FORGIVE ME

FORGIVE ME
Teman lama


__ADS_3

Seketika gadis itu turun dari mobil dengan tampang jengkelnya.


“Eldrey! Nak, kamu mau ke mana?” Bu Anna tampak panik.


“Jalan-jalan! Jadi kau pulang saja.”


“Tapi kondisimu sedang tidak baik sayang, ibu mohon ayo—”


“Tidak baik? Kau pikir aku gila!”


Bu Anna pun terkesiap karena dihardik oleh putrinya. “M-maksud ibu bukan begitu. Ibu cuma—”


“Apa lagi?! Aku bosan di rumah! Kau pikir aku binatang bisa terkurung seperti itu! Aku sudah berbaik hati menemanimu jadi jangan ganggu aku lagi! Aku akan pulang nanti sore jadi kau tidak perlu mengadu yang tidak-tidak pada Betrand.”


Selesai mengatakannya Eldrey langsung berlalu meninggalkannya.


Bu Anna hanya bisa terdiam dan beruraian air mata karena sikap putrinya. Tapi bagaimanapun dirinya sadar kalau memperbaiki apa yang telah rusak di antara mereka memang butuh waktu lama.


Hanya kesabaran dan usaha yang dibutuhkan wanita itu untuk mendapatkan hati putrinya yang telah membeku.


Eldrey menghela napas pelan dengan sorot mata tajamnya. Berjalan menyusuri jalanan dibalut high heels dan dress floral di bawah lutut serta memamerkan bahu putih mulusnya.


Rambut dikuncir kuda namun ikal semakin mempermanis dandanannya. Jarang-jarang sekali dirinya berdandan seperti itu, terlebih teardrop hoop earrings menggantung cantik di telinga.


Tapi, langkahnya yang santai justru ditatap kaget seseorang di sampingnya.


“Eldrey?”


Seketika gadis itu menoleh ke belakang pada sosok yang memanggilnya.


“Mm? Vincent?”


Sontak senyum merekah pada pemilik nama yang disebut putri Dempster. Bahkan mengundang penasaran tiga lelaki dan seorang perempuan yang berdiri di sisinya.


“Eldrey, bagaimana kabarmu? Sudah lama kita tidak bertemu,” sapanya sambil memegang lengannya.


Tapi gadis itu hanya diam, menatap lurus ke rupa maskulinnya yang bermata besar dan berbibir penuh. Aroma penggoda menusuk masuk ke hidungnya, ya karena pemuda itu memang mantan model parfum tersebut.


“Eldrey?”


“Aku baik. Bagaimana kabarmu?”


Sungguh Vincent tak bisa menghentikan senyumnya karena dijawab Eldrey pertanyaannya. Tapi entah kenapa tangannya seakan enggan lepas dari lengan gadis itu.


“Aku baik. Aku benar-benar tak menyangka, setelah pulang dari luar negeri akan langsung bertemu dengan dirimu,” ekspresinya tampak tulus.


“Hei!” sela seseorang tiba-tiba yang memudarkan tatapan mereka. Dia adalah salah satu laki-laki yang bersama Vincent tadinya. “Apa kamu tidak akan memperkenalkan dia pada kami?” senyum tipis tersungging di bibirnya.


“Itu—“ Vincent tampak ragu. Perlahan Eldrey menarik lengannya yang digenggam pemuda itu sehingga ia cukup kaget dibuatnya.


“Kenapa ragu begitu? Hai, Paul. Itu namaku,” ucapnya menyodorkan tangan ke arah Eldrey.


Tapi, entah kenapa putri Dempster masih belum menyambutnya dan cuma menatapnya. Paul pun menyeringai tipis dan meraih tangan gadis di depannya.


“Jangan begitu Nona, kalau ada orang yang mau berkenalan balas dan tersenyum padanya. Oh ya namamu Eldrey kan? Nama yang cantik sesuai pemiliknya,” rayunya namun dibalas pukulan oleh teman perempuannya.


“Dasar modus!” selanya sehingga pegangan pada Eldrey pun terlepas.


“Apa sih? Aku kan cuma mau berkenalan.”


