
Sementara di meja di mana keluarga Turner dan Barbara sedang mengadakan pertemuan, ada tiga sosok tak fokus pada hidangan. Tentu saja Nyonya Nera, Ramses dan Barbara.
Mereka sama-sama kalut, seolah sedang tertangkap basah. Jujur saja, Nyonya Nera menyukai Barbara, tapi saat melihat sosok Eldrey, dirinya tak bisa mengenyahkan gadis itu dari pikirannya. Menurutnya putri Dempster juga layak disandingkan dengan putranya. Bahkan sesekali ia menoleh dan mendapati anak kedua Betrand juga melirik ke arahnya.
Semakin canggung dan membuyarkan suasana makannya.
“Eldrey, ayo pergi. Charlie menghubungiku menyuruh kita cepat pulang. Katanya ada urusan penting,” ajak Evan tiba-tiba setelah muncul di dekat mereka.
“Hah? Tapi—”
“Maaf, aku dan adikku terpaksa balik duluan,” jelas Evan sambil memegang lengan Eldrey.
Tentunya tatapan berbeda ditorehkan Stella dan Timmothy. Entah apa arti tatapan mereka tapi sepertinya putri Dempster menyadarinya.
“Kalau begitu kami permisi dulu,” pamit Eldrey dan bangkit dari duduknya.
Barbara terperanjat saat melihat keadaan di ujung sana. Dan itu cukup mengusik perhatian Ramses serta Tuan Harel lalu melirik ke arah pandangannya.
Di mana gadis ini jelas-jelas menatap ke arah meja di ujung sana.
“Eldrey?” gumam Tuan Harel tiba-tiba.
“Eldrey? Siapa, Tuan?” tanya pria yang kemungkinan ayah dari Barbara.
“Ah tidak. Hanya putri kenalanku,” sahutnya lalu mengalihkan pandangan pada Ramses. Di mana putranya tampak memamerkan ekspresi kecut untuk dipandang.
“Pa, Ma. Paman, Bibi, Ramses, aku permisi sebentar ya. Cuma sebentar, tidak akan lama.”
“Kamu mau ke mana, Nak?” heran ayah Barbara mendengar ucapan putrinya.
“Aku ada urusan sebentar. Cuma sebentar, tidak sampai lima menit nanti aku kembali lagi,” pintanya sambil menyatukan kedua tangan di depan dada.
“Silakan, Barbara. Tidak masalah.”
“Terima kasih, Paman, kalau begitu aku permisi dulu,” pamit Barbara karena merasa senang atas jawaban Tuan Harel.
Sementara Evan, ia masih memegang lengan adiknya. Menunggu pintu lift terbuka agar bisa pergi dari sana.
Tak berkata-kata, tampak risau di mata adiknya.
“Evan!” teriak seseorang tiba-tiba. Keduanya menoleh dan mendapati seorang gadis dengan barang pemberian. Berlari mendekati dua Dempster dengan tampang kesusahan.
Akhirnya lift pun terbuka dan tanpa keraguan Evan menarik Eldrey untuk memasukinya.
“Evan! Tunggu Evan! Evan!” gadis itu masih berusaha menghentikannya. Sampai ia terjatuh tiba-tiba dan mengejutkan keduanya. “K-kakiku,” rintihnya seperti akan menangis. Sontak saja putra Dempster meninggalkan adiknya. Berlari menuju Barbara dengan wajah paniknya.
“Kenapa kamu lari-lari? Sudah jelas sepatumu setinggi ini.”
“Itu karena kamu tidak berhenti. Padahal aku memanggilmu tapi kamu malah pergi,” isaknya akhirnya.
Terlihat kekhawatiran dari putra Dempster. Disentuhnya kaki Barbara dan dielusnya.
“Lihatkan. Sepertinya kakimu terkilir,” sahutnya karena gadis di depan mata mengerang akibat sentuhannya.
__ADS_1
“M-mau bagaimana lagi, a-aku—”
“Evan. Barbara?” suara seorang wanita mengalihkan atensi mereka. Dialah Stella, menatap penuh arti pada keduanya. “Kalian di sini?”
“Stella. Barbara jatuh, sepertinya kita harus membawanya ke rumah sakit.”
“Eh,” kaget temannya itu. Bahkan bukan hanya dirinya, laki-laki berwajah tenang yang merupakan rekan Evan juga muncul di sana.
“Evan? Kamu masih di sini?” tanya Timmothy.
“Sakit,” lirih Barbara sehingga Evan pun langsung menggendongnya.
“Evan!” pekik Stella entah kenapa.
“Mau ke mana?” Eldrey bersuara tiba-tiba.
“Ah, kakinya sepertinya terkilir. Sepertinya harus dibawa ke rumah sakit.”
Eldrey hanya memiringkan wajahnya sambil melirik gadis yang masih merintih di gendongan kakaknya.
“Antarkan dia pada Ramses.”
“Apa!” kaget Evan mendengarnya.
“Kamu calon tunangannya bukan? Minta dia untuk mengantarmu ke rumah sakit,” ucapnya pada Barbara.
“Kamu,” kaget wanita itu saat mendengarnya. Seketika ia teringat pada sesuatu. “Kamu gadis yang di Restoran kemarin bukan?”
Eldrey hanya mengangkat sebelah alisnya. “Tunggu apa lagi? Turunkan dia dan biarkan Ramses yang mengantarnya ke rumah sakit.” Evan tak habis pikir. Apa yang salah dengan adiknya? Perlahan ia memang menurunkan Barbara dari gendongannya. “Ayo, bukankah Charlie sudah menyuruh kita pulang?”
