FORGIVE ME

FORGIVE ME
Mimpi buruk


__ADS_3

Evan terdiam di dalam kamar yang berbeda dengan Dean dan Kevin serta teman-temannya. Tadinya, ia mendatangi tempat di mana Eldrey berada untuk bertemu namun sang adik enggan membukakan pintu.


Sepertinya, jalan untuk bisa mengakrabkan diri dengan putri Dempster memang tak semudah yang terlihat.


Langit gelap cukup indah. Pesona bintang-bintang sebagai hiasan di sepanjang nuansa malam memukau mata yang memandang. Dingin dari hembusan angin, menerpa gelombang di lautan dan mengantar ombak ke tepian. Tapi di balik itu semua, seseorang telah tersadar dalam kelamnya sebuah impian. Mencekik dirinya untuk menyentak tubuh serta pikiran agar kembali terjaga.


Eldrey Brendania Dempster.


Napasnya terengah. Keringat dingin mengucur pelan membasahi raga, dan tatapan matanya sayu namun menekan.


Dia tidak baik-baik saja.


Kembali, semua mendatanginya lagi. Kenangan yang sudah diinjaknya mencoba menggapai permukaan untuk bisa diratapi. Tapi, dia bukan orang lemah yang akan menangisi sesuatu tak berharga di diri.


Masa lalu tak boleh merangkulnya lagi.


Perlahan, badannya yang terduduk pun mulai menundukkan kepala untuk disandarkan ke antara dua lututnya. Menatapi jari-jari kaki, walau badan gemetar dan suara aneh merasuki, tapi kesadarannya harus tetap bisa dikendalikan.


Dirinya cuma bisa berusaha baik-baik saja, mengingat tak ada seorang pun yang mampu membantunya saat ini.


Eldrey, tersiksa karena ingatan yang tak bisa dienyahkannya.


“Kak Alice?” sapa Kevin di pagi hari. Terlihat gadis muda itu sedang membuatkan nasi goreng untuk sarapan di dapur.


“Kevin, kamu sudah bangun?”


“Ya. Kakak memasak? Aku akan membantumu.”


“Tidak usah, Vin. Kamu duduk saja.”


“Tidak apa-apa,” dan pemuda itu pun menyiapkan piring makan untuk mereka.


“Maaf,” ucap Alice tiba-tiba. Putra kedua Kendal hanya meliriknya sekilas. “Maaf karena semalam sudah mengacaukan semuanya.”


Butuh beberapa detik bagi Kevin untuk menjawabnya. “Aku tidak akan menanyakan apa pun jadi kita tidak perlu membahasnya lagi.”


Terkesiap. Alice terbungkam dibuatnya. Entahlah, sejujurnya dirinya tak yakin kenapa Kevin berkata seperti itu. Nadanya terkesan santai seolah tak peduli. Tapi, suasana yang tercipta jelas menunculkan kecanggungan di antara mereka.


Sampai akhirnya suara Steven dan Henry memecahkan suasana di antara keduanya.


“Wah, wanginya hebat sekali,” puji Steven lalu memakan apel yang ada di keranjang.


Kevin hanya menatapnya tak peduli dan tetap menata keperluan di meja makan dibantu Henry.


“Apa kalian lihat Eldrey?!” sebuah suara memecah fokus orang-orang di dapur dari sosok yang berdiri di bibir tangga.


“Tidak. Kalian?” tanya Steven mengalihkan tatapannya pada Henry, Alice dan Kevin.


Sontak saja ketiga orang itu menggeleng bersamaan yang memunculkan decihan Evan.


“Bukankah dia di kamarnya?” tanya Kevin.


“Tidak ada,” putra Dempster tampak panik lalu berlalu ke pintu belakang.


“Hei, siapa yang membiarkan pintu terbuka semalam?” Dean tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarnya.


“Hah?” Steven pun mengangkat bahunya sekilas sebagai jawaban.


“Sial!” umpat Kevin tiba-tiba meninggalkan mereka.

__ADS_1


“Kevin, kamu mau ke mana?!” tanya Dean heran.


Tapi tiba-tiba, langkah adiknya itu terhenti di depan pintu utama saat sosok Eldrey berdiri tepat di hadapannya. “Eldrey? Kamu habis dari mana?”


Gadis itu mengabaikannya dan melewatinya begitu saja.


“Eldrey, tadi Kak Evan mencarimu. Kamu habis dari mana? Ayo sarapan dulu aku sudah buatkan nasi goreng,” ajak Alice dengan senyum cerahnya.


Akan tetapi, hanya lirikan mata sekilas yang dipamerkan putri Dempster lalu pergi menapaki tangga. Orang-orang terdiam dibuatnya dan memandang udara kosong di mana gadis itu terakhir kalinya terlihat oleh mata.


Alice pun menunduk karena merasa kecewa.


“Oh ya, Kak Ramses dan Kak Erin mana?” sela Steven tiba-tiba.


Seketika suasana di wajah Dean, Alice dan Kevin berubah mendengarnya. Tentu saja hal itu disadari Henry sehingga ia menjitak temannya yang sudah berbicara.


“Hei! Apa yang kau—”


Henry melotot lalu mengarahkan dagunya pada Alice yang tampak membuang muka.


