
Dengan menaiki taksi Eldrey meminta supir untuk mengantarnya ke sebuah hotel. Di perjalanan ia menatap ke belakang, melihat apakah ada sesuatu yang mungkin saja mencurigakan.
Begitu sampai di hotel, ia tidak memasukinya. Selain memilih berjalan ke arah belakang hotel.
Gadis itu terus berjalan, menyeberangi jalan raya tanpa melirik sekelilingnya. Bungkusan di tangan yang masih ia bawa pun dibuang ke tempat sampah saat melaluinya.
Eldrey mengeluarkan ponsel dan mematikannya. Entah apa yang ia rencanakan sekarang. Berhenti di sebuah restoran dan memasukinya, memesan makanan namun tak memakannya. Setelah selesai ia pun keluar lewat pintu belakang restoran dengan ekspresi datar yang sering ia tampilkan.
Entah apa yang sedang dipikirkan Eldrey dengan berbuat seperti itu.
*******
“Aku harus bagaimana Rams? Rey terlihat sangat marah,” Alice terisak-isak.
“Tenang saja, dia begitu pasti karena syok dengan keadaan ayahnya.”
“Hiks ... hiks ... Aku benar-benar tidak tahu jika paman itu ayahnya, aku benar-benar tidak tahu.”
Ramses terdiam, sementara Alice masih melanjutkan ucapannya. “Dia benar-benar terlihat marah, jika terjadi sesuatu pada paman itu aku harus bagaimana? Paman itu sudah menyelamatkanku Rams.”
“Aku harus bagaimana? Ini semua salahku,” ucap Alice beruraian air mata.
Ramses mengelus bahunya untuk menenangkannya, ia benar-benar kasihan pada Alice. “Itu bukan salahmu, itu hanya kecelakaan yang tak terduga.”
“Tapi bagaimana dengan Rey?! Apakah dia akan berpikiran seperti itu? Aku melihatnya, dia benar-benar sangat marah padaku Rams.”
“Dan kalung itu?! Dia benar-benar marah Rams, aku bersumpah kalau aku tidak tahu apa-apa tentang kalungnya, paman itu hanya memberikannya padaku Rams,” lanjut Alice.
“Ya, aku percaya padamu. Tenang saja Liz, nanti Rey pasti paham dengan maksudmu. Sekarang mungkin dia sedang terpukul dengan apa yang dialami ayahnya. Kamu hanya perlu beri dia waktu untuk sendiri,” Ramses menenangkannya dengan memeluknya.
Alice pun membalas pelukan sambil tetap menangis di dekapannya.
Di saat yang sama dan tempat berbeda, ekspresi kaget terpampang jelas di wajah bu Anna. Laporan dari polisi serta panggilan dari orang-orang sekitar toko roti penyebabnya.
“Bagaimana Van? Kamu sudah hubungi Alice?!”
“Sudah bu, tapi ponselnya mati.”
“Kita harus ke toko!” ajak bu Anna.
“Ya,” angguk Evan.
Mereka berdua pun bersiap dan pergi ke sana untuk memastikan bagaimana keadaan yang sebenarnya.
Sesampainya di toko, “ini, bagaimana bisa?!” pekik bu Anna.
Jendela yang terdiri dari dinding kaca pecah berserakan karena tembakan peluru sebelumnya.
“Bu Anna! Anda datang juga akhirnya!” seorang wanita paruh baya menghampiri. Ia adalah pemilik toko sebelah yang menjual bunga.
“Nyonya Ley, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya bu Anna.
“Apa kamu tidak dapat laporan dari polisi? Sudah terjadi penembakan di sini. Pengawai cantikmu terlibat, tapi untung dia baik-baik saja.”
“Apa anda tahu di mana Alice sekarang? Aku sudah menghubunginya tapi tak diangkat,” jelas bu Anna.
__ADS_1
“Mungkin mengantar korban ke rumah sakit. Orangnya sangat tampan, tapi sayang sekali dia terluka. Aku penasaran apa pria itu selamat atau tidak,” gumam nyonya Ley yang membuat bu Anna semakin risau.
Sementara Evan, ia sudah masuk ke dalam toko dan memeriksa keadaan yang ada. Hanya kaca serta ada bekas lubang di meja yang retak. Sepertinya itu jejak peluru yang tak ada lagi di sana karena sudah diambil polisi sebagai barang bukti.
“Nyonya Ley, apa anda tahu siapa korbannya?”
“Aku tidak tahu, tapi aku ingat jika kemarin orang itu juga kemari dan berhenti sambil menatap ke arah tokomu. Kupikir dia kenalan pegawai cantikmu.”
“Kemarin juga?” bu Anna semakin penasaran.
“Iya.”
“Bu, Alice sudah berhasil dihubungi, dia akan segera kemari bu!” timpal Evan tiba-tiba.
“Benarkah Evan?! Syukurlah,” akhirnya beban di hati bu Anna mulai berkurang. “Nyonya Ley, kalau begitu aku ke toko dulu, terima kasih infonya.”
“Iya bu Anna,” mereka pun terpisah dan masuk ke toko masing-masing.
Sekitar setengah jam kemudian, Alice pun datang ke toko diantar Ramses. “Bu Anna!” panggil Alice tersedu-sedu. Ia pun memeluk wanita itu dengan sangat erat.
“Alice? Ada apa sayang?! Kamu baik-baik saja?!” tanya bu Anna cemas dengan sikapnya.
“Pa-paman itu bu! Hiks ... hiks ... paman itu terluka karena menyelamatkanmu,” isak Alice.
Evan pun mendekati mereka dan mengelus kepala Alice dipelukan bu Anna untuk menenangkannya.