Vincent tersenyum miring menatap rekannya, berlainan dengan Eldrey yang tampak tak acuh.


“Kalau begitu aku pergi dulu,” hanya itu yang ia ucapkan dan berlalu meninggalkan mereka.


“Eldrey!” cegat Vincent kaget karena sikapnya.


“Apa?”


“I-itu, kita sudah lama tidak bertemu. Bagaimana jika kita makan bersama dulu? Aku ingin berbincang-bincang denganmu. Kamu tidak keberatan kan?”


“Keberatan.” Lalu tangannya ditarik dari cegatan Vincent. “Makan saja dengan teman-temanmu.”


Tiba-tiba tawa tersembur dari mulut rekan-rekan Vincent.


“Wah ... kau ditolak?” sela yang lainnya.


Pemuda itu hanya bisa melirik malas akan ledekan mereka. Tapi sepertinya dirinya masih belum menyerah.


“Ayolah Eldrey. Kita ini kan teman lama. Masa kamu tidak mau? Aku benar-benar merindukanmu.”


Siulan-siulan pun langsung tersembur dari para pendengar karena menonton kegigihan Vincent yang masih berusaha keras itu. Sepertinya, dirinya benar-benar ingin agar Eldrey ikut dengannya.


“Wah kau benar-benar gigih teman,” Paul pun merangkul Eldrey tiba-tiba. Membuat Vincent menatap aneh sosok di hadapannya. “Hei Eldrey, ayolah ikut dengan kami. Jujur aku jarang sekali melihat Vincent berbicara tentang temannya.”


“Bukankah kalian temannya?”


Paul tertawa pelan akan jawabannya. “Tapi kami bukan teman lamanya.”

__ADS_1


Mulut Eldrey sedikit terbuka namun masih belum mengeluarkan suara. Entah apa yang ia pikirkan saat itu juga.


“Baiklah.”


Vincent langsung tersenyum senang mendengarnya. Berbeda dengan Paul yang perlahan melepaskan rangkulan dari putri Dempster. Seringai tipis di bibirnya seperti menyiratkan sesuatu yang tak terduga.


Mereka pun pergi ke sebuah Cafe tak jauh dari sana dan memesan makanan.


“Jadi, kamu kuliah di mana?” tanya teman perempuan Vincent.


“Oxtello Rako.”


“Benarkah? Kalau kami di Hellbyson. Jurusan kamu apa?”


“Hukum.”


Gadis itu mengangguk-angguk. “Oh ya, karena kamu di Oxtello Rako, apa kamu tahu skandal video mesum yang sedang viral di sana? Kudengar dia berasal dari kampusmu.”


Seketika raut wajah Vincent berubah. “Mm ... ayolah teman, kenapa kita tidak bahas yang lain saja?”


“Kenapa? Lagi pula beritanya masih baru! Masih hot! Apa kau tidak lihat tubuhnya? Dia pasti terlatih sekali bro! I think I’ll get wet if that girl does it faster!”


“Oh shit!” teman perempuannya kesal sambil memukul lengan Paul.


“Ayolah! Aku cuma bercanda!” dirinya tertawa. Berbeda dengan Vincent dan teman lainnya yang geleng kepala. Sementara Eldrey memilih menyeruput minumannya tanpa bersuara. “Mm? Kenapa kamu diam saja El?”


“El?” Vincent menatap tak percaya kalau Paul memanggil Eldrey seperti itu.


“Kenapa? Kamu cemburu?”


Pemuda yang ditanya hanya bisa menghela napas jengah. Akan tetapi, raut wajah Eldrey berubah saat merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Diliriknya sosok di sebelahnya.


Paul, pria itu cuma tersenyum memandangnya. Dia yang duduk di sebelah Eldrey menopang wajah dengan tangan kiri namun tangan kanannya beraksi.


Membuat putri Dempster makin menyipitkan matanya. “Kenapa kau menyentuh pahaku?”


Orang-orang langsung terdiam.


“Apa!” Vincent menatap tak percaya akan apa yang baru saja di dengarnya.


Eldrey pun melanjutkan. “Kalau kau ingin melayaniku, lakukan di ranjang. Bukan di sini karena kita bukan binatang.”


