FORGIVE ME

FORGIVE ME
Eldrey dan Patricia


__ADS_3

Dan dewa kematiannya, adalah pembunuh dengan pistol di tangan tanpa memberi tahukan siapa sosok aslinya. Akhirnya, darah terus merembes keluar karena tembakan mengenai arteri brakialis di lengan pria berkuncir kuda.


Eldrey pun mendekatinya. “Aku yakin kau tadi ingin menikmatiku. Tapi sekarang, kenapa kau kesakitan begini? Aku bahkan belum menembak jantungmu,” ucapnya dengan entengnya. Dua tendangan lalu di daratkan ke pinggang pria tersebut. 


Membuatnya tersungkur karena sakit yang dirasa.


“S-siapa kau?!”


Tapi, memang begitulah putri Dempster. Mengabaikan pertanyaan dan menghadiahkan tendangan ketiga ke wajah lawannya. Sepertinya, ada bunyi keras mengingat itu mengenai area dagunya.


“K-kenapa kamu membunuhnya?” begitulah lirihan kata yang tiba-tiba dilontarkan gadis di atas sofa. Dia hampir tak diselimuti sehelai benang pun. Ada sedikit darah di area bawahnya, bukti kalau keperawanan telah direnggut dengan bejatnya.


Pipinya memar dengan sudut bibir terluka. Menjadi tanda dari tamparan telah dilukiskan berulang di wajah cantiknya. Bahkan sensasi membiru juga tercetak di perutnya, hiasan dari sang paman yang sudah memukulnya.


Eldrey, mendekatinya dan hanya diam memperhatikan.


“Apakah kamu datang untuk membantuku?” gumam Patricia di balik air mata yang terus menderu alirannya. Dia benar-benar tak punya tenaga lagi untuk menutupi tubuh ternistakan miliknya.


“Aku hanya datang untuk menontonmu.”


Serasa pisau menghujam hati. Kalimat Eldrey bagai sayatan pedas di perasaannya. Perlahan, senyum terukir di bibir gadis tak berdaya.


“Apa itu berarti, kamu dari tadi hanya begitu?”


Hening. Belum ada jawaban. Sorot mata mereka saling bertemu dan salah satu melukiskan emosi terpendam. Sampai akhirnya putri Dempster menjatuhkan pistol di tangan lalu melepas jacket di badan.


“Ya. Aku memang hanya menontonmu, sejak awal pria itu menyeretmu ke ruangan ini.”

__ADS_1


Sekarang, bagaimana cara melukiskan perasaannya? Rasanya campur aduk dan di dominasi oleh pesakitan. Patricia di deru kenyataan, kalau Eldrey sudah melihatnya dihakimi oleh pamannya. Tapi itu berarti, dirinya hanya diam dan membiarkannya begitu saja.


“Kenapa?” gadis yang terbaring di sofa terisak. Bahkan jika putri Dempster menutupi tubuhnya dengan jacket itu, tak ada rasa terima kasih yang ingin dilontarkan. “Jika kamu sudah melihatku, kenapa kamu tidak membantuku?!”


Eldrey tidak menjawabnya dan memilih berdiri. Sampai akhirnya tangannya dicengkeram Patricia agar tidak pergi.


“Kenapa kamu sekejam ini?! Aku diperkosa, Eldrey! Aku dianiaya! Aku dilecehkan orang-orang brengsek itu tanpa bisa apa-apa! Masa depanku direnggut tanpa iba, dan kamu hanya menontonnya?! Jadi kenapa?! Apa salahku sampai semua ini harus terjadi?! Aku dirudapaksa seperti binatang yang tidak berharga! Dan kamu hanya diam menontonnya?! Itu kan yang sebenarnya terjadi?!”


Begitulah teriakan Patricia kepadanya. Bahkan jika cengkeraman di tangan Eldrey tidak seerat tadi, namun pegangan masih belum dilepaskan.


Raut wajah putri Dempster terlalu tenang menatap kesedihan dan kekecewaan gadis di hadapan. Jadi sebenarnya, apa yang dia pikirkan? Sedikit pun kasihan tak tercoret di wajah cantiknya.


Seolah iba memang tidak dimiliki oleh nuraninya.


“Memangnya kenapa? Apa yang kamu tabur itulah yang kamu tuai,” gadis itu lalu menarik tangannya. “Jadi kenapa kamu harus menangisinya? Posisi kita sama.”


