
Di ruang rawat yang sepi, hanya ada Eldrey sendiri. Gadis itu meminta kepada dokter dan suster untuk tidak membiarkan siapa pun mengganggu istirahatnya.
Gadis itu hanya memandangi langit-langit kamarnya, menatap kosong dengan wajah tanpa ekspresi yang menjadi ciri khasnya. Tak ada sedikit pun tanda-tanda raut wajah kesakitan akibat luka tusukan yang menimpanya.
Tiba-tiba, pintu kamarnya pun terbuka, “nona?” panggil orang yang baru masuk tersebut.
Eldrey pun meliriknya sekilas lalu mengalihkan lagi pandangannya menatap hal yang sama dengan sebelumnya.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya laki-laki tersebut.
“Seperti yang kau lihat,” tukas Eldrey tanpa menoleh.
“Aku sudah dengar dari Roma, penyebab sampai kau bisa seperti ini,” pungkas Charlie sambil duduk di kursi. “Untung saja bodyguard tak berguna itu segera melapor dan kami akhirnya bisa menemukanmu.”
Eldrey tak menjawab perkataannya, ia lebih memilih menutup mulutnya seolah-olah sedang tak berdaya.
“Jadi, apa kau sengaja?”
“Apa maksudmu?” tanya Eldrey tak paham.
“Kau meminta izin untuk bertemu temanmu dengan dikawal Roma, karena suatu kepentingan Roma pun akhirnya terpaksa meninggalkanmu. Kau dikawal bodyguardmu yang biasa dan kau tahu itu. Namun, kudengar penyerang temanmu juga merupakan penyerangmu dari orang yang membawamu ke rumah sakit ini."
"Tapi kenapa kau tidak jadi bertemu temanmu? Lalu kenapa kau menghindari pengawasan dan berakhir seperti ini? Apa itu semua memang cuma kebetulan?” jelas Charlie panjang lebar.
Eldrey pun menatapnya, “aku tak jadi bertemu temanku karena dia sedang bersama kekasihnya dan aku berakhir seperti ini karena kecelakaan, bagaimana bisa kau berpikir yang tidak-tidak?” sahut Eldrey dengan nada tak suka.
“Karena aku tahu apa yang bisa kau lakukan.”
“Memang apa yang bisa kulakukan? Apa kau pikir aku menyuruh orang untuk mengganggu temanku? Lalu berpura-pura melukaiku dan berakhir di rumah sakit? Agar Betrand datang melihat kondisiku dan memberi perhatian terbaiknya sebagai seorang ayah? Apa itu yang kau pikirkan?! Apa kau pikir aku segila itu sampai mengorbankan diriku yang hampir saja mati tak berguna?!” tukas Eldrey emosi.
“Karena kau memang butuh perhatiannya, bukankah begitu?!” tegas Charlie menatap gadis itu tanpa berkedip.
“Keluar kau dari kamarku. Keluar ...! Uughh ....” teriak Eldrey dengan emosi. Ia pun memegang lukanya, karena rasa sakit yang tiba-tiba muncul akibat berteriak.
Charlie hanya terdiam menatapnya, tak ada raut wajah iba yang diperlihatkannya ketika melihat kondisi putri bosnya. Kalaupun ada, hanya rasa jengkel di dada akibat kegaduhan yang sudah ditimbulkannya.
“Aku akan keluar, beristirahatlah dengan benar,” ledek pria itu yang menimbulkan geram Eldrey.
Laki-laki itu lalu pergi meninggalkannya, sementara di luar ruangan tampak sekretaris Roma yang sedang berdiri sambil bersandar ke dinding.
“Roma? Apa kau tak mau masuk?” tanya Charlie.
__ADS_1
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena sebagai pengawal saya sudah gagal melindungi nona.”
“Omong kosong apa yang kau bicarakan?” tukas Charlie sambil mengerutkan dahi.
“Jika saya tidak pergi meninggalkan nona dan tetap mengawalnya, maka kejadiannya tak akan seperti ini,” ucap sekretaris Roma dengan nada bersalah.
“Benar.”
Jantung sekretaris Roma pun tersentak kaget, saat mendengar perkataan Charlie yang membenarkan kesalahannya akibat kecerobohannya tersebut.
“Tapi itu bukan sepenuhnya salahmu, karena bagaimanapun juga tugas kita tidak hanya mengawal nona. Lagi pula kau adalah sekretaris sekaligus tangan kanan presdir, wajar kalau kau tidak bisa mengawasinya dengan benar mengingat posisimu itu,” pungkas Charlie menasehatinya.
“Bagaimanapun juga, kau punya urusan yang lebih penting selain mengawasinya,” tambahnya.
Sekretaris Roma yang mendengar perkataan Charlie pun menjadi sedikit lega hatinya, rasa bersalah yang ada di dirinya perlahan-lahan memudar.
Tapi tidak dengan Charlie, sekarang raut wajahnya berubah menjadi lebih serius menatap sekretaris Roma, “kau masih muda, namun kau memang sangat berbakat. Karena itu sebagai senior, akan kuberi kau saran yang berguna.”
