FORGIVE ME

FORGIVE ME
Diintai para buaya


__ADS_3

Dan seperti kata Ramses sebelumnya. Esoknya ia benar-benar mendatangi putri Dempster ke rumahnya. Tanpa malu sepulang kuliah. Di sore hari dan berpapasan dengan Evan. Suasana canggung pun tercipta di antara keduanya.


“Ada hubungan apa kamu dengan adikku?”


“Aku temannya,” jelas laki-laki itu.


“Oh.”


Evan pun berlalu melewatinya. Membuat Ramses menoleh ke belakang menatap punggung putra Dempster yang menjauh darinya.


Sekarang sosoknya berdiri di depan kamar gadis yang ingin ditemuinya. Mengingat izin sudah diberikan Nyonya Anna untuknya. Tanpa keraguan ia ketuk pintu, tak ada jawaban bahkan menit-menit telah berlalu tenang.


Sampai akhirnya pada ketukan keempat, pintu terbuka dan memamerkan sang penghuni dengan dandanan santainya.


“Mau apa kau ke sini?”


“Aku ingin bicara denganmu.”


“Oh,” Eldrey membukakan pintu kian lebar dan mengizinkannya masuk. Bingung, itulah yang dirasakan Ramses. Eldrey duduk tenang di sofa dan menatap lekat laki-laki di depannya. “Apa yang mau kau bicarakan?”


“Maaf.” Satu kata berhasil mengernyitkan dahi putri Dempster. “Maaf atas ucapanku sebelumnya. Aku, tidak pernah menganggapmu sebagai tumbal. Sungguh Eldrey, aku tak ada niat memanfaatkanmu seperti itu.”


“Oh.”


Respons datarnya sangat mengusik hati putra Tuan Harel. “Pertunanganku masih belum jelas. Mengingat Barbara kemarin langsung pulang karena kondisi kakinya.”


Eldrey hanya memiringkan wajah mendengar ucapannya. “Begitu? Jadi, tak ada lagi yang ingin kamu katakan bukan? Sekarang keluarlah.”


Benar-benar tanpa basa-basi. Mengusir seorang tamu seolah bukan apa-apa. Ramses tersenyum karenanya, dan mengatakan hal tak terduga.


“Bagaimana hubunganmu dengan Kevin?”


“Aku sudah tak ada kaitannya dengan bajingan itu.”


“Kamu, apa mungkin kamu cemburu?”


Wajar saja Ramses bertanya seperti itu. Mengingat kejadian sebelumnya, di mana putra kedua Cesar tersebut berpelukan dengan seorang gadis di depan mata mereka.


“Kenapa aku harus cemburu?”


“Karena kamu pacarnya.”


“Lalu?” Ramses jadi tak bisa berkata-kata. “Apa kau pikir aku menyukainya?”


“Apa aku salah?”


Tawa pelan mengalir lembut dari mulut putri Dempster. Perlahan ia mainkan ujung rambutnya. Mengedarkan pandangan ke arah balkon. Sampai akhirnya bertemu kembali dengan Ramses namun sorot matanya justru kian menekan.


“Aku tak suka milikku disentuh orang lain. Entah aku menginginkannya atau tidak, apa yang di tanganku haruslah tetap di genggamanku. Kecuali aku sendiri yang membuangnya, maka ceritanya akan berbeda.”


“Kamu posesif.”


“Mungkin lebih tepatnya egois,” kekehnya.


Jujur saja, Ramses terkejut mendengar pengakuannya. Dirinya tak menyangka akan menemui sifat Eldrey yang lainnya.


“Kevin menyukaimu.”


“Lalu?”


“Apa kamu tidak berniat membalas perasaannya?”

__ADS_1


“Keluarlah Ramses. Pulang ke rumahmu dan tidur. Jangan bicara soal suka denganku. Itu menggelikan.”


Laki-laki itu mengangguk. Pamit dari sana dengan perasaan aneh di dada. Sebenarnya ia sudah tak tahu harus mengatakan apa, mengingat pembicaraan mereka telah melenceng dari niat awalnya.


Empat hari kemudian, sebuah acara pesta akhirnya di gelar di kediaman keluarga Dempster. Setelah sebuah momen sakral di mana pernikahan antara Betrand dan Anna yang kedua kalinya dilakukan.


Perjanjian sehidup semati mereka, disambut semringah oleh orang-orang yang mensyukurinya. Bahkan dihadiri beberapa kolega walau title sederhana terucap dari bibir sang pemilik acara. Nyatanya, kemeriahan di sana tak seringan perkataannya.


Tamu undangan tampak terpukau pada pesona sepasang suami istri yang akhirnya bersatu kembali.


Di satu sisi, Evan sibuk berkumpul dengan para kenalan ayahnya. Berbaur bersama Sekretaris Roma. Sementara Charlie bergabung bersama para tamu yang tak henti-hentinya mengajaknya berbicara.


Pengawal begitu banyak, beberapa berlalu lalang, pelayan ke sana kemari, dan keluarga Gates menatap kesal pada suasana acara kebahagiaan itu.


Jelas saja mereka tak suka di sana, sang pemilik nama masih tak setuju jika Raelianna Jin menjadi bagian dalam keluarga.


Dan hal itu ditatap Eldrey dari kejauhan sambil memainkan kukunya. Dia begitu menawan. Beberapa tamu hadirin memandang kagum padanya.


Gaun navy blue yang memamerkan leher jenjang dan bahunya, sungguh sempurna di badannya. Dengan penataan rambut sedemikian rupa, tidak salah jika orang-orang tak segan menatapnya berlama-lama.