“BRAK!”


Suara dari tangan Vincent yang menggebrak meja dan langsung meraih kerah baju temannya.


“Hei-hei santai teman! Aku cuma bercanda,” ucap Paul sambil angkat tangan karena tak percaya akan responsnya.


“Kenapa kau menyentuh pahanya?!” tanya teman perempuannya begitu kerah baju Paul yang dicengkeram dilepaskan.


“Aku cuma bercanda, bercanda!” dan ia pun menoleh pada Eldrey. “Hei El, maafkan aku atas sikapku barusan. Aku cuma bercanda, aku benar-benar tak bermaksud apa-apa, aku serius cuma bercanda!” sambil menyatukan kedua tangan di depan wajah dan memohon maaf.


“Lho, Eldrey?” sebuah suara wanita tiba-tiba menyela mereka semua.


Sontak orang-orang itu menoleh pada sosok yang berdiri di samping meja mereka.


“Kak Fiona?” sapa putri Dempster mencoba mengingat dengan benar.


“Iya,” suasana seakan canggung. Suatu kebodohan bagi Fiona mengganggu pertemuan itu, namun ia penasaran karena sempat melihat perdebatan antara dua pemuda yang satunya mencengkeram kerah cowok di depannya.


“Cih!” decih Eldrey tiba-tiba dan tak bisa dipercaya. Dirinya lalu menyentuh bahu Paul yang tadi sempat melecehkannya. “Bersyukurlah karena aku tidak mematahkan jarimu,” selesai mengatakan itu ia berlalu meninggalkan mereka.


“Rey, Eldrey!” panggil Vincent sambil menyusulnya. Sementara Paul masih terdiam akan lirihan yang ditorehkan gadis itu. Menekan dan dingin, terlebih sorot matanya aneh.


Seperti bukan tatapan gadis normal pada umumnya.


Vincent berhasil menghentikan langkah Eldrey begitu keduanya keluar dari Cafe.


“Rey.”


“Apa?”


“Maaf.” Gadis itu menyipitkan matanya. “Maafkan aku karena gara-gara ajakanku si brengsek itu sampai melakukan yang tidak-tidak padamu,” dirinya tampak benar-benar merasa bersalah.


Namun Eldrey mengabaikan itu dan mencoba melepaskan tangannya yang dipegang Vincent.


“Sudahlah. Lagi pula itu sudah berlalu.”


Vincent menatap tangannya yang telah terlepas dari Eldrey. “Kamu masih belum berubah.”


“Memang.”


“Apa itu berarti jawabannya masih akan tetap sama?”


“Ya,” jawab Eldrey tanpa keraguan yang membuat sudut hati pemuda itu tersayat.


Perlahan, senyum tipis tersungging di bibirnya. Disentuhnya kedua bahu Eldrey yang membuat gadis itu mengernyitkan wajahnya.

__ADS_1


“Bahkan setelah bertahun-tahun, kenapa?”


“Karena aku tak suka.”


Vincent terkesiap akan jawaban tak berperasaan di depan matanya. Hati Eldrey benar-benar tak bisa tersentuh olehnya.


“Lalu aku harus bagaimana? Aku bahkan rela meninggalkan Diana demi dirimu.”


“Dan aku tidak pernah meminta itu. Ingat itu,” Eldrey langsung mundur sehingga tangan Vincent tak lagi menyentuh bahunya.


“Eldrey! Tunggu dulu Rey! Kita belum selesai bica—” kalimatnya terpotong. Karena sosoknya dan putri Dempster sama-sama tak menyangka seseorang telah menghadang langkah gadis itu sehingga ia tak sengaja menabrak orang itu.


Eldrey mendongak, menatap rupa dari laki-laki yang lebih tinggi darinya. Oriental tampan dan juga menatap lekat ke kedalaman matanya.


“Ram— agh!” gadis itu tersentak begitu sosok di belakangnya menarik kasar tangannya agar menjauh dari orang yang menghadangnya. “Kau,” lirik tajamnya menatap Vincent.


“Lepaskan tangannya,” sela sosok pendatang itu.