“Jangan percaya pada siapa pun, terlebih lagi nona. Lagi pula, bukan hanya perhatian yang diinginkannya, walaupun kau sudah mengenalnya bertahun-tahun tapi kau masih belum tahu seperti apa dia yang sebenarnya. Karena itu, pasang mata dan telinga dengan benar sebelum kau direpotkan olehnya,” tambah Charlie sambil tersenyum tipis pada sekretaris Roma.
Sekretaris Roma hanya memperhatikan punggung laki-laki tersebut yang berjalan menjauh darinya, sambil tetap mengingat-ingat apa yang diucapkannya.
Memang benar apa yang dikatakannya, bagaimanapun juga sekretaris Roma sudah mengenal presdir Betrand dan Charlie sejak lima tahun yang lalu, namun ia baru memasuki kediaman bosnya itu saat berusia 25 tahun yang berarti ia sudah berada di sana sekitar 3 tahun.
Kesan pertama saat memasuki kediaman itu hanyalah sebuah pemandangan mewah dengan penghuni yang aneh baginya. Kalau pun ada yang normal hanyalah bibi pembantu, beberapa pelayan, serta penjaga gerbang kediaman tersebut. Selebihnya tak ada yang normal, apalagi kepala pelayan Rondolf serta Eldrey sang putri bos besar.
Kepala pelayan Rondolf sangatlah tegas dan disiplin, namun selalu memiliki sorot mata tenang yang mencurigakan. Sekali setahun, ia pasti memerintahkan pergantian pelayan baru entah apa alasannya. Dan tindakannya itu semua atas izin presdir Betrand, tampaknya presdir sangat mempercayainya karena laki-laki itu sudah melayaninya selama lebih dari dua puluh tahun.
Sedangkan Eldrey sang tuan putri, lebih aneh lagi. Gadis itu seperti anak bangsawan yang kekurangan kasih sayang, bahkan sekretaris Roma sempat mengira gadis itu menderita Alexithymia karena tidak bisa menyampaikan emosi dan kurang empati atau apa pun itu.
Tetapi pandangannya pun berubah saat melihat ulah gadis itu setengah tahun kemudian, yang menyebabkan gadis itu sempat dikirim ke rumah sakit jiwa namun berakhir dengan kurungan di rumah dan terapi.
Sungguh disayangkan, karena gadis itu sangatlah cerdas dan merupakan mantan siswa akselerasi. Entah trauma apa yang menimpanya sehingga ia pun berubah sampai seperti itu. Setidaknya presdir Betrand sudah mengusahakan yang terbaik untuk putrinya dan itu terlihat dari perubahan Eldrey selama dua tahun ini.
Sekretaris Roma sudah menghubungi presdir Betrand, namun respon pria itu atas kejadian yang menimpa putrinya sangatlah menyedihkan.
Gadis itu benar-benar kekurangan kasih sayang namun selalu diselimuti kemewahan, bagi sebagian orang itu adalah harga yang sebanding.
__ADS_1
Tapi apakah sebanding bagi gadis itu?
Pagi harinya tampak Ramses sedang sarapan bersama keluarganya. “Rams, tadi malam apa yang terjadi? Kenapa baju dan tanganmu berlumuran darah?” tanya nyonya Nera penuh selidik.
“Temanku terluka dan masuk rumah sakit,” jelas Ramses singkat.
“Siapa?!”
“Eldrey.”
“Namanya tidak asing,” sahut Fiona.
“Putri presdir Betrand?” tanya tuan Harel memastikan.
“Iya .... Dan aku akan ke rumah sakit melihat keadaannya.”
“Jadi darah di baju dan tanganmu itu darah dia?!” pungkas nyonya Nera.
“Iya.”
“Hah! Untung saja darah dia bukan darahmu, mama sampai syok karena kamu pulang seperti itu dan langsung lari ke kamar tanpa mengacuhkan pertanyaan mama,” gerutu nyonya Nera.
“Untung saja?! Padahal dia terluka karena aku, bagaimana bisa disebut untung saja?” tukas Ramses yang tak suka dengan perkataan ibunya.
“Apa maksudmu?” tanya tuan Harel yang membuat lainnya terdiam.
“Dia terluka karena menyelamatkanku, kalau bukan karena dia sudah pasti aku yang tertusuk dan terbaring di rumah sakit sekarang,” jelas Ramses dan membuat nyonya Nera terdiam tak berkutik.
“Gadis itu .... Menyelamatkanmu?” ucap nyonya Nera terbata-bata. Ramses hanya menatap ibunya dan pandangannya sudah mengisyaratkan jawaban yang jelas.
“Papa dan mama juga akan menjenguknya,” pungkas tuan Harel tiba-tiba.
“Apa?! Tapi!” nyonya Nera pun menolak perkataan suaminya.
“Bagaimana pun juga dia sudah menyelamatkan Ramses, tentu saja kita harus melihat keadaannya,” tegas tuan Harel yang membuat nyonya Nera tak lagi membantah suaminya.
“Nera! Kenapa kamu tak suka dengan gadis itu? Waktu itu kamu juga kesal saat membahas gadis itu,” tanya nenek Ramses.
“Sudahlah, lupakan saja! Kita akan menjenguknya bukan?” jawab nyonya Nera pasrah.
“Aku boleh ikut? Aku penasaran seperti apa gadis dengan standar tinggi itu,” tanya Fiona.
__ADS_1
“Terserah!” tukas Ramses yang tak peduli dengan perkataan kakaknya.