FORGIVE ME

FORGIVE ME
Gagalnya penculikan


__ADS_3

“Tak peduli apa pun yang terjadi, kau harus berhasil.”


Perintah itu dibalas anggukan. Sang pria dari keluarga terhormat, mulai menghisap rokok di kursi penumpang.


Mengembuskan asap ke arah jendela, dengan sorotan tajam pada rumah sakit di seberang.


Bill.


Sekarang hanya dirinya dan seorang wanita di dalam mobil. Tak ada lagi sang bawahan, karena sosoknya harus melakukan pekerjaan. Sesuatu yang mungkin dibayar dengan taruhan nyawa jika gagal.


“Sayang, uang di rekeningku sudah menipis. Aku mau perawatan, kamu kirimin ya?” nada manja sambil sentuhan menggoda disuguhkan. Bahkan posisinya terlihat menantang, di atas pangkuan.


Dan Bill pun tampak nyaman.


“Hm.”


Jawaban singkat yang mengundang kepuasan. Senyum miring terpatri lebar di bibir, memang itulah yang diharapkan sugar babynya.


“Sayang.”


“Hm.”


“Gadis itu, kenapa kamu menginginkannya?”


“Bukan urusanmu.”


Perempuan itu cemberut tiba-tiba. Agak kesal dengan jawaban sang Raja. “Kalau supirmu gagal bagaimana?”


“Dia akan mati.”


“Kalau aku saja yang menculiknya bagaimana?”


Tawaran itu berhasil membuat Bill menaikkan sebelah alisnya. Tangannya kemudian membuang rokok yang dihisap, dan mulai melakukan sentuhan tak biasa.


Desah pelan berkumandang di antara mereka. Milik perempuan yang sudah menjadi pemuas hasrat seksualnya.


Tak ada siapa-siapa di ruangan. Eldrey telah terjaga, fokus matanya sekarang tertuju pada daun pintu. Perlahan kelopak itu tertutup sempurna bersamaan dengan pembatas yang terbuka.


Dia tak bisa melihat siapa tamu yang mendatanginya.


“Sial!” umpatan tiba-tiba terlontar. Milik laki-laki yang baru sadar akan kehilangannya. Ponsel, telah tertinggal akibat kecerobohan. Dan mobil yang dilajukan pun putar arah sekarang.


Di saat bersamaan Eldrey terdiam. Saat ia menyadari sebuah keanehan, ujung pistol menyentuh dahi. Tinggal menunggu waktu sampai pelatuk ditarik musuhnya.


“Siapa?” gumamnya pelan.


“Maafkan aku, Nona. Tapi aku harus membawamu. Atau peluru ini akan bersarang di kepalamu.”


Tak ada pilihan. Sosok tak berdaya di dorong dengan kursi roda. Ngilu akibat luka di derita hanya bisa terpendam saja. Tapi sudut hati jelas bertanya-tanya ke manakah para penjaga.

__ADS_1


Karena ia yakin kalau Dempster tak mungkin lengah. Tidak juga sang tangan kiri, entah apa yang sudah terjadi namun posisinya jelas di tepi jurang.


Berbahaya dan mungkin akan meregang nyawa.


“Anda tidak perlu cemas, Nona. Karena para pengawal sudah ditangani para penjaga.”


Eldrey menyipitkan mata, menengadah pada sosok asing baginya. Struktur tubuh tangguh dan terawat bukti pria itu sering memolesnya.


Sang pengawal yang pantas dimiliki para pemegang kuasa.


“Ditangani?”


Sapaan terdengar. Dari seorang suster juga dokter. Dan Eldrey bisa melihat seringai mereka yang diarahkan padanya. Sesaat ia tersadar kalau keduanya mungkin saja tokoh gadungan. Dari tato yang terlukis di tangan ataupun belakang telinga dengan gambar aneh maknanya.


Perlahan, tatapannya pun jatuh pada infus yang terpasang. Sensasi tak asing yang dirasakan membuat putri Dempster tersenyum senang. Dia pun melirik lewat sudut mata, menuju arah di mana pistol musuh terselip di balik jas.


Saat sudah berada di depan sebuah mobil, kedua orang itu mungkin tidak menyadarinya. Kalau seseorang telah menonton kepergian mereka.


Kursi roda itu akhirnya terhenti. Tepat di samping pintu kendaraan Bill. Gadis itu tertegun sejenak, menyaksikan penampakan yang dipamerkan.


Hanya penampilan kusut dari dua penghuni di kursi belakang.


Dan jangan lupakan aroma menjijikan yang menguar di penciuman.


“Jadi, apakah kamu merindukan pamanmu? Eldrey.”


“Eldrey?” panggilan itu pun mengacaukan fokus mereka. Tanpa aba-aba sebuah pistol kembali diarahkan pada gadis muda, memaksa Ramses untuk terkejut jadinya. “Kalian! Apa yang–”


“Agh!”


Perintah yang dilayangkan pun dihiasi suara. Pekikan ikut terdengar bersamaan dengan darah yang bercucuran.


Ramses, dia tertembak dekat lengannya. Erangan terlontar tapi itu tak seberapa. Dibandingkan sang pengawal yang lengah dan telah gagal.