“A-ah, maafkan aku,” cicitnya karena baru sadar sudah menginjak ranjau di antara mereka.


“Ayo makan, aku akan panggil Eldrey. Hen, tolong panggilkan Kak Evan,” suruh Kevin pada temannya.


Tentu saja hal itu mengundang cibiran Henry karena ia juga ingin memanggil putri Dempster. Tapi, apa boleh buat. Sepertinya kesempatan untuk bisa semakin dekat dengan sang gadis pujaan memang bukan sekarang saatnya.


Di kamar mandi, Eldrey membasuh lengannya. Mencoba mencuci bersih cairan merah yang menghiasi permukaan kulitnya tadinya. Sakit tentu saja, namun ia sudah kebal dengan itu semua.


Terlalu kebal sampai-sampai semua luka fisiknya menjadi candu tersendiri sekaligus obatnya.


Akan tetapi, dirinya terkesiap. Saat wajah dari pemuda paling tidak diharapkan ternyata sudah berada di dalam kamarnya begitu ia keluar.


“Aku menjemputmu untuk makan.”


Eldrey membuang sekilas pandangannya sambil menghela napas pelan. “Aku tidak lapar dan sekarang keluar,” tekannya.


Kevin cuma mengangkat sebelah alisnya sebagai balasan, sampai akhirnya diraihnya lengan sang gadis yang keras kepala.


“Sakit brengsek!” Eldrey menyentak tangannya agar pegangan Kevin terlepas. Sontak saja hal itu mengejutkan pemuda di depannya.


“Sakit?” dirinya langsung mengalihkan tatapan ke tempat yang tadi disentuhnya. Dan tiba-tiba ditariknya tangan Eldrey.


“Kau—”


Terkesiap.


Kevin terdiam melihat luka sayatan di balik lengan baju Eldrey yang ditariknya. Perlahan, raut wajahnya mendingin menatap putri Dempster bertampang masam di matanya.


“Apa-apaan luka ini? Siapa yang melakukannya?”


Eldrey menarik tangannya namun tak bisa. Cengkeraman Kevin membuatnya susah. “Keluar.”


“Kutanya sekali lagi, siapa yang melakukan ini padamu?”


“Aku. Karena kau sudah tahu, sekarang keluar,” Eldrey pun mendorong bahu Kevin agar bisa menuju pintu.


Tapi justru tangan kanan itu ditahan dan dibalas dengan ekspresi jengkel putra Kendal. “Kamu melukai dirimu sendiri?”


Eldrey tersenyum. “Ya. Kenapa? Masalah?” bahkan seringai tercetak indah di bibirnya. Jujur mendengar pengakuan itu entah kenapa hati Kevin menggeram.

__ADS_1


“Kenapa?”


“Keluar.”


“Kenapa?” Kevin benar-benar menatap intens ke dalam bola matanya.


“Bukan urusanmu.”


“Tapi ini urusanku, Eldrey.”


Gadis itu tidak menjawabnya. Hanya memutar bola mata malas dan mencoba menarik kedua lengannya yang ditahan. “Lepas dan keluar.”


Tapi, tiba-tiba pintu kamar diketuk yang mengalihkan pandangan keduanya. Kevin pun langsung melepaskan tangan Eldrey dan menuju pintu.


“Kak Alice?”


“Kevin? Eldrey mana?”


“Dia di kamar mandi.”


“Benarkah? Terus kamu ...” terlihat kebingungan di diri Alice untuk melanjutkan kalimatnya.


“Eldrey menyuruh kita makan duluan. Tapi menurutku lebih baik kutemani dia, jadi kami mungkin agak terlambat.”


“Begitu?”


“Mm. Kakak dan yang lainnya makan duluan saja.”


“Baiklah kalau begitu.”


Kevin tersenyum padanya. Pintu yang hanya terbuka dan memamerkan tubuhnya saja itu lalu ditutup. Membuat Alice, jadi tak bisa melihat sosok Eldrey tadinya.


“Kenapa kau berbohong?” tanya Eldrey dengan ekspresi santainya. Tapi, bukan jawaban yang di dapatkan melainkan pemandangan tak terduga. “Kenapa kau kunci pintunya?”


Kevin tetap saja mengabaikannya dan berlalu menuju nakas. Seolah mencari sesuatu.


“Dasar tuli,” umpat pelan Eldrey melangkah menuju pintu.


Akan tetapi, saat tangannya akan mencapai gagang sontak saja ia tertarik ke belakang sehingga tubuhnya menabrak Kevin.


“Brengsek, apa yang kau lakukan?”


“Mau ke mana?”


“Kau punya otak tidak? Sekarang keluar.”


“Lenganmu terluka.”


“Keluar!” Eldrey menatapnya tajam.


Kevin tersenyum miris mendengar pengusiran gadis di depannya. “Aku juga punya batas kesabaran Eldrey,” lirihnya bernada lembut.


Tapi tiba-tiba, digendongnya tubuh gadis itu di bahunya.


“Kau! Turunkan aku brengsek!”


Dan Kevin benar-benar menurunkannya di ranjang. “Tenang atau aku akan mengikatmu,” sambil tersenyum pada putri Dempster yang deru napasnya memburu. “Aku cuma ingin mengobatimu, oke?”  


 

__ADS_1


 


__ADS_2