“Apa kamu lupa? Atas apa yang kamu lakukan padaku. Aku diperlakukan seperti binatang oleh anak-anak itu. Ditindas, dihajar, dipermalukan, bahkan jika aku masih dalam keadaan terluka. Tak ada yang mengasihaniku. Mereka tertawa menatap kondisiku. Anak kecil yang dijadikan lelucon oleh kehidupan sekitarnya. Dan apa kamu masih ingat dengan posisimu?”


“Kamu menatapku. Namun hanya diam membisu. Memalingkan wajah dan membiarkan aku dibully oleh anak-anak itu. Dirimu yang menyebutku sebagai temanmu. Dirimu yang mengakuiku seperti adik perempuanmu. Dan kamu hanya diam lalu pergi meninggalkan diriku. Itulah dirimu, temanku.”


Tak bisa di hentikan lagi. Tangisan kian terurai di sudut hati. Terhambur keluar dengan sangat disesali. Air mata tak bisa di bendung lagi. Patricia benar-benar hancur hari ini. Lirihan panjang lebar Eldrey menyentak perasaannya, seketika menimbulkan rasa bersalah sekaligus kebencian.


Rasanya menyakitkan dan tak tahu lagi bagaimana caranya untuk dilepaskan. Dirinya hanya bisa menyalahkan sekelilingnya walau sudut hati tahu kalau bukan itu jawaban akhirnya.


Dan di detik berikutnya, ia meraung keras sebab tak bisa menerima keadaan yang menimpa dirinya.


“Kita sama, namun apa yang kita lakukan sangatlah berbeda. Kamu yang berpaling dan berpura-pura tidak tahu, sedangkan aku memilih menonton dan tetap diam membisu. Jadi, manakah yang lebih kejam? Dirimu atau aku?” Eldrey pun memiringkan wajahnya.

__ADS_1


Patricia yang sudah hancur di depannya, sekarang hanya menatap sayu dirinya.


Putri Dempster pun perlahan mengibarkan senyumnya. “Dan inilah hasil akhirnya. Kita hancur. Di mana aku kehilangan kepercayaanku pada mereka yang berada di sisiku. Dan kau kehilangan masa depanmu, untuk menerima keberadaan mereka yang ingin bersamamu. Aku sudah memakan traumaku, dan sekarang giliranmu,” tangannya lalu terulur mengusap kristal bening di sudut mata temannya itu.


Dan sesak kian muncul akibat beratnya tekanan Patricia dalam menangisi semuanya.


“Kau bisa memilih, Patricia. Hancur dalam malu, lalu hadapi semuanya. Atau menghilang tanpa tahu, bagaimana respons semuanya.” Salah satu pecahan dari botol minuman mewah milik Nightclub perlahan diambilnya dan dicengkeramnya. Menimbulkan darah akibat luka yang ditorehkan.


“Selamat tinggal, Patricia,” selesai mengatakannya, Eldrey pun meletakkan pecahan kaca berdarah tersebut ke tangan gadis di depannya.


Memungut pistolnya dan pergi dari sana. Meninggalkan semua kekacauan yang sudah disebabkannya. Memainkan ponsel dan menghubungi seseorang untuk menyuruhnya membereskan sisanya.


Dan akhirnya, Paul tersadar akan posisinya saat ini juga. Keberadaan sang kakak yang ia tinggalkan sementara demi uang wanita di sampingnya telah menyentaknya.


Sebuah pesan selamat tinggal sebagai perpisahan, terpampang nyata di layar ponselnya. Seketika napasnya memburu, keluar dari sana demi menemui kakak semata wayangnya. Bertanya pada siapa pun yang ditemuinya. Benar-benar seperti anak kecil yang kehilangan orang tua, matanya memerah dan penuh keluh kesah.


Sampai akhirnya, bar waiter dan beberapa penari striptis merasa kasilan lalu membantunya.


Tapi, semua sudah terlambat. Dalam sebuah ruangan VIP, kengerian terpancar dari sana. Seorang penari striptis yang menemukan pemandangan itu pun berteriak agar segera di dengar. Dan beruntung seorang bar waiter berhasil menghentikannya. Karena jika tidak, kehebohan bisa terjadi di destinasi dunia malam tersebut.


Dan akhirnya, di sinilah Paul.


Menatap tak percaya akan lukisan di balik mata. “K-kakak?” panggilnya mendekat. Alexa, orang pertama yang menyemangati Patricia saat mulai bekerja pun beruraian air mata. Dilepaskannya coat di badan dengan membiarkan tubuhnya terekspos untuk menutupi kesedihan di tubuh sang gadis muda.


Berharap, Patricia tak perlu lagi menjadi tontonan para pegawai yang syok akan keadaannya.


 

__ADS_1


__ADS_2