
“Evan? Eldrey?” sapa gadis itu tiba-tiba. Tentunya dua bersaudara Dempster menoleh ke sumber suara. Mendapati sosok berambut pixie cut muncul di depan mereka.
“Stella?” kaget Evan. “Kamu di sini juga?”
“Tentu saja. Bukan hanya aku, anak-anak juga,” diiringi tangan yang memukul pelan lengan Evan. “Padahal kami sudah mengajakmu, kalau tahu kamu di sini juga, bukankah lebih baik kita pergi sama-sama?”
Seketika dahi pemuda itu pun berkerut. “Kapan kalian mengajakku?”
“Jangan pura-pura lupa sialan. Oscar mengajakmu, tapi kamu langsung menolak dan tetap fokus pada ponselmu.”
“Oh saat itu ya,” Evan pun terkekeh saat mengingatnya.
“Kalau kamu memang mau pergi bersama adikmu katakan saja,” Stella pun memasang tampang mencibir ke arahnya. “Tapi mumpung kita bertemu di sini, bagaimana kalau kalian gabung saja? Kan jadi lebih ramai,” ajak gadis itu pada mereka berdua.
Akan tetapi entah kenapa terlihat keraguan di wajah sang pemuda.
“Bagaimana?” Stella memastikannya sekali lagi.
“Mm, bagaimana menurutmu, Eldrey? Apa kamu tidak keberatan bergabung dengan teman-teman kakak?”
Tapi tiba-tiba Stella malah merangkulnya. “Ayolah Eldrey. Kapan lagi kamu akrab dengan kami? Bukankah kita sudah berteman?” dan tanpa basa-basi ditariknya adik pemuda itu. Padahal putri Dempster masih belum mengatakan apa-apa.
“Lho! Kalian!” kaget Oscar melihatnya. “Kalian di sini juga?! Padahal aku kan sudah mengajakmu sialan! Kalau mau mengadakan kejutan bilang dulu kenapa? Jadi aku bisa dandan dulu biar terlihat keren di depan adikmu,” gerutunya sambil berbisik pada Evan.
“Dasar.”
Sementara Eldrey, gadis itu hanya menatap tenang semuanya. Sampai pandangannya bertemu dengan Timmothy. Ya, laki-laki dari keluarga Sparrow. Keluarga yang mengajukan perjodohan dengan Dempster dan saksi mata akan ulahnya pada Kevin.
“Hei, bagaimana kalau kita makan itu?” ajak Alexa dan menunjuk salah satu jajanan pinggiran.
“Oke, tapi kamu yang traktir ya!”
“Sialan!” Alexa memandang jengkel pada Roy namun tetap melangkah ke sana.
“Kita di sini saja, Eldrey,” Stella menunjuk salah satu bangku panjang yang diisi sepasang kekasih memadu asmara.
Setidaknya mereka bisa beristirahat karena bangku tersebut memang untuk umum.
“Hei! Aku dan Evan cari minum dulu ya,” jelas Roy sambil merangkul temannya.
Evan pun sontak melirik ke arah adiknya. “Kakak pergi sebentar ya,” ucapnya pada Eldrey. “Tolong jaga adikku,” pintanya pada teman-temannya yang tersisa.
“Wah, lihatlah dia. Sepertinya dia benar-benar kakak yang penyayang,” kekeh Oscar entah meledek atau memuji.
“Oh ya, kamu kenapa diam terus sih?” Stella menyelanya. Sorot matanya jelas terarah pada Eldrey.
Tapi gadis itu malah tersenyum tipis dan membuat sang penanya berdesir tiba-tiba.
“Hai! Hai! Ini jajanan kalian para tak bermodal. Eh, kalau untuk Eldrey tentu saja khusus kutraktir dengan senang hati,” cengiran Alexa pun menimbulkan cibiran dari teman-temannya. “Ayo makan, kamu tidak alergi dengan jajanan seperti ini kan?”
“Tidak.”
Tapi, ulah Alexa yang konyol itu ditatap tenang putri Dempster. Di mana ia mengarahkan jagung bakar tepat ke depan bibir Eldrey. “Ayo makan adik ipar, kakak ingin sekali menyuapimu,” rayunya dan menimbulkan tawa.
Eldrey tidak meresponsnya, tapi tangannya menerima jajanan itu. Namun belum sempat menggigitnya, sorot matanya bertemu dengan rupa tak asing.
Dia pun langsung berdiri dan mengejutkan para penontonnya.
“Eldrey?!” kaget Stella.
__ADS_1
Tiba-tiba ia mengembalikan jagung itu pada Alexa. “Aku ada urusan. Katakan pada Evan aku pulang duluan.”
Selesai mengatakan itu dirinya pun berlalu dari sana. “Lho, Eldrey! Eldrey!” teriak Stella. “Aku kejar dulu ya,” pamitnya meninggalkan rekan-rekannya.
“Aduh. Sekarang bagaimana? Mana Evan dan Roy belum balik lagi,” keluh Alexa.
“Katanya dia mau pulang duluan.”
“Tapi kenapa Stella mengejarnya ya,” gadis itu menimpali kalimat Oscar.
“Ya sudah. Biar aku susul mereka.”
“Lho kenapa?” bingung Oscar dan Alexa secara bersamaan.
“Sudahlah. Nanti kalau Evan datang, katakan saja apa yang dibilang adiknya.” Timmothy pun pergi meninggalkan mereka.
