FORGIVE ME

FORGIVE ME
Tak lagi menunggu


__ADS_3

Dan sekarang, dia tak lagi menunggu. Bahkan jika mata masih terarah pada pintu, hati seperti ingin membeku.


Seolah mencoba melumpuhkan harapan sia-sia yang ditanamkan otaknya. Hanya diam dan bersikap tenang, bahkan jika dadanya sakit tapi suara enggan disemburkan.


Betrand pun heran akan perubahan putrinya. Dia bernyawa namun sorot matanya tak biasa. Seperti dua orang yang berbeda. Dan itu bukan lagi raut wajah putrinya. Namun sosok gadis yang jelas-jelas tak sama lagi ekspresinya. Dan kepala keluarga Dempster memilih diam saja pada akhirnya.


Eldrey yang telah pulang dari Rumah Sakit Jiwa, disambut untaian kata serta air mata para pelayan di rumahnya. Tapi anehnya itu semua tak merasuk ke dalam hatinya.


Kecuali sakit di dada, dan tak bisa dilukiskan olehnya. Sang gadis kecil pun hanya bungkam saja sambil memendamnya.


Sampai akhirnya, insiden mengerikan lagi-lagi terjadi. Betrand yang memang sesekali frustrasi dalam merindukan istrinya, terkadang suka membawa kupu-kupu malam ke rumahnya.


Walau mereka hanya tidur bersama tanpa melakukan hal tak senonoh lainnya, tapi wanita itu begitu sombong rupa-rupanya.


Dia yang tak sengaja bertemu dengan Eldrey pun mengatakan kalau sosoknya merupakan Nyonya besar di rumah itu.


Bersikap arogan, karena sudah berhasil merebut hati sang kepala keluarga.


Dan Eldrey yang diam saja saat sarapan, tanpa ragu menusuk perut kupu-kupu cerewet itu. Dengan garpu, sehingga korbannya berteriak histeris ketakutan.


Tapi memang sudah tak bisa dielakkan lagi, bola mata serta leher pemberi layanan pada Betrand, harus membayar harga atas kelancangannya.


Dia tewas di perjalanan, akibat trauma di badan serta luka fatal di leher yang menimbulkan pendarahan hebat.


Sampai-sampai Eldrey pun diasingkan ke ruang bawah tanah atas keputusan ayahnya. Merasa waspada akibat kegilaannya yang tak ragu memandikan tubuh dengan darah para korbannya.


Dan pada pertemuan mereka, menjadi titik balik bagi Betrand dalam hidupnya. Membuat sosoknya makin tersadar seberapa jauh perubahan putrinya.


“Kenapa kamu melakukan ini? Aku tak pernah mendidikmu untuk menjadi kriminal seperti itu!” teriak Betrand saat mereka sama-sama duduk berhadapan.


Tapi tak ada jawaban, kecuali lirikan mata tenang bagi Eldrey dalam menatap ekspresi ayahnya.


“Kenapa kamu seperti ini? Mana Eldrey yang dulu?! Putriku yang dulu takkan pernah melakukan hal sekeji itu seperti dirimu! Kembalikan putriku! Aku bilang kembalikan putriku!” sambil menggoyang-goyangkan bahu gadis itu.


Dan tiba-tiba hal mengejutkan terjadi tepat di depan matanya.


Pena yang menggantung indah di saku kemejanya, sontak terarah tepat ke bola matanya. Bersamaan dengan satu tangan putrinya yang mencengkeram erat lehernya.


Gadis itu berniat membunuhnya.


Betrand pun tanpa sadar langsung mundur ke belakang. Andai Charlie tak sigap memegangi tangan kanan putrinya, bisa dipastikan pena itu akan tertanam di bola mata kirinya.


Eldrey benar-benar tak ragu lagi untuk mencelakakan dirinya.


“Kenapa ayah bertanya seperti itu? Bukankah putrimu itu sekarang berada tepat di depan matamu? Jika Ayah kehilangan satu mata, mungkin penglihatanmu akan kembali normal seperti sedia kala. Kalau Eldrey yang dulu masih ada di hadapanmu saat ini juga.”

__ADS_1


Tiba-tiba dia berdiri dan tersenyum ke arahnya.


“Aku tak ingin lagi ke Rumah Sakit Jiwa. Makanannya tidak enak dan isinya orang aneh semua. Aku tidak gila, jadi ayah tak perlu waspada. Karena aku hanya ingin tidur dengan tenang saat ini juga,” dan ia pun pergi dari sana menuju rumah utama di bagian kiri.


Di mana kamarnya tak pernah dihuni. Memilih tempat di lantai dua dan merebahkan tubuh di ranjangnya.


Menatap langit-langit kamar tanpa merasakan apa-apa. Tapi satu hal yang pasti, sesak di dada kian mencengkeram hatinya.


