FORGIVE ME

FORGIVE ME
Hampir menabraknya


__ADS_3

Alice terdiam, ia merasa gugup melihat sorot mata dingin Eldrey.


“Rey, maafkan aku ya. Aku hanya cemas dengan keadaanmu.”


Eldrey pun memutar bola matanya dengan tatapan malas dan helaan napas pelan. “Ayo duduk dulu,” ajak Alice sambil memegang lembut lengannya.


“Aku sudah dengar semuanya dari Ramses. Maafkan aku karena tidak bisa jenguk kamu sebelumnya,” ucap Alice diiringi air mata.


“Santai saja, ini bukan masalah besar.”


“Bukan masalah besar? Kamu terluka saat kita mau bertemu. Dan kamu bilang itu bukan masalah besar?” Alice menjadi emosi mendengarnya. “Ini semua salahku! Kalau saja kita tidak janji untuk bertemu malam itu, maka kamu tidak akan seperti ini,” Alice menyalahkan dirinya sendiri.


“Dan tanganmu! Kenapa tanganmu terluka seperti itu?!” Alice menyadari tangan Eldrey yang di perban.


“Lupakan saja tentang lukaku, lagi pula ini sudah berlalu. Aku lelah jika harus membahas hal yang membosankan seperti ini,” sahut Eldrey sambil merebahkan tubuhnya.


Alice yang masih menatapnya dengan mata berlinang pun menyentuh tangannya. “Kamu lapar? Sudah sarapan?”


“Sudah.”


Alice merasa bingung karena Eldrey bersikap dingin begitu, tapi ia memaklumi mungkin saja Eldrey kesal karena ia tidak datang menjenguknya saat sedang sakit. Padahal kenyataannya, apa yang dipikirkan Eldrey tak sedikit pun melibatkan dirinya.


“Oh ya Rey, nanti aku mau kerja. Apa kamu mau lihat-lihat tempat kerjaku? Itu toko roti yang menyenangkan. Roti-rotinya juga enak dan menurutku kamu pasti suka,” tukas Alice.


Tapi jawaban yang diharapkan Alice sepertinya jauh dari bayangannya. Wajah sang sahabat tetap dingin dan tak menunjukkan ketertarikan pada ajakannya.


“Sepertinya aku harus pergi,” Eldrey pun tiba-tiba bangun dari tidurnya.


“Apa maksudmu Rey? Kamu baru datang, kenapa pergi lagi?!”


Eldrey tak menatap Alice, ekspresi dinginnya tak terlihat lagi. Hanya saja, raut wajahnya yang menunjukan ketidak senangan pada Alice tertera dengan jelas.


“Rey?”


“Aku lelah, kalau begitu aku pergi dulu,” pamit Eldrey pergi meninggalkannya.


“Loh, Eldrey? Kamu mau ke mana?” tanya bu Ann yang menyadari keberadaan Eldrey.


“Aku harus pergi,” balas Eldrey dengan senyum tipis di bibirnya. “Kalau begitu aku permisi dulu bu Ann,” pamit Eldrey.


Sementara Alice hanya menatap kepergian sahabatnya tanpa bisa berkata apa-apa. Sorot matanya tak terlepas dari Eldrey, sampai akhirnya gadis itu menjauh dari pandangannya dan lenyap dari jalanan yang sudah menjarakkan mereka.

__ADS_1


“Lis, Eldrey kenapa? Ibu merasa dia tidak seperti biasanya.”


“Aku kurang tahu bu, mungkin dia sedang tidak enak badan,” jawab Alice dengan senyum kecut di bibirnya.


“Tidak enak badan? Lalu kenapa dia bawa mobil? Ibu bahkan sampai kaget melihatnya membawa mobil yang seperti itu. Ibu kira mobil itu hanya dipakai di film-film saja,” pungkas bu Ann terkagum-kagum. “Dia pasti anak orang yang sangat kaya.”


“Ya, sepertinya begitu. Bu, kalau begitu aku ke kamar dulu,” lirih Alice pamit meninggalkan ibunya. Hatinya masih bertanya-tanya kenapa Eldrey bersikap seperti itu padanya.


Eldrey, gadis itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sejujurnya ia masih belum sembuh benar, terlebih lagi bekas luka di telapak tangan dan kakinya karena pecahan gelas kaca yang ia sebabkan sendiri masih berbekas serta terkadang menimbulkan sakit padanya.


Bukan hanya itu, bekas luka tusukan di perut juga memberikan rasa ngilu di saat ia mengemudikan mobil. Namun bagi Eldrey, itu semua tidak terlalu mengganggunya.


Nyatanya ia pernah merasakan luka yang lebih parah dari itu, sampai-sampai dirinya sudah tidak tahu bagaimana cara mengekspresikannya dengan benar.


Dalam jarak yang bisa dikatakan agak jauh, seorang wanita dengan belanjaan di tangannya akan menyeberangi jalan. Ia menoleh ke kiri dan kanan, memastikan jarak mobil sebelum mendekat. Dengan mengangkat sebelah tangannya, ia memberikan tanda agar mobil yang lain memberinya kesempatan untuk melintasi jalan.


Eldrey bisa melihat itu, namun apa yang ia lakukan malah sebaliknya. Dia menambah kecepatan mobilnya secara tiba-tiba tanpa berpikir panjang siapa di depannya.


“Awaaass!” pekik orang-orang.


Seseorang pun melesat cepat dari pinggiran, mencoba menarik tangan wanita yang akan menyeberang itu.