Belum sempat titah Bill dilayangkan, Eldrey telah bersiap-siap tadinya. Dengan memakai jarum infus di tangan ia tusuk leher lawan. Rintihan dan penampakan meronta pun terlukis dari sang ajudan.


Mencoba menarik jarum namun putri Dempster merebut pistol. Tidak berniat menembaknya, selain memukul sekilas dan jatuh terduduk karena sudah kehilangan tenaga.


“Sial!”


Bill segera menutup pintu. Melewati punggung kursi kemudi untuk melajukan mobil. Tapi Eldrey tidak membiarkannya, dengan semua yang tersisa ia tembak salah satu ban. Dan membuat putra Gates menjalankan kendaraan tanpa peduli keselamatan.


Benar-benar orang gila yang beraksi di depan publik.


Tapi siapa sangka, bunyi menakutkan pecah di antara mereka. Semua terperangah di sela-sela yang mengerang.


Tabrakan, terlihat begitu mengerikan.


Antara truk pengangkut alat berat dengan kendaraan mewah putra Gates. Senyum simpul tersungging di bibir sosok yang puas namun itu hanya sementara. Sampai kegelapan menyelimuti kesadarannya.

__ADS_1


Eldrey pun jatuh pingsan di tengah-tengah hiruk pikuk sang pengulur bantuan.


Amputasi pada salah satu kaki. Itulah harga yang harus dibayar Bill atas tindakannya. Sang ajudan yang tertusuk masih bisa diselamatkan.


Begitu pula sang sugar baby harus menderita patah tangan. Dan emosi sosok-sosok yang menaruh dendam pun menunggu di penghujung penantian.


Mereka jelas takkan melepaskan pelaku perusakan. Perusakan untuk keselamatan Eldrey atau Ramses yang mengalami luka tidak ringan.


“Betrand,” Camila bergumam. Suaranya terdengar bergetar, tapi tak ada kasihan di diri sang putra. Walau wanita yang sudah melahirkannya sekarang harus terduduk di kursi roda.


Lain halnya Evan. Kepalan erat di tangan menggambarkan murka. Tak ada keramahan tersirat di sana. Kecuali dengan lancang melontarkan kata-kata tajamnya.


“Sampai kapan?” atensi orang-orang di depan pintu ruang rawat Bill teralihkan. Sekarang tertuju pada pesona menawan tuan muda Dempster. “Sampai kapan kalian ingin menyakiti adikku?” Sang kakek yang mendengar menyipitkan mata. Suasana jelas tegang tapi tak mampu menyurutkan keberaniannya. “Aku heran.”


“Evan—”


“Biarkan aku bicara, Ibu.” Ia pun melanjutkan. Diiringi langkah kaki yang mendekat, sosoknya berdiri tegap di hadapan mereka. “Sekarang begini saja, Ayah takkan bisa melakukan apa-apa bukan?”


“Tuan Muda,” sekretaris Roma juga ikut menyela. Berbeda dengan Betrand, dia hanya diam saja. Menatap lekat sang anak pertama yang seperti menantangnya. “Antara kami atau mereka, siapa yang akan kau pilih? Ayah.”


Bagai guntur turun ke hati. Seakan ingin merobek pendengaran, tangan Betrand pun terkepal. Pertanyaan barusan jelas di luar dugaan seolah putra semata wayang memaksanya berjalan di atas duri.


Dia pun membuang muka, menghela napas pelan sebelum akhirnya bersuara.


“Ayo kita bicarakan ini di rumah.”


“Kenapa? Sampai kapan menutup mata?”


“Evan! Jaga bicaramu.”


Orang-orang terdiam. Walau yang berada di sana hanya pihak Dempster dan Gates saja. Tapi tentu takkan ada yang mengira jika pak tua itu berani meninggikan suara. Mengingat sosoknya tak pernah membentak cucu yang tak begitu diakuinya.


“Lihat? Yang salah siapa, yang marah juga siapa. Apa anda lupa? Pak tua. Kalau istri juga anakmu, adalah orang yang telah menyakiti keluargaku. Kalian berdosa karena melukai keluarga–”


“Evan.”


Akhirnya laki-laki itu terdiam. Suara sang ayah yang memotong ucapan mengundang tatapan masam. Dirinya pun menoleh sekarang, menghadap sempurna sosok kepala keluarga.


Entah apa yang akan dikatakan tapi itu jelas bukanlah hal yang menyenangkan. Siapa pun tahu karena terlukis nyata di wajahnya.


“Apa?”


“Nak!” Anna benar-benar tak habis pikir dengan nada dingin itu. Ini tak bisa dibiarkan, mengingat Evan bukanlah orang sembarangan. Dia memang tipe yang tenang tapi saat emosi mengundang luka. Akibat tajamnya tutur kata yang akan menggores para pendengarnya.


Tatapan meremehkan pun dihadiahkan pada ibunya. “Kalau begitu begini saja. Kalau Dempster tak sudi memenjarakan mereka, aku punya cara lain menanganinya.”


“Evan, apa maksudmu?”


“Ayo hanc–”

__ADS_1


 


__ADS_2