Tampangnya angkuh namun diiringi sensasi sensual secara bersamaan. Setidaknya itulah yang ditangkap mata para pengagum dari kejauhan. Walau mungkin Eldrey tak sadar jika seperti itulah taburan yang ia berikan.  


“Semuanya tampak menikmati acaranya,” sahut Daniel Bonapart. Sang CEO dari perusahaan milik Betrand yang bermukim di luar negeri.


“Sepertinya begitu.”


Tiba-tiba laki-laki itu mengambil segelas minuman dari pelayan yang melewati mereka. Menyodorkannya pada Eldrey tanpa keraguan.


“Tahukah anda kalau sekarang dirimu sedang menjadi pusat perhatian?” tanyanya saat Eldrey mengambil gelas itu.


“Benarkah?”


Dan seperti perkataannya, dua orang pria sebaya Charlie dan Betrand melirik ke arahnya. Juga ada seorang laki-laki sekitaran Evan, sesekali menatap ke arahnya.


“Lihat di arah jam tiga, dia tak pernah melepaskan pandangan darimu.”


Parahnya, ternyata itu Samuel Jackson. Sosok yang digadang-gadang akan dijadikan pasangannya oleh keluarga Gates.


Tak heran dia ikut hadir, mengingat orang tuanya merupakan kenalan baik keluarga ayahnya.


“Di jam sembilan dan sebelas,” lanjut Daniel.


Seketika tatapan malas langsung terpancar dari wajah putri Dempster. Saat mendapati putra keluarga Turner dan Cesar yang rupa-rupanya juga memperhatikannya. Untung saja Kevin dan Ramses itu tidak menghampirinya.


Karena mereka bisa saja memperburuk suasana hatinya.


“Jam tujuh dan lima.”


“Lagi?” jengah Eldrey akhirnya bersuara.


Tapi ia tersentak, saat menyadari kalau Timmothy teman kakaknya lah yang berada di arah jam lima. Laki-laki itu sedang bersama Betrand dan beberapa orang tak dikenal.


“Kupikir aku akan gila jika punya pacar sepertimu, Nona.”


“Apa Betrand memanggilku?” gumam Eldrey dan membuat Daniel melirik ke sana.


“Sepertinya begitu. Dia melambaikan tangan pada kita.”


“Cih!” decihan Eldrey membuat sang CEO tertawa pelan.


“Pergilah,” Daniel pun mengambil minuman dari tangan putri Dempster.

__ADS_1


Mau tidak mau gadis itu menghampiri ayahnya. Menebar senyum pada kenalan Betrand yang mengulurkan tangan ke arahnya.


“Aku bahkan tak tahu lagi harus mengatakan apa akan kecantikan putrimu, Betrand.”


Kicauan klise yang memuakkan. Itulah yang dirasakan Eldrey saat mendengar pujian. Jujur saja, ia tak tahu kenapa dirinya juga harus ikut melakukan ramah-tamah di acara ini.


Berharap semuanya cepat berakhir dan orang-orang ini langsung pulang.


“Kamu tidak menyukainya.”


Gadis itu pun menoleh ke samping. Pada laki-laki yang merupakan putra dari pak tua di samping Betrand.


“Maksudmu?”


“Keramaian.”


Senyum tipis pun terpatri di bibir Eldrey saat mendengarnya. “Apa terlihat seperti itu?”


“Ya.”


“Hmh.”


“Mau menemaniku? Kudengar kolam renang keluarga Dempster terlihat sangat indah.”


“Baiklah. Kenapa tidak?”


Keduanya pun pergi dari sana. Sekilas, Eldrey bertemu pandang dengan Daniel. Ia tersenyum tipis membuat laki-laki itu mengerutkan keningnya.


“Apa yang mau kau lakukan?” gumam CEO itu dan tak terdengar oleh orang sekitarnya. 


Sementara Charlie yang juga melihat kepergian Eldrey merasa waspada. Langsung memanggil Afro untuk mengikutinya. Bagaimanapun juga, seringai samar di bibir putri Dempster jelas mengusik otaknya.


“Memang seperti kata mereka. Kolam renang ini luar biasa,” puji Timmothy saat melihatnya. Eldrey yang berdiri di sebelahnya hanya meliriknya lewat sudut mata.


Tiba-tiba sosok itu menjatuhkan dirinya. Duduk di tangga yang tiga turunan lagi akan menyentuh permukaan kolam renang.


“Pakaianmu bisa kotor, Tuan.”


“Jangan formal denganku. Panggil nama saja.”


Eldrey hanya menatapnya. Dan panggilan seseorang mengusik pendengarannya.


“Eldrey.”


“Ada apa? Tuan Muda Cesar.”


Suasana pun mendadak aneh karena ucapannya. Kevin mengepal erat tangan dan semakin mendekatinya.


“Bukankah ada yang perlu kita bicarakan?”


“Benarkah? Tentang apa?”


“Hubungan kita.”


Tiba-tiba gadis itu menyentuh kerah bajunya. Tersenyum aneh dan menarik Kevin tanpa aba-aba.


Timmothy pun menatap kaget pada kejadian di depan mata. Di mana putra Tuan Kendal jatuh ke kolam renang akibat ulah Eldrey yang tak disangka-sangka.


Syok tentunya, menimpa Kevin sekarang. Badannya sepenuhnya basah akibat perbuatan sosok yang disukainya. Sungguh ia tak mengira, kalau putri Dempster akan mendorongnya. Dan memamerkan tampang tak bersalah di hadapannya.


“Dengar, aku sudah tak ada hubungan denganmu. Jadi jangan muncul lagi di depanku. Atau nasibmu akan jauh lebih buruk dari ini, Kevin.”

__ADS_1


__ADS_2