“A-apa yang harus hiks ... kula-kukan? Aku takut jika terjadi apa-apa padanya,” jelas Alice.
“Tenang sayang, semua akan baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja,” ucap bu Anna mengusap punggung Alice lembut.
Sementara, tak begitu jauh dari toko, sepasang mata tenang menatap ke pemandangan penuh kesedihan itu.
Tiba-tiba Eldrey menyeringai, dan menyandarkan kepalanya ke jendela mobil. Menatap remeh pada pemandangan di depannya.
“Menjijikan,” lirihnya. “Ayo kita pergi,” perintah Eldrey pada supir taxi tersebut.
Mereka pun beranjak dari sana, sepanjang perjalanan Eldrey tetap menyandarkan kepalanya ke jendela mobil.
Ia menghidupkan ponsel, tampak tiga puluh satu kali panggilan tak terjawab memenuhi ponselnya.
“Hah ...” hela napas pelan Eldrey. Ia pun menghubungi seseorang.
“Halo? Di mana kau Nona?” jawab seseorang di seberang telepon.
“Di jalan.”
“Cih! Jangan buat aku menyesal karena sudah membiarkan kau berkeliaran,” jengkel Charlie.
Eldrey tak menanggapinya.
“Pelaku sudah ditemukan, sekarang mereka di tempat Arlene,” lanjut Charlie.
“Baiklah, aku akan ke sana.”
“Aku akan menjemputmu.”
__ADS_1
“Tidak perlu,” tolak Eldrey yang membuat Charlie mengernyitkan dahinya.
“Temui saja aku dekat gerbang,” perintah Eldrey lalu memutus panggilan tiba-tiba.
“Antar aku ke jalan St.Strofa,” perintah Eldrey pada supir itu.
“Baik Nona,” angguknya. Lalu mobil pun dialihkan ke tempat yang dituju.
Setibanya di tempat yang disebutkan, Eldrey pun turun dari taxi. Tampak di sebuah gerbang di dekat kolam taman sebuah supercar hijau sudah menanti kedatangan Eldrey.
Gadis itu pun masuk ke mobil tanpa peduli siapa yang ada di dalamnya.
“Baik sekali dirimu mau repot-repot menjemputku.”
“Kalau bukan aku memangnya siapa lagi? Aku lebih senang melakukan segala sesuatu seorang diri,” jengkel Charlie padanya.
Mobil itu pun, dilajukan ke jalan kanan yang berseberangan dengan gerbang tadi. Jalanan yang mereka tempuh itu cukup sepi, dipenuhi beberapa rumah yang jaraknya cukup berjauhan.
Pemandangan lapangan rumput hijau terbentang luas di kiri dan kanan mereka. Sebuah perbukitan terjal juga menghiasi mata di sekitar sana.
Tapi itu tak mampu mengusik hati Eldrey, karena bagaimanapun juga ia bukan tipe orang yang akan terpukau dengan hamparan pemandangan indah.
Setelah menempuh jarak sekitar 15 menit, mereka pun sampai di depan gerbang rumah dokter Arlene. Seperti biasa, sang penjaga gerbang menyambut mereka dengan penuh hormat yang mengagumkan.
Eldrey pun turun dari mobil dan memasuki rumah tanpa menunggu Charlie terlebih dahulu.
Ia menapaki jalan dengan angkuhnya, bahkan saat pelayan membungkuk hormat dan menyapanya, gadis itu hanya berlalu dengan sorot mata ke depan yang tak teralihkan.
Melewati ruangan demi ruangan dan memasuki lorong yang cukup panjang sampai menuruni tangga yang cukup minim pencahayaannya.
Sampai akhirnya gadis itu tiba di pintu terakhir dan membukanya tanpa basa-basi.
Orang-orang di dalam sana cukup kaget dengan kehadirannya yang mencolok itu.
“Nona,” sapa dokter Arlene namun tak diacuhkan.
Dua orang yang terluka fisiknya, tampak duduk terikat di masing-masing kursi besi dengan ekspresi menyedihkan. Jaket kulit yang menghiasi tubuh mereka bahkan tak mampu untuk memperbaiki dandanannya.
“Kami berhasil menangkapnya sebelum mereka naik pesawat,” jelas Afro sang supir Eldrey sebelumnya. Ia juga di sana karena merupakan tangan kanan Charlie yang terpercaya.
Eldrey mendekat dan berdiri tepat di depan sosok yang diperkirakan sebagai pelaku penembakan.
Gadis itu menyentuh salah satu pipi tersangka, dan mengelusnya dengan lembut.
Akan tetapi, sorot matanya yang tak memperlihatkan ekspresi apa-apa, benar-benar membuat penasaran.
“Jadi siapa orang yang ada di belakang mereka?”
“Mereka masih diam, sepertinya orang itu sangat luar biasa sampai bawahannya rela dihajar habis-habisan,” sahut Charlie tiba-tiba membalas pertanyaan Eldrey.
Eldrey melepaskan sentuhannya. “Aku, akan melepaskanmu, karena itu beri tahu aku siapa pemimpinmu.”
“Heh! Apa kau pikir kami orang seperti itu? Jika bisa buka mulut dengan mudah, pekerjaan ini takkan jatuh ke tangan kami!” ucap salah satu pelaku.
“Begitu? Bahkan jika kalian mati?” Eldrey memiringkan wajahnya.
__ADS_1
“Manusia pasti mati, apalagi yang perlu kami takutkan?” tantangnya pada Eldrey dengan ekspresi merendahkan.
Eldrey tersenyum, “bagus sekali, orang-orang seperti kalianlah yang sangat kusukai,” gadis itu pun memudarkan senyumannya dan mengangkat tangan dengan ekspresi tak terduga.