FORGIVE ME

FORGIVE ME
Suasana di luar dugaan


__ADS_3

Ramses sudah sampai di kediaman Dempster. Hanya ucapan terima kasih tanpa basa-basi yang dilontarkan Eldrey padanya. Setelah itu sang gadis melenggang masuk layaknya Bos meninggalkan sang supir tetap di depan gerbang rumahnya.


Dia benar-benar bersikap seenaknya.


“Nona? Anda baru pulang?” sapa Rondolf yang kebetulan bertemu dengannya.


“Mm,” jawab singkat Eldrey lalu pergi melewatinya.


“Eldrey!” terdengar panggilan yang menghentikan langkahnya. Wanita itu benar-benar cemas karena putrinya baru pulang setelah kejadian pertemuan para wanita kaya-raya. “Nak, kamu—”


“Jangan menyentuhku!” hardik Eldrey karena Bu Anna memegang lengannya.


“M-maafkan Ibu Nak. Tapi kamu habis dari mana?”


Putri Dempster pun memiringkan wajahnya. “Ketahui batasanmu, Raelianna,” tekan Eldrey lalu pergi dari sana.


Wanita itu, hanya bisa menggigit bibir bawahnya karena putrinya. Sakit dianggap asing, tapi mungkin ia harus bersyukur masih bisa tinggal di kediaman mewah ini dan bertemu putrinya.


Semua memang ada prosesnya. Dan menjelang penghujung sore yang akan dipeluk malam, kendaraan Presdir Betrand telah sampai di halaman rumah.


Sosoknya menapaki jalanan, disambut para pelayan dan Rondolf yang memamerkan kepala tertunduk sebagai ciri khas. Pria itu memang terlalu elegan sebagai seorang kepala pelayan.


Sementara di kediaman keluarga Kendal, Dean yang dengan terpaksa kembali ke rumahnya tampak bersiap-siap sekarang. Keluar dari kamar, sambil membawa tas sandang di salah satu bahunya.


“Nak? Kamu mau ke mana?” sapa ibunya.


“Ke Vila kita Ma.”


“Vila? Mau apa kamu ke sana?”


“Kumpul dengan temanku.”


“Apa papamu tahu?” tanya mamanya cemas. Dan Kevin yang menuruni tangga untuk mengambil minuman di dapur hanya memandang heran.


“Ya.”


“Apa Alice juga ikut?”


Entah kenapa, pertanyaan Nyonya rumah Kendal berhasil menyentak hati Dean dan Kevin.


“Ya.”


Seketika ekspresi wajah mamanya berubah. “Nak, kamu tahu kan bagaimana Papamu? Ancamannya bukan sekadar main-main, sayang.”


“Ya, aku tahu. Tapi aku sudah dapat izin dari Papa untuk ke vila.”


“Benarkah? Kamu tidak bohong? Bagaimana bisa?”


“Karena Eldrey juga ikut denganku.”


Sontak saja hal itu mengejutkan Nyonya Julia dan Kevin. Adik Dean itu dibuat terbelalak oleh nama yang diucapkan kakaknya.


“Eldrey? Tunggu, apa maksudmu Eldrey putri Betrand Dempster?”


“Ya. Kalau begitu aku pergi dulu. Karena aku juga harus menjemputnya,” pamit Dean tanpa basa-basi.

__ADS_1


Nyonya Julia hanya bisa terdiam di posisinya sambil melihat kepergian putra sulungnya.


“Kak Dean, akan pergi dengan Eldrey?”


Wanita itu tersadar karena pertanyaan putra keduanya. “Iya sayang, kakakmu akan ke Vila dengannya.”


“Dan Papa mengizinkannya?”


“Ya.”


Seketika wajah Kevin mengernyitkan ekspresi bingung. “Apa itu berarti papa mengenal Eldrey?”


Ekspresi Nyonya Julia seperti bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan. “Tentu saja. Dia kan teman kakakmu.”


“Tapi kenapa aku tidak tahu?”


“Tidak tahu maksudnya?”


“Aku tidak tahu jika Eldrey teman Kakak dan Papa juga mengenalnya.”


“Kamu tidak tahu? Padahal dulu Eldrey lumayan sering menjemput kakakmu dengan Alice kemari. Sampai-sampai mama dan papa salah paham mengira dia pacar kakakmu.”


“Benarkah?”


“Iya sayang. Ah, benar juga. Waktu itu kan kamu masih dirawat di rumah sakit karena kecelakaan, jadi wajar saja kamu tidak tahu.”


“Oh, begitu,” Kevin mengangguk-angguk paham. “Tapi, papa sampai mengizinkan Kakak pergi dengan perempuan lain selain Diana, sepertinya papa cukup merespons positifnya ya.”


“Tentu saja. Bagaimanapun Eldrey adalah putri tunggal Dempster. Kalau bukan karena Eldrey yang terang-terangan menolak Kakakmu, papamu pasti sudah menjodohkan mereka.”


“Ya. Eldrey menolak kakakmu dengan tegas saat Papamu mengatakan kalau mereka berdua cocok. Mama jadi penasaran orang seperti apa yang akan berpasangan dengan putri Dempster mengingat keluarganya seperti itu.”


“Sangat kaya?”


“Terlalu kaya. Dia benar-benar mirip dengan ayahnya.”


Kevin terdiam. Jujur ia sangat kaget mengetahui fakta kalau keluarganya mengenal Eldrey. Terlebih Tuan Kendal yang seperti itu juga memberi respons positif pada putri Dempster.