“Kenapa kau menahannya?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Kamu siapa? Kamu ada hubungan apa dengan Evan?”
“Dia kakakku. Lepaskan tanganmu dan kembali ke mejamu.”
Sungguh suasana semakin tegang. Di satu sisi Stella terlihat mengepal erat tangan. Sementara Timmothy hanya diam menonton mereka.
“Evan,” panggil Barbara dengan wajah putus asa.
“Adikku benar. Kamu harus kembali ke mejamu dan minta calon tunanganmu mengantarmu ke rumah sakit.”
“T-tapi—”
“Apa kau menyukai kakakku?”
Tersentak. Semuanya terbungkam. Sungguh putri Dempster begitu blak-blakan. Barbara terkesiap dan tak tahu harus bagaimana.
“A-aku—”
“Jangan menempelinya. Nama baiknya akan hancur jika berdekatan dengan tunangan orang lain.”
“Eldrey,” Evan menyelanya.
__ADS_1
“Apa? Aku benarkan? Dia calon tunangan putra Turner. Entah aku yang salah menilai, tapi kalian sepertinya punya hubungan. Jangan merendahkan dirimu, Evan. Jika kau pacarnya, aku akan memakluminya. Kalau kau hanya temannya, batasi dia dan enyahkan dari sisimu sekarang juga.”
“Eldrey, kamu—”
“Ada apa ini?” Lagi-lagi seseorang mengganggu suasana. Siapa lagi kalau bukan Ramses. Akibat Barbara yang terlalu lama, dirinya pun diminta Tuan Harel untuk mencarinya. Bagaimanapun pembahasan perjodohan mereka masih belum diputuskan. “Kalian.”
“Apa Ramses ini calon tunanganmu? Kalau iya, biar dia yang mengantarmu ke rumah sakit,” Evan perlahan melepaskan pegangan Barbara dari lengannya.
“Rumah sakit? Sebenarnya ada apa ini?”
“Tunanganmu mengejar kakakku dan jatuh. Sepertinya kakinya terkilir,” jelas Eldrey tanpa keraguan. Ramses merasa aneh mendengarnya. Dan menatap penuh arti padanya. Tentunya hanya direspons sinis putri Dempster. “Ayo pulang, Evan. Kalau tidak aku akan naik taxi.”
Dan dirinya pun berbalik meninggalkan mereka.
“Kalau begitu aku duluan,” pamit Evan. Tapi, entah kenapa sosok di sebelahnya enggan melepaskan tangannya. “Barbara.”
Ramses yang jengah pun melewati mereka. Tentunya mengejutkan keduanya karena ia memasuki lift di mana Eldrey berada.
“Kau—”
Bahkan tanpa keraguan ia pencet tombol lift sehingga pintu pun tertutup untuk mereka. “Aku lelah,” lirih Ramses tiba-tiba.
Eldrey tidak meresponsnya. Begitu lift terbuka ia langsung keluar meninggalkan laki-laki di sampingnya.
“Apa kamu tidak mau menunggu kakakmu dulu?”
Tapi, entah karena masih kesal pada ulah Ramses sebelumnya, putri Dempster tidak menanggapinya. Terus melangkah keluar Hotel untuk mencari taxi. Kesialan baginya, karena tidak membawa ponsel. Setidaknya sosoknya bisa menghubungi supir sehingga takkan kerepotan.
Dan saat akan mengulurkan tangan, putra Harel tiba-tiba mencegatnya.
“Apa?”
“Ada yang mau kubicarakan denganmu.”
“Eldrey!” terdengar suara Evan memanggilnya. “Syukurlah, kamu belum pulang. Ayo balik bersamaku,” ajak kakaknya.
“Baiklah.”
Ramses menggigit bibir bawahnya. Merasa kecewa karena tak bisa bicara empat mata dengannya. “Besok aku akan menemuimu.”
Eldrey yang mengabaikan itu pun pulang bersama kakaknya.
“Maaf,” Evan bersuara tiba-tiba. “Memang seperti katamu, seharusnya kakak membatasi hubungan dengan Barbara mengingat dia sudah bertunangan. Tapi—”
Entah kenapa lanjutannya tertahan jeda beberapa menit. Sepertinya berat bagi putra Depster mengatakannya. Laju motor kian lambat seirama suasana hatinya.
“Apa yang harus kulakukan?” ucapnya tiba-tiba. Bahkan laju kendaraan jadi terhenti karenanya. “Aku menyukainya, tapi aku tak bisa mendapatkannya. Aku hanya bisa menunggunya, membuka hati untukku yang selalu bersamanya. Bukankah aku sangat bodoh? Eldrey.”
Ah, sekarang Eldrey tahu duduk permasalahannya. Kakaknya korban cinta bertepuk sebelah tangan.
Menggelikan. Siapa yang bisa mengira, kalau calon tunangan Ramses ternyata begitu disukainya. Dan mereka terikat hubungan pertemanan yang tak bisa digoyahkan. Dengan kata lain Evan Brendan Dempster terkurung di penjara friendzone milik Barbara.
Bodoh sebenarnya di mata adiknya. Padahal kalau diperhatikan sang kakak bisa mendapatkan kekasih seperti memilih pakaian. Fisik dan latar belakang begitu mendukungnya. Tapi dia masih setia menunggu wanita itu setelah menyatakan perasaan berulang kali lalu berujung kegagalan.
__ADS_1
Mau dicari ke mana lagi laki-laki bodoh seperti ini? Eldrey benar-benar tidak tahan bergaul dengannya.