Dan pintu pun terbuka tiba-tiba oleh kehadiran dia yang tak disangka-sangka.


Charlie Stevano.


Melirik tenang putri Dempster sambil langkah perlahan mendekatinya. Masih tak bersuara kecuali manik mata bertemu rupa gadis kecil di hadapannya.


“Apa kamu lapar?”


Gadis itu bangkit dan mengangguk pelan. “Apel.”


Laki-laki itu pun mengangguk dan mendekati keranjang buah yang memang sudah berada di atas meja. Tapi tak ada pisau di sana, sehingga ia pun mengeluarkan pisau lipat dari sakunya.


Mengupas kulit apel agar bisa dimakan putri majikannya.


“Enak?”


Eldrey mengangguk pelan. Memakannya seperti orang yang tak memiliki beban.


Gadis itu terdiam sejenak. Menatap potongan apel di tangan dan perlahan mencengkeramnya. Berharap jika kepalannya bisa menghancurkannya. Namun tangannya tak sekuat itu untuk melakukannya.


“Dadaku sakit. Semakin hari dadaku terus sakit. Dari saat aku diculik dan itu jadi terus-terusan sakit. Sampai sekarang hanya dadaku yang sakit. Apa mungkin aku punya penyakit jantung?”


Entah kenapa, pernyataannya sangat menggelitik hati dia yang mendengarkannya.


“Apa kamu tidak menangis?”


“Aku sudah pernah menangis. Tapi dadaku jauh lebih sakit. Dan itu membuatku tak bisa menangis lagi. Mungkin tidak lama lagi aku akan mati. Kalau itu terjadi, ayah akan bagaimana ya?” tanyanya sambil sedikit menerawang.


Miris.


Di usia yang masih belia, dia mampu mengatakan itu tanpa beban di dirinya. Seolah-olah bukan masalah besar bagi sosoknya.


Benar-benar menggelitik hati Charlie saat berhadapan dengannya.


“Apa kamu ingin mati?”


“Aku ingin tidur dengan tenang.”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Karena saat diculik aku terus kesakitan. Mereka menyiksaku sehingga aku tidak bisa tidur dengan tenang.”


Dan begitu mudahnya ia mengatakan itu semua tanpa menangis sesegukan. Sehingga Charlie pun jadi tersenyum mendengar lirihannya. Lirihannya seperti orang tabah, namun faktanya jauh lebih mengerikan.


Perlahan, tangannya mengeluarkan ponsel dan mematikan telepon yang sedang menyala. Panggilan antara dirinya dan juga Betrand, sebagai tanda kalau sang bos menguping pembicaraan.


“Apa yang kamu rasakan saat penculikan?”


“Aku tak tahu.”


Charlie pun mengernyitkan dahi karenanya. “Tidak tahu? Bukankah kamu terluka?”


“Ya aku memang terluka. Tapi, saat itu apa yang terjadi ya? Mereka melakukan apa?”


Laki-laki itu terkesiap. Merasa heran sekarang karena ocehan gadis kecil di sebelahnya.


“Apa kamu tidak ingat?”


“Ingat apa?”


“Penculikkan.”


“Ah ya, aku memang diculik. Tapi apa yang terjadi ya?” Eldrey seperti orang kebingungan sekarang.


“Apa kamu tidak ingat apa yang dilakukan penculiknya? Atau seperti apa wajah mereka, apa kamu ingat?”


Gadis itu pun memiringkan kepalanya. “Apa yang kamu bicarakan? Wajah penculik? Aku tidak mengerti dengan apa yang sedang kamu katakan.”


Dan Charlie pun jadi terdiam sekarang. Mencerna kembali pembicaraan mereka berdua barusan. Eldrey pun menyentuh kepalanya dan juga dadanya.


“Dadaku sakit,” lirihnya tiba-tiba dan membuat laki-laki itu terkejut karenanya.


“Kamu baik-baik saja?” khawatirnya lalu menyentuh bahunya.


Mendadak Eldrey langsung menepisnya dengan kasar dan tanpa sengaja tangannya tersayat pisau di tangan Charlie.


“Agh!”


“Nona! Anda—” tapi kalimatnya tak lagi dilanjutkan. Karena sebuah senyuman lebar di bibir sang putri majikan, terpatri nyata sekarang.


“Charlie! Dadaku tidak sakit lagi! Bagaimana ini?! Dadaku tidak sakit lagi! Ini pasti karena luka ini, sekarang aku hanya merasakan perih di sini!” jelasnya semringah. Bahkan jika darah menetes di tangan sosoknya malah tampak bahagia.


Sebagai tanda kalau putri Dempster akhirnya menemukan obat untuk sakit di dadanya yang sudah ia derita sejak lama.

__ADS_1


 


__ADS_2