“Tapi mama salut dengannya. Dia sedikit lebih muda darimu, namun dia senior kakakmu. Otak keluarga Dempster memang sangat mengerikan,” celetuk Nyonya Julia tertawa pelan.


Kevin hanya tersenyum aneh menjawab kalimat ibunya. Karena bagaimanapun juga memang begitu faktanya. Walau tidak sekampus, tapi Eldrey lebih senior dari pada mereka.


Terlebih dia siswa akselerasi. Kurang dari setahun lagi dia akan lulus seperti kakaknya. Seharusnya dia sudah lulus dua tahun yang lalu, namun dirinya telat masuk kuliah, mengingat banyaknya cuti sekolah yang dilakukan karena beberapa skandal fisik dan mental yang menimpanya.


Perlahan, senyum merekah di bibir Kevin. Dirinya yang berada di kamar tampak bersiap-siap untuk pergi entah ke mana.


Dan akhirnya di kediaman Dempster, Dean yang sudah tiba di sana disambut dengan tatapan tajam oleh Charlie. Pemuda itu ingat pernah bertemu dengan pria sekaligus tangan kiri presdir Betrand tersebut di supermarket bersama Eldrey.


“Jadi, kamu datang untuk menjemput Nona?” tanya Charlie dengan suara menekan.


“Iya.”


Akan tetapi, mendengar jawaban Dean entah kenapa membuat Charlie menyunggingkan senyum tipis.


“Nona tidak akan pergi denganmu.”

__ADS_1


“Maaf Tuan, tapi kami sudah janji.”


Tiba-tiba langkah dari seorang pria dengan pakaian santai dan buku tebal di tangan menghentikan pembicaraan mereka.


“Tuan,” sapa Charlie pada pria yang memandang tenang itu.


“Ada tamu rupanya.”


“Ya, teman Nona.”


“Benarkah?” Presdir Betrand perlahan mendekat dan melirik Dean dari atas ke bawah. “Emily, panggilkan Eldrey,”  perintahnya pada pelayan yang berdiri tak jauh darinya.


“Baik Tuan.”


Presdir Betrand pun mendekat ke sebelah Charlie. Akan tetapi, Dean tiba-tiba berdiri dan mengulurkan tangan ke arahnya.


“Salam kenal, Tuan. Ini pertama kalinya kita bertemu, saya Dean teman Eldrey,” ucapnya memperkenalkan diri dengan sopan.


Kepala keluarga Dempster membalas jabat tangan tanpa tersenyum. “Silakan duduk Dean,” hanya itu yang ia ucapkan setelahnya. Sekarang mereka bertiga pun duduk bersama di ruang tamu tanpa suara namun dengan ketegangan yang entah kenapa menyelimuti semuanya.


Dan tentu saja itu disebabkan oleh Presdir Betrand. Sorot matanya yang menatap tenang putra Kendal jelas memberikan tekanan tersendiri untuk Dean.


“Mau apa kau ke sini?”


Suara tak ramah itu langsung tersembur di ruang tamu untuk para pendengarnya. Terlebih sesosok gadis yang ditemani Emily sang pelayan menyiratkan kejengkelan di mukanya.


“Eldrey,” Dean bersuara. Diliriknya dua pria yang hanya menatap tenang dirinya dan gadis itu. Sekarang ia ragu harus berkata apa.


“Aku sudah biarkan kau memakai namaku. Jadi berterima kasihlah dan pergi,” usir Eldrey tanpa basa-basi. Bahkan ia tak peduli jika di sana ada Presdir Betrand dan Charlie.


“Itu—” lanjutan kalimat Dean pun tertahan seperti ada beban yang menghimpit lidahnya. Jujur ia ingin memaksa putri Dempster untuk ikut dengannya, tapi sekarang bagaimana? Ada dua laki-laki dengan tekanan aneh yang membuatnya tak bisa bersuara.


“Eldrey, bagaimanapun Dean temanmu. Ramahlah padanya,” sela Presdir Betrand tiba-tiba yang membuat orang-orang menoleh padanya.


“Dia hanya ingin menyusahkanku, kenapa aku harus ramah padanya?”


Kalimat Eldrey langsung membuat ayahnya mengernyitkan wajah.


“Aku minta maaf karena sudah lancang mengajakmu Rey. Aku benar-benar minta maaf karena sudah mengganggumu. Aku akan pergi sekarang,” Dean akhirnya bersuara lagi walau jujur ia sangat terpaksa.


“Mengajak Eldrey? Ke mana?”


Dean terdiam beberapa detik karena pertanyaan Presdir Betrand membuatnya gugup. Seperti ada jurang besar saat menatap sosoknya, dan itu jelas berbeda dibandingkan dengan Tuan Kendal yang suka menekan dan modal pemarah.


“Ke Vila keluargaku. Aku ingin mengajak Eldrey dan teman-temanku yang lain berkumpul di sana.”


Presdir Betrand tak berbicara lagi. Tapi matanya menyipit ke arah Dean yang membuat sang pemuda terkejut dan perlahan tubuhnya gemetaran.


“Kalau begitu sekarang pulanglah. Aku tidak akan pergi,” usir Eldrey kembali. Dia benar-benar bersikap seenak hatinya.


“Pergilah,” timpal ayahnya tiba-tiba yang membuat raut wajah Eldrey berubah masam.


“Apa?”


“Pergilah dengannya. Namun ajak Evan untuk ikut denganmu. Apa kamu tidak keberatan membawa kakak Eldrey bersamamu?” kalimat yang dilontarkan pada Dean jelas di luar dugaan pendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2