“Apa.”


“Kubilang lepaskan tangannya. Kau menyakitinya,” jelas Ramses memegang lengan Eldrey yang tangannya masih dicengkeram Vincent.


Tiba-tiba orang-orang yang tadinya bersama dengan Vincent keluar dari Cafe karena suasana tak lagi nyaman.


“Vincent?” pekik teman perempuannya karena kaget akan situasi di depan mata.


“Siapa kau? Ini bukan urusanmu,” sosok yang dikenal sebagai teman lama Eldrey mulai sinis.


“Lepaskan tanganku Vincent, kau membuatku lelah,” timpal Eldrey padanya.


“Kita perlu bicara.”


“Cih!” decih Ramses karena tampaknya Vincent tak berniat melepaskan cengkeramannya dari Eldrey. “Lepaskan tanganmu dari pacarku.”


“Apa!” pekik Vincent dan teman wanitanya hampir bersamaan. “Pacar? Kau pacar Eldrey? Kau pikir aku percaya?”


Ramses terdiam mendengarnya. Tampaknya, pemuda yang mencegat Eldrey cukup keras kepala.


Eldrey menghela napas pelan. “Vincent. Kutegaskan sekali lagi, lepa—”


“BUAGH!” suara pukulan yang tiba-tiba dilayangkan Ramses ke wajah Vincent mengejutkan semuanya.


“Aku sudah bilang lepas kan? Dasar keras kepala,” dirinya lalu berdiri tepat di hadapan Eldrey seakan melindunginya.


Sontak Vincent memegang sudut bibirnya yang terluka dan menatap tajam Ramses seperti ingin membunuhnya.


“Ya ampun, Rams! Apa yang terjadi?” pekik Fiona baru keluar dari Cafe sambil membawa bungkusan makanan dan minuman. “Eldrey?”


“Cih!” decih Vincent. Diliriknya Eldrey tanpa berjalan mendekatinya. “Pembicaraan kita masih belum selesai, Rey. Dan begitu pula urusanku denganmu,” tatap tajamnya pada Ramses sambil berlalu menabrak bahunya.


Ramses terdiam kecuali tetap menyoroti kepergian laki-laki itu lewat sudut matanya.


“Wah, tapi bukankah dia tampan?” tanya teman wanita Vincent setelah mereka pergi dari sana.


“Tapi sayang sekali ternyata mereka berpacaran. Padahal gadis itu benar-benar terlihat menggoda, apa kalian lihat dadanya?” racau Paul sambil tertawa.


“Dasar! Kenapa otakmu mesum semua isinya?!” timpal temannya yang lain.


Akan tetapi, langkah Vincent di depan mereka membuat semuanya berhenti.


“Tutup mulutmu atau kurobek sekarang juga,” tekan Vincent dengan ekspresi dingin sebelum pergi meninggalkan mereka.


“Hei, apa kau lihat barusan? Aku tak menyangka dia terlihat seperti ingin membunuh kita,” timpal salah satu temannya.


“Salah! Dia ingin merobek mulut Paul. Sepertinya kau baru saja menarik tali gantungan,” timpal teman ceweknya yang masih memandangi punggung Vincent yang menjauh.


Tetapi, justru senyum tipis yang disematkan Paul di bibirnya.


“Begitu ya. Tapi sepertinya dia menyukaimu,” ujar Ramses tiba-tiba di dalam mobilnya.


Sekarang, dirinya, kakaknya dan Eldrey satu mobil yang dikendarai Fiona.


“Entahlah. Itu bukan urusanku.”


Fiona tertawa mendengar jawaban Eldrey yang cukup ketus menurutnya.


“Eldrey.” Gadis yang dipanggil tidak menjawab. “Apa aku boleh tanya sesuatu?”


“Silakan.”


“Laki-laki idamanmu, yang seperti apa?”


Ramses terbelalak akan pertanyaan saudaranya. “Apa yang kakak tanyakan?”


“Apa? Aku cuma penasaran.”


Eldrey tak menjawab kecuali memandang keluar jendela. “Idaman ya,” dirinya perlahan mengeluarkan seringai tipis yang tak jelas artinya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2