“Braaak!” suara wanita dan sesosok pemuda yang menarik tangannya agar terhindar dari tabrakan jatuh ke aspal di pinggir jalan.


“Uugh, tidak apa-apa nak. Saya baik-baik saja.”


“Tapi lutut anda.”


“Ini hanya luka kecil, terima kasih karena sudah menyelamatkanku,” sahut wanita itu sambil menggenggam tangan orang yang sudah menyelamatkannya.


Lain halnya dengan Eldrey, karena hampir saja menabrak wanita itu mobilnya pun berhenti. Ia menoleh ke belakang sampai beberapa orang menghadang mobilnya agar tidak melaju lagi. Sepertinya mereka meminta pertanggung jawaban berupa maaf darinya pada wanita itu.


“Hei turun! Kau hampir saja menabrak seseorang! Apa kau tidak lihat kalau dia sudah memberikan tanda akan menyeberang?!” hujat salah satu orang yang menghadangnya.


Wanita yang hampir ditabrak dan penyelamatnya sama-sama menoleh ke belakang, menatap mobil yang hampir saja merenggut nyawanya.


“Hei turun! Cepat minta maaf atau kami pecahkan kaca mobilmu!” bentak yang lain. Orang itu bahkan menggedor-gedor pintu mobil dan jendelanya secara kasar. Eldrey yang menatap mereka hanya terdiam sejenak dengan ekspresi datar tanpa rasa bersalah.


“Ibu! Ibu! Apa yang terjadi?!” pekik seseorang melihat ibunya terduduk di tepi jalan. Wanita itu menoleh ke arah anaknya yang panik melihat ibunya.


“Bukan apa-apa, kamu tidak perlu khawatir,” sahut wanita itu pada anaknya. Sementara sosok sang penolong membantu wanita itu berdiri dengan hati-hati, apalagi mengingat ada luka lecet di lutut dan tangannya karena tergesek aspal saat jatuh.

__ADS_1


Sementara sang anak yang menatap amarah orang-orang terhadap pembawa mobil mewah itu langsung menyadari, kalau mobil itulah yang hampir mencelakai ibunya.


Dengan cepat ia berlari ke arah mobil itu lalu menggedor kasar kaca mobil dengan ekspresi marah.”Turun! Cepat turun!” geramnya.


“Evan!” pekik wanita itu kaget melihat anaknya emosi pada pembawa mobil yang masih misterius.


“Hei! Cepat turun!” sambung yang lainnya.


Sampai akhirnya pintu mobil pun terbuka dengan sosok yang takkan pernah diduga oleh siapa pun juga.


“Eldrey?!” pekik sang penyelamat kaget. Bagaimana tidak, tentu saja ia mengenal siapa orang yang hampir menabrak wanita yang diselamatkannya.


Kevin, ia benar-benar terkejut dengan sosok pembawa mobil itu. Tapi bukan hanya dirinya, wanita yang ia selamatkan juga tak bisa berkata apa-apa. Sampai akhirnya belanjaan yang lusuh digenggam tangan pun jatuh ke aspal. Bersamaan dengan air mata turun meleleh di pipi wanita itu saat menatap sosok yang hampir saja menabraknya.


“Eldrey?” panggil wanita itu terisak-isak.


Evan, hanya bisa terdiam melihat sosok gadis di depannya setelah ia mendengar namanya. Gadis yang menatap datar padanya, lalu menoleh dengan ekspresi dingin saat ibunya memanggil namanya.


Tatapan dingin Eldrey, benar-benar membungkam mereka yang mengetahui sosoknya.


“Hei! Cepat minta maaf! Kau hampir saja menabrak ibu itu! Apa kau tidak bisa bawa mobil dengan benar?!” hujat orang-orang yang sempat melihat apa yang terjadi.


“Ya! Aku juga lihat, wanita itu sudah memberikan tanda akan menyeberang, tapi mobil itu malah semakin kencang lajunya. Kau pasti sengaja!” tunjuk salah satu saksi pada Eldrey dengan kesal.


Eldrey melangkah, ia mendekati wanita itu dengan tenangnya. Wanita itu benar-benar tak bisa menahan isak tangisnya, melihat sosok yang selama ini ia lihat dari jauh sekarang muncul tepat di hadapannya.


“Jadi, maaf seperti apa yang kau inginkan?” ucap Eldrey dengan angkuhnya. Nadanya menekan, membuat Kevin dan Evan tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


“El-El-Eldrey,” tukas wanita itu terbata-bata. Perlahan-lahan ia mengangkat tangannya, mengarahkan pada Eldrey untuk menyentuh wajahnya.


“Plaaak!” tepis kasar Eldrey.


“Ibu!” teriak Evan kaget.


“Jangan pernah menyentuhku, apalagi dengan tangan kotormu itu!” tegas Eldrey.


Orang-orang di sana menyaksikan apa yang terjadi dengan bingung. Pemikiran kalau Eldrey akan meminta maaf pada wanita itu karena hampir menabraknya berakhir dengan tontonan yang aneh bagi mereka.


“Ibu! Ibu baik-baik saja?!” Evan tampak cemas dan memegang ibunya. Ia memandang gadis itu dengan tatapan tak percaya atas apa yang baru saja terjadi.


“Tenang saja, aku akan ganti rugi atas luka kecil di tubuh ibumu, dan juga belanjaannya ini,” ledek Eldrey sambil menendang bungkusan berisi belanjaan bu Anna.

__ADS_1


 


__ADS_2