“Eldrey! Eldrey!” panggil Stella dan berhasil mengejarnya. Napasnya terengah-engah dan sangat berlawanan dengan putri Dempster yang tampak baik-baik saja.
“Ada apa kamu mengejarku?”
“I-itu. Aku hanya mengkhawatirkan dirimu.”
“Bukankah sudah kukatakan aku ada urusan?”
Jujur saja gadis itu agak meradang mendengar kalimatnya. “I-iya. Hanya saja, aku tetap mencemaskanmu karena kamu pergi tiba-tiba.”
Eldrey pun menghela napas pelan mendengar responsnya. Ditatap lekatnya gadis itu dan perlahan menghembuskan napas kasar karenanya.
“Ayo kita kembali.”
“Eh.”
“Kenapa?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena aku sudah tidak melihatnya,” ucapnya entah apa maksudnya.
Mereka berdua pun balik lagi ke tempat semula, sampai akhirnya langkah Stella tertahan karena di antara teman-temannya ada sosok yang tak ia sangka-sangka.
“Kenapa?”
“T-tidak. Tidak ada apa-apa,” jawabnya dengan kecut di dada.
Eldrey hanya diam memperhatikannya, lalu beralih menyoroti kubu kakaknya. Di mana rupa-rupanya seorang gadis tambahan sudah hadir di sana. Siapa lagi kalau bukan Barbara calon tunangan Ramses.
“Apa karena gadis itu?” tanyanya.
“Eh.”
“Kau tidak menyukainya? Gadis yang sempat digendong kakakku.” Raut wajah Stella tampak pias. Eldrey hanya mengedarkan pandangan sekilas. “Ayo.”
“Ke mana?”
“Jalan-jalan. Lagi pula aku juga malas kembali ke sana,” jawabnya. Sosok berambut pixie cut pun menyetujuinya. Dan mereka sama-sama terdiam karena saat berbalik ternyata ada Timmothy di belakang keduanya.
“Tim,” kaget Stella melihatnya.
__ADS_1
“Mau ke mana?”
“Eh, i-itu, mm ... kami,” ia terlihat bingung ingin mengatakan apa.
“Jalan-jalan,” jawab Eldrey melewatinya.
“Tunggu,” cegat pemuda itu. “Kakakmu bagaimana? Bisa-bisa dia cemas jika kamu pergi tanpanya.”
Eldrey pun tersenyum lalu melirik ke arah Evan berada. Di mana sang kakak memamerkan tawa serta senyum bahagia saat berbincang dengan teman-temannya.
Terlebih lagi saat berhadapan dengan sosok bernama Barbara. Ketika menatap gadis itu, putra Dempster seolah memamerkan rona yang tak biasa.
Pertanda kalau sang kakak memang jatuh cinta.
“Kamu akan ke sana bukan? Katakan padanya kalau adiknya sudah kembali ke penginapan.”
Dan tanpa menunggu jawaban, Eldrey pun berlalu meninggalkan mereka.
Tak tahu kenapa, ia tak suka melihat orang tersenyum bahagia. Rasanya itu mengusik kesadarannya dan seolah menertawakan dirinya.
Walau Eldrey diam tidak mengatakan apa-apa, sensasi di dada jelas dingin keadaannya.
Dia terus berjalan, mengabaikan panggilan Stella yang berusaha mengejarnya. Sampai seseorang menghalangi langkah kakinya.
“Halo.”
Eldrey mendongak, dan mendapati sosok tak diharapkan. Mengibarkan senyum tipis seolah ingin memamerkan ketampanan.
“Eldrey!” panggil gadis itu karena berhasil menyusulnya. Bahkan bukan hanya dirinya, Timmothy juga ikut serta. “Lho, kamu, kamu junior di kampusku kan?” tunjuknya pada sosok yang berdiri di hadapan putri Dempster.
“Halo, Senior,” sapa ramah Kevin pada mereka.
Stella hanya tersenyum kepadanya. “Melihatmu begini, apa mungkin kamu mengenal Eldrey?”
“Tentu saja. Aku pacarnya,” jawab Kevin dengan tidak tahu malunya.
“Pacar?” Timmothy yang tak banyak bicara menyela tiba-tiba. “Pacar yang diceburkan ke kolam renang?”
“Ah,” sekarang Kevin teringat sesuatu. Pantas saja wajah laki-laki ini tidak asing. Dia sosok yang bersama Eldrey di acara keluarga Dempster.
Pemuda yang menjadi saksi dari tindakan gadis itu mendorongnya ke dalam kolam renang.
“Ya. Itu memang aku,” ia bahkan mengatakan itu dengan senyum merona.
Eldrey yang dari tadi hanya diam memperhatikannya, memilih pergi begitu saja. Tapi sosoknya tertahan karena Kevin memegang lengannya.
“Kamu mau ke mana? Kak Evan dan Kak Alice mencarimu. Makanya aku ke sini untuk menemuimu.”
“Mencariku? Kenapa?”
“Entahlah. Aku juga tidak tahu,” balasnya sambil mengangkat bahu sekilas.
“Kalau begitu aku kembali dulu,” pamit Eldrey pada dua orang di sisinya.
“Ah, baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan, Eldrey,” ucap Stella sambil melambaikan tangan.
Berbeda dengan Timmothy yang hanya memandang kepergian keduanya dengan tatapan datar.
__ADS_1