itu?!” pekik nyonya Julia kaget saat mendengar putranya menjawab seperti itu.
“Aku gak mau tunangan sama Diana ma!” balas Dean.
“Kenapa?!”
“Aku gak suka dia?!”
__ADS_1
“Memangnya Diana kurang apa?! Dia cantik dan terpelajar, latar belakangnya juga tidak perlu diragukan lagi! Kenapa kamu tidak suka dengannya?!” tanya nyonya Julia terheran-heran dengan selera anaknya.
“Aku sudah punya pacar Ma!” tegas Dean.
Nyonya Julia pun terdiam mendengar perkataan putranya, “siapa? Apa salah satu teman-temanmu?”
“Iya, Erin! Dialah pacarku Ma,” jelas Dean.
“Erin?! Kamu yakin dia pacarmu?” tanya nyonya Julia memastikan.
“Iya.”
“Kalau begitu putuskan dia!” perintah nyonya Julia.
“Ma!” sergah Dean.
“Dean! Kamu tahukan papamu itu seperti apa! Apa kamu pikir dia akan suka melihat kamu berpacaran dengan gadis yang tak jelas latar belakangnya?!”
“Tapi ma,” balas Dean tetap menolak perkataan nyonya Julia.
“Dean, mama gak mau tahu ya, kamu itu harus putus dengannya, bagaimanapun juga Diana lebih baik untukmu,” tegas nyonya Julia. “Cepatlah bersiap-siap karena kita akan menemui mereka,” sambung nyonya Julia.
Dean hanya diam tak menjawab, ia pun keluar dari kamar itu dengan ekspresi menyedihkan, tampak jika Dean benar-benar tidak menyukai ini semua. Sekalipun tak menyukai Erin, setidaknya gadis itu jauh lebih baik dibanding Diana baginya.
Dean pun memasuki kamarnya, “kenapa kak? Rusuh sekali tampangmu,” tanya Kevin yang masih belum beranjak dari kamar Dean. Dean hanya menatapnya, wajahnya terlihat kesal dan tak menyuarakan apa pun.
Kevin yang merasa risih dengan tatapan itu pun bangun dari pose santainya. “Apa ada hubungannya dengan Diana?” tanyanya yang membuat Dean memalingkan wajah kesalnya.
“Benar ya, memang kenapa dengannya?” tanya Kevin penasaran.
Dean tidak menjawabnya dan hanya memilih berdiri di balkon kamar menatap segala sesuatu yang ada di depannya.
“Bukankah dia lumayan? Menurutku dia tak begitu buruk untuk kakak,” oceh Kevin yang memanaskan kepala kakaknya.
“Lumayan? Tak begitu buruk? Kalau begitu kenapa bukan kamu saja yang bertunangan dengannya? Sepertinya dia cocok denganmu,” tukas Dean bernada dingin sambil menatapnya.
Kevin pun menyunggingkan senyum di bibirnya, “sepertinya kakak sedang kesal, kalau begitu lebih baik aku pergi saja,” balas Kevin sambil berdiri dari duduknya.
Saat akan membuka pintu ia pun membalikkan setengah badannya dan menatap kakaknya yang membelakanginya, “pikirkanlah sekali lagi kakak, saat ini Diana jauh lebih berpengaruh di keluarga ini dibandingkan dirimu, kalau kakak ingin merubah hidup, maka buatlah pengaruh yang besar di sini,” sahut Kevin lalu membuka pintu dan pergi.
__ADS_1
Dean pun memilih diam saat mendengar ocehan adiknya itu, ia sadar apa yang di katakan adiknya tidaklah salah, di keluarga itu hanya pengaruhlah yang bisa merubah nasibnya. Salah satu contohnya sudah terlihat dari pengaruh Diana dan keluarganya pada hidup dan masa depan Dean nantinya.
Ia pun mengacak-acak rambutnya, “benar, demi Alice, aku harus membatalkan pertunangan ini bagaimanapun caranya,” gumam Dean